
Sudah hampir beberapa minggu, Yuna tinggal bersama dengan Shane. Sejauh ini, Yuna selalu berhasil mengendalikan dirinya saat Shane mendekatinya.
Suatu malam saat mereka sedang asik bercumbu, entah kenapa Yuna tidak ingin menyudahi aktivitas mereka. Biasanya Shane akan berhenti ketika Yuna menyuruhnya berhenti. Namun malam itu, Yuna membiarkan Shane bermain dengan kedua gunung kembarnya.
Awalnya, hanya tangan Shane yang bermain di sana. Dan saat bibir Shane semakin menurun, Yuna mendekap kepala Shane untuk menyentuh kedua bola padat itu dengan bibirnya.
"Kau yakin?" tanya Shane.
Dengan wajah memerah, Yuna mengangguk. "Ta-, tapi sedikit saja,"
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Shane segera melepaskan kaitan bra milik Yuna dan melemparkannya begitu saja ke sembarang arah sehingga kini terpampang dengan jelas pemandangan indah di hadapan Shane.
Pria itu menyentuhnya dengan lembut dan memainkan pucuk bukit itu dengan lidahnya. Satu ******* lolos begitu saja dari bibir Yuna.
Yuna sangat menikmati permainan lidah Shane, dia memajukan tubuhnya supaya Shane lebih mudah bermain dengan kedua asetnya itu.
Shane paham dengan kode itu, dia mendudukan Yuna di pangkuannya dan melahap bukit padat itu seperti seorang bayi yang kehausan.
Untuk pertama kalinya bagi Yuna, dia merasakan sesuatu yang sudah tidak dia tahan lagi. "Aah, Shane, aku mau, ...."
"Keluarkan saja," ucap Shane dengan suara tercekat tanpa melepaskan bibirnya pada mainan barunya itu.
Yuna menarik rambut Shane dan semakin membenamkan pria itu ke dalam pelukannya. Shane dapat merasakan, Yuna berhasil melakukan pelepasan untuk pertama kalinya.
Dia memagut bibir gadis itu. "Bagaimana?" tanya Shane menyeringai lebar.
Yuna tidak menjawab tetapi wajah merahnya sudah dianggap sebagai jawaban oleh Shane. Pria itu tersenyum dan mengecup pipi dan kening Yuna.
Beberapa hari berlalu, seusai kuliah, Yuna dijemput oleh Leona. "Hei! Ikut aku,"
"Mau ke mana?" tanya Yuna.
"Kau sama sekali tidak mengabari ku atau Nenek! Ada apa denganmu, Yuna?" omel Leona kesal.
Hati Yuna mencelos. Dia benar-benar lupa. Sepagian, dia akan sibuk dengan urusan kuliahnya dan begitu sore hingga malam hari, dia akan disibukan oleh aktivitas malam harinya dengan Shane.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bibi. Aku benar-benar tidak memiliki waktu dan terkadang aku lupa untuk memberi kabar. Aku minta maaf,"
"Ibuku sedang sakit, untuk sementara kau pulang dulu ke rumah," ucap Leona.
Yuna menelan salivanya kasar.
"Benarkah? Nenek sakit apa?"
Leona melihat merah-merah di sekitar leher, dagu, bahkan permukaan dada keponakannya.
"Apa yang kalian lakukan? Ini yang kau sebut sibuk dan lupa?" tanya Leona sambil menunjuk semua tanda merah di tubuh Yuna.
Yuna segera menutupi tanda merah itu dengan jaket tudungnya.
"Ini tidak seperti yang Bibi bayangkan. Aku masih menjaga kehormatanku,"
"Setelah kau memberikan akses itu, seorang pria dewasa akan menuntut untuk semua yang ada padamu, Yuna! Kau bermain dengan api! Ingat, dia pria dewasa. Gaya berkencan nya pun berbeda!" tukas Leona kesal. Dia memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Shane hari itu juga.
Dia mengirimkan pesan pada Shane melalui pesan suara. "Bantu aku untuk menjaga nenekkmu, aku akan berbicara dengan Shane! Besok kau harus pulang!"
Yuna menggigit bibir bawahnya. "Baiklah,"
"Ada apa kau memintaku untuk menemui mu? Dan, mana Yuna? Kenapa dia tidak pulang malam ini?" tanya Shane, menghujani Leona dengan pertanyaan.
"Berhentilah berhubungan dengan keponakanku, Shane," kata Leona tanpa menjawab pertanyaan Shane.
Shane mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Beberapa waktu lalu, kau mengizinkan kami berkencan. Lalu, kenapa sekarang kau cabut kembali keputusanmu itu?"
"Kau mempermainkan dia, Shane. Kau hanya ingin mencobanya. Dia masih terlalu kecil untukmu! Segalanya baru untuk Yuna, tentu saja dia menikmatinya," jawab Leona putus asa.
Wanita itu pun tampak berat hati mengatakan hal ini. Namun demi kebaikan Yuna, dia harus bersikap tegas dan mengambil keputusan yang tepat. Dia tidak mau masa depan Yuna hancur hanya karena nafsu semata.
"Aku menjaganya, Leona. Aku tidak pernah mengganggu jam kuliah dan jam belajarnya. Kami saling menghormati dan menghargai waktu kami masing-masing," sahut Shane, secara tidak langsung dia menolak usulan Leona.
__ADS_1
Leona menghembuskan napasnya.
"Kau tidak menjaganya, Shane. Kalau kau menjaganya, kau tidak akan menyentuh dia seujung rambut pun. Tapi, yang kulihat dari Yuna tadi adalah kau memberikan tanda kepemilikan di tubuh keponakanku! Jangan ajari dia cara berkencan orang dewasa, belum waktunya! Dia masih memiliki mimpi dan cita-cita, Shane! Lepaskan dia dan biarkan dia terbang,"
Namun Shane berkeras. "Aku tidak merusaknya, tanda itu hanya untuk menyatakan kepada siapapun yang melihatnya kalau Yuna milikku!"
"Ya, dan sebagai pengganti tanda pengenal yang seolah tertulis kalau dia seorang gadis murahan! Tidak ada gadis seusia dia yang memiliki tanda kemerahan di banyak tempat karena ulah kekasihnya! Paham?" tukas Leona.
Shane mengepalkan kedua tangannya. "Aku mencintai dia, Leona!"
"Kalau kau mencintainya, lepaskan dia! Umur kalian terpaut sangat jauh! Paham? Aku harus pergi, ibuku sakit!" sahut Leona, dia mengambil tas tangannya yang berwarna putih dan bergegas pergi meninggalkan Shane dengan rasa kesalnya.
Setelah bertemu dengan Leona, Shane tidak kembali ke apartemennya. Percuma saja dia kembali ke sana karena di sana sudah tidak ada Yuna. Jika dia tetap kembali ke apartemennya, dia hanya akan membuat hatinya sakit.
Maka malam itu, dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Dia ingin berendam air panas, meminum bir dingin, setelah itu dia akan tidur. Shane berharap, malam itu, dia akan tidur nyenyak karena dia terbiasa mendengar Yuna bersenandung di malam hari dan itu membantunya untuk segera tidur.
Dengan segala rencana yang sudah tertanam di benaknya, Shane membuka pintu rumahnya. Namun, betapa terkejutnya dia karena akses rumah itu tidak terkunci.
"Loh?" segera saja Shane mengecek sistem pengaman di rumahnya, termasuk rekaman CCTV. Akan tetapi dari rekaman CCTV tersebut, tidak ada video yang menunjukkan seseorang masuk ke dalam rumahnya.
Shane memiringkan kepalanya, dia berusaha mengingat-ingat. Apakah dia lupa mengaktifkan kode pengaman rumahnya? Tidak! Dia tidak seteledor itu!
Tak mau pusing nmemikirkan hal itu, Shane pun segera masuk dan menyalakan lampu. Lagi-lagi dia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja menutup kedua matanya.
"Hei! Ini tidak lucu! Siapa kau! Lepaskan aku!" Shane memberontak dan menggerakkan tubuhnya untuk lepas dari orang itu.
"Halo, Anak Mama," sapa seorang wanita.
"Hahahaha! Kakak takut, yah? Ternyata kakak penakut. Aku baru tau, hahaha!" goda Kate.
Shane mengerjapkan kedua matanya. "Mama? Kate? Kenapa kalian ke sini?"
"Menjenguk mu, tentu saja. Memangnya tidak boleh? Sejak kapan kau melarang kami untuk datang ke rumah ini?" tanya Willia pedas. "Apa kau menyembunyikan seorang wanita di rumahmu?"
"Tidak ada! Tidak ada wanita, gadis, atau apa pun itu selain kalian!" tukas Shane. "Sekarang katakan kepadaku, untuk apa kalian kemari?"
__ADS_1
"Kami ingin menjodohkan mu dengan seorang wanita kenalan teman Mama. Kita akan atur jadwal pertemuannya. Mengasyikkan bukan?" jawab Willia sambil tersenyum puas.
***