Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 35


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Lauren pun mulai merasa baikan. Wanita tua itu tetap melarang cucunya untuk kembali ke apartemen Shane. Menurutnya, Yuna hanya akan menyesal jika tetap kembali ke sana.


"Tapi semua barang-barangku di sana, Nek. Bagaimana kalau begini saja, tiga hari aku akan berada di sana dan selama sisa pekan aku akan berada di sini bersama Nenek dan Bibi. Bagaimana?" tanya Yuna bersikeras..


Apalagi sudah beberapa hari ini, Shane selalu menanyakan kapan gadis itu akan kembali ke apartemen miliknya. Dan biasanya jawaban yang diberikan Yuna hanyalah Dia belum diizinkan oleh Lauren.


Namun hari ini, begitu dia melihat kondisi Lauren sudah jauh lebih baik bahkan sudah bisa mengomel-ngomel lagi, Yuna memutuskan untuk kembali ke apartemen Shane dan tinggal bersamanya.


Kali ini, baik Lauren maupun Leona sudah menyerah dengan keras kepala Yuna.


"Baiklah, tapi berjanjilah kepada kami kalian tidak akan saling bersentuhan!" ucap Leona saat itu.


Mau tidak mau, Yuna pun terpaksa berjanji kepada bibinya itu supaya izin untuk keluar dari rumah neneknya dikabulkan.


"Oke, aku berjanji,"


Maka malam itu, Shane menjemput Yuna di rumah Lauren. Sebelum mereka berpamitan, Leona sempat menarik Shane sebentar untuk berbicara. Kali ini Lauren ikut berbicara dengan mereka berdua.


"Dengarkan aku, Shane. Aku akui, keponakanku sudah mulai beranjak dewasa dan dia benar-benar sedang tergila-gila padamu. Aku berharap, kau tidak menghancurkan masa depannya. Jika kau benar-benar mencintai dia, maka jangan rusak dia dan biarkan dia untuk menggapai semua mimpi dan cita-citanya." ucap Leona memohon.


Shane menggangguk. "Aku mencintainya Leona, bahkan melebihi cintaku pada diriku sendiri. Tidak ada niat untuk merusaknya atau menghalanginya dalam menggapai mimpi dan cita-citanya, bahkan aku menawarkan posisi di perusahaanku. Aku tahu Dia gadis yang pintar dan perusahaanku membutuhkan gadis sepintar itu, untuk membangun dan mengeruk keuntungan sebanyak mungkin,"


Lauren mendengus mencemooh. "Lalu, kau pekerjakan dia? Apakah kau akan menggajinya ataukah kau hanya akan memanfaatkan dia? Anak muda kuperingatkan kepadamu, kalau sampai 1 butir saja air mata menetes dari mata cucuku siap-siap kau akan kehilangan benda pusaka yang paling berharga!"


Shane tersenyum kecut, dalam hati, dia berpikir bahwa hubungannya dengan Yuna akan menuai banyak kontroversi sekaligus ancaman dari berbagai macam arah. Belum lagi dari keluarganya yang menginginkan dia untuk segera menikah melalui perjodohan.


Setelah berdebat dengan Leona dan Lauren, Shane pun meminta izin kepada mereka berdua untuk membawa Yuna kembali ke apartemennya.


Setibanya mereka di apartemen, janji yang baru saja terucap segera saja dilanggar. Shane menghujani Yuna dengan ciuman bertubi-tubi tanpa henti.


Yuna tertawa. "Hahaha! Apa yang kau lakukan, Shane?"


"I miss you, Honey. So much," jawab Shane sambil mengecup bibir Yuna yang seakan terus memanggilnya. Tak tahan, Shane menyapukan bibirnya kepada Yuna. Janji untuk tidak menyentuh gadis itu kini hanya tinggal janji.


Apalagi, saat Yuna sudah mengalungkan lengannya ke pundak Shane dan tak lupa dia melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang pria dewasa itu.


Keduanya semakin sulit dipisahkan karena terbelenggu hasrat dan gairan yang kian berkobar di antara mereka. Shane dengan mudah, mendudukan Yuna di atas meja kerjanya. Dia membuang begitu saja semua kertas dan benda di atas meja itu.


Tak sabar, tangannya membuka kaus panjang yang dipakai Yuna dan meloloskannya. Segera saja kedua bukit kembar Yuna menjadi target Shane berikutnya. Dia meremmas, memutar, dan memilin puncak bukit kemerahan itu. Bibirnya pun ikut bermain di sana membuat pemiliknya menggelinjang di bawah kungkungan tubuhnya.


Shane tahu batasnya, begitu dia puas, ciumannya kembali merayap ke atas dan memagut bibir kekasih kecilnya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Yuna. Rasanya sepi sekali hidupku tanpamu," ucap pria itu dengan napas terengah-engah.


Yuna tercekat begitu Shane mengangkat tubuhnya, dia masih menginginkannya. Sangat menginginkannya.


"Aku juga merindukanmu, Shane. Rasanya tidak ingin lepas darimu,"


"Besok kau ada jadwal kuliah?" tanya Shane.


Yuna memutarkan bola matanya ke atas dan mengingat jadwal untuk besok.


"Ada tapi tidak begitu penting. Absenku bagus, bahkan di atas seratus persen begitu juga dengan nilai-nilaiku. Misalkan, kau ingin mengajakku untuk membolos, tidak akan berpengaruh apa-apa,"


Melihat seringai lebar di wajah kekasihnya membuat pria berusia 40-an tahun itu tersenyum.


"Benarkah? Aku akan mengajakmu ke manapun kau mau,"


Keesokan harinya, Yuna dan Shane sudah memakai pakaian yang sama dengan warna yang sama. Pada kaus Yuna tertulis Her dan pada kaus Shane tertulis His.


"Apa tidak tampak aneh?" tanya Yuna.


Shane menggelengkan kepalanya.


"Untuk satu hari ini, aku ingin kau menjadi gadis cantik seperti waktu itu. Lepaskan kacamatamu dan pakailah ini,"


"Kau benar-benar seperti mutiara di kubangan lumpur, Yuna. Kau menyembunyikan kecantikanmu hanya untuk dirimu sendiri. Tapi sekarang, kuanggap kau mengizinkanku untuk berbagi kecantikanmu, hehehe," ucap Shane terkekeh.


Wajah Yuna memerah dan tersipu. "Aku hanya merasa aneh jika mengubah penampilanku,"


"Tidak masalah kau lakukan itu sesekali," kata Shane lagi.


Setelah segalanya selesai, Shane dan Yuna pun siap untuk pergi berlibur. Shane mengajak Yuna ke sebuah villa dengan pemandangan pegunungan yang indah. Dia bahkan menyewa satu villa besar hanya untuk mereka berdua.


"Wah, indah sekali pemandangan dari atas sini. Gunung itu terlihat lebih dekat," ucap Yuna.


Villa itu dilengkapi dengan restoran yang terletak tepat di sebelahnya. Suhu di sana cukup dingin, Shane memberikan jaketnya untuk Yuna dan mengajak Yuna untuk mencari sesuatu yang hangat di restoran.


Gadis itu pun setuju. Mereka berdua menghabiskan siang itu di sana. Begitu sore hari tiba, Shane meminta Yuna untuk beristirahat sedangkan dia kembali bekerja.


"Ada meeting yang harus kuhadiri. Aku akan virtual meeting sebentar, kau boleh berisitirahat di sini. Aku tidak akan lama," kata Shane mengecup kening kekasihnya itu.


Yuna melihat ada kolam renang di ruangan makan villa itu. Dia berlari kecil ke dalam dan mencari pakaian renang yang tadi dia bawa. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan pakaian renang dan menceburkan dirinya ke kolam dingin itu.

__ADS_1


Keseruan Yuna itu memancing Shane untuk meliriknya. Dia tersenyum sekaligus mengutuk aktifitas dadakan yang sedang dia kerjakan saat ini. "Ah, meeting sialan ini!"


Pria itu kembali fokus ke layar laptopnya. "Oke, I got it. Sebelumnya, aku minta maaf karena sepertinya kita harus beristirahat dan akan kita lanjutkan satu jam lagi. Bagaimana?"


Shane tak bisa menahan dirinya dari godaan Yuna yang hanya memakai bikini itu. Setelah mendapatkan persetujuan dari peserta rapat lainnya, Shane segera melepaskan kemejanya dan berlari menyusul Yuna di kolam renang.


"Kau bersenang-senang tanpa mengajakku! Apalagi hanya dengan memakai pakaian seperti ini, kau membuatku terdistraksi, Yuna!"


"Bukankah kau meeting?" tanya Yuna.


Shane melummat bibir gadis itu. "Kuhentikan sementara sampai satu jam ke depan,"


Yuna tertawa. "Hahaha! Seenaknya sendiri begitu! Kalau ak-,"


Kalimat Yuna terpotong karena Shane sudah kembali mengambil alih bibir mungil Yuna. Dia menggerakkan bibirnya dan memagut benda kenyal itu dengan panas.


Suasana dingin di villa itu, kini berubah menjadi sangat panas akibat api cinta mereka. Shane mengangkat tubuh mungil Yuna dan mendudukannya di pinggir kolam renang. Tangannya berkeliaran ke depan dan satu tangan yang lain menopang tubuh Yuna.


Dengan mudahnya, Shane melepaskan tali tipis bikini Yuna dan menurunkannya. Dua pegunungan lain yang berbeda kini terpampang di depan Shane.


Seolah takut akan diambil, Shane segera melahap salah satu gunung itu dengan cepat. Dessahan demi dessahan keluar dari mulut Yuna.


Tangan Shane yang tadi dia gunakan untuk menopang, kini ikut sibuk bekerja di pucuk bukit Yuna. Siang itu, entah karena suhu yang cukup dingin dan suasana mendukung, jari-jari nakal Shane berlari ke bawah dan menemukan sebuah lembah hangat yang tampak sudah sangat basah dan licin.


Pria itu membiarkan Yuna berbaring di tepi kolam, sedangkan Shane mengangkat kedua kaki Yuna dan membukanya lebar. Bibirnya menghujani tubuh bagian bawah Yuna seperti seekor ulat kecil yang berjalan pelan.


Ciuman Shane tak berhenti hingga dia tersadar kalau dia sudah bermain terlalu jauh. "Yuna, maafkan aku,"


Yuna bangkit dari posisi berbaringnya dan mendorong Shane ke tepi kolam di sisi yang lain. "Aku menginginkannya, Shane,"


Shane menelan salivanya kasar. "Apa kau yakin?"


Yuna mengangguk. "Ya, lakukanlah,"


Kali ini tanpa ragu, Shane pun melanjutkan permainan panasnya. Dia kembali mengulangi dari awal. Begitu sudah siap dengan permainan inti, Shane menggendong Yuna ke sebuah sofa. Mereka pun melakukan penyatuan di sofa itu sampai keduanya mencapai puncak bersamaan.


"I love you, Yuna." bisik Shane sambil mengecup kening Yuna dengan sayang.


"I love you too, Shane," jawab Yuna, suaranya serak karena banyaknya dessahan, lenguhan, serta erangan yang tadi dia keluarkan.


Shane kembali mengecup bibir kekasihnya itu. "Will you marry me, Yuna? Lalu kita akan tinggal jauh dari sini, ke luar negeri kalau perlu supaya tidak ada lagi orang yang berusaha memisahkan kita,"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Yuna tercekat. Dia belum pernah bahkan tidak pernah memikirkan tentang pernikahan seumur hidupnya.


***


__ADS_2