Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 45


__ADS_3

Bab 47


Jari-jari Shane melepaskan ponselnya begitu saja. "Apa? Menikah? Siapa? Aku?"


Willia menatap putranya dengan pandangan gusar. "Yang belum menikah di sini, 'kan hanya kamu! Tidak perlu terkejut begitu!"


"Aku sudah menurutimu untuk bertunangan dengan Jenna. Sekarang, kau menuntut ku untuk segera menikah? Aku tidak mau!" tukas Shane.


Willia tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke arah Jenna. "Maaf ya, Jenna Sayang. Dia terlalu lama sendiri jadi belum berani untuk berkomitmen dan terikat,"


"Tidak masalah, Tante. Kalau memang Shane ingin menunda pernikahan, silahkan saja. Aku akan menunggu sampai Shane siap," kata Jenna. Senyum manis gadis itu membuat luluh hati Willia.


Sedangkan Shane kembali asik dengan ponselnya. Dia tidak ingin menikah, titik! Itu sudah menjadi keputusannya. Apalagi sejak dia mengetahui hubungan Yuna dengan Mario, Shane menjadi semakin terobsesi kepada mereka dibandingkan dengan hidupnya sendiri.


Selepas kepulangan Jenna dari rumah Willia, Shane berpamitan pulang ke apartemennya. Namun, Willia menahannya. "Mama mau bicara dulu sama kamu!"


"Besok aku ada rapat, besok saja." jawab Shane berdalih. Dia tau pasti apa yang akan dibicarakan oleh Willia. Masalah pernikahannya dengan Jenna.


"Halah! Pasti besok kamu punya alasan lagi, Shane! Lembur lah, rapat lah, meeting mendadak! Mama mau bicara sekarang!" tukas Willia lagi.


Akhirnya, Shane mengalah dan kembali menempelkan tulang ekornya di kursi, setelah sebelumnya dia mengambil kaleng bir dari lemari pendingin. "Bicaralah! Ini sudah malam, aku mengantuk!"


"Kenapa kau tidak mau menikah dengan Jenna?" tanya Willia. "Begitu kalian menikah, maka kita bisa menggabungkan dua perusahaan, Shane! Bayangkan keuntungan yang dapat kita raih! Jenna itu pewaris South Group, pewaris tunggal! Pikirkan itu, Sayang," sambung Willia.


Namun tampaknya, putra kesayangannya itu tidak tertarik dengan kata menikah. Shane hanya memainkan kaleng birnya yang sudah kosong. "Mama sudah selesai?"


"Astaga, Shane! Mama hanya ingin kau tidak hidup susah! Mama bantu dengan menjodohkan kau dengan Jenna, yang sudah jelas asal usulnya! Kok jadi tidak semangat?" tanya Willia. Wanita itu tersinggung dengan respon yang diberikan oleh Shane.


"Aku mau menikah tapi tidak dalam waktu dekat ini, Ma! Aku masih ingin melakukan banyak hal," tolak Shane.


Willia memincing kan kedua matanya, dia menatap curiga pada Shane. "Bukan karena gadis gembel itu, 'kan?"

__ADS_1


"Bukan! Aku tidak peduli dengan dia lagi! Lagipula, kenapa mama harus bawa nama Yuna, sih? Aku tidak ingin menikah karena kemauanku sendiri bukan karena dia! Menyebalkan!" Shane melemparkan kaleng bir kosongnya ke dalam tempat sampah, setelah itu dia bergegas pergi meninggalkan Willia yang bingung.


Hanya karena ingin melihat Yuna, Shane menjadi rajin datang ke kantor. Dia akan datang sebelum semua pegawai datang. Asisten Shane, Dave pun menyadari perubahan bos-nya tersebut.


"Wow, akhir-akhir ini Anda rajin sekali, Tuan. Anda datang bahkan sebelum aku menjemput Anda. Kalau begitu, Anda sudah tidak memerlukan ku lagi," tutur Dave menggoda Shane.


Shane hanya tersenyum puas. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat pria tampan itu tidak puas, yaitu posisi duduk.


Dia ingin sekali melihat Yuna dan apa yang dikerjakan gadis itu selama seharian di kantor. Dia juga ingin tau, apa yang ditertawakan oleh gadis itu, apa yang dibicarakan oleh Yuna, dan apa yang menyebabkan Yuna merubah penampilannya menjadi seorang gadis yang cantik dan manis.


"Dave, anak baru itu sudah kontrak atau masih magang?" tanya Shane.


Dave paham siapa yang dimaksud dengan anak baru itu. Ya, Yuna dan Mario. "Mereka sudah menandatangani kontrak selama tiga tahun, Tuan,"


"Tiga tahun? Sebagai apa?" tanya Shane lagi.


"Sebagai staff, tapi mereka bukan di divisi mu. Kau hanya berperan sebagai penandatangan saja. Mengapa kau tanyakan itu?" jawab Dave sekaligus bertanya. Sejak Yuna dan Mario memperkenalkan diri mereka sebagai pasangan kekasih, monster di dalam diri Shane kembali terbangun. Dia tidak suka kalau Yuna menjalin hubungan, apalagi dengan seorang laki-laki ingusan.


"Cih! Anak kemarin sore!" tukas Shane.


Shane mengangguk. "Ya, dialah Yuna-ku. Entah sejak kapan dia menjadi seekor kupu-kupu cantik seperti itu?"


"Ya, dia cantik. Saat pertama kali aku melihatnya, aku suka padanya. Tapi, aku tetap suka melihat Mario, he's young and he has charisma," ucap Dave lagi sambil ikut memperhatikan Yuna dan Mario dari balik ruangan Shane.


Shane menatap Yuna yang sedang tertawa dan menyesap susu kotak stroberinya. Entah apa yang membuatnya bahagia seperti itu. "Pindahkan dia di dekat ruangan ku!"


"Heh! Tidak bisa, 'kan? Sudah kukatakan, dia beda divisi denganmu dan tugasmu hanyalah untuk menandatangani," jawab Dave menolak usulan bos-nya itu.


"Pindahkan dia sekarang atau kau yang kupindah kan!" titah Shane, kemudian dia berlalu keluar dari ruangannya.


Yuna telah merusak rencana yang sudah di susun oleh pria itu. Rencana Shane adalah dia bertunangan dengan Jenna dan menjalani kehidupannya dengan tenang. Namun, kenapa tiba-tiba Yuna muncul begitu mendadak? Kenapa dia tiba-tiba ada begitu dekat dengannya sekarang? Dan kenapa gadis itu harus bekerja di sini di antara sekian perusahaan yang bisa menerimanya?

__ADS_1


Siang itu, begitu dia kembali lagi ke kantor, Dave sudah memindahkan Yuna sesuai perintahnya. Sayangnya, Dave juga ikut memindahkan Mario. Tentu saja hal itu membuat Shane geram. "Si Bodoh itu!" Shane pun mengambil ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya itu.


"Apa lagi, Tuan Shane?" tanya Dave.


"Kau ini bodoh atau bagaimana, sih? Kubilang Yuna bukan Mario! Kenapa makhluk itu juga ada di situ?" desis Shane kesal.


Dave menyeringai lebar. "Oh, aku sengaja. Aku ingin meningkatkan kesabaranmu, Tuan Shane. Apakah kesabaranmu yang setipis tissue dibelah dua itu bisa menghadapi Yuna dan Mario tanpa kesal? Hahaha!"


"Sialan kau! Aku ingin bicara dengan Yuna, tolong sampaikan padanya untuk menemui ku di jam makan siang nanti!" titah Shane lagi. Wajahnya memerah hanya karena membayangkan Yuna akan bertemu dengannya nanti.


Jam makan siang pun tiba. Setelah berlatih dialog dengan Dave, akhirnya Shane siap memanggil Yuna ke ruangannya. Gadis manis itu datang, rambut yang biasa Shane lihat terikat kuda, kini tergerai cantik dihiasi dengan jepitan pita sederhana di kepalanya. Kacamatanya entah ke mana digantikan oleh manik biru yang cantik.


"Selamat siang, Tuan Shane," sapa Yuna.


Suara itu, suara yang dirindukan oleh Shane. "Ehem! Selamat siang! Duduklah,"


Yuna duduk di sebuah sofa besar yang berada di ruangan itu. Dia berusaha tetap tenang dan bersikap biasa saja di depan Shane. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini?" tanya Shane, jarinya mengusap dagu yang tak gatal dan mata pria itu menatap tajam pada gadis yang ada di hadapannya.


Yuna tau ini pembicaraan pribadi. Dia memutuskan untuk meletakan sementara formalitasnya dan menjawab Shane sebagai Yuna, mantan kekasih Shane. "Aku menepati janjiku untuk keluar dari cangkang dan menghadapi dunia dan kau saat aku sudah siap,"


"Tujuanmu?" tanya Shane lagi.


"Supaya aku bisa pantas mendampingi mu, Shane," jawab Yuna tegas.


Jantung Shane seakan berhenti. Apakah ini berarti, ...? "Kau masih mencintaiku? Atau kau masih mengharapkan ku?"


"Keduanya," jawab Yuna dengan tegas.


Tepat saat itu, Jenna datang dan segera saja memecahkan kekakuan suasana yang memenuhi ruangan itu. Saat itu juga, Yuna tau kalau harapannya kepada pria itu sudah hancur berantakan.

__ADS_1


"Saya permisi tuan Shane.Dan tampaknya apa yang saya katakan tentang harapan tadi tidak berlaku lagi. Biarkan saya memilih dan melakukan apa yang ingin saya lakukan. Permisi," ucap Yuna, bergegas pergi.


***


__ADS_2