
Lauren berdiri dengan tatapan marah dan kedua tangannya terlipat di dada.
"Kenapa kau menampar keponakanmu, Leona? Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk ringan tangan kepada siapapun, apalagi ini keponakanmu sendiri! Dan kau, Yuna! Kenapa kau merebut kekasih bibi mu! Apakah kalian anak perempuan berusia lima tahun yang saling memukul hanya untuk memperebutkan mainan? Memalukan!"
Lauren pun masuk ke dalam dan mengunci mereka dari dalam rumah. "Renungkan perbuatan kalian, setelah itu aku akan membuka pintu depan! Kalau salah satu di antara kalian tidak ada yang meminta maaf, aku tidak akan membiarkan kalian masuk! Teruslah di luar sana!"
"Nenek, aku minta maaf karena telah membuat nenek gusar." ucap Yuna. Inilah yang dia takutkan kalau hubungannya dengan Shane diketahui oleh keluarganya. Apalagi saat ini, Leona baru saja patah hati karena Shane memutuskan hubungan dengannya.
Lauren yang baru saja menutup tirai jendela, kini dia buka kembali. "Minta maaflah kepada bibimu! Luruskan semuanya jika itu memang kesalahpahaman!" ucapnya sambil menutup tirai jendela.
Yuna menghela napas, dia melihat ke arah Leona yang sedang duduk di kursi taman. Jari-jarinya seakan melawan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Yuna pun berjalan dan mendekati bibi Leona.
"Bi," sapa Yuna takut-takut.
"Hmmm," jawab Leona. "Aku tidak pernah tau kalau kau sudah mengenal Shane lebih dulu,"
Yuna tertunduk. Untuk saat ini, dia akan memilih diam dan hanya mendengarkan Leona berkeluh kesah. Bahkan, dia akan menerima semua emosi yang dikeluarkan oleh wanita berusia 30-an tahun itu.
"Di mana kau mengenal Shane? Aplikasi jodoh? Kencan buta?" tuntut Leona dalam pertanyaan.
"Kami bertemu di Mall saat bibi mengajakku bertemu waktu itu," kata Yuna. "Dan kami bertemu lagi di depan kampusku saat aku dikerjai oleh Sabrina dan kawan-kawannya. Dia menolongku dan kami menjadi dekat,"
Leona mengangguk-angguk. "Kenapa kau tidak pernah menceritakan kepada kami kalau kau menyukai seseorang?" tanya wanita itu. Dia menarik napas dan menghembuskan nya kasar. "Kalau kau menceritakan kepadaku kalau menyukai seorang pria bernama Shane, aku akan lebih waspada dan tidak menyatakan perasaanku kepadanya, Yuna,"
"Ma-, maafkan aku. Shane pernah datang ke rumah kita, tapi nenek mengusirnya dan melarang dia untuk mendekatiku," tutur Yuna. "Maka dari itu, aku tidak pernah bercerita lagi tentang Shane,"
"Ya, mungkin saat itu, dia ikut kencan buta dan kami bertemu. Hanya dalam waktu tiga hari, aku jatuh cinta padanya," jawab Leona. Dia merunut setiap kemungkinan yang terjadi.
Mereka berdua terdiam. Suasana malam itu hangat dan sunyi. Leona yang malam itu memakai piyama tidur dengan outer, melepaskan outer nya dan memberikannya kepada Yuna. "Aku takut kau terkena flu, pakai saja. Semoga ibuku berbaik hati, membukakan pintu untuk kita,"
Yuna memandang Leona dengan mata berkaca-kaca. "Bi, maaf. Sekali lagi, maafkan aku,"
__ADS_1
Leona akhirnya memberikan senyumannya untuk Yuna. "Kau mencintai dia?"
Yuna mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau tapi aku senang bersama dengannya. Jantungku selalu berdebar saat aku berada di dekatnya,"
"Dia pria dewasa. Usia kalian terpaut sangat jauh. Cara kalian untuk mengungkapkan rasa cinta itu berbeda. Aku berharap kau bisa menjaga dirimu sendiri jika suatu hari nanti aku mengizinkan kau dengan Shane untuk berkencan." kata Leona lagi. Dia memandang keponakannya itu. Seorang gadis kecil yang sedari kecil sangat patuh kepadanya maupun Laurent, saat ini mulai beranjak dewasa dan berkenalan dengan cinta.
Ada sebuah rasa takut dalam hati Leona jika nanti dia mengizinkan Yuna menjalin hubungan serius dengan Shane. Dia takut, gadis kecil itu akan bernasib sama seperti ibunya.
Namun, ketakutannya memudar saat Yuna menjawab pernyataan Leona itu. "Aku tau, Bi. Aku masih menjaga jarak dengannya dan tidak menerima segala pemberian darinya. Biasanya, jika seseorang memberi, secara tidak langsung mereka akan berharap menerima sesuatu dari kita. Begitu, 'kan?"
Leona pun otomatis tersenyum. "Anak pintar," dia merangkul Yuna dengan sayang. "Jangan ulangi kesalahan ibumu. Kau pintar, jangan sia-siakan kepintaran mu,"
"Aku tau, Bi. Aku tidak akan seperti itu. Lagipula, masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan besok pagi," jawab Yuna. "Terima kasih juga karena Bibi sudah begitu baik kepadaku,"
Melihat anak dan cucunya berpelukan, Lauren memandang mereka penuh haru. Dia membuka kunci rumah dan memanggil kedua gadis yang sedang berangkulan di taman.
"Hei, kalian! Mau tidur jam berapa? Aku sudah mengantuk sekali!" tukas Lauren berpura-pura marah dan kesal.
Setelah Yuna masuk, Leona masih tinggal sebentar di luar. Dia tau Shane masih ada di sana, maka dia menghampiri pria itu di dalam mobilnya.
"Hei, masuklah,"
"Thanks," sahut Leona sambil masuk ke dalam mobil Shane.
"Apa yang kau tunggu?"
Shane mengangkat kedua bahunya.
"Aku juga tidak tau. Aku ingin meminta maaf karena telah berbohong dan mempermainkan hatimu,"
"Yuna sudah menceritakan semuanya kepadaku. Aku mengerti dan aku menyatakan aku sudah mengizinkan kalian untuk berkencan." kata Leona.
__ADS_1
"Aku hanya berharap kau bisa menjaga keponakanku. Dia masih sangat kecil dan muda. Aku tidak ingin dia terjerumus dalam suatu masalah," sambung Leona lagi.
Shane menatap Leona tak percaya. "Benarkah? Kau sungguh-sungguh mengizinkanku berkencan dengannya?"
Leona mengangguk perlahan. "Ya. Sebentar lagi Yuna akan skripsi dan aku tidak mau karena dia berkencan denganmu, skripsinya menjadi tertinggal. Pokoknya, aku tidak ingin aktivitas berkencan kalian mengganggu kuliah Yuna. Kau paham?"
Kali ini Shane yang mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, aku paham,"
"Thanks," ucap Leona singkat. Dia pun bergegas turun, tetapi Shane menariknya dan merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Terima kasih dan sekali lagi, aku minta maaf," ucap Shane.
Tidak ada lagi yang harus dikatakan oleh Leona tentang masalah ini dan dia menganggap baik Yuna maupun Shane sudah paham dengan persyaratan yang dia berikan kepada mereka.
Keesokan harinya, lagi-lagi pagi hari di rumah Lauren terjadi keributan. "Yuna, temanmu menjemput!" sahut Lauren awalnya, dia meminta seorang pemuda masuk ke dalam rumah.
Yuna menganggap yang menjemput adalah Shane. Namun begitu dia harus kecewa saat dia melihat Mario-lah yang datang menjemput.
"Pagi, Yuna," sapa Mario.
"Pa-, pagi Kak," balas Yuna singkat. Kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar.
'Kenapa Mario? Lalu, bagaimana kalau nanti Shane datang menjemputnya juga?'
Benar saja pertanyaan Yuna. Lauren kembali berteriak, tapi kali ini bukan namanya yang dipanggil, melainkan nama bibinya, Leona.
"Leona, kekasihmu datang!" ucap Lauren memanggil Leona.
"Aku tidak punya kekasih!" sahut Leona dalam kamar.
Lagi-lagi suara Lauren terdengar nyaring. "Kau punya dan dia ada di sampingku!"
__ADS_1
Leona dan Yuna pun keluar dari kamar dan melihat siapa tamu mereka. Ternyata apa yang ditakutkan oleh Yuna terjadi. Shane dan Mario datang bersamaan menjemput Yuna pagi itu.
***