
Beberapa jam sebelumnya,
Shane, Leona, dan Andrew sedang berada di mobil Shane untuk membicarakan sesuatu yang penting. Mereka terlihat sangat serius.
"Aku tidak yakin Yuna dapat menyelesaikan ini sendiri, dia pasti akan merasa iba. Apalagi jika dia melihat wajah Liana atau Fabio, hatinya akan bergerak untuk mengurungkan niat membongkar semua kebusukan kakakku!" ucap Leona serius.
Shane mengangguk. Dia sudah hafal sekali Bagaimana sifat Yuna. Gadis itu penuh dengan belas kasih dan dia tidak akan tega menyakiti sesamanya, terlebih keluarganya. Tak sadar Shane pun tersenyum. "Ya, itu Yuna sekali, hehehe,"
"Tapi apa Kau akan baik-baik saja?. Karena ini menyangkut kakakmu?" tanya Andrew.
Leona mengangguk mantap. "Ya. Bukan berarti aku membencinya. Aku ingin dia mendapatkan pelajaran kalau dia harus bertanggung jawab atas setiap perbuatannya dan dia tidak bisa mencintai seseorang hanya karena dia kaya. Cinta tak selalu tentang materi," jawab Leona.
"Penyampaian yang bagus sekali. Aku suka kalimat mu," ucap Shane.
"Jadi, bagaimana rencana kita?" tanya Andrew.
Leona mengajak mereka untuk mendekat. "Bukalah satu kamar di apartemen itu, kalau bisa di sebelah kamar mereka. Pertama, kau akan menjemput Yuna, anggap saja kau tak tau apa-apa tentang ini. Setelah Yuna masuk, hubungi kami. Kami akan menghampirimu di kamar itu. Kita bisa mendengarkan dari dinding jika mereka mulai berteriak-teriak, 'kan? Saat itulah, Andrew masuk dan mengacaukan segalanya. Bagaimana?"
Kedua pria itu saling berpandangan dan mengangguk-angguk. "Sejauh ini, itu ide bagus. Apa kau punya rencana cadangan, jika ini gagal?"
"Aku tidak pernah membuat backup plan, kalau gagal, aku terobos saja langsung. Hahaha!" jawab Leona santai.
"Haish!" tukas Andrew. "Baiklah, untuk sementara kita berpegang pada rencana itu sambil ku pikirkan rencana cadangan jika ini gagal,"
"Oke, deal!" ujar Shane dan Leona bersamaan.
Akhirnya, rencana itu tersusun dan saat Yuna masuk ke dalam penthouse Liana, Shane memanggil Leona dan Andrew untuk bergabung bersamanya.
Itulah sebabnya, kemunculan Andrew di depan penthouse Liana, membuat Yuna terkejut sekaligus lega. Karena dia sudah tidak tega melihat wajah Fabio yang tampak seperti tersambar petir di siang hari yang terik.
Fabio segera membukakan pintu untuk Andrew. "Ada kepentingan apa kau datang ke sini?"
"Tentu saja aku ingin menyelamatkanmu. Namaku, Andrew. Aku mantan suami Liana sekaligus ayah Yuna. Liana kami ini, hanya mengincar harta dan kekayaanmu saja, Fabio. Dia memaksa Yuna untuk datang ke sini dan meminta bantuan Yuna untuk menyakinkan kau kalau Liana tidak menutupi apa pun di depanmu." tutur Andrew. Dia terus berjalan menghampiri Liana yang kini tampak ketakutan.
__ADS_1
Andrew menggandeng tangan Yuna dan memintanya untuk berdiri di sisinya. "Good job, Yuna. Boleh kita berbicara?" tanya Andrew pada Fabio.
Fabio mengangguk pasrah. "Silahkan,"
Andrew menceritakan dengan detail bagaimana hubungan dia dengan Liana. Mulai dari pertemuan mereka pertama kali sampai menikah dan mempunyai Yuna. Andrew juga tidak melewatkan cerita tentang Liana yang tidak pernah mengabarinya lagi, bahkan Liana juga meninggalkan Yuna di rumah ibunya hanya dengan selembar surat permohonan maaf.
Fabio memejamkan kedua matanya. "Tidak perlu kau teruskan! Aku sudah dapat membaca segalanya." tukasnya pada Andrew.
Kini, kedua matanya menatap tajam pada Liana yang sedari tadi diam, tak berdaya.
"Jika satu orang menceritakan tentang sesuatu, aku belum begitu mempercayai cerita orang itu. Tapi, dua orang bercerita tentang hal yang sama dengan suara yang terdengar getir dan pedih, aku memutuskan untuk mempercayainya. Aku mempercayai mereka, Liana."
"Sayang, dengarkan aku. Mereka hanya ingin membalas dendam padaku. Mereka iri pada hidupku yang kini sudah bahagia bersamamu, Sayang. Tolong, jangan seperti ini," rintih Liana. Air matanya bercucuran dengan deras.
Fabio menepiskan tangan Liana. "Jangan sentuh aku!"
Pria itu kembali menatap Andrew dan Yuna. "Terima kasih karena kalian telah menyelamatkanku dari jerat wanita ular ini,"
Tak ada rasa kasihan Yuna melihat ibunya merintih dan memohon pada Fabio. Dia malah merasa jijik dan terhina. Andaikan, Liana memiliki alasan tersendiri saat meninggalkannya di rumah nenek, pasti saat ini, Yuna akan menolong Liana.
Beberapa minggu kemudian, Liana datang ke rumah Lauren. Wanita itu bersujud di bawah kaki ibunya.
"Ibu, maafkan aku. Aku tidak akan berbuat seperti itu lagi. Aku benar-benar minta maaf," tangisnya seperti seorang anak kecil yang telah melakukan kesalahan.
Lauren terdiam. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada Liana dari Leona dan Yuna.
"Berdirilah. Minta maaflah pada adik dan anakmu. Aku seorang ibu yang pasti akan selalu memaafkan,"
Liana terisak dan menghapus air matanya. "Iya, Bu,"
"Mereka belum pulang bekerja. Tunggu saja di sini. Aku membuat makanan kesukaanmu dan Yuna. Kau belum makan, 'kan? Makanlah yang banyak dan istirahatlah," ucap Lauren. Dia mengambilkan piring untuk Liana dan menyiapkan makanan untuk putri sulungnya itu.
Sementara itu sejak kejadian di apartemen Liana, hubungan Shane semakin dekat. Mereka memutuskan untuk kembali bersama minggu lalu. Dengan bangganya, Shane mengumumkan berita itu ke seluruh kantor dan mentraktir seluruh pegawainya makan siang.
__ADS_1
"Ayo, menikah!" ajak Shane siang itu saat mereka selesai makan siang di sebuah restoran.
Yuna memandangnya kesal. "Kau pikir menikah itu gampang? Kau lihat saja bagaimana nasib orang tuaku, hancur karena pernikahan!"
Shane menggenggam tangan Yuna dan mengecup punggung tangan gadis itu. "Kita tidak akan seperti itu dan aku yakin, kau tidak seperti ibumu. Kau seribu kali lebih baik darinya,"
"Memang," jawab Yuna singkat.
"Ikut aku!" sahut Shane. Pria itu menarik tangan kekasihnya dan meminta gadis itu untuk berjalan dengan cepat.
"Kenapa kau tiba-tiba terburu-buru, Shane? Ada apa?" tanya Yuna.
Namun, Shane tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu. Shane terus menarik tangan Yuna hingga mereka tiba di parkiran mobil. "Masuklah!"
Dengan patuh, Yuna menuruti permintaan Shane. Begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil, Shane melummat bibir Yuna dan menyesapnya.
Pagutan itu dengan cepat berubah menjadi sebuah pagutan panas. Di sela-sela ciumannya, Shane menarik tangan Yuna dan memasukan sesuatu di jari manis gadis kecil itu.
Yuna melepaskan ciumannya. "A-, apa yang kau berikan padaku?"
Shane mengecup cincin yang kini tersemat di jari manis kekasihnya itu. "Menikahlah denganku, Yuna. Kurasa, sudah saatnya kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri,"
Yuna tersenyum lebar. "Ya, ayo kita menikah," jawab Yuna lagi.
"Yes!" sahut Shane, dia kembali mengambil alih bibir Yuna dan memagutnya dengan panas. "Aku mencintaimu, Yuna,"
"Hmmm, i love you too, Shane," jawab Yuna dan kembali masuk ke dalam ciuman Shane yang memabukkan itu.
***
Hai readers..Ceritanya cukup sampe disini aja ya..😊😊
jangan lupa mampir ke karya baru othor bareng othor Rya Kurniawan ya.."Dendam ku untuk ibu tiriku"
__ADS_1
Sudah update ya..dukung terus karya othor ya..😉😉