Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 50


__ADS_3

"Happy anniversary, Yuna. I'm so amazed, hubungan kita sudah tiga bulan. Karir kita juga bagus. Semoga, tahun ini kita bisa lebih baik, ya, Sayang," ucap Mario. Dia memberikan Yuna sebuah kue tart model glaze cake berwarna ungu cantik dengan hiasan kupu-kupu dan edible flower di atasnya.


Hubungan Yuna dan Mario sudah berlangsung selama 3 bulan. Ini di luar rencana Yuna karena dia berpikir hubungannya dengan Mario akan berakhir dengan cepat. Namun ternyata, mereka mampu dan sanggup melewati 3 bulan itu.


Karir Mario dan Yuna pun melejit dengan cepat, di luar harapan mereka. Berkat rapat yang pernah Mario pimpin, para user yang menghadiri rapat hari itu menyetujui dan sepakat menandatangani kontrak kerjasama mereka dan tentu saja hal ini, membuat perusahaan West Company semakin diuntungkan dengan adanya perjanjian tersebut.


Perkiraan Shane dan Dave untuk segera menyingkirkan Mario dari perusahaan tersebut ternyata malah menjadi seperti senjata makan tuan. Mau tidak mau Shane pun membuat pengumuman mempromosikan Mario untuk menduduki posisi manager dan Yuna menduduki posisi asisten manager.


"Ya, semoga tahun ini banyak kebaikan yang menghampiri kita," ucap Yuna membalas harapan Mario.


Namun sayangnya, Yuna masih menghindari kontak fisik dengan Mario. Selama mereka menjalin hubungan selama 3 bulan itu, baru pertama kali Mario menciumnya. Maka dari itu di hari jadi mereka hari ini Mario memiliki harapan di dalam hatinya untuk bisa melakukan kontak fisik dengan Yuna.


Pernah suatu kali Mario menceritakan hal ini kepada Claire, adiknya. Dan Claire mengatakan, jika seorang wanita memiliki kekasih dan dia belum mau berciuman tandanya wanita tersebut belum memiliki perasaan kepada kekasihnya.


Awalnya Mario menyangkal pernyataan dari adiknya tersebut. "Tidak mungkin Yuna belum mencintaiku. Sikapnya di depanku manis sekali dan membuatku gemas setiap harinya. Selain itu semakin hari dia semakin cantik dan aku pikir dia berubah untukku, 'kan?"


Claire tersenyum. "Ada beberapa wanita yang berubah untuk dirinya sendiri. Untuk kepuasannya sendiri. Apakah Yuna menghindari kontak fisik dengan Kakak?"


Mario mengangguk muram. "Ya, kami hanya pernah berciuman satu kali. Maksudku, paling tidak, kami akan sering berciuman, 'kan?"


Kedua bola mata Claire berputar ke atas, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Hmmm, saat dia berkencan dengan seseorang, seluruh tubuhnya dipenuhi kiss mark. Aneh sekali, jika dia tidak mau berciuman denganmu,"


"Seluruh tubuhnya?" tanya Mario terbelalak.


"Maksudku, leher dan bagian permukaan dadanya. Artinya, mereka sudah melakukan lebih dari sekedar ciuman, 'kan?" ucap Claire lagi.


Mario terhenyak mendengar kenyataan yang dibeberkan oleh Claire. Kenapa Yuna tidak mau berciuman dengannya? Apa benar, Yuna belum mencintainya? Itulah sebabnya, Mario mendaraskan permohonan khususnya itu dalam hati.


Malam hari itu, Mario mengantar Yuna pulang ke rumahnya. Saat di perjalanan, Yuna mengungkapkan keinginannya untuk memiliki apartemen pribadi yang dekat dengan kantor, karena jarak dari rumah dan kantornya cukup jauh.

__ADS_1


"Kapan kau akan pindah?" tanya Mario, dia memegangi kedua tangan Yuna dengan mesra.


Yuna mengangkat kedua bahunya. "Aku belum tahu, itu baru rencana ku. Kembali lagi pada Nenekku, 'kan? Nenek mengizinkan atau tidak,"


"Kalau kau jadi pindah, aku akan membantu kepindahan mu." kata Mario. Tiba-tiba saja dia mempunyai gagasan yang menurutnya hebat. "Hei, bagaimana kalau kita tinggal bersama? Maksudku dengan aturan dan batasan-batasan yang kita buat,"


Yuna tersenyum lagi. "Aku belum memikirkan itu. Aku hanya membayangkan kalau aku tinggal sendiri, aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau, makan segala jenis makanan yang Nenek atau Bibi larang. Sesederhana itu,"


Mario mengangguk lesu. "Yuna, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,"


"Apa itu? Tanyakan saja," jawab Yuna.


"Bagaimana perasaanmu kepadaku?" tanya Mario. Dia mengunci manik biru Yuna dan kini, kedua netra mereka saling bertatapan.


"Kau meragukan ku?" Yuna bertanya balik.


Yuna terkikik. "Oh, karena hal itu? Bagaimana menjelaskannya, yah? Hmmm, aku hanya belum siap berkomitmen lebih jauh,Mario. Ketika kita berciuman, perasaan dan hati akan tertuang di dalam ciuman itu. Kita akan saling mengetahui perasaan masing-masing. Tapi, aku belum bisa membuka diri dan hatiku sampai sejauh itu."


"Tapi, kau mencintaiku?" tanya Mario.


Yuna mengangguk. "Tentu saja. Apa kau tidak merasakannya?"


"Aku tahu," jawab Mario cepat. Malam itu, dia mencoba peruntungannya kembali. Dia mendekati wajah Yuna dan mengecup bibir Yuna sesaat.


Kali ini, keberuntungan berpihak pada Mario, Yuna menarik ceruk lehernya dan memperdalam kecupan itu menjadi sebuah pagutan panas yang sanggup membangkitkan gairah pria itu.


Tak lama, mereka saling melepaskan pagutan. Yuna tersenyum dan tersipu malu. "Anggap saja itu hadiah anniversary kita untukmu,"


"Bagaimana kalau aku terus menagih ciuman darimu?" tanya Mario yang sekarang semakin tak mau melepaskan gadis itu.

__ADS_1


Semburat merah memenuhi wajah Yuna di keremangan malam itu. "Tidak masalah. Kita sudah sama-sama dewasa dan kupikir kita sudah tahu harus berhenti sampai mana,"


"Gadis pintar. Masuklah dan istirahatlah," ucap Mario mengecup lembut kening


Sayangnya, kisah cinta Shane tidak semanis kisah cinta Yuna. Karena menerima pengaduan dari Jenna kalau Shane telah memaksanya untuk berhubungan badan, Willia pun sibuk mengatur pertemuan dengan kedua orang tua Jenna beberapa bulan yang lalu.


Dari pertemuan tersebut, sudah diputuskan kalau mereka akan segera menikah di bulan ini. Mengingat, ketakutan mereka kalau perut Jenna akan membesar.


"Kalian semua kena tipu oleh Gadis Ular itu! Percaya padaku, dia tidak hamil, Ma!" tukas Shane frustrasi. "Kalau dia mau, besok pagi kita ke dokter kandungan bersama-sama dan buktikan ada atau tidak bayi di dalam kandungannya!"


Mendengar hal itu, Willia kembali menanyakan kebenarannya pada Jenna. "Kau yakin kau mengandung, Sayang? Shane bersikeras kalau kau tidak hamil."


Jenna membuat kedua matanya berkaca-kaca. "Tega sekali! Apakah perlu pembuktian jika seorang wanita mengandung?"


Wajah Willia seketika itu juga berubah menjadi penuh simpati. "Oh, Sayangku. Bukan itu maksudku, Sayang. Kita juga harus membuktikan pada Shane, kalau kau benar-benar mengandung anaknya. Dengan begitu, dia mau bertanggung jawab dan menikahi mu,"


Ketakutan Jenna menjadi nyata. Tanpa sepengetahuan Shane dan keluarganya, dia menghubungi seorang pria. "Babe, temui aku di alamat yang nanti akan ku kirimkan kepadamu,"


("Kau sudah merindukanku, Sayang? Baru tadi malam kita melakukannya dengan dahsyat,") ucap suara di seberang.


"Kita akan melakukannya lagi seharian ini, Sayang dan kali ini, tanpa pengaman. Kau ku izinkan melepaskannya di dalam," kata Jenna. Di benaknya sudah tersusun rencana yang sangat rapi.


Suara tawa terdengar lagi. ("Hahaha! Tak ku sangka, kau sangat menginginkanku, Sayang. Baiklah, akan ku luncurkan semua benih cintaku tanpa sisa. Kirimkan saja ke mana aku harus menemui mu,")


Jenna pun mengakhiri panggilannya dan kini, dia mengirimkan pesan kepada pria misterius itu.


Tanpa sepengetahuan Jenna, Shane tak sengaja menangkap percakapan Jenna dengan pria misterius itu. "Apa lagi yang kau rencanakan, Wanita Ular?" ucap Shane dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2