
Suasana pagi itu tampak indah. Hiasan bunga gardenia, peony, dan lilac terlihat memenuhi bangku-bangku di sebuah taman kecil. Beberapa orang nampak sibuk membawa ini dan itu di sekitaran taman itu.
Sementara itu di sebuah ruangan, seorang gadis terlihat cantik dengan gaun putih panjang tanpa lengan serta veil berbahan tulle yang terpasang di rambutnya.
"Yuna, you're absolutely gorgeous, Sayang. Look at you, aku hampir tak mengenalimu," ucap seorang wanita. Kedua matanya memandang penuh haru pada gadis kecil itu.
"Bibi Leona, bisa saja, deh. Berterima kasihlah kepada Nyonya Perias Wajah ini, dia yang membuatku cantik. Hehehe," balas Yuna.
Tak lama, seorang wanita tua dengan gaun putih berwarna senada masuk ke dalam ruangan itu. "Bryan mau, Yuna jalan bersamanya saat pemberkatan nanti. Kubilang saja, aku yang membesarkan anak itu, bukan kau! Hahaha!"
"Tentu saja harus Nenek yang mengantarku ke altar. Aku tidak ingin orang lain. Supaya mereka tau, Neneklah yang menemaniku hingga aku dewasa," ucap Yuna sambil memeluk sayang wanita tua itu.
Nenek itu mengusap punggung cucunya dan tiba-tiba saja, air matanya menetes. "Tidak terasa, aku sudah akan melepasmu, Yuna. Setelah ini, aku akan melepas bibimu. Ah, aku akan hidup sendiri,"
"Tidak begitu!" tukas Leona dan Yuna bersamaan.
"Nenek akan bersamaku," ucap Yuna, dia berusaha menenangkan hati sang nenek.
Leona mengangguk. "Atau bergantian. Ibu juga boleh tinggal bersamaku. Aku tidak mau Ibu sendiri! Bagaimana nanti kalau terjadi sesuatu kepadamu, Bu? Siapa yang akan menolongmu?"
Wanita tua itu tertawa. "Hahaha! Tidak, aku ingin sendiri saja dan istirahat sejenak. Sedari kalian bayi, aku sudah mengurusi kalian. Sekarang, biarkan aku menikmati waktuku. Aku akan berbelanja, bermain, menikmati kopiku di sebuah kedai. Kurasa itu menyenangkan,"
Yuna dan Leona saling berpandangan. Sulit sekali mereka memahami isi kepala wanita paruh baya itu. Mereka menghela napas, menyerah pada pemikiran Laurent.
"Baiklah, kalau itu yang Ibu inginkan. Tapi, jika terjadi sesuatu, cepatlah kabari kami!" tukas Leona, mulutnya mencebik.
"Hahaha, aku tau. Hahaha!" ucap Laurent.
Tak beberapa lama kemudian, seseorang kembali mengetuk pintu ruangan itu. Seorang wanita berpakaian serba hitam masuk ke dalam dan mengecek kesiapan Yuna. "Oke, kita akan mulai dalam tiga puluh menit lagi, yah. Mohon dipercepat untuk make up dan buket bunga yang akan dibawa oleh Nona Yuna,"
Para tim acara untuk pernikahan hari itu mengangguk cepat. Mereka pun mempercepat proses Yuna. Setelah melakukan touch up untuk terakhir kalinya, Yuna pun sudah siap untuk memulai acara pemberkatan pernikahan tersebut.
__ADS_1
Begitu Yuna keluar ruangan dan berjalan bersama Laurent, suara musik pun mengalun dengan lembut, membuat semua yang hadir terhanyut dalam proses sakral itu.
Shane melihat Yuna dalam balutan gaun putih. Gadis itu tampak cantik dan anggun. Wajah bahagianya membuat Yuna semakin cantik hari itu.
Jantung Shane berdebar kala melihat Yuna. Pria dewasa itu terlihat gugup saat Yuna semakin mendekat ke arahnya. Senyum keduanya semakin merekah begitu mereka sampai di pelaminan.
Pemberkatan dan pesta pernikahan pun berlangsung dengan khidmat dan lancar. Semua orang tampak sangat menikmati acara hari itu.
Malam hari itu,
"Jadi?" tanya Shane.
Wajah Yuna memerah. Dia sudah memakai pakaian tidur yang cukup menerawang. Shane terus menggoda istri kecilnya itu.
"Ja-, jadi?" balas Yuna.
Shane menarik tangan Yuna dengan gemas dan mendudukan gadis itu di pangkuannya. Wajah Yuna semakin memerah, saat Shane perlahan-lahan menurunkan tali pakaian tidurnya dengan lembut.
Jari jemari Shane mulai bergerilya. Dia kembali membuka tali pakaian tidur Yuna yang satu lagi, sembari memindahkan ciumannya.
Saat pakaian tidur Yuna terbuka, Shane membaringkan gadis kecil itu di ranjang dan menikmati pemandangan indah yang terpampang di depan matanya. "Kau indah sekali, Yuna dan aku merindukan saat-saat kita berdua seperti ini,"
Tanpa menunggu jawaban Yuna, bibir Shane menggelitik perut istrinya yang rata. Dia menghujani perut Yuna dengan kecupan yang bertubi-tubi, tanpa satu inci pun terlewatkan olehnya.
Ciumannya terus merambat ke atas, sampai dia bertemu dengan dua pegunungan indah yang menantinya. Dia menyapukan bukit itu bergantian dengan lidahnya. Setelah puas, Shane menyesap pucuk bukit Yuna yang terlihat kemerahan dan mengeras itu.
Shane menghissapnya dengan rakus. Tak hanya itu, dia menggigit kecil, melummat, dan terkadang dia mainkan bulatan kecil itu dengan lidahnya. Sementara tangan satunya tak henti memutar dan memilin pucuk bukit yang lain.
Dessahan pun keluar dari bibir mungil Yuna. Gadis itu terus memanggil-manggil nama suaminya. Mendengar erangan mesra dari istrinya, Shane semakin bersemangat.
Kini, dia kembali menuruni tubuh Yuna dan bermain di perut Yuna dengan lidahnya. Ciumannya terus menurun hingga dia menemukan lembah Yuna yang sudah sangat basah. Shane menggigit pangkal paha Yuna dan membuat gadis itu semakin menggelinjang hebat. "Just enjoy it, Honey,"
__ADS_1
Sentuhan pertama dari Shane di lembah itu, membuat Yuna mendessah hebat dan menekan kepala Shane lebih dalam lagi. Shane semakin panas dan bersemangat, dia menghujamkan lidahnya ke lembah itu dan mengobrak-abrik liang senggama milik gadis kecil itu.
"Oh, Shane! Sedikit lagi aku sampai," erang Yuna.
Shane melepaskan lidahnya dan mendongak ke atas. "Silahkan, Nyonya. Ladies first," kemudian, dia kembali menyerang lembah Yuna lagi sampai akhirnya ****** ***** Yuna keluar dari liang tersebut.
Shane menghissap dan menjilatinya dengan rakus. "Kau siap?"
Yuna mengangguk pasrah saat Shane meletakkan kedua tungkai kaki Yuna ke pundaknya dan mengujamkan batang miliknya yang sudah membesar dan mengeras ke dalam lembah Yuna yang sudah kembali basah.
Suara dessahan dan erangan memenuhi kamar presiden suite itu. Suasana kamar yang tadi dingin, saat ini menjadi panas membara seiring suhu tubuh mereka yang terus mengeluarkan panas.
Shane mencoba berbagai macam gaya, bahkan dia meminta Yuna untuk menjadi leader dalam permainan mereka. Berkali-kali pula Yuna mencapai puncak kenikmatannya. Begitu pula dengan Shane.
Mereka baru berhenti saat tengah malam, dengan napas yang terengah-engah. "Luar biasa," ucap Shane sambil mengecup kening istrinya.
"Yah, kau gila. Tapi ini mengasyikan, Sayang," balas Yuna.
Shane beranjak dari ranjangnya dan menarik tangan mungil istrinya ke kamar mandi. Sembari menunggu air penuh di dalam bathup, Shane memeluk Yuna dari belakang. Tangan dan kecupannya terus bermain dan mendarat di punggung Yuna.
Seolah tak mau kalah, tangan Shane pun memainkan bola kembar milik Yuna dan tangan satu lagi bebas menjelajah liar di lembah milik gadis itu.
Mereka pun kembali terhanyut dalam gairah cinta mereka. Permainan kembali dimulai dari awal. Setelah selesai membersihkan diri beberapa kali, suara bellboy terdengar dari dalam luar ruangan kamar mereka.
Dengan hanya berbalut handuk, Shane membuka pintu kamar itu dan membawa baki makanan berisi makan malam untuk mereka nikmati bersama.
"Yuna, mulai malam ini, aku berharap kau menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku," ucap Shane lembut.
Yuna tersenyum. "Aku pun berharap demikian, Shane. Semoga ini menjadi pernikahan pertama dan terakhir kita," jawabnya sambil menggenggam erat tangan suaminya itu.
***
__ADS_1