Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 22


__ADS_3

Bab 22


Leona serasa tersambar petir di siang bolong. "Apa? Apa maksudmu? Kau bercanda, 'kan? Ya, 'kan, Shane?" Kelopak cinta yang baru saja tumbuh di hati Leona, kini terpaksa berguguran satu per satu.


"Maafkan aku, Leona. Sebenarnya ada wanita lain yang aku sukai. Saat pertama kita bertemu, aku memang berniat melupakan wanita itu. Namun ternyata, wanita itu datang lagi ke dalam hidupku dan rasa itu hadir kembali di hatiku. Aku tidak bisa bergerak maju karena dia telah mengambil lebih dari separuh hatiku," jawab Shane. Dia menundukkan wajahnya. Pria itu paham sekali kalau saat ini dia menyakiti hati Leona hanya demi mendapatkan keponakannya.


Leona cepat-cepat menguasai dirinya sendiri. Dia tidak mau terlihat lemah di depan pria yang baru saja dia cintai itu. "Baiklah, kalau begitu. Aku rasa aku juga belum begitu mencintaimu terlalu dalam. Jadi, ayo, kita akhiri saja hubungan ini!"


Setelah mengucapkan itu, Leona memberikan senyumnya yang terbaik, dan dia bergegas pergi dari restoran itu. Untunglah, malam itu dia mengendarai mobilnya sendiri. Sehingga dia bisa menumpahkan semua rasa sakit dan kecewanya tanpa ada yang melihat.


Di tengah kegelapan malam, Leona melajukan kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi. Hingga sampailah dia di sebuah bar dan dia memarkirkan kendaraannya di sana. Wanita itu tidak langsung masuk ke dalam bar.


"Ayo, Leona. Jangan menangis! Kau harus kuat, ini hanya patah hati biasa dan dia belum merugikan mu sama sekali. Kuatlah, Leon!" ucapnya bermonolog. Namun, air matanya justru bergulir dengan cepat dari hulu maniknya.


Leona menenggelamkan wajahnya di kemudi supir dan kali ini, dia mengalah pada kesedihannya. Setelah puas menangis, dia merapikan kembali make up-nya dan turun dari mobil.


Malam ini, dia bertekad akan melupakan Shane, laki-laki sialan yang nyaris saja memporak-porandakan hidupnya. "Dry martini," kata Leona. Tak beberapa lama kemudian, segelas minuman dengan buah olive di pinggir gelasnya pun datang.


Sementara Leona memutuskan untuk menghibur dirinya sendiri di bar, Mario dan Yuna sedang menikmati waktu berdua mereka di bioskop.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau kau menyukai genre film thriller seperti itu," kata Mario setelah mereka selesai menonton film.


Yuna tersenyum. Malam itu, dia tampak manis dalam balutan kaus crop top yang di tutupi dengan cardigan putih serta celana ripped jeans. "Aku tidak suka film romance. Terkadang, emosiku ikut terbawa dan aku berakhir dengan air mata. Akan sangat memalukan jika kau melihatku menangis,"


Mario cukup puas malam ini, karena Yuna mau keluar dengannya dan dia banyak sekali bercerita tentang ini dan itu. "Tidak masalah untukku. Aku jadi lebih mengenalmu,"


"Ketika aku sudah dekat dengan seseorang, aku akan terus berceloteh tanpa ada yang bisa menghentikannya. Aku bawel kata nenekku, hahaha. Ah, tuh 'kan, aku bercerita lagi. Maafkan aku," kata Yuna. Senyumnya tak lekang semalaman itu.


Mario memberanikan diri untuk menggandengnya karena salah satu studio terbuka dan puluhan orang keluar dari studio itu sehingga memenuhi selasar.


Yuna merasakan tangan Mario yang menaut di jari-jarinya. Tiba-tiba saja, jantungnya berdebar perlahan. Perasaan apa itu? Bukankah dia hanya menyukai Shane? Yuna belum pernah bergandengan tangan dengan Shane, mereka hanya berciuman. Itupun hanya beberapa kali.


"Apa kau kedinginan?" tanya Yuna.


Mario tertawa. "Hahaha! Katakan saja, malam ini aku kedinginan,"


Yuna tersipu malu. Karena pesan Laurent kepada mereka tidak boleh pulang terlalu malam, maka setelah makan, Mario mengantarkan Yuna pulang ke rumah.


Mobil bibinya belum ada, berarti bibi Leona belum kembali. Entah mengapa malam itu, Yuna tidak peduli hubungan bibinya dengan Shane.

__ADS_1


"Terima kasih, kau membuatku banyak tertawa malam ini, kak Mario," kata Yuna.


Lagi-lagi Mario tersenyum. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Yuna. Kau mengizinkanku untuk mengenalmu lebih jauh. Andaikan, pekan depan kau kosong, bolehkah aku mengajakmu lagi?"


Yuna mengangguk malu. "Boleh, tapi kemungkinan besar aku akan membawa alat perang ku, hehehe."


Kedua alis Mario menyatu. "Maksudmu?"


"Aku akan membawa buku dan laptopku, karena aku mulai menyusun skripsi ku," kata Yuna.


Mario kembali tertawa. "Oke, mungkin kita menghabiskan malam di kedai donat dan kopi yang ada di pusat kota sana,"


"Oke, sampai jumpa pekan depan," kata Yuna. Gadis itu pun berpamitan dan bergegas turun dari mobil Mario. Seperti biasa, dia tidak akan masuk sampai mobil Mario menghilang di ujung jalan.


Begitu dia hendak masuk, lagi-lagi seseorang menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Kau jalan bersama dengan pria itu lagi?"


"Sh-, Shane? Bukankah kau bersama Bibi Leona? Tapi, bibi belum kembali. Apa yang terjadi?" tanya Yuna khawatir. Seharusnya, mobil Leona juga sudah ada di rumah karena Leona mengatakan malam ini dia akan berkencan bersama Shane.


***

__ADS_1


__ADS_2