Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 57


__ADS_3

Setelah sepi, Liana mulai menjauh dari rumah Lauren.Tanpa dia sadari, mobil yang berada di depannya tadi mengikuti dari belakang.


Setelah beberapa waktu, Liana mulai mencurigai mobil yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menepikan mobilnya di tepi jalan. Dan tak disangka, mobil itu juga ikut menepikan kendaraannya tepat di belakang mobil Liana.


Liana menarik napas panjang dan kemudian dia memutuskan untuk turun dari mobil. Ternyata, mereka berdua turun di waktu yang bersamaan dan betapa terkejutnya Liana, saat dia melihat seorang pria yang sudah sangat dia kenal turun dari mobil tersebut.


"Shane? Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Liana.


Shane pun tampaknya terkejut. "Liana? Kupikir kau orang asing yang ingin berniat jahat kepada keluarga Yuna. Aku melihat mobil ini di depan rumah Yuna dan kupikir kau orang asing yang jahat,"


"Astaga, hahaha! Mana mungkin, 'kan?" ucap Liana. Siang tadi, saat dia bertemu dengan Shane, dia tidak begitu memperhatikan mobil apa yang dipakai oleh pria itu. Sehingga dia tidak tahu, kalau ternyata mobil yang ada di belakangnya sedari tadi, adalah mobil milik Shane.


"Kenapa kau mengintai rumah Nyonya Lauren?" tanya Shane penuh selidik.


Liana berdeham. "Aku tidak mengintai keluarga itu,"


Shane menaikan salah satu alisnya. "Tapi kau tampak seperti mengintai. Siapa yang ingin kau temui di keluarga itu?"


"Kurasa ini bukan ranah mu untuk bertanya tentang urusan pribadiku. Apapun yang kulakukan di sana tidak merugikanmu, 'kan?" tanya Liana, dia bersiap-siap untuk masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Memang tidak merugikan ku hanya saja di sana ada satu orang yang sangat kucintai dan jika terjadi sesuatu padanya dan itu karena ulah mu, Aku tidak akan suka untuk membencimu," jawab Shane tegas, dia segera berbalik hendak masuk kembali ke dalam mobil. Dia tak hanya memberikan peringatan kepada Liana, tetapi dia juga memberikan ancaman untuk menjauh dari keluarga Laurent.


Jantung Liana seakan berhenti berdetak. Siapa yang dimaksudkan oleh Shane? Siapa wanita yang dia cintai dalam keluarga itu? Yuna ataukah Leona?


"Lemme guess! Leona?" tanya Liana. Wanita itu tidak dapat menahan dirinya sendiri dari rasa ingin tahu. Setelah kalimat pertanyaan itu muncul, dia mengutuk kebodohan yang baru saja dia lakukan, kenapa pertanyaan itu harus keluar dari mulutnya?


Langkah Shane terhenti. "Leona? Kau mengenalnya?"

__ADS_1


"Lupakan saja! Aku rasa ini sudah terlalu malam untuk kita berbincang-bincang jadi, sampai bertemu lagi, Shane!" ucap Liana. Dia bergegas masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil itu dan kemudian dia melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Keesokan harinya, lagi-lagi Shane menarik Yuna untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Apa, sih? Kenapa kau selalu berbuat seenaknya sendiri? Kau lihat aku sudah bekerja? Apa pandangan teman-temanku nanti terhadapku jika kau terus-menerus menarik ku dengan kasar seperti ini?" protes Yuna.


Namun protes gadis tersebut tak digubris oleh Shane. "Apakah kau mempunyai saudara lain? Maksudku, selain nenek dan bibi mu?"


Yuna menggeleng sambil mengerutkan dahinya. "Tidak ada. Mereka keluargaku satu-satunya,"


Shane memijat-mijat dagunya dan menatap keluar jendela dari ruangan kerjanya. Dia masih memikirkan ucapan Liana kemarin. Kenapa Liana berada di depan rumah Laurent dan kenapa juga Liana mengenal Leona?


"Apa kau mengenal salah satu keluargamu yang bernama Liana?" tanya Shane.


"Dengarkan aku! Kita sudah berhubungan cukup lama dan aku hanya mengenalkan mu pada Bibi Leona dan nenekku. Andaikan aku memiliki keluarga lain selain mereka aku pasti sudah mengenalkan mereka kepadamu," jawab Yuna tegas.


Pria itu kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Liana adalah mantan kekasihnya dan Liana jugalah yang memutuskan hubungan mereka dengan alasan dia jatuh cinta kepada pria lain. Setelah itu, Shane tidak mendengar kabarnya lagi.


Sampai suatu ketika dia mendengar dari salah seorang temannya kalau lihatnya sudah menikah dan memiliki seorang anak. Itulah patah hati pertama Shane.


Shane menatap tajam ke arah Yuna dan dia memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. "Wajahmu benar-benar mirip sekali dengan Liana. Apa kau yakin kau tidak memiliki hubungan keluarga dengan wanita yang tadi ku sebutkan?"


"Kau gila, Shane! Sudah kukatakan kepadamu berulang kali, aku tidak tahu siapa itu Liana!" tukas Yuna kesal. Dia pun bergegas keluar dari ruangan Shane dengan menggerutu.


Mario melihat kekesalan di wajah kekasihnya. Dia segera menghampiri Yuna dengan wajah panik. "Kau baik-baik saja? Apa lagi yang diminta oleh pria itu?"


Belum sempat Yuna menjawab pertanyaan dari Mario, kekasihnya itu sudah melengos pergi masuk ke dalam ruangan Shane.

__ADS_1


"Apa mau mu? Dia sekarang kekasihku, tolong hargai itu! Kau tidak bisa menarik dia dengan seenaknya seperti tadi!" tukas Mario.


"Lalu?" tanya Shane yang kini asik dengan tabletnya, bahkan dia tidak mengangkat wajahnya saat Mario bicara.


"Jauhi dia!" jawab Mario lugas.


Shane tersenyum meremehkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini tidak ada hubungannya denganmu, anak muda. Aku sarankan sebaiknya Kau tidak perlu banyak-banyak ikut campur urusanku dengan Yuna,"


"Huh! Sombong sekali! Tentu saja ada hubungannya karena aku adalah kekasihnya dan aku bertanggung jawab atas segala yang terjadi dalam hidup Yuna saat ini!" balas Mario.


"Silahkan, aku tidak melarang. Yang perlu kau ingat adalah, batasan! Ada sesuatu yang memang harus aku tanyakan pada Yuna, terlepas dia adalah kekasihmu. Kau bahkan melupakan kenyataan kalau Yuna adalah pegawai ku," jawab Shane santai. Senyum mencemoohnya dia berikan untuk Mario yang saat itu mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi.


Mario pergi meninggalkan ruangan itu setelah dia meninju sofa yang berada di ruangan Shane.


Sementara itu Yuna masih berkutak dengan pikirannya tentang Liana. Dia memang belum pernah mendengar nama itu, tetapi rasanya nama itu tidak asing untuknya.


"Aku pernah mendengar nama itu tapi di mana, ya? Aarrgghh! Kenapa aku jadi memikirkan wanita yang tidak jelas?" ucapnya bermonolog.


Siang hari itu Yuna memutuskan untuk pulang lebih cepat. Dia meminta izin kepada Shane. "Aku sedang kurang enak badan. Bolehkah aku pulang siang ini?"


"Aku antar!" tukas Shane cepat.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," tolak Yuna.


"Kekasihmu sedang rapat di luar, 'kan? Jadi, jangan menolak tawaranku! Cepat, ikut aku!" Shane mencengkeram lengan Yuna dan lagi-lagi menariknya dengan kasar.


Mau tak mau Yuna pun terpaksa menuruti ajakan Shane yang ingin mengantarnya pulang ke rumah.

__ADS_1


Shane pun mengantarkan Yuna pulang ke rumah tanpa berani berbuat macam-macam lagi.


__ADS_2