
"Liana yang membawamu ke tempat itu? Apa yang dia pikirkan sebenarnya?" tanya Shane.
Yuna menghubungi Shane dan meminta tolong pada oria dewasa itu untuk menjemputnya. "Tadinya, aku ingin masuk tapi aku teringat kata nenekku. Jangan memilih jalan yang salah saat kau sedang ada masalah. Lebih baik berdiam diri dan tenang. Lalu, aku pergi meninggalkan Liana di sana,"
"Kau sedang ada masalah apa memangnya?" tanya Shane. Saat Shane menghampirinya, wajah Yuna tampak muram dan matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
Awalnya, Shane ingin bertanya apa yang terjadi pada gadis itu, tapi dia urungkan. Dia takut mendahului Mario, kekasih Yuna.
"Dan kenapa juga kau tidak menghubungi kekasihmu?" tanya Shane lagi.
Air mata Yuna kembali menetes. "Aku putus dengannya, Shane. Dia melihat kau mencium ku di atap tadi siang, dan dia marah padaku,"
Gadis itu menenggelamkan wajahnya di atas meja dan mengeluarkan air mata di dalam dekapannya. "Dia mengatakan kalau aku tidak pernah mencintainya. Itu tidak benar, aku mencintainya. Hanya saja, saat bersama Mario, aku sedikit berhati-hati,"
Shane merangkul pundak gadis itu. Dia tak pernah mengira kalau perbuatannya tadi siang membuat gadis yang dicintainya itu bersedih dan menangis. "Maafkan aku, Yuna. Aku akan berbicara pada Mario mengenai hal ini,"
Yuna menggeleng. "Tidak perlu. Ini masalahku, bukan masalahmu," ucap Yuna.
Dia mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya. "Setelah ini, aku akan baik-baik saja. Terima kasih karena kau mau menjemput ku,"
Tak lama, Shane mengajak gadis itu untuk pulang. Di dalam perjalanan, Yuna tertidur. Shane menepikan mobilnya sebentar dan memposisikan kursi mobilnya, supaya Yuna merasa nyaman.
Dia sengaja mengambil jalan memutar, supaya Yuna bisa tidur lebih lama. Hingga dia sampai di sebuah kedai kopi yang sudah tutup tak jauh dari rumah Yuna.
Pria itu melihat kalau Yuna masih tertidur dengan nyenyak dan dia tidak ingin membangunkan gadis itu dari tidurnya. Shane melihat wajah Yuna tanpa bosan. Dia merapikan rambut Yuna yang terjatuh saat kepala Yuna bersandar pada kaca mobil.
"Kau tahu, aku adalah orang yang bersorak di atas tangisanmu, Yuna. Aku adalah orang yang bersyukur atas patahnya hatimu. Maafkan aku atas semua itu. Aku masih sangat mencintaimu, Yuna," bisik Shane seolah-olah berbicara kepada gadis yang sedang tertidur itu.
Setelah lima menit menunggu, Shane ikut mereclining kursi mobilnya dan berbaring di samping gadis itu. Tak lama, Shane pun tertidur bersama Yuna di dalam mobil.
__ADS_1
Tanpa terasa, pagi pun tiba. Shane terbangun karena sebuah ketukan di kaca mobilnya. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Bryan?"
"Aku melihat mobilmu dan karena aku takut terjadi sesuatu denganmu, aku turun untuk mengecek kondisimu. Kau baik-baik saja? Dan, apakah itu Yuna? Apa yang terjadi dengan kalian? Kalian semalaman tidur di dalam mobil? Wow, wow, wow! Shane-,"
Shane menempelkan jari telunjuknya di bibir Bryan. "Tidak ada yang terjadi di antara kami. Tadi malam, aku hanya mengantarnya pulang tapi dia tertidur dan aku tidak tega membangunkannya dan tanpa sengaja, aku ikut tertidur. Apakah ini sudah pagi?"
Bryan memperlihatkan jam tangannya yang berlapis emas. "Nyaris siang, Sayang. Bangunlah dan antar Yuna pulang sebelum kau diamuk oleh Lauren. Kau tahu seperti apa wanita tua itu, 'kan?"
Shane mengusap kasar wajahnya. "Ya, aku akan mengantar Yuna pulang dan tak akan ku izinkan dia masuk hari ini," Dengan bantuan Bryan, Shane pun berhasil lolos dari amukan Lauren.
"Apa katamu? Ibunya mengajak dia ke klub malam? Orang gila, Liana itu! Aku tak habis pikir dengan kakakmu itu, Leona! Dari dulu, ada saja tingkahnya yang membuatku berumur pendek! Sekarang, dia melibatkan anak gadisnya sendiri ke dalam permasalahan hidupnya! Gila, Liana itu!" omel Lauren. Wajahnya tampak khawatir saat Shane menggendong cucu perempuan satu-satunya itu.
Setelah drama pagi itu selesai, sesuai niatnya, Shane meminta Mario menemuinya saat jam makan siang. Melalui bantuan Dave, Shane menunggu pegawai barunya itu untuk bertemu di sebuah restoran yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh Dave.
"Mario, suatu kehormatan untukku bisa menyantap jamuan siang bersamamu. Duduklah di manapun kau suka," ucap Shane.
"Jadi?" tanya Mario.
"Kita nikmati saja makan siang kali ini, setelah selesai kita baru akan membicarakan hal-hal penting," sahut Shane.
Mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan itu dalam diam. Makanan diantar silih berganti. Mulai dari makanan pembuka, makanan utama, dan yang terakhir adalah makanan penutup.
"Ah, lezat sekali. Bagaimana pendapatmu rasa makanan di sini?" tanya Shane sambil menyuap sorbet tiramisunya.
Mario mengangguk. "Ya, semua makanan yang dihidangkan enak,"
"Baiklah, aku mengajakmu datang ke sini bukan sebagai atasan atau bawahan. Aku mengajakmu menemui ku sebagai teman," sahut Shane memulai pembicaraan mereka.
Kening Mario berkerut. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Ini masalah pribadi, bukan masalah kantor. Pekerjaanmu luar biasa, aku tidak ada keluhan sama sekali atas kinerja mu. Siang ini, aku ingin mengajakmu berbincang-bincang tentang hal yang bersifat pribadi," jawab Shane.
Pria dewasa itu menyeruput kopi hitam tanpa gulanya dan mulai bicara lagi. "Tentang Yuna. Kurasa kau salah paham tentang hubungan kami,"
"Tidak salah paham. Kalau Anda mengatakan hubungan Anda dan Yuna sebatas teman, tapi mengapa Anda selalu menciumnya?" tuntut Mario kesal. Nada suaranya menjadi tinggi seketika.
"Kau hanya cemburu, Mario. Kalau kau bertanya kepadaku, apakah aku masih mencintainya atau tidak, maka jawabanku adalah, ya aku masih mencintainya," jawab Shane. "Tapi, tidak dengan Yuna. Gadis itu mencintaimu, Mario. Kaulah pemenang hatinya, bukan aku,"
Mario terdiam. "Kenapa kau selalu menciumnya dan dia tidak bisa menolak setiap kali kau menciumnya? Sedangkan dia baru mencium ku dua kali!"
"Apakah menurutmu ciuman menjadi sebuah tanda cinta?" Shane balik bertanya. "Kalau itu patokan mu, berarti kau tidak tulus mencintainya. Lalu, ketika nanti dia sudah memberimu segala yang dia punya, apalagi tuntutan mu?"
Lagi-lagi Mario terdiam. Apakah selama ini dia salah karena selalu memakai ciuman sebagai tolak ukur sebuah cinta? "Dia memberikan segalanya padamu!"
"Ya, maka itu kali ini, dia sedikit berhati-hati. Apa itu salah?" tanya Shane tajam. "Aku sudah tidak ada lagi di hatinya. Hanya ada kau seorang!"
Wajah Mario mengeras. Laki-laki itu berkeyakinan kalau Yuna masih mencintai Shane dan dia hanyalah sebagai alat untuk melupakan pria yang ada di hadapannya kini.
"Dia mencintaimu, dia masih mencintaimu, dan dia selalu mencintaimu! Jangan coba-coba mempengaruhiku untuk terus menjadi orang yang buta dan bodoh karena cinta, Shane!" tukas Mario.
Shane masih menanggapi Mario dengan santai. "Kalau begitu, sekarang kau menyerah?"
Mario mengangguk. "Ya, aku lebih memilih mencintai diriku sendiri. Jika aku bersikeras mengharapkan cinta dari Yuna, itu sama halnya dengan aku berharap pada sebuah bayangan untuk mencintaiku!"
"Baiklah, kalau begitu. Jika kau sudah sungguh-sungguh menyerah, aku akan kembali mengejar cintaku. Aku akan kembali mendekati Yuna. Kau tidak masalah dengan itu?" tanya Shane tersenyum.
Mario terdiam sesaat dan kemudian dia mengangguk. "Silahkan! Terima kasih jamuan makan siang mu, Shane!" Mario pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Shane yang masih tersenyum.
***
__ADS_1