
Liana kembali tersenyum. "Benar-benar didikan ibuku telah menempa mu dengan cukup baik. Baiklah, kalau itu yang kau mau, aku akan berbicara layaknya seorang wanita dewasa denganmu,"
Yuna mengangguk setuju. "Jadi?"
"Namaku Liana. Tujuanku datang ke sini memang untuk bertemu denganmu. Aku tak pernah menyangka kalau aku bertemu dengan Shane yang ternyata menyukaimu. Shane adalah mantan kekasihku yang dengan bodohnya ku lepaskan begitu saja hanya untuk seorang pria brengsek yang tidak paham arti tanggung jawab!" ada nada getir dalam suara Liana saat dia memulai pembicaraannya.
Yuna mengangkat telapak tangannya. "Tidak usah bertele-tele. Aku tidak punya waktu untuk itu! Katakan saja, kenapa kau ingin bertemu denganku?"
Liana tersenyum kecil. "Wow, aku merinding. Kau seperti Lauren kecil,"
"Aku bangga kalau aku mirip dengan Nenek. Dia tak hanya merawat ku, tapi nenek juga mengajariku bagaimana hidup dengan baik tanpa merugikan orang lain!" balas Yuna pedas. Dia benar-benar menggilas Liana.
Andaikan ini sebuah pertarungan, maka Yuna berhasil mencetak skor pertamanya.
"Nenekmu terlalu over protektif terhadapku dan adikku. Aku rasa dia juga menerapkan itu kepadamu," ejek Liana. Wanita itu berusaha menyerang balik Yuna sekaligus mencari dukungan gadis itu.
"Kau salah! Ibumu mengizinkanku berkencan. Memang tidak semua pria dapat diterima dengan baik oleh nenek. Tapi, nenek tidak sejahat yang kau pikirkan. Nenek pasti punya alasan untuk berbuat seperti itu," balas Yuna dengan tegas.
Liana melipat kedua tangannya di dada. "Kau memutuskan untuk membenciku?"
"Tentu! Dari sejak kau meninggalkanku di rumah nenek. Apa kau tahu, setiap Hari Ibu atau Hari Ayah, aku diejek karena aku hanya membawa nenek ke sekolah. Apa pun ejekan teman-temanku, nenek selalu membelaku! Dia selalu berdiri di garda terdepan untuk melindungi ku. Dan di mana dirimu saat aku membutuhkanmu?" tanya Yuna dengan datar.
Gadis itu masih berusaha dengan susah payah, menahan emosinya supaya tidak meledak di depan Liana. Dia ingin terlihat anggun, elegan, dan berkelas.
"Itu memang kesalahanku, Yuna. Kebodohan ku yang kedua adalah menitipkan mu pada ibuku," jawab Liana.
"Kurasa itu bukan kebodohanmu. Menitipkan ku pada nenek adalah keputusan terbaik dalam hidupmu," ucap Yuna tersenyum. Hatinya bersorak saat dia berhasil berbicara dengan anggun dan elegan.
Liana tersentak. "Ka-, kau benar-benar membenciku?"
"Kurasa kau tidak membutuhkan jawaban untuk itu karena kau sudah tahu jawabanku," jawab Yuna lagi sambil menyesap kopi latte-nya.
Liana menghela napas panjang dan berat. "Aku ingin minta maaf padamu dan ingin mengajakmu untuk tinggal bersamaku,"
__ADS_1
Yuna mengangkat wajahnya. "Kenapa baru sekarang?"
"Karena keberanian ku baru muncul beberapa bulan terakhir ini," jawab Liana. "Aku menikah dengan seorang pria kaya di kota sebelah dan aku mengatakan kalau aku sudah mempunyai seorang anak gadis. Aku tidak mau bermain-main lagi kali ini. Aku ingin hubunganku dengannya berhasil,"
"Dengan menggunakan ku untuk keberhasilan hubunganmu? Licik sekali," balas Yuna panas.
"Tidak! Berhentilah berpikiran buruk tentangku, Yuna. Aku benar-benar ingin mengubah dan memperbaiki hidupku! Maafkan aku!" tukas Liana.
Yuna terdiam. Dia mulai merasa tidak nyaman duduk berlama-lama di sana. Sudut matanya mulai mencari keberadaan Shane.
Pria itu berada tak jauh dari Yuna dan sedari tadi memperhatikan gadis itu berbicara tanpa sekalipun mengeluarkan emosinya. Nada suara Yuna tetap stabil, walaupun Shane tahu, hati Yuna pasti porak poranda dan berantakan.
Shane memberi tanda pada Yuna yang mencarinya. Pria itu maju satu kursi supaya Yuna bisa tahu kalau dia ada di dekatnya.
Setelah menangkap isyarat dari Shane, Yuna tampak lega. "Kau sudah tahu apa jawaban ku dan kurasa, sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas di sini. Permintaan terakhirku hanya satu, menjauh lah dari hidupku. Menghilang lah dan jangan pernah muncul lagi! Aku terima maaf mu dan aku juga minta maaf kalau aku membuatmu tersinggung," jawab Yuna. Dia segera beranjak berdiri dan bergegas pergi.
Namun, Liana menahan pergelangan tangannya. "Kumohon, ikutlah bersamaku, Yuna,"
"Aku akan dicap pembohong oleh suamiku jika aku tidak berhasil membawamu bersamaku," pinta Liana dengan tatapan memohon.
Yuna menepiskan tangannya. "Kalau dia sungguh-sungguh mencintaimu, dia akan menerima segala kekuranganmu dan dia tak perlu repot-repot memintamu untuk membuktikan kebenaran yang kau ucapkan. Jika dia menyayangimu, dia akan percaya pada setiap perkataan mu,"
Setelah mengucapkan itu, Yuna pun pergi meninggalkan Liana yang mematung seorang diri. Yuna berlari menghampiri Shane. "Buka pintu mobilmu,"
Shane segera membuka pintu mobil dan membiarkan Yuna masuk ke dalam. Dia tahu, Yuna pasti menangis. Benar saja, begitu Shane masuk ke dalam, Yuna sedang terisak di dalam mobil.
Shane tersenyum dan memasukan Yuna ke dalam dekapannya. "Kau gadis hebat dan kuat, Yuna. Aku bangga padamu,"
Tangis Yuna pun pecah saat Shane membelai rambutnya dengan lembut. "Aku kesal, Shane! Kesal sekali! Huaaaa, ...!"
Shane tertawa kecil. "Menangis lah sepuas mu sampai kau merasa lega."
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Yuna sudah sibuk di dapur. Dia membuat kepingan cokelat kecil dan dia masukan ke dalam dua toples kecil yang sudah dia ikat dengan pita.
__ADS_1
"Uuggh, untuk siapa cokelat-cokelat mungil ini?" tanya Leona yang tiba-tiba datang dan mengambil satu keping cokelat buatan Yuna.
Wajah Yuna tersipu malu. "Untuk Mario dan Shane,"
Leona mengerenyitkan keningnya. "Shane?"
Yuna mengangguk. "Ya. Berjanjilah padaku, Bibi tidak akan memberitahukan rahasia ini pada nenek,"
Leona mengangguk bersemangat dan kedua jarinya dia angkat membentuk huruf V. "Apa itu?"
"Kemarin, aku menemui Liana dan segalanya sudah selesai sekarang," jawab Yuna.
Leona menatap keponakannya tidak percaya. "Kau sungguh-sungguh? Apa yang dia katakan kepadamu?"
Yuna pun menceritakan pertemuannya dengan Liana kemarin dan apa yang ibunya itu inginkan. Setelah Yuna selesai bercerita, Leona segera memeluknya erat. "Benar-benar kau ini, Yuna! Kau bisa mengajakku atau apalah! Kau tak perlu menghadapi Liana sendirian! Kau membuatku menangis, Yuna. Astaga,"
Air mata berjatuhan dari sudut mata Leona dan membuat pundak Yuna hangat karena air mata itu membasahi pundaknya.
"Maafkan aku, Bi. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir," ucap Yuna. Dia merasa tidak enak karena telah membuat Leona menangis.
"Aku tidak khawatir, Anak Bodoh! Aku hanya merasa tidak bisa menjadi bibi yang baik untukmu," jawab Leona.
Beberapa jam setelah adegan tangis menangis Leona selesai, mereka bersiap-siap untuk pergi bekerja. Seperti biasa, Lauren menyiapkan sarapan sambil mengoceh tentang apa saja. "Kemarin kau tidak makan di rumah lagi, Yuna! Mau jadi apa kau kalau terlalu banyak makan di luar! Kau masih sangat muda, jangan terlalu sering makan di luar! Tidak higienis, kotor, dan banyak pengawet!" omelnya pagi itu.
"Ya, Nek. Maafkan aku. Nanti malam, aku makan di rumah. Dan sup ini akan aku bawa untuk makan siang ku di kantor," ucap Yuna, menghibur Lauren.
"Bawa saja yang banyak dan bagilah pada temanmu," ucap Lauren. Memasukan banyak sekali sup ke dalam tempat bekal Yuna dan Leona.
Tak lama, mereka pun bergegas pergi. Sampai merek mendengar Lauren kembali marah. "Anak tidak tahu diri! Untuk apa kau ke sini lagi! Kau sudah ku anggap mati! Kau tahu itu?"
Leona dan Yuna segera melihat siapa yang membuat Lauren murka pagi itu. "Kak Liana?"
***
__ADS_1