Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 39


__ADS_3

"Pergi kau dari rumahku, Pria Jelek! Jangan kau sakiti cucuku lagi! Pertama, kau sakiti anakku dan yang kedua, kau sakiti cucuku! Pria tidak tau diri! Tidak punya hati!" seru Lauren sambil terus menyiramkan air pada Shane dengan geram.


Shane menyilang kan kedua tangannya di dada untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan air Laurent. "Nyonya! Nyonya, dengarkan penjelasan ku dulu!"


"Apalagi yang ingin kau jelaskan! Sudah cukup kau mempermalukan cucu kesayanganku! Kurang ajar!" tukas Lauren lagi. Dengan tergopoh-gopoh, dia masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan membawa pisau daging. "Pergi! Pergi dari sini!"


"Nyonya! Aku mencintai Yuna dan aku ke sini karena aku ingin dia tau kalau aku memilihnya!" ucap Shane.


Leona yang baru saja datang termangu mendengar ucapan Shane, begitu juga dengan Lauren.


"Kau sungguh-sungguh? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Yuna, tapi melihat dia diam saja dan tampak suram, aku yakin ada sesuatu yang terjadi dan itu membuatnya amat sangat sakit," kata Leona.


Wanita itu mengambil pisau daging dari tangan ibunya dan mengacungkan pisau itu ke arah Shane. "Katakan kepadaku, apa yang terjadi, Shane?"


"Ka-, kami sedang berada di pesta ulang tahun ibuku dan ibuku menjodohkan ku dengan seorang wanita ya-,"


"Klise! Kasus cinta yang sudah sangat sering terjadi dengan dalih calon mereka lebih baik. Lalu, kau memilih keponakanku? Adakah jaminan keluarga kami akan lolos dari teror keluargamu?" tanya Leona panas. Tentu saja dia sangat marah mendengar cerita Shane.


Inilah yang Leona dan Lauren takutkan, mereka takut, Yuna akan patah hati, kecewa, dan akan kehilangan cintanya. Padahal Shane adalah cinta pertamanya.


"Aku akan melindungi Yuna dan kalian. Itu janjiku! Aku ingin berbicara dengan Yuna," ucap Shane lagi.


"Tidak, ...."


"Bibi, biarkan aku bicara dengannya," kata Yuna yang tiba-tiba saja datang.


Lauren segera merangkul pundaknya. "Maafkan kami karena kami terlalu berisik. Apakah kau sudah baik-baik saja, Sayang?"


Yuna mengangguk. "Aku baik-baik saja, Nek,"


"Izinkan aku berbicara dengan Shane, Nek. Aku tau apa yang harus aku lakukan," ucap Yuna lagi.


Leona mengangguk. "Baiklah, kami percaya padamu. Aku harap kau akan mengambil keputusan yang tepat dan ingat Yuna, cintailah dirimu sendiri lebih dari apa pun,"

__ADS_1


"Baik, Bi. Terima kasih sudah percaya kepadaku," balas Yuna.


Gadis itu pun segera menemui Shane dan mengajaknya keluar untuk berbicara. "Kita bicara di luar saja," Yuna tidak tau apa yang menyebabkan dia begitu tenang malam itu. Padahal tadi ada monster yang ingin mengamuk di dalam dirinya.


"Yuna, aku minta maaf ka-,"


"Kurasa kita harus mengakhiri hubungan kita, Shane," sahut Yuna memotong kalimat Shane lebih dulu.


Kedua mata Shane terbelalak, dia terkejut dan tak menyangka kalau Yuna akan memutuskan hubungan dengannya. Baru saja dia merasakan indahnya jatuh cinta kepada gadis itu. "Tidak! Aku tidak mau! Lagipula, kenapa, Yuna? Kenapa? Aku ingin memperjuangkan mu dan aku ingin memperjuangkan kita!"


"Aku tidak punya seorang ibu, Shane. Bagaimanapun dia ibumu dan menurut ibumu, Jenna yang terbaik untukmu. Kurasa, itulah yang harus kau lakukan, Shane," jawab Yuna. "Aku ingin sekali memiliki seorang ibu yang dapat memilihkan ku seorang kekasih atau berdebat tentang pasanganku, Shane,"


"Lalu? Kau akan menyingkirkan perasaanmu sendiri? Kau akan menanggung sakit mu sendiri? Kenapa tidak kita saja yang berjuang?" tuntut Shane. Pria itu tidak habis pikir, mengapa Yuna malah justru menyerah di saat dia ingin berjuang? Mengapa gadis itu melemah di saat mereka harus menunjukan kekuatan mereka? Ini gila!


Suara Yuna mulai terdengar lirih dan tercekat. "Andaikan kita berjuang, apakah akan ada hasilnya?"


"Ada! Aku berjanji, kita akan berjuang bersama untuk akhir yang bahagia, Yuna. Percayalah kepadaku!" kata Shane meyakinkan.


Yuna mulai meragu, apakah dia akan maju atau mundur. Dia tidak ingin, harga dirinya terinjak-injak kembali seperti kemarin. Sedari kecil, Yuna sudah diajarkan untuk selalu memprioritaskan harga dirinya sendiri melebihi apa pun.


Shane mengangguk mantap. "Aku sanggup, Yuna! Aku sanggup!"


Pria itu kemudian memasukkan Yuna ke dalam pelukannya. "Karena itu, jangan pergi dariku dan jangan menjauh dariku. Aku mencintaimu, Yuna!"


Yuna membalas pelukan Shane dengan erat. "Aku tidak bisa, Shane. Walaupun aku mencintaimu, tapi aku takut."


"Kurasa lebih baik, kita menjauh untuk sementara waktu sampai ibumu menerimaku," sambung Yuna lagi.


"Tidak akan bisa seperti itu, Yuna. Bagaimana caraku meyakinkan ibuku kalau kau pergi," kata Shane.


Yuna menggelengkan kepalanya. "Kita bisa, Shane. Izinkan aku menyelesaikan skripsi ku terlebih dahulu. Lalu, terimalah aku bekerja denganmu. Sebisa mungkin aku mendapatkan nilai yang pantas supaya aku tidak membuatmu malu. Aku akan merubah diriku supaya aku bisa tampil dengan percaya diri dengan penampilan baruku nanti. Aku berharap di masa-masa itu, kau akan hadir dan menemaniku, Shane. Jadilah support system ku yang pertama,"


Perjanjian antara Yuna dan Shane pun telah diikrarkan. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah sementara hanya untuk memberikan ruang bagi masing-masing dari mereka supaya dapat mengembangkan diri. Tentu saja target mereka adalah menaklukan Willia dan Lauren.

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian,


Yuna benar-benar menepati janjinya. Dia hanya fokus ke kuliah dan skripsinya. Yang selalu menemani dan berada di sisinya saat itu adalah Mario.


Kakak kelas Yuna sekaligus kakak Claire itu memberikan banyak sekali bantuan untuk Yuna. Sebelum Yuna menyerahkan skripsi kepada dosen pembimbing, dia akan menyerahkan skripsinya kepada Mario.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Yuna saat dia meminta Mario untuk memeriksa tujuan pengambilan materi skripsinya.


Mario membaca dengan seksama. "Ini sudah oke menurutku, tapi kalau kau mau, ubah sedikit dan buat menjadi lebih dalam dan detail,"


"Oke!" jawab Yuna.


Begitulah keseharian mereka. Mario pun mengambil kesempatan itu untuk mengajak Yuna jalan atau dia yang bertamu ke rumah Yuna, dengan alasan membantu Yuna menyusun skripsi.


Waktu pun berlalu, hubungan antara Mario dengan Yuna semakin dekat. Dengan perlahan pula, Yuna mengubah penampilannya sedikit demi sedikit. Hal ini membuat Mario semakin jatuh cinta kepadanya.


"Hei, ini tinggal kau ajukan pada dosen pembimbing. Aku yakin kali ini tidak akan revisi." ucap Mario suatu hari, saat mereka kembali belajar bersama di rumah Yuna.


Yuna membolak-balik halaman skripsi itu. "Benarkah? Kau yakin? Syukurlah kalau begitu," Sekali lagi, Yuna menyalakan mesin printer dan mengeprint seluruh halaman skripsinya.


"Kau berubah," ucap Mario tiba-tiba.


Yuna menaikan satu alisnya. "Berubah? Berubah bagaimana?"


"Kau lebih cantik, lebih tenang. Oh, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Aku sudah lama tidak melihatmu berjalan bersamanya lagi," kata Mario.


"Apakah harus ada alasan kalau aku berubah? Aku berubah untuk diriku sendiri," jawab Yuna sambil tersenyum.


"Tapi itu berbahaya," sahut Mario lagi. Pria itu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


Yuna mencebik. "Berbahaya kenapa? Aku tidak merugikan orang lain, dan aku merasa lebih baik dengan perubahan ku,"


"Karena, ... Karena kau membuatku ingin memilikimu, Yuna. Aku jadi semakin jatuh cinta kepadamu." jawab Mario, maniknya menatap lekat netra Yuna.

__ADS_1


***


__ADS_2