
Sepulang kantor, Yuna berlari mengejar Mario yang segera melengos pergi begitu saja.
"Mario, tunggu!" tukas Yuna. "Kau salah paham! Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini padamu!"
Mario berhenti setelah dia mendengar suara napas Yuna yang tersengal-sengal karena kelelahan mengejarnya. "Apa lagi? Kurasa, sudah tidak ada lagi yang harus kau jelaskan padaku, Yuna! Semua sudah jelas! Kau masih mencintainya!"
"Tidak! Aku berani bersumpah kalau aku sudah tidak mencintainya lagi!" balas Yuna sengit. "Percayalah kepadaku, Mario. Satu-satunya pria yang aku cintai itu hanya kau, bukan Shane, bukan orang lain!"
"Oh yah? Kalau begitu, bisakah kau mencium ku sekarang?" tanya Mario. Kedua netranya mengunci manik biru Yuna yang saat ini berusaha dialihkan.
Cairan sebening kristal, jatuh dari sudut mata Yuna. Gadis itu cepat-cepat mengusapnya.
"Tidak bisa, 'kan? Kau mungkin memang mencintaiku, Yuna. Tapi tidak dengan hatimu. Kau bisa saja beribu-ribu kali mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi, kau tidak bisa membuktikan itu. Hatimu masih terpatri pada Shane!" sahut Mario berapi-api. Wajahnya memerah karena menahan emosi. Dia menyugar rambutnya ke belakang sambil menghembuskan napasnya.
Yuna masih terisak-isak, kepalanya dia geleng-gelengkan terus menerus. "Aku tidak mencintainya, Mario.! Hanya kau yang aku cintai saat ini, bahkan kita sudah merencanakan untuk menapaki hubungan ini lebih lanjut, 'kan? Ayolah, Mario! Maafkan aku. Aku pun tadi marah pada Shane!"
"Kenapa juga kau harus memberikan dia cokelat?" tanya Mario kesal.
"Kau ingat saat kemarin kau menjengukku, aku bertanya kepadamu apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang kau benci, muncul di hadapanmu? Orang itu adalah ibuku.Dan, Shane adalah mantan kekasih ibuku. Kemarin, Shane membantuku untuk bisa bertemu dengan ibuku. Karena itu, aku memberikan dia cokelat juga," jawab Yuna sesenggukan.
Tadinya, gadis itu tidak mau memberitahukan masalah pribadinya pada Mario. Karena Mario terlanjur melihat apa yang telah dilakukan Shane kepadanya, mau tidak mau, dia terpaksa menceritakan masa lalu yang dianggapnya sebagai aib itu kepada Mario.
Mario tercengang. "Ka-, kau serius? Aku tidak tahu ada masalah itu? Kenapa kau tidak menceritakan hal ini kepadaku?"
Mario menggelengkan kepalanya sambil memainkan lidah di dalam mulutnya. Dia berkacak pinggang, lagi-lagi wajahnya kecewa. "Kau tahu? Setelah kusadari, segala yang terjadi padamu selalu berhubungan dengan Shane. Kenapa bisa seperti itu?"
"Astaga, Mario! Awalnya aku tidak tahu kalau wanita itu ibuku dan aku juga tidak tahu kalau ibuku adalah mantan kekasih Shane! Berpikir luas lah, Mario!" balas Yuna. Air matanya sudah mengering dan digantikan dengan emosi yang tak terkendali.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar karena marah. Dia kesal, kenapa Mario tidak mau mendengar penjelasannya? Mengapa pria itu selalu menyangkut-pautkan Shane dalam hubungan mereka?
"Baiklah, kalau kau mau putus, ayo, kita lakukan itu!" tukas Yuna geram. "Kau selalu menyeret Shane dalam hubungan kita,! Dan itu tidak sehat, menurutku!"
Mario menatapnya, setelah itu, dia memejamkan matanya sesaat. Kemudian, dia mengangguk-angguk. "Oke! Aku juga sudah lelah dengan semua drama yang ada dalam hubungan kita,"
Yuna menatap Mario yang berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi ke arahnya. Kekuatannya tiba-tiba saja menguap, dia pun terjatuh dengan posisi jongkok, dan menangis.
Sebuah mobil berhenti di depannya. Pintu mobil itu terbuka dan seorang wanita menawarkan Yuna untuk masuk. "Hei, kau wanita dewasa! Masuklah!"
Yuna mengangkat wajahnya dan dia melihat Liana berada di dalam mobil itu. Wanita itu mengedik kan kepalanya, menyuruh Yuna masuk.
Karena Yuna tidak memiliki tempat tujuan dan dia sedang tidak ingin pulang ke rumah, maka, dia masuk ke dalam mobil Liana. Dia mengusap pipinya yang lengket karena air mata, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Liana.
"Jangan usap matamu dan biarkan saja air matamu mengalir!" sahut Liana. Wanita itu benar-benar dingin, dia bahkan tidak menawarkan selembar tissue pada Yuna.
Liana tersenyum. "Ya, kau tidak menangis. Berarti, kau sedang flu? Karena suaramu sengau dan matamu hanya tersisa segaris karena sembab dan bengkak,"
Yuna berdeham-deham untuk mengembalikan suaranya. Gadis itu juga mengambil saputangan dan menekan-nekan kedua matanya dengan saputangan tersebut.
"Kenapa kau menolak untuk menangis? Apa kau tahu sebuah teori yang mengatakan, kalau air mata adalah bukti kekuatan seorang wanita? Kenapa kau malu?" tanya Liana.
"Aku tidak malu. Aku hanya-,"
"Tidak ingin terlihat lemah di mataku. Benar begitu?" kata Liana menebak. Dia pun tersenyum saat melihat raut wajah Yuna berubah menjadi kemerahan. "Bagaimanapun, kau anakku, Yuna. Sebagian sifat ku menurun padamu,"
Yuna menelan saliva nya. "Darahku memang mengatakan kalau aku anakmu. Tapi, kau tidak pantas menjadi ibuku. Apa kau pernah mendengar sebuah teori yang mengatakan darah tak lebih kental dari air?" balas Yuna.
__ADS_1
"Kau tahu artinya apa, 'kan? Sedarah belum tentu bisa menjadi keluarga. Ada orang yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali, bisa berkumpul dan menjadi sebuah keluarga. Saat ini, keluargaku hanyalah Bibi dan Nenek. Mereka adalah rumahku, tempatku pulang," sambung Yuna lagi. Suaranya terdengar tegas, tidak ada lagi sengau dalam suaranya.
Liana kembali tersenyum. "Percaya atau tidak, begitulah ucapan ku pada ibuku saat dia memarahiku,"
Ibu Yuna itu membawa kendaraannya menuju sebuah bar tanpa sepengetahuan Yuna. Tak lama, kendaraan roda empat itu sudah terparkir rapi di depan sebuah bangunan berwarna cokelat dan hitam. "Masuklah,"
Yuna melihat sekelilingnya. "Kau gila! Kenapa kau membawaku ke tempat ini?"
"Turun saja. Aku tidak akan mencelakai mu," ucap Liana santai.
"Kata siapa? Kau bahkan meninggalkanku begitu saja di rumah nenek." Yuna membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu. Namun, dia tidak bergegas masuk ke dalam bar. Dia melangkahkan kakinya keluar dari halaman parkir bar tersebut.
Liana segera menyusul Yuna dan terus memanggilnya. "Yuna, hei, kembalilah! Yuna!"
Yuna tidak menoleh, bahkan dia mempercepat langkahnya untuk menjauh dari Liana. Gadis itu terus berjalan sampai dia menemukan supermarket tak jauh dari situ.
Dia masuk ke dalam dan membayar sebotol air minum dingin. Yuna berusaha menenangkan dirinya sendiri, sampai dia tau apa yang harus dia lakukan.
Setelah tenang, dia mengambil ponselnya. Dia pun mengirim pesan kepada Leona.
("Aku sedang bersama Bryan, belum sampai rumah. Ada apa, Sayang? Kau di mana?") balas Leona.
"Aku lembur. Baiklah, Bi. Have fun," tulis Yuna dalam pesannya. Tadinya dia ingin meminta tolong pada Bibi Leona untuk menjemputnya.
Yuna membuang napasnya kasar. Siapa lagi yang harus dia hubungi? Terpikirkan satu orang yang akan dia hubungi. Maka, dia menekan angka ponsel orang tersebut. "Hei, maaf merepotkan mu. Tapi, bisakah aku minta tolong padamu?"
***
__ADS_1