Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 15


__ADS_3

Malam yang sama di kediaman Laurent. Yuna sedang memandang keluar jendela sambil termenung. Seharusnya dia belajar untuk skripsi, tetapi entah kenapa sepanjang hari itu, dia kehilangan fokus dan moodnya.


Bayangan Shane menari-nari di benak gadis itu. Belum lagi, ciumannya yang masih membekas di bibir Yuna. Tadi pagi, neneknya bercerita kalau pria yang mengantarnya pulang kemarin, datang lagi pagi itu untuk menjemput Yuna. Namun, Lauren mengaku kalau tadi, dia yang mengusirnya.


Maka dari itu, sepanjang hari Yuna merasa harinya sama sekali tidak menarik. Shane benar-benar tidak muncul. Baik itu di halte bus, tempat hiburan malam, bahkan di pusat perbelanjaan juga tidak ada. Padahal dia sengaja mampir ke mall hanya untuk menguji keberuntungannya.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia? Apa aku sudah jatuh cinta padanya?" tanya Yuna kepada dirinya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menyingkirkan pikiran dan perasaannya itu.


Apalagi mengingat, neneknya tidak menyetujui hubungan itu. Untuk sekedar berteman dengan Shane juga kemungkinannya sulit. Yuna menghempaskan tubuhnya di ranjang dan mengambil sebuah buku.


Keesokan harinya, dia tidak ada jam kuliah dan akan ke kampus siang hari hanya untuk bertemu dengan dosen pembimbing. Pagi itu dia dibangunkan oleh suara bibi Leona yang terdengar bahagia sekali.


Yuna membuka pintu kamarnya dan menghampiri nenek serta bibinya di ruang keluarga.


Leona melihat Yuna dan memeluk gadis itu. "Apakah Bibi menbangunkan mu? Hehehe, maafkan bibi mu ini, Gadis Kecil," ucapnya sambil mengacak-acak rambut Yuna.


"Apa bibi gajian lebih cepat atau mendapatkan bonus?" tanya Yuna. Tak seperti biasanya, Leona tampak bahagia sekali. Raut muka wanita itu sumringah dan senyum terus menghiasi wajahnya yang mulai keriput.


Dia menjawab Yuna tanpa melepaskan senyumannya. "Sepertinya aku jatuh cinta dan kalau hubunganku lancar, kau akan segera memiliki paman,"


"Bibi akan menikah?" tanya Yuna. Selama ini Leona hanya fokus pada dirinya sampai dia tidak sempat menjalin hubungan serius dengan pria manapun. Yuna bersyukur kalau ada seorang pria yang bisa mencintai bibinya itu dengan tulus dan sepenuh hati.


Leona mengangguk dengan bersemangat. Kedua tangannya dia taut kan. "Doakan bibimu ini, Sayang. Oh, jantungku masih berdebar-debar."


"Semoga kau menyetujui hubunganku, Ma," kata Leona lagi sambil berharap kepada Lauren. Dia tau sekali, Lauren tipe pemilih apalagi soal pria.


Bukan tanpa alasan Lauren bersikap seperti itu, dia tidak ingin kejadian seperti anak bungsunya menimpa Leona.


"Kalau dia bertanggung jawab, aku tidak akan keberatan. Jangan seperti, .... Sudahlah! Cepat kalian sarapan, supaya aku bisa segera pergi ke pasar!"

__ADS_1


Leona melirik kepada Yuna. Dia tau sekali siapa yang Lauren maksud kan. Leona merangkul Yuna dan mengajak keponakannya itu untuk sarapan.


Mendengar kabar bahagia dari bibinya, membuat Yuna berpikir. Apa yang akan terjadi kalau bibinya itu menikah lalu mereka punya anak? Siapa yang akan menjadi teman Yuna? Selama ini hanya bibinya itu yang menjadi tempat pelarian Yuna. Seketika itu juga, perasaan hatinya memburuk.


Gadis itu terus mendengarkan Leona bercerita tentang pria barunya tanpa benar-benar mendengarkan. Sesekali dia memberikan senyum kepada Leona, hanya untuk sekedar menghargai kisah cinta bibinya.


Beberapa hari kemudian, dugaan Yuna menjadi kenyataan. Leona jadi sering pulang terlambat dan akan pergi setiap weekend tiba.


"Kenapa dia tidak menjemputmu di rumah? Laki-laki yang baik itu akan datang ke rumah kalau dia mau mengambil wanitanya dan izin kepada orang tua wanita itu! Bukan bertemu di jalan! Ada-ada saja!" protes Lauren di suatu malam minggu.


Leona yang sibuk memulas pemerah bibir menunda jawabannya.


"Hmmm, aku yang melarangnya, Ma. Aku takut mama tidak menyukainya dan memintaku mengakhiri hubunganku dengannya. Aku pasti akan membawanya kesini saat aku sudah siap,"


Lauren mendengus mendengar jawaban putrinya. "Huh! Kalau aku melarang, tandanya pria itu tidak pantas untukmu!"


"Oh, mana Yuna?" tanya Leona tiba-tiba.


Leona tidak memperdulikan ucapan Laurent dan dia masuk begitu saja ke kamar Yuna. "Halo,"


Sore itu, Yuna benar-benar menenggelamkan dirinya ke dalam macam-macam materi yang berada di dalam buku besar yang sering dia pinjam dari perpustakaan.


"Halo, Bi. Wow, Bibi cantik sekali. Bibi mau berkencan, yah?"


Leona tersenyum.


"Ayo, ikut aku! Aku ingin mengenalkan mu pada kekasihku,"


"Untuk apa?" tanya Yuna. Kepalanya muncul dari balik laptopnya.

__ADS_1


"Kau perlu bertemu orang dan keluar rumah sebentar. Anggap saja refreshing," jawab Leona. "Ayolah! Tidak akan ada yang menggantikan posisi cum laudemu," rayu Leona saat dia melihat keraguan di wajah keponakannya itu.


"Aku tidak punya pakaian bagus," kata Yuna lagi. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk nanti.


Leona menutup kamar Yuna dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak beberapa lama, dia keluar dengan membawa dua sampai tiga gaun dan masuk kembali ke dalam kamar Yuna. "Nih, pakailah! Ukuran tubuh kita sama, kok."


Dengan enggan, Yuna mencari salah satu gaun yang dia suka dan kemudian dia mengambil gaun berwarna hitam dengan model one hand shoulder berlengan panjang dan renda besar yang menutupi bagian dadanya. "Ini saja. Ini yang paling tertutup di antara semuanya,"


"Oke, aku akan menunggumu di luar," kata Leona. Kemudian dia meninggalkan Yuna untuk berganti pakaian.


Lima menit kemudian, Yuna sudah keluar. Dia tampak manis mengenakan gaun hitam itu. Rambut yang biasa dia ikat kuda, sore itu dia biarkan menjuntai tergerai menghiasi punggungnya. Yuna mengganti kacamata tebalnya dengan softlens.Dia melakukan itu semua dengan satu tujuan, dia tidak ingin membuat bibinya malu di hadapan kekasih barunya.


"Kau cantik sekali, Yuna," kata Leona tersenyum.


Setibanya di sebuah restoran mewah, Leona berjalan dengan menggandeng tangan Yuna. "Jangan gugup, yah. Kau tidak akan jadi obat nyamuk atau penghias ruangan, kok. Hahaha! Ayo, kita masuk!"


Yuna mengangguk. Dia pun masuk ke dalam restoran itu bersama dengan Leona.


"Reservasi atas nama Shane," kata Leona kepada penerima tamu.


Yuna tersentak. Shane? Kemudian, logikanya mengambil alih. Ada banyak nama Shane dan dia pun tenang kembali. Lagipula untuk apa dia takut? Begitu pikirnya.


Sang penerima tamu itu pun mengantarkan mereka ke meja yang sudah dipesan oleh pria bernama Shane itu.


Jantung Yuna kini tidak bisa diam saat dia melihat pria bernama Shane dari kejauhan.


"Hai, sudah lama menunggu? Ah, ini keponakanku. Yuna, ini kekasihku. Kenalkan, Shane dan ini, Yuna," ucap Leona tersenyum.


Shane dan Yuna saling terpaku. Tatapan mereka saling bertumpu. 'Tidak mungkin!' pekik Yuna dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2