Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 68


__ADS_3

Di suatu siang di hari minggu, keluarga Yuna duduk bersama-sama di sebuah restoran. Mereka menunggu kedatangan seseorang yang sudah berjanji akan bertemu hari itu dengan mereka.


"Siapa katanya dia?" tanya Yuna.


"Ayahmu," jawab Leona.


Yuna mengerang dan menarik napas panjang. "Kenapa orang tuaku tiba-tiba muncul satu per satu seperti ini?"


"Mungkin, memang jalannya seperti ini, Yuna," jawab Leona sambil mengusap lembut rambut keponakannya.


"Huft!" tukas Yuna kesal.


Belum hilang lelah gadis itu karena ulah Liana, sang ibu, tadi malam Leona mengatakan ayahnya ingin bertemu.Tentu saja, Yuna terkejut bukan main.


"Ayahku? Aku masih punya ayah? Ada apa dengan orang-orang dewasa ini, sih!" ucapnya geram saat itu.


Setelah bujuk rayu yang cukup kuat terjadi, akhirnya Yuna bersedia bertemu dengan Andrew hari itu. Ingin sekali dia mendadak hilang saat ini. Masalah datang silih berganti, mulai dari kehidupan cintanya sampai kehidupan pribadinya.


Tak lama, seorang pria tampan dengan tubuh tidak terlalu berisi datang menghampiri meja mereka. Sudah jelas sekali kerutan di wajah pria itu. Namun, kerutan-kerutan itu tak mampu menghapuskan ketampanannya.


"Halo, maaf membuat kalian menunggu," kata pria itu.


Lauren dan Yuna memasang ekspresi yang sama. Melipat kedua tangan mereka di dada, dan memandang pria itu dengan wajah berjengit, seolah pria itu sesuatu yang menjijikan.


"Ibu, bagaimana kabarmu?" tanya pria itu lagi kepada Lauren.


"Huh!" jawab Lauren sambil membuang muka.


Pria itu tersenyum dan menundukkan wajahnya. "Maafkan aku karena mendadak ingin bertemu dengan kalian. Kemarin, aku sempat bertemu dengan Leona dan aku menceritakan segalanya pada Leona tentang apa yang terjadi selama ini. Aku dapat menyimpulkan kalau kalian telah salah menilaiku,"


"Apanya yang salah?" ucap Lauren sinis. "Sudah jelas kau adalah lelaki yang tak bertanggung jawab yang telah menelantarkan anak dan cucuku!"


Leona memegang lampu tangan ibunya. "Ibu, biarkan Andrew menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu. Setelah itu, kita baru menilainya dan menentukan apa yang harus kita lakukan,"

__ADS_1


Setelah mendapatkan lampu hijau dari Leona berupa anggukan kepala, Andrew pun melanjutkan ceritanya. Dia menceritakan segala sesuatu yang telah dia ceritakan kepada Leona di malam sebelumnya.


Perlahan-lahan, Lauren dan Yuna mengalihkan pandangan mereka dan menatap kedua mata Andrew untuk mencari sebuah kejujuran.


"Seperti itu, Ibu dan maafkan aku karena aku terlambat datang," ucap Andrew mengakhiri ceritanya.


Baik Lauren dan Yuna sama-sama terdiam dan tampaknya mereka kehabisan kata-kata.


"Jadi? Dalam kasus ini anak ku kah yang bersalah?" tanya Lauren kering. Dia sedikit merasa malu karena telah menyalahkan Andrew sepenuhnya dalam hal ini. "Apa kau punya bukti?"


Andrew mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi percakapan ponsel mereka sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Dia juga memberikan surat yang ditulis oleh Liana yang baru-baru ini dia temukan berada di bawah lipatan pakaian di dalam lemari.


Lauren, Yuna, dan Leona membagi lembaran kertas itu dan membacanya dengan seksama. Mulut Lauren terasa pahit. Dia benar-benar merasa malu dan merasa bersalah karena telah menuduh Andrew tidak bertanggung jawab.


Butiran bening seperti kristal menetes dari sudut mata wanita tua itu. Pundaknya bergetar, dan butiran itu luruh dengan cepat seperti air hujan. "Aku membesarkan dia dengan baik. Tapi, kenapa aku gagal membuat dia menjadi seorang wanita terhormat dan bertanggung jawab? Aku gagal menjadi seorang ibu,"


Tangis Lauren pun pecah seketika. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Leona dan Yuna memeluk tubuh kecil wanita itu.


Lauren menggelengkan kepalanya. "Aku gagal! Aku tidak bisa membuat kakakmu menjadi ibu yang baik untuk cucuku, aku gagal membuat dia berbakti pada suaminya. Aku bukan ibu dan nenek yang baik!"


Yuna sedikit takut melihat Lauren kehilangan kendali dirinya. Dia ikut menangis. "Nenek, jangan bicara seperti itu, Nek. Nenek itu nenek yang baik untuk Yuna dan Nenek juga sudah Yuna anggap sebagai ibu Yuna sendiri. Jangan menangis, Nek!"


Kini, Leona dan Andrew sibuk menenangkan kedua wanita yang menangis. Butuh waktu cukup lama sampai mereka tenang dan tangisannya reda.


"Maafkan aku, aku tidak dapat menahan emosiku. Aku sungguh-sungguh kecewa pada diriku sendiri. Maafkan aku, Andrew," ucap Lauren lagi.


"Tidak, Ibu. Ibu adalah ibu yang baik dan tegar." ucap Andrew bersungguh-sungguh.


Lauren kembali mengusap air matanya. "Maafkan, aku. Lalu, apa tujuanmu ke sini?"


Andrew menatap Leona dan Yuna bergantian. "Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini dan aku ingin melihat anakku, Bu,"


Yuna tampak takut dan khawatir. Dia terus menggenggam erat tangan Leona sejak Lauren menangis histeris tadi. "Aku tidak mau!"

__ADS_1


Leona paham apa yang dirasakan oleh Yuna saat ini. "Andrew, kurasa kita harus mengakhiri ini sampai di sini. Kau juga tidak bisa memaksakan Yuna untuk bertemu denganmu. Ini terlalu mendadak untuknya. Dia mengira dia tidak memiliki orang tua, tetapi tiba-tiba saja kalian berdua muncul di hadapannya dengan membawa pendapat dan masalah masing-masing. Biarkan dia mencerna ini semua dulu. Aku dan Ibu tidak akan melarangmu untuk datang ke rumah, tapi untuk saat ini, kurasa harus kita akhiri," ucap Leona panjang.


Andrew hendak membantah, akan tetapi begitu dia melihat wajah Yuna yang ketakutan, dia mengurungkan niatnya untuk membantah.


Pada akhirnya, pria itu mengangguk lemah. "Kurasa kau benar. Kita harus sudahi dulu sampai di sini,"


Matanya menatap Yuna. "Maafkan aku, Yuna. Aku tahu kau terkejut, takut, dan marah. Aku hanya ingin melihatmu dan ternyata kau tumbuh dengan baik."


Setelah itu, pandangannya beralih kepada Lauren. "Ibu, terima kasih sudah merawat Yuna kami dengan baik. Bolehkah, aku memelukmu, Bu?"


Lauren berdiri dan merentangkan kedua tangannya. "Maafkan aku, Andrew,"


Lauren kembali menangis di dalam pelukan Andrew. Mereka berdua pun saling bercerita tanpa kata-kata.


Malam harinya, Yuna meminta Shane untuk menemuinya di suatu tempat. Dia ingin melepaskan penatnya selama seharian tadi.


Begitu Shane datang, Yuna segera menceritakan segalanya pada Shane. Tanpa diduga, Shane segera memeluknya erat. "Kau hebat, Yuna. Kau gadis kuat!"


Yuna meneteskan air matanya di dalam dekapan pria yang saat ini dapat diandalkan itu. "Aku kesal, aku marah, aku takut, dan aku bingung. Ini semua terjadi dengan cepat dan menumpuk!"


Shane membelai punggung gadis kecil itu dengan sayang dan membiarkan Yuna menumpahkan semua emosi yang telah dia pendam seharian tadi.


"Te-, terima kasih kau mau datang, Shane. Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa lagi. Aku juga tidak tahu harus ke mana untuk meluapkan segala kekesalanku hari ini," kata Yuna sesenggukan.


Shane tersenyum dan menepuk-nepuk pucuk kepala Yuna. "Aku justru berterima kasih kepadamu. Itu artinya, aku selalu menjadi satu-satunya orang yang di list hidupmu,"


Yuna tertawa kecil. "Jangan sombong! Aku hanya kepepet dan meneleponmu,"


"Aku senang melihatmu tertawa, Yuna. Teruslah mengandalkanku dalam setiap perkara hidupmu, aku tidak akan pergi atau meninggalkanmu," sahut Shane serius.


Kedua netra mereka kini saling bertumpu. Shane mendekati wajah Yuna dan dengan lembut mengambil alih bibir mungil Yuna dan memagutnya.


***

__ADS_1


__ADS_2