Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 37


__ADS_3

Senja itu, Shane bersiap menjemput Yuna di rumahnya. Atas undangan dari Willia serta Kate untuk mengundang Yuna ke pesta ulang tahun Willia malam itu.


"Bibi, apa yang harus kupakai?" tanya Yuna frustrasi. Hampir setengah jam dia mengacak-acak lemari pakaiannya, sampai beberapa pakaiannya tercecer berantakan.


Leona pun tak kalah sibuk, sedari tadi dia mondar-mandir keluar masuk kamar dengan membawa beberapa gaun miliknya. Namun, tidak ada yang sesuai dengan tema ulangtahun itu.


"Aarrgghh! Kenapa aku harus mengiyakan ajakannya, Bibi! Bisa saja aku menolak undangan itu dengan mengatakan aku sakit perut, buang-buang air, dan nyaris dehidrasi," Yuna terdiam, sejurus kemudian, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Shane.


Akan tetapi, suara bel pintu serta suara Lauren yang sinis menandakan Shane sudah berada di rumah mereka. "Yuna, temanmu datang!"


Lauren belum merestui hubungan Shane dengan cucunya. Dia menganggap kalau Yuna adalah korban penipuan janji palsu Shane.


Dengan wajah kusut dan langkah gontai, Yuna menemui kekasihnya itu yang sudah terlihat tampan dengan satu set tuksedo berwarna putih. Yuna mencebik.


"Aku tidak punya gaun indah untuk kupakai malam ini,"


Shane tersenyum dan memberikan dua buah tas kepada Yuna. "You saved by me, pakailah. Aku akan menunggumu di sini,"


"Apa ini?" tanya Yuna sambil melongok isi tas tersebut.


"Pakai saja setelah itu, kita rapikan rambutmu," ucap Shane lagi seolah-olah dia berbicara dengan anak gadisnya yang akan pergi ke pesta dansa sekolah.


Yuna pun kembali ke kamarnya dan mencoba apa yang dikatakan oleh Shane untuk dipakai.


"Wah, Yuna. Ini indah sekali dan sangat mewah. Pasti harganya mahal," ucap Leona, wanita itu membantu keponakannya untuk membuka isi tas yang diberikan oleh Shane. "Sepatunya pun cantik sekali,"


Yuna memandang bibinya dengan perasaan takut sekaligus senang. "Aku tidak tau harus bagaimana. Mereka pasti dari keluarga kaya raya,"


"Jadilah dirimu sendiri, Sayang. Tidak perlu takut atau sungkan. Tempatkan dirimu dengan baik dan jika kau merasa tidak nyaman, berhentilah. Itu yang harus kau lakukan," jawab Leona.


Gadis itu mengangguk sambil memakai gaun yang diberikan oleh Shane. Gaun berbahan sheer mewah berwarna shocking pink dengan lengan panjang yang terbuat dari satin dan bagian depannya dihiasi oleh manik-manik cantik serta berkerah V neck terbuka hingga dada.


"Bagaimana cara Shane mengukur tubuhmu? Gaun ini seperti dibuat khusus hanya untukmu. Kau cantik sekali, Sayang," sahut Leona. Dia memutar-mutarkan tubuh keponakannya dan mengagumi betapa gaun ini sangat pas di tubuh Yuna.


Yuna mengangkat kedua bahunya sambil mengulum senyum. "Sepertinya aku sudah harus berangkat, Bibi. Terima kasih banyak untuk bantuan dan nasehatmu."


Leona memeluk Yuna dengan erat. "ingat saja apa yang kukatakan tadi, jika kau sudah merasa tidak nyaman, kembalilah,"


Yuna mengangguk. Dia mengenakan sepatu dengan warna senada dan berjalan menemui Shane.

__ADS_1


"Wowh, perfect!" sahut Shane saat dia melihat Yuna dengan gaun pilihannya. "You look gorgeous, Honey," pria itu menarik tangan Yuna dan mengecup bibirnya di hadapan Leona dan Lauren.


Tentu saja pemandangan itu membuat mereka berdua jengah. "Sudah! Sudah! Pergilah kalian berdua! Pergilah!" kata Lauren mengibaskan tangannya seperti gerakan mengusir.


Mendapat izin dari Lauren, mereka pun bergegas pergi. Setelah satu jam jalanan ditambah dengan waktu mereka untuk merapikan rambut Yuna, akhirnya mereka tiba juga di sebuah gedung di mana pesta itu diadakan.


"Yuna, ayo!" Shane menggandeng tangan Yuna supaya gadis kecilnya itu tidak terlalu gugup.


Dengan patuh, Yuna merangkul lengan kekar itu dan berjalan masuk bersama. "Shane, aku deg-degan," bisik Yuna.


Shane tersenyum. "Wajar, ini pertama kalinya untukmu, 'kan? Aku pun takut karena ini juga pertama kalinya untukku,"


"Heh? Benarkah? Sebelumnya kau tidak pernah membawa wanita ke keluargamu?" tanya Yuna. Dia tidak menyangka kalau dia menjadi wanita pertama yang akan dikenalkan oleh Shane kepada keluarganya.


Mereka pun segera memasuki rooftop gedung tersebut. Dentuman suara musik dan pekik orang-orang menyambut mereka.


"Mam, kak Shane sudah datang." bisik Kate begitu melihat Shane keluar dari pintu lift.


Willia memincingkan kedua matanya. "Itukah kekasihnya? Tidak terlalu buruk, dia manis,"


"Gaun dan sepatu itu pasti dari kak Shane, Mam. Tidak mungkin dia beli sendiri!" ejek Kate sambil mencibir.


Ibu dan anak itu pun mengambil sikap seperti tidak melihat lagi karena Shane dan Yuna berjalan mendekati mereka. "Happy birthday, Mam," ucap Shane. "Ini kekasihku, Yuna,"


Yuna memberikan sebuket bunga untuk Willia. "Happy birthday, Tante."


Namun, Willia menepiskan bunga itu sambil pura-pura bersin dan membersitkan hidungnya keras-keras. "Aah, jauhkan bunga itu dariku! Aku alergi serbuk bunga!"


Kedua alis Shane bertemu. "Hah? Sejak kapan?"


"Makanya, kau perhatikan sesekali mama mu ini! Jangan terlalu asik dengan kekasihmu ini!" tukas Willia cemberut.


Tak mau ribut, Shane menggandeng Yuna untuk menjauh. "Kita ke sana saja."


Mereka mencari tempat yang tidak begitu ramai dengan hingar bingar musik dan jauh dari pandangan Willia serta Kate.


"Shane, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tau kalau ibumu alergi serbuk bunga," ucap Yuna, nyaris menangis. Hancur sudah kesan baik dirinya di mata Willia.


"Aku juga baru tau. Tidak perlu kau pikirkan, ibuku memang suka mengada-ada. Pernah suatu kali, dia merasa gatal-gatal dan mual setelah makan salad. Katanya banyak pestisidanya, mayonaise nya sudah tidak baik, setelah diperiksa, memang tidak ada masalah. Ibuku sehat dan tidak memiliki riwayat alergi apa pun," jawab Shane menghibur Yuna.

__ADS_1


Yuna menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu, aku bisa tenang,"


Acara pun dimulai, mau tidak mau, Shane datang mendekat. Karena pembawa acara pasti akan meminta keluarga yang berulang tahun untuk naik ke panggung.


Pembawa acara naik ke atas panggung dan musik kembali di mainkan. Pria pesohor itu berdansa di atas panggung mengikuti irama musik.


"Okei! Hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu, karena ini adalah hari besar dari mama, teman, sahabat, calon mertua, eh, hahaha. Belum, yah? Nyonya Willia! Silahkan naik ke atas panggung, Nyonya Willia! Di usianya yang ke enam puluh sekian, Nyonya Willia masih tampak seperti seorang gadis muda, hahaha!"


Willia pun menaiki panggung dengan melambai-lambaikan tangannya, menyapa para tamu undangannya. "Terima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan diri untuk datang. Aku bahagia sekaligus bersyukur atas perhatian yang kalian berikan kepadaku. Terutama untuk kedua anakku, Shane dan Kate,"


Pembawa acara kembali mengambil alih microphone. "Mana putra dan putri Nyonya Willia? Silahkan naik ke atas panggung,"


"Ikut aku," ucap Shane, menarik tangan Yuna.


Namun, Yuna menolak. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, kau saja. Aku akan menunggumu di sini,"


Shane memandangnya pasrah, apalagi saat tangannya ditarik oleh Kate. "Ayo, Kak! Dia tidak akan hilang ditinggal sebentar!" tukas Kate kesal.


Setelah Shane dan Kate naik ke atas panggung, sebuah troli besar menanti mereka. Di atas troli ada kue ulang tahun 6 tingkat yang dihiasi bunga-bunga, hiasan mutiara kecil, dan emas di setiap tingkatnya.


Lilin pun dinyalakan dan musik march ulang tahun mulai disenandungkan.


"Tunggu sebentar! Sebelum aku meniup lilin, aku ingin mengenalkan seseorang yang akan segera menjadi bagian dari hidupku dan hidup Shane, putraku. Sebentar lagi, dia akan melepas masa lajangnya."


Shane dan Yuna saling berpandangan. Laki-laki dewasa itu mengangguk ke arah Yuna, memintanya bersiap-siap naik ke atas panggung. Yuna pun berjalan hingga anak tangga panggung dan menunggu di sana.


"Sosok inilah yang nantinya akan mendampingi putraku, kuharap dia bisa menggantikan ku jika aku sudah tidak ada nantinya, hahaha! Baiklah, tidak perlu menunggu lama lagi, aku akan memanggil calon menantuku yang cantik, yang hari ini tampak sangat menawan dan dia gadis yang paling bersinar malam ini," ucap Willia penuh haru.


Dengan jantung berdebar, Yuna menaiki satu anak tangga dan bersiap untuk naik lebih tinggi lagi saat namanya dipanggil nanti.


"Aku akan panggilkan gadis yang akan sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kami, Jenna!" seru Willia dengan senyumnya yang lebar.


Yuna mematung saat mendengar nama Jenna dipanggil. Jenna? Siapa dia? Kapan Shane dan wanita itu berkenalan? Kenapa Shane tidak pernah bercerita tentang Jenna ini?


Selagi Yuna sibuk dengan pikirannya, seorang wanita dengan balutan gaun sekssi berwarna hitam melewati Yuna begitu saja.


Yuna memandang wanita cantik yang segera mencium Shane dan memeluk Willia dengan akrab itu. Hati Yuna hancur, dan dia ingat ucapan bibinya, jika dia sudah merasa tidak nyaman, kembali dan berhentilah. Maka, itulah yang dilakukan Yuna. Dia berlari meninggalkan tempat itu dan menjauh dari segala keramaian acara ulang tahun yang menyakitkan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2