
Suasana di dalam mobil sangat canggung. Hanya obrolan basa-basi yang mereka bicarakan. "Oh, jadi kau seangkatan dengan Claire?"
Yuna mengangguk. "Iya, Kak."
"Kupikir adikku itu tidak punya teman tapi ternyata dia mendapatkan teman yang baik sepertimu. Aku bersyukur dan berterima kasih karena kau mau berteman dengannya," ucap Mario lagi.
Perjalanan masih panjang dan sialnya lagi mereka terjebak macet di jalan. Mario menyalakan perangkat bluetooth nya dan memutarkan lagu dari ponselnya.
Sebuah lagu mengalun dan suara Yuna terdengar sayup-sayup mengikuti lirik lagu tersebut.
"Kau suka lagu ini?" tanya Mario.
Yuna mengangguk. "Ya, aku suka lirik mereka. Kata-kata yang mereka rangkai seolah memberiku kekuatan untuk bangkit, bertahan, melawan, dan tetap mencintai diriku sendiri,"
Mario tersenyum, kali ini dia sependapat dengan gadis yang sedang bergumam itu. "Aku juga suka. Ini salah satu band favoritku."
__ADS_1
"Aku pun begitu. Aku menggemari mereka dan rasanya aku berada di sebuah toko ajaib yang penuh dengan sihir dan bisa membuatku lupa akan kenyataan pahit yang sedang aku jalani di kehidupanku. Sepertinya, aku tidak akan keluar dari toko ajaib sampai selamanya walaupun personil mereka sudah membuka kunci pintu untuk keluar," kata Yuna bersemangat.
Mario senang karena ternyata keputusannya untuk memasang lagu berakhir dengan baik. Yuna menceritakan segalanya tentang musisi yang mereka dengar bersama itu, dia menceritakan sebagian besar hidupnya. Di mana dia sering ditindas oleh murid atau mahasiswa yang glamour dan cantik di sekolah atau kampusnya.
"Kau tidak melawan?" tanya Mario.
"Aku melawan, kok. Tapi, tidak ada orang yang bisa melihat itu karena aku melawan mereka bukan dengan tangan atau make up atau tas baru atau apa pun itu. Aku melawan mereka dengan otak dan kepintaran yang aku punya." jawab Yuna. Gadis itu mengakui, dulu memang dia sempat ingin bunuh diri karena sering ditindas, tetapi semenjak dia mengenal band favoritnya itu, dia sadar dan betapa dia telah jahat pada dirinya sendiri. Dia harus bangkit dan menjadi kuat, itulah yang disampaikan pada lagu tersebut.
Mario mengagumi cara berpikir Yuna. "Kenapa kau tidak merubah penampilanmu, seperti malam ini misalnya. Kau cantik,"
"Kalau aku merubah penampilanku, belum tentu mereka berhenti untuk menindas ku. Orang lain juga mungkin tidak akan suka. Aku akan berubah kalau aku ingin, jadi bukan kehendak orang lain, tapi dari diriku sendiri," kata Yuna lagi.
"Adakah pria yang kau sukai?" tanya Mario.
Yuna tersentak mendengar pertanyaan Mario. Gadis itu juga tampak salah tingkah dan tiba-tiba saja dia berubah menjadi Yuna yang pendiam.
__ADS_1
"Hei, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" tanya Mario sambil meletakkan satu tangan besarnya ke kening Yuna. Setelah itu, dia membandingkannya dengan suhu tubuhnya sendiri. "Badanmu tidak demam. Apakah karena pakaianmu? Kuakui, gaun itu cukup terbuka,"
Mario menjulurkan tangannya ke kursi belakang dan mengambil jaket bertudung berwarna abu-abu miliknya. "Pakailah, jangan sampai kau terkena flu atau sakit"
"Eh, tidak usah. Aku baik-baik saja, Kak," jawab Yuna. Dia tidak mengembalikan jaket itu, tapi dia menyampir kan jaket ke kedua pahanya. "Aku pakai untuk begini saja, yah. Malam ini, aku akan mencucinya dan akan segera ku kembalikan melalui Claire,"
Mario tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, buat dirimu senyaman mungkin,"
Pertemuan Yuna dengan Claire serta Mario, membuat Yuna melupakan sakit hatinya pada Shane. Setibanya mereka di rumah Yuna, ada sebuah mobil juga yang terparkir di sana.
Mario dan Yuna melihat dua orang keluar dari mobil itu. Hati Yuna mencelos saat melihat Shane keluar dari mobil itu dan dengan gagah, dia membukakan pintu mobil untuk Leona, Bibinya.
"Itu ayah dan ibumu?" tanya Mario.
Yuna menggeleng. "Bukan. Aku tidak punya ayah dan ibu. Itu bibi ku, ... Dan kekasihnya,"
__ADS_1
Mario menautkan kedua alisnya. Nada suara Yuna terdengar sedih dan kesal saat mengucapkan kata kekasihnya. Tentu saja hal itu membuat Mario berpikir, apakah mungkin Yuna menyukai pria yang bisa disebut sebagai ayahnya itu? Atau dia tidak suka melihat kedekatan bibinya dengan seorang pria?
***