Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 41


__ADS_3

Shane kembali ke apartemennya. Dia marah bahkan sangat marah. Kenapa Yuna menghindarinya? Dan ada satu hal yang membuat dia terkesan, Yuna berubah. Gadis itu menjadi lebih manis dan rapi.


Dia mengunjungi Yuna karena dia merindukan gadis muda itu. Shane hanya ingin bertegur sapa, tetapi kenapa Yuna menolak kehadirannya? Apa Yuna sudah tidak mencintai dia lagi?


Shane mengacak-acak rambutnya kasar. "Aarrgghh! Kalau tauh akan seperti ini, aku tidak akan setuju dengan ide break!"


Namun, Shane dengan cepat menguasai emosinya sendiri. "Aku harus tenang," ucapnya bermonolog.


Keesokan harinya, Willia mengajak Shane untuk bertemu di jam makan siang.


"Aku ada rapat," jawab Shane ketus.


Willia berdecak kesal. "Sebentar saja! Mama mengajak Jenna bersama kita, jangan membuat Mama malu, Shane!"


"Arrgh! Apalagi itu! No, aku sibuk!" ujar Shane dan dia berlalu begitu saja meninggalkan Willia yang sedang menggerutu kesal.


Saat jam makan siang tiba, Shane berencana mengunjungi Yuna di kampusnya. Dia tau, Yuna sudah tidak memiliki jadwal kuliah karena dia hanya akan mengurus skripsinya.


Namun sayangnya, Willia serta Kate sudah menunggu di depan kantornya dan menyeret tubuh kekar itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Ini apa-apaan, sih! Kate, lepas! Mama, lepaskan aku!" ucap Shane sambil memberontak.


"Ikut makan siang atau Mama akan coret namamu jadi daftar warisan!" ancam Willia.


Shane membenarkan jasnya yang tadi sempat tertarik tangan ibu dan adiknya. "Coret saja! Aku tidak butuh!"


"Benarkah? Perusahaan mu itu masih atas nama almarhum ayahmu, Shane! Apa jadinya kalau aku menarik perusahaan itu juga? Bisakah kau menyombongkan dirimu di depan gadis dekil mu itu, huh?" tukas Willia, sudut matanya menatap Shane dari kaca spion tengah. "Turuti kataku, menikahlah dengan Jenna!"


"Cih!" Shane berdecih dengan geram. Dia tidak suka di usia kepala 4-nya, sang ibu masih mengurusi soal jodoh. Dan lagi, Shane belum siap kehilangan perusahaan serta fasilitas yang diwariskan oleh ayahnya itu.


Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran mewah yang memiliki bangunan klasik dan di dominasi putih. Seorang wanita cantik sudah menunggu di sana. Di salah satu meja berkursi enam.


"Jenna Sayang, maaf ya kami lama. Tadi menunggu Shane selesai rapat. Sudah pesan?" tanya Willia. Dia segera menyambut Jenna dengan hangat dan mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.

__ADS_1


Gadis bernama Jenna itu tersenyum. Senyumnya tampak cantik sekali. "Tidak apa-apa, Tante. Aku juga belum lama di sini, kok,"


Jenna memeluk Shane erat seolah-olah tidak mau dilepaskan. "Bagaimana kabarmu, Shane?"


Shane sedikit mendorong tubuh Jenna supaya gadis itu melepaskan pelukannya. "Tidak ada urusannya denganmu! Aduuhh!"


Shane mengusap perutnya yang terkena cubitan dari tangan Willia. Akhirnya, Shane memilih untuk duduk menjauh dari mereka.


Mereka pun berbincang-bincang, sedangkan Shane diam dan seakan tidak ada di meja itu bersama mereka. Tentu saja hal ini menjadi sorotan Willia.


"Shane katanya mau ajak kamu makan malam weekend ini, Jen. Ya, 'kan Shane?" ucap Willia, memecah keheningan Shane yang sedang asik dengan ponselnya.


"Eh,apa? Maaf, tadi lagi berbalas pesan dengan Dave soal kerjaan. Kenapa tadi, Ma?" jawan Shane sambil menunjukan ponselnya.


Willia tertawa kecil. "Hahaha! Jangan terlalu fokus sama kerjaan mu, Shane. Pantas saja dia tidak kunjung menikah. Dia terlalu mencintai pekerjaannya. Mungkin kalau pekerjaan itu seorang wanita, dia sudah menikah lama dengannya, hahaha!"


"Hahaha, justru bagus, dong. Daripada fokus sama sesuatu yang tidak jelas ya, 'kan, Tante? Hahaha." ucap Jenna dengan tawanya yang penuh basa basi.


Shane tersenyum kecut. "Ehem! Jadi, bagaimana tadi?"


Mau tidak mau, Shane mengangguk di bawah kendali ibunya. Dia benci dirinya sendiri yang mengalah hanya untuk mempertahankan harta warisan ayahnya. Pria itu mengutuk dirinya sendiri karena tidak mau kehilangan perusahaan ayahnya dan terpaksa harus menggadaikan cintanya.


Sementara itu, Yuna kesal karena kemunculan Shane yang tiba-tiba. Hal itu membuatnya tidak nyaman, apalagi saat dia baru saja mendengar kabar bahwa Shane akan segera menikah dengan wanita pilihan ibunya. Jadi, apalagi yang ingin dia perjelas saat ini?


Sejak saat itu, Yuna pun kembali fokus dengan skripsinya. Keesokan harinya, dia mendapatkan kabar dari dosen pembimbingnya bahwa skripsi yang dia ajukan telah lulus dan dia sudah diperkenankan untuk mengajukan sidang skripsi.


Mendengar kabar itu, dia mencari Mario dan dia menemukan Mario di kantin kampus. "Kak Mario! Kapan kau sidang?"


"Kenapa memangnya?" tanya Mario, dia membuka tab-nya dan memeriksa jadwal sidang skripsi.


"Kemungkinan besar, sidang skripsi ku dimajukan karena aku sudah lulus!" ucap Yuna dengan mata berbinar-binar.


Mario terperangah. "Benarkah? Oh, oh, aku tanggal 10 besok. Ajukan saja tanggal itu, aku akan menunggumu,"

__ADS_1


Yuna pun mengangguk dan sebelum dia bertemu dengan dosen pembimbing, dia memeluk kakak kelasnya itu. "Terima kasih untuk segala bantuan dan bimbingan mu,"


Seperti mendapatkan hadiah besar, Mario tersenyum dan membalas pelukan gadis yang dicintainya itu. "Jangan terlalu lama memelukku, Yuna, nanti aku tidak bisa melepas mu,"


Yuna pun segera melepaskan pelukannya dengan wajah memerah. "Ba-, baiklah. Terima kasih, Kak,"


"Kau sudah mau pulang?" tanya Mario.


Yuna mengangguk. "Ya, setelah aku bertemu dengan Mr. Crows sebentar untuk memberikan tanggal sidang ku,"


"Aku akan menemanimu," jawab Mario. Dia menautkan tangannya dengan tangan Yuna, hanya untuk mengetes apakah gadis itu akan menerima genggaman tangannya dan ternyata Yuna mengeratkan genggaman tangan Mario. Pria itu pun tersenyum senang.


Selama menunggu tanggal sidang, Mario dan Yuna sering belajar bersama dan menghabiskan waktu untuk melakukan simulasi sidang.


Akhirnya, tanggal sepuluh di bulan itu pun datang. Mereka berdua mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Sejak saat itu pula, Shane tidak pernah datang ke hidup Yuna lagi. Yuna pun sepertinya tidak peduli dengan Shane.


Gadis itu kini semakin manis, perlahan dia mengubah penampilannya sedikit demi sedikit. Dia bukanlah gadis kutu buku berkacamata tebal lagi dengan penampilan dekil dan seperti gembel.


Yuna telah berubah menjadi seekor kupu-kupu cantik. Mario pun semakin mengangumi gadis itu.


Di hari sidang, Mario memuji penampilan Yuna yang saat itu tampak manis dengan kemeja putih dan bawahan hitam serta blazer hitam tanpa kacamata. Rambut keriting kecilnya dia lepas sehingga tampak seperti uraian air terjun di punggungnya.


"Kau cantik," puji Mario.


"Terima kasih. Aku berubah bukan untuk orang lain. Aku berubah untuk diriku sendiri. Beberapa bulan belakangan ini, aku sadar, aku harus mencintai diriku sendiri barulah setelah itu, aku bisa mencintai orang lain," jawab Yuna lugas.


Mario menganggukkan kepalanya. "Kau benar. Setelah lulus ini kau mau ke mana?"


"Aku ingin bekerja di West Company sambil mengambil beasiswa S2-ku," jawab Yuna. Dia ingat betul janji Shane dan kali ini, dia akan datang ke sana, menagih janji pria itu.


"Sama denganku. Itu juga perusahaan incaran ku. Kita masuk bersama ke sana, bagaimana?" tanya Mario, dia menantang keberuntungannya serta keberuntungan Yuna.


Yuna mengangguk. "Boleh, kita perkenalkan diri kita di sana sebagai kekasih semasa kuliah. Kau mau?"

__ADS_1


"Heh?" Mario pun terkejut mendengar pernyataan dari gadis yang kini menatap dengan manik birunya yang seperti laut menghanyutkan itu.


***


__ADS_2