Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 70


__ADS_3

Suara cecapan dan dessahan memenuhi ruangan di sebuah penthouse. Fabio melu*at bibir Liana dengan begitu rakusnya.


Tangan Fabio bergerilya dan menjalar ke manapun mereka ingin pergi. Pakaian mereka berserakan di lantai dan tidak ada yang memperdulikan hal itu.


Bosan dengan bibir Liana, Fabio mengarahkan bibirnya untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan hasrat dan gairahnya. Hingga dia menemukan dua bongkahan padat yang sedari tadi dia mainkan dengan jari-jarinya.


Pria itu menyesap kuat permukaan daging indah itu sehingga terciptalah tanda cinta berwarna merah di kulit Liana yang putih dan mulus.


Liana tersenyum puas, dia mengangkat wajah kekasihnya dan terus mencumbunya seakan tidak ada hari esok. Setelah pemanasan yang benar-benar panas, mereka melakukan penyatuan yang tak kalah panasnya. Berbagai gaya dan posisi mereka lakukan. Hingga akhirnya, pelepasan itu pun terjadi.


"Jam berapa anak gadismu akan datang?" tanya Fabio setelah dia membersihkan dirinya.


Liana yang masih berbalutkan bathrobe melihat jam yang berada di ponselnya.


"Hmmm, kurasa satu jam lagi. Kemarin dia mengatakan akan datang setelah jam makan siang dan saat aku berkata ingin menjemputnya, dia menolak,"


Fabio menghampiri Liana dan mendekap pinggang ramping wanita itu. Perlahan, dia melepaskan tali yang mengikat bathrobe Liana, jari-jari tangannya dia izinkan bergerilya di pucuk bukit kekasihnya. "Kalau begitu, kita bisa bermain satu ronde lagi. Kau membuatku gila, Liana,"


Liana mengangguk senang dan mengambil alih bibir Fabio yang tebal dan sekssi itu. "Dua ronde pun, aku tidak berkeberatan,"


Sementara itu, Yuna sedang bersiap-siap untuk menemui Liana. Seperti biasa, ranjang gadis itu sudah dipenuhi pakaian yang menurutnya tidak cocok.


Kini dia duduk dan meluruskan kedua kakinya di bawah pendingin ruangan. Wajahnya tampak frustrasi dan rambutnya sudah rungsing kemana-mana.


Suara ketukan pintu membuat Yuna beranjak dari posisi nyamannya. "Yuna Sayang, Shane sudah menjemput. Kau belum selesai?"


Dengan hanya berpakaian dalam, Yuna membukakan sedikit pintu untuk Leona. "Aku harus pakai baju apa?"


"Astaga! Anak ini! Kalau aku tak mengetuk pintu, kurasa aku akan beranggapan kau lenyap ditelan lemari pakaianmu!" omel Leona, dia membuka pintu kamar Yuna sedikit lebar supaya dia bisa masuk ke dalam dan betapa terkejutnya dia saat melihat kamar itu sudah berubah menjadi seperti stand bazar pakaian.


"Apa ini? Semua pakaian sudah kau turunkan, dan kau masih mengatakan padaku kau bingung mau memakai apa? Kau pikir ini apa? Karung goni?"


Wajah Yuna memerah dan dia mengulum senyumnya. "Bantu aku, Bi,"


Setelah bertarung dengan beberapa pakaian, akhirnya Leona menemukan pakaian yang cocok untuk Yuna. Kemeja crop top dengan corak kotak-kotak berwarna pink dan ungu, serta celana jeans dengan potongan cutbray.


"Nah, Liana tidak akan mempermasalahkan pakaian yang akan kau pakai dan aku berani menjamin, dia tidak akan peduli dengan ini semua,"


"Kulakukan ini semua hanya untuk membuat dia menjauh dari hidupku, Bi. Baiklah, doakan aku!" balas Yuna, kemudian dia mengambil tas selempang dan menyampirkan nya ke pundak.

__ADS_1


Yuna pun berpamitan dan menghampiri Shane yang sudah menunggunya di mobil.


"Maaf, kau harus menunggu lama. Aku tadi bingung baju apa yang harus aku pakai,"


"Kau bisa mengatakan itu padaku dan kita mencarinya dulu di toko pakaian tapi, hari ini kau cantik. Aku suka dengan pakaianmu. Kau tampak menggemaskan," ucap Shane.


Wajah Yuna bersemu kemerahan, dia mengulum senyumnya. "Bibi yang memilihkan ini untukku, terima kasih,"


Perjalanan yang harus mereka tempuh siang itu, cukup jauh. Mereka menghabiskan waktu di perjalanan dengan berbincang-bincang mengenai apa pun. Shane dan Yuna terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.


Rasa takut dan khawatir yang sedari pagi menyelimuti hati Yuna, kini sirna dan hilang begitu saja saat dia melihat Shane. Sempat pernah terpikir dalam hati gadis itu, apakah Shane benar-benar menjadi cinta dalam hidupnya?


Untuk saat ini, dia belum fokus pada cintanya. Mungkin setelah urusan keluarganya selesai, dia akan fokus pada kebahagiaannya. Di dalam hati yang terdalam, Yuna berharap, Shane mau menunggunya.


Akhirnya, tibalah mereka di apartemen Liana. Yuna menghela napasnya panjang. "Di mana kau akan menungguku?"


"Itu rahasia," jawab Shane.


Yuna mencebik, wajahnya terlihat semakin menggemaskan. "Katakan saja padaku!"


Alih-alih menjawab, Shane menempelkan bibirnya pada benda kenyal nan menggemaskan yang ada di hadapannya itu.


"Heh! Serius?" tanya Yuna terkejut.


Shane mengangguk. "Ya, ayo, turun!" ajaknya.


Mereka berdua pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki apartemen megah tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Shane, dia memiliki kunci kamar apartemen persis di sebelah penthouse Liana. "Aku menunggumu di sini,"


Yuna mengangguk. Setelah Shane masuk ke dalam, Yuna menekan bel pintu penthouse Liana. Seorang pria dengan pakaian necis membukakan pintu dan tersenyum. "Kau pasti anak gadis Liana ya, 'kan? Masuklah!"


"Ya, terima kasih," jawab Yuna singkat. Dia masuk ke dalam ruangan mewah itu.


"Duduklah di manapun kau suka. Ibumu sedang bersiap-siap. Dia senang sekali bisa bertemu denganmu dan berkumpul bertiga seperti ini. Kau masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Fabio, dia sibuk menghidangkan kudapan manis serta makanan ringan untuk Yuna.


Berbagai macam kue serta macaron berwarna-warni sudah siap di cofee table berbentuk lingkaran berundak itu. "Di makan saja dulu. Aku tidak tahu apa kesukaanmu,"


Untuk menghargai sang empunya rumah, Yuna mengambil satu macaron berwarna cokelat dan menggigitnya. "Hmmm, ini enak. Tidak terlalu manis,"


Fabio tersenyum dan duduk di hadapan Yuna. "Syukurlah kalau kau senang. Kau suka kopi atau teh?"

__ADS_1


"Apa saja. Terima kasih," jawab Yuna. Gadis itu dapat merasakan kalau Fabio orang baik. Tipe pria baik dan tulus. Dalam hati, Yuna menyayangkan mengapa Liana tidak dapat melihat ketulusan dan kebaikan Fabio? Mengapa Liana hanya melihat kekayaan yang dimiliki oleh Fabio?


Tak tega sebenarnya saat Yuna melihat Fabio yang tampaknya begitu menyayangi Liana dan terlihat sekali kalau Fabio ingin dekat dengan Yuna juga.


Tak lama, Liana muncul bersamaan dengan Fabio yang membawa nampan berisi satu set teh poci. "Nah, supaya kita bisa berbincang dengan santai," katanya tersenyum.


"Jadi, inikah putrimu, Sayang?" tanya Fabio.


Liana tersenyum, dia mengambil tempat tepat di sebelah Yuna dan membelai rambut ikal putrinya tersebut.


"Ya, kami berdua mirip, 'kan? Hahaha, sudah kukatakan kepadamu. Hanya saja kami sempat terpisah saat Yuna masih berusia lima tahun. Neneknya mengambil Yuna dariku dan memisahkan kami,"


"Bohong!" tukas Yuna. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Yuna. "Kau tidak boleh berbohong!"


Napas Yuna naik turun menahan emosi. Fabio mengerenyitkan keningnya. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi di situ.


"Apa? Kenapa? Ada apa dengan kalian?"


"Maafkan aku sebelumnya, Tuan. Kedatanganku ke sini hanya untuk menyelamatkan anda dari jerat wanita ular ini! Ya, dia memang ibuku. Tapi, dia tidak bersikap selayaknya seorang ibu! Dia membuang ku dan meninggalkan ayahku yang sedang bekerja di luar negeri saat itu! Saat ini, dia memintaku datang untuk meyakinkanmu kalau dia seorang wanita yang tersiksa. Tapi, itu semua bohong, Tuan!" ucap Yuna tegas.


Tadinya, dia meragukan kalau dia bisa berkata seperti itu, tetapi ternyata emosi membantu Yuna untuk mengungkapkan kebenaran tentang Liana.


Wajah Liana memerah. "Yuna! Kenapa kau menjadi kurang ajar seperti ini! Apakah ini didikan nenekmu?"


"Tidak! Kau berbohong! Tuan, jangan pernah percaya pada setiap helai kata yang keluar dari mulutnya! Dia seperti ular!" tukas Yuna kesal.


Ibu dan anak itu saling membelalakan mata mereka. Fabio menjadi bingung dibuatnya. "Apa yang kalian katakan,"


Di tengah suasana yang memanas, suara bel pintu kembali berbunyi. Fabio melihat ke arah pintu dan seorang pria tampak dari monitor intercom tamu. "Siapa itu?"


Yuna melihat siapa pria itu dan dia menyeletuk. "Andrew,"


"Hah! Andrew!" wajah Liana tampak ketakutan.


Lagi-lagi Fabio mengernyit. "Siapa itu Andrew?"


"Suami Liana dan bahkan kalau dipikir-pikir, status mereka belum bercerai," jawab Yuna, tersenyum puas.


***

__ADS_1


__ADS_2