
"Pria itu, yang suka datang ke kampus kita itu, kekasih bibi mu?" tanya Mario saat mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju kampus.
Yuna mengangguk dengan berat hati. "I-, iya, Kak,"
Ingin sekali dia jujur kalau Shane itu adalah kekasihnya, bukan kekasih Leona. Namun entah mengapa, mulutnya seakan terkunci dan lidahnya terasa kelu, sehingga kalimat itu seperti membeku di ujung lidah.
"Ehem! Aku ingin bertanya tentang penawaran ku kemarin? Apakah kau sudah ada jawabannya?" tanya Mario.
Yuna berpikir cukup lama. "Penawaran apa? Aku tidak ada materi kuliah tentang sistem penawaran. Penawaran apa memangnya? Tunggu! Tunggu! Biar kuingat-ingat lagi,"
Gadis itu menyangka Mario sedang membicarakan tentang materi kuliah atau materi untuk bahan pembuatan skripsi. Antara dia dan Claire memang sedang membuat proposal penawaran terkait skripsi yang akan mereka buat dengan mengangkat tema yang sama.
Karena otak Yuna sudah pergi jauh entah kemana, Mario menggelengkan kepalanya. "Kau memang terlalu pintar, Yuna, ckckck. Maksudku adalah, penawaran ku kepadamu tadi malam,"
Begitu menyadari maksud Mario, wajah Yuna memerah dan dia tertunduk. "Oh, itu,"
"Yes! Then? Kalau kau belum memikirkannya, tidak apa-apa. Aku tidak memburu mu, tapi jangan gantungkan harapanku," kata Mario lagi.
"Kalau misalnya aku menolak, apakah kita masih akan tetap berteman seperti ini?" tanya Yuna.
Mario tersenyum kecil. "Hahaha! Tentu saja. Memangnya kalau kau menolak ku, aku menjadi musuh mu? Tenang saja, aku tidak akan berubah. Tapi, andaikan suatu saat nanti aku bertemu dengan seorang wanita dan kemudian aku berkencan dengannya, kau tidak boleh menyesal,"
"Baiklah, aku tidak akan menyesal," jawab Yuna sambil mengulum senyumnya.
"Jadi, kau menolak ku?" tanya Mario lagi memastikan.
Yuna mengangguk. "Bolehkah?"
"Hahaha! Tidak boleh!" goda Mario, dan dia kembali tertawa begitu melihat wajah Yuna yang menggemaskan. "Hahaha! Itu hak mu, Yuna. Aku tidak akan memaksakan kehendak ku. Tapi, aku berharap suatu saat nanti kau akan memikirkan ku,"
"Maaf."
Sementara itu, Shane dan Leona terpaksa berangkat bersama karena paksaan Lauren. Wanita paruh baya itu tidak mau mendengar kalau Shane menjalin hubungan serius dengan Yuna.
"Tidak! Tidak! Cucuku masih kecil, tidak boleh berkencan-kencan! Kau seharusnya menjadi ayah Yuna bukan kekasih Yuna! Menikahlah dengan putriku dan angkatlah Yuna menjadi anak kalian. Jika kalian melakukan itu, aku akan mendukung kalian!" tukas Lauren menegaskan.
Karena itulah, Leona dengan berat hati berangkat bersama Shane. "Maafkan ibuku. Prinsipnya keras dan sulit sekali goyah,"
"Tidak masalah. Perlahan, ibumu juga akan mengerti," jawab Shane sambil fokus pada jalanan.
"Ibuku mengalami trauma. Ibu Yuna, meninggalkan Yuna di depan rumah kami dan dia tidak tau ada di mana saat ini. Semua keperluan Yuna.itu hasil kerja keras kami dan jerih payah Yuna sendiri. Itulah mengapa, ibuku tidak ingin Yuna berkencan terlebih dahulu," tutur Leona.
__ADS_1
Shane teringat cerita Yuna yang mengatakan kalau dia dibesarkan oleh bibi dan neneknya semenjak dia kecil. "Yuna pernah bercerita itu padaku tapi ternyata kisah hidupnya cukup rumit,"
"Hubungan kalian sudah sedekat itu, yah sampai dia sudah bercerita tentang segalanya kepadamu. Mungkin dia menemukan sosok pelindung dan kau menjadi tempat bersandar baginya," kata Leona.
Shane mengangguk-angguk. "Mungkin dan aku berharap dia akan menyandarkan hidupnya juga padaku,"
Setibanya Shane di kantor. Dave sudah menyambutnya dengan segelas cappucino hangat.
"Morning, Pria Tampan," sapanya ceria.
"Kenapa wajahmu? Kusut sekali?" tanya Shane kepada Dave. Asisten itu biasanya berwajah ceria dan panggilan sapaan pagi harinya berada di oktaf kelima dalam tangga nada, tetapi pagi itu, sapaan selamat paginya hanya mencapai tiga oktaf.
Dave cemberut. "Biasalah, urusan cinta,"
"Brian? Kenapa dengan Brian?" tanya Shane.
"Kau ingat saat kita kencan buta? Awalnya aku tidak sadar, tapi begitu dia tahu kau putus dari Leona, dia sepertinya bahagia sekali! Untuk apa dia begitu? Apa jangan-jangan dia suka padamu?" tanya Dave.
Kedua alis mata Shane bertautan dan keningnya berkerut-kerut. "Kau memberitahukan semuanya kepada Brian tentang hubunganku dengan Leona?"
"Tentu saja! Tidak ada rahasia di antara kami sampai beberapa hari ini," ucap Dave. Nada suaranya terdengar sedih.
"Ck! 'Kan!" tukasnya kesal.
"Katakan juga pada Brian, aku tidak tertarik dengan batang, hahahaha! Ayo, meeting!" ucap Shane di sela-sela candanya.
Bibir Dave masih mencebik, tetapi tangannya mulai menyiapkan ini dan itu untuk meeting pagi. Hatinya terasa patah, bagaimana kalau kekasih prianya benar-benar menyukai Shane? Dave menghela napas panjang. "Hhh, sudahlah,"
Jam istirahat siang pun tiba dan siang itu Brian datang berkunjung ke kantor Shane. Namun, dia tidak berkunjung untuk Dave, dia datang untuk bertemu dengan Shane.
"Tumben kau ingin bertemu denganku, Brian? Kau harus lihat wajah kekasihmu itu? Seperti kanebo kering yang tertekuk-tekuk," ucap Shane.
Pria berambut mullet cepak dan berbadan tegap itu duduk di hadapan Shane. Dia menyugar rambutnya, memperlihatkan aura ketampanan yang luar biasa. Shane pun mengakui itu.
"Aku-, sepertinya aku menyukai orang lain, Shane. Maksudku, ini terjadi begitu saja. Seperti tombol yang tiba-tiba tidak sengaja tertekan dan menyala," kata Brian.
Jantung Shane sedikit berdetak cepat. Dia takut apa yang dikhawatirkan Dave menjadi kenyataan. "Siapa yang kau sukai?"
Dengan wajah memerah, Brian berbisik, "Seorang wanita,"
"Apa? Jadi kau-,"
__ADS_1
"Ssssttttt! Ssstttt!" tukas Brian, menutup mulut Shane. "Aku tau! Aku tau ini salah! Tapi, aku juga tidak percaya ini terjadi padaku!"
"Justru ini benar, 'kan?" tanya Shane. "Kau takut pada Dave, yah? Kau takut menyakiti hatinya?"
Brian mengangguk perlahan. "Ya, tapi aku tidak tahu harus aku apakan rasa ini? Kumohon, jangan ceritakan ini pada Dave,"
Shane mengangkat kedua jarinya dan membentuk huruf V. "Aku berjanji. But anyway, siapa wanita yang beruntung itu?"
Brian mendekati Shane dan kembali berbisik. "Leona,"
"Heh!" tukas Shane terkejut.
Sore hari menjelang petang, sebuah mobil sedan mewah sudah siap di depan kampus. Dari mobil itu, keluarlah dua orang pria tampan. Dengan langkah tegap dan pasti, mereka berjalan menuju hall kampus.
Tak lama seseorang yang mereka tiba, muncul dari dalam lift. Salah seorang dari pria tampan itu pun melambaikan tangannya. "Yuna!"
"Kekasihmu datang!" seru Sabrina dan teman-temannya.
Yuna memandang mereka sebal. "Ck! Tukang ribut!"
Sabrina menghampiri kedua pria tampan itu dan tertawa-tawa centil di samping mereka sampai Yuna datang dan Sabrina semakin mengeratkan pegangannya pada salah satu pria itu.
"Shane? Kau menjemput ku," tanya Yuna.
Shane mengangguk. "Ini asistenku, kenalkan,"
"Namaku Dave," jawab Dave tersenyum. Dia menyentak lengan Sabrina yang menempel padanya seperti tentakel gurita dan mengulurkan tangannya pada Yuna.
"Namaku, Yuna," jawab Yuna.
Tak lama, Claire dan Mario bergabung bersama mereka. "Oh, itu paman Yuna. Selamat sore, Paman," sapa Claire sopan.
"Kenapa jadi aneh begini, sih?' tanya Yuna dalam hati. Dia harus meluruskan segalanya, secepat dia bisa.
"Panggil saja, Shane. Aku bukan pamannya Yuna tapi aku-,"
"Pria ini yang berciuman dengan Yuna di dalam video dan pria ini adalah kekasih Yuna, benar, 'kan?" sahut Sabrina, menjelaskan segalanya.
Manik Yuna dan manik Mario saling bertemu. Karena yang Mario tahu, Shane adalah kekasih Leona. Bukan kekasihnya. Dengan wajah kecewa, Mario pun melengos pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan dari Yuna.
***
__ADS_1