
Bab 26
Shane membuntuti mobil Mario yang berisi Yuna serta Claire. Hatinya masih kesal karena Yuna tidak menolak ajakan temannya itu. Apalagi, Yuna hanya pasrah saat ditarik oleh Claire.
Shane memukul kemudi mobilnya dengan kencang. "Aargh! Sialan! Kenapa aku jadi seperti seorang pengecut seperti ini!"
Tak lama, Mario memarkirkan kendaraannya di dalam garasi rumah mewah mereka. Shane menautkan kedua alisnya. "Kenapa di garasi? Apakah akan lama?"
Shane bermonolog sambil terus menerka-nerka, berapa lama Yuna akan berada di dalam. Namun, dia tetap menunggu gadis incarannya itu dengan setia.
Siang berlalu, sampai matahari kembali ke peraduannya, Yuna juga belum keluar dari rumah Mario itu. Sekitar pukul delapan, barulah Yuna keluar dengan diiringi oleh teman perempuan serta pemuda yang pernah Shane lihat kemarin.
Shane segera menegakkan kursi kemudinya. Beruntunglah karena kendaraan yang dia miliki, mempunyai ketebalan kaca film yang cukup tebal sehingga orang dari luar tidak dapat melihat apa yang dilakukan di dalam. Ditambah lagi mobil Shane di parkir sedikit lebih jauh dari rumah Mario.
Tak lama, mobil Mario pun jalan. Shane mengikuti mobil itu dengan tetap menjaga jarak. Ternyata, Mario mengantarkan Yuna pulang ke rumah.
Begitu mobil Mario menghilang, Shane lagi-lagi menculik Yuna dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Hei, Cantik," sapa Shane.
"Kau menungguku di sini?" tanya Yuna terkejut.
Shane tersenyum. Tadinya dia ingin marah, akan tetapi begitu melihat wajah Yuna, emosinya menguap dan lenyap seketika. "Aku mengikuti kalian,"
"Apa! Kau gila? Memangnya kau tidak bekerja? Atau, apakah kau tidak memiliki kesibukan? Kenapa harus mengikuti kami?" tanya Yuna bertubi-tubi.
Raut wajah Shane tampak tersinggung. "Kata siapa aku tidak bekerja dan tidak memiliki kesibukan?"
"Ka-, karena kau, ...! Ya sudah, maafkan aku. Maksudku, kenapa kau membuntuti ku?" Yuna bertanya lagi.
"Karena aku kesal. Kau tidak menolak ajakan temanmu dan bahkan kau tidak memperkenalkanku pada mereka," jawab Shane. Dia memberengut kan bibirnya.
Yuna akhirnya tertawa. "Hahaha, bagaimana cara aku memperkenalkan mu kepada mereka? Kita saja belum resmi berhubungan, 'kan?"
Shane mereclining kursi Yuna dan mendekati wajah merah semu gadis itu. "Kau mau diresmikan? Seperti apa?"
Wajahnya yang kini sudah memerah, semakin memerah karena kata-kata yang dilontarkan oleh Shane tersebut. "A-, aku tidak tau,"
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan teman bermain mu itu? Sepertinya dia menyukaimu juga," tanya Shane, dia memainkan rambut Yuna dan menghirupnya.
"A-, aku tidak tau." ucap Yuna mengulang jawaban.
Shane menjauh. "Baiklah, kita resmikan saja hubungan kita malam ini, bagaimana?"
"Apakah begitu saja? Tidak ada sesuatu yang terjadi?" tanya Yuna. Dia selalu membayangkan, jika menjadi sepasang kekasih, maka akan ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Jantungnya kini memang berdetak cepat dan seperti ada kembang api yang meledak-ledak di belakang kepalanya.
Shane mendekati wajah Yuna dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. "Inikah yang kau inginkan?"
"Bu-, bukan begitu. A-, aku, ... Kupikir, ... Ah, sudahlah! Lupakan!" jawab Yuna terbata-bata.
"Tenang saja, akan banyak ciuman yang akan menantimu dan karena kau menjalin hubungan dengan seorang pria dewasa, maka kita akan berkencan dengan gaya dewasa juga. Kau suka itu?" kata Shane tersenyum nakal. Pria yang sudah cukup umur itu senang sekali menggoda Yuna yang wajahnya masih kemerahan.
"A-, apa maksudmu?" tanya Yuna.
Shane menjawab pertanyaan Yuna dengan sebuah tindakan manis yang mungkin tidak akan pernah Yuna lupakan sepanjang hidupnya. Dia mengambil alih bibir kemerahan gadis itu dan memagutnya. Pagutannya semakin panas. Yuna mendesah kecil dalam ciuman Shane, sesuatu di dalam diri gadis itu ingin sekali berteriak dan meminta Shane untuk tidak berhenti.
Namun di saat Yuna sudah tenggelam dalam gelora kenikmatan yang dipompakan oleh Shane, pria dewasa itu justru menyudahi pagutan panas mereka. "Malam ini sampai sini dulu. Waktu kita masih panjang, Sayang,"
Yuna menutupi wajahnya dengan cardigan yang dia bawa. Dia masih menginginkan Shane bersamanya. Akan tetapi, dia masih memiliki sesuatu untuk dia jaga. Dia tidak ingin berakhir seperti ibunya. Maka, dia berdeham dan menarik kembali reclining kursinya. "Ehem! Benar. Kalau begitu aku masuk dulu,"
***
Bab 27
Hari-hari setelah Yuna memutuskan untuk meresmikan hubungannya dengan Shane, seorang pengusaha muda yang usianya terpaut 20 tahun lebih tua darinya itu, menjadi lebih berwarna dan menggairahkan.
Setiap mereka bertemu, Shane tak lupa memberikan ciuman panasnya di bibir Yuna. Hal itu menjadi candu untuk Yuna. Awalnya gadis itu takut untuk memulai sebuah hubungan, apalagi dengan seorang pria dewasa. Rasa takutnya kian bertambah karena hubungan yang mereka jalani sekarang adalah sebuah hubungan yang dirahasiakan.
"Seharusnya, kau tidak perlu merahasiakan ini dari teman-temanmu, 'kan? Katakan saja kalau aku memang kekasihmu," protes Shane suatu hari.
Bibir Yuna mencebik. "Bukannya aku tidak mau, tapi terkadang bibiku suka menjemput ku dan apa yang akan kukatakan jika mereka mengenalmu sebagai kekasihku? Aku akan diusir dari rumah bibiku nanti,"
"Kalau kau diusir, kau bisa tinggal bersamaku. Aku memiliki rumah dan apartemen. Kau bisa memilih mau tinggal di mana. Jika kau ingin tinggal di rumahku, silahkan, tapi jika kau memilih apartemenku, itu juga silakan, aku tidak melarang mu untuk tinggal di apartemen," jawab Shane santai.
Yuna tersenyum kecut. "Santai sekali hidupmu, ya? Aku iri,"
__ADS_1
"Kenapa harus iri? Kita baru kenal kurang lebih satu bulan dan kau belum mengetahui bagaimana latar belakangku, bagaimana keluargaku, dan bagaimana kehidupanku." jawab Shane. "suatu saat nanti kau benar-benar akan aku ajak masuk ke dalam hidupku. Jika kau sudah terlanjur masuk ke dalamnya, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi."
Yuna sadar kalau apa yang dikatakan oleh Shane itu benar. Mereka sama-sama belum mengetahui bagaimana latar belakang kehidupan mereka masing-masing sebelum mereka bertemu. Mungkin saja hidup Shane jauh lebih pahit daripada hidupnya. Namun tetap saja, hubungan mereka ini harus tetap dirahasiakan. Yuna tidak ingin membuat bibinya sedih ataupun sakit hati karena ulahnya.
Sementara itu, setelah mengurung diri di dalam kamar selama 3 hari 3 malam berturut-turut, akhirnya Leona berani menampakan dirinya. "Pagi, Bu,"
"Leona! Kupikir kau sudah mati di dalam!" tukas Lauren dingin. Wanita itu sangat kesal kepada putrinya. Bagaimana tidak? Selama tiga hari itu, Leona membuat Lauren tidak enak makan, tidak enak tidur, dan segala pikiran negatif yang datang menyerang Laurent saat malam hari tiba.
"Ibu jahat sekali! Tentu saja aku masih hidup dan akan tetap hidup, walaupun aku patah hati," jawan Leona.
"Jangan jadikan patah Hati sebagai alasan untuk membuat hidupmu terpuruk. Jadikan patah hatimu itu sebagai semangat supaya kau bisa hidup lebih baik lagi. Perbaiki kualitas dirimu dan sayangi dirimu sendiri. Itu yang seharusnya para wanita lakukan ketika mereka patah hati! Bukannya malah mengurung diri di kamar, menangis berhari-hari, tidak makan, dan tidak minum. Itu namanya bodoh!" omel Lauren kesal. Lauren memiliki dua orang anak gadis, dan keduanya termasuk tipe wanita yang cengeng serta mudah menangis.
Semenjak kedua anak Lauren menginjak remaja, wanita itu sering menasehati, supaya kedua anaknya tidak terpuruk saat mereka patah hati. Namun tetap saja mereka akan selalu menangis dan mengurung di kamar jika mereka patah hati atau ada kejadian menyedihkan lainnya.
"Kau sudah dewasa, bertumbuh lah! Mana keponakanmu? Kenapa dia belum kembali? Akhir-akhir ini dia selalu pulang malam!" tanya Laurent. Nada suaranya terdengar kesal. Dia tidak suka jika seorang gadis atau wanita muda, pulang terlalu malam.
"Dia 'kan sedang skripsi, Bu. Wajar saja jika pulang malam. Lagipula, Yuna sudah dewasa. Santai lah," kata Leona.
Tak lama, terdengar sebuah mesin mobil memasuki pekarangan rumah Leona. Sontak saja, kedua wanita yang berada dalam rumah itu segera mengintip dari balik jendela.
"Siapa itu? Siapa yang mengantar Yuna ku?" tanya Leona sambil memincing kan kedua matanya. Dia mengenali mobil itu. Mobil Shane! Tapi, untuk apa Shane datang ke sini? Mereka sudah putus, hubungan mereka sudah berakhir.
Leona segera bergegas keluar. "Yuna!" pekik Leona. Yuna dan Shane saling berpandangan.
"Gawat! Bagaimana ini, Shane?" tanya Yuna panik.
"Biar aku yang menjelaskan," sahut Shane. Dia berdeham, berusaha menghadapi situasi ini dengan tenang.
Di saat yang menegangkan itu, sebuah mobil kembali masuk ke dalam pekarangan rumah Leona. Dari dalam mobil itu keluarlah Mario sambil membawa segulung kabel.
"Yuna," sapa nya. Mata Mario memandang Shane dan yang lainnya. "Ada apa?"
Yuna menoleh. Tiba-tiba saja muncul sebuah ide gila di benaknya. "Mario, hei!" gadis itu berlari menghampiri Mario dan menggandeng lengannya dengan mesra. "Ada apa datang malam-malam seperti ini? Bukankah tadi kita sudah bertemu?" tanya Yuna berbohong. Dia mengedipkan sebelah matanya, memberi isyarat pada Mario untuk membantunya.
Mario menangkap.isyarat itu. "Ah, tadi kabel laptopmu ketinggalan di rumahku,"
Yuna berjalan menghampiri Leona. "Bibi, ini Mario. Dia kekasihku dan ini Paman Shane, dia ingin bertemu denganmu," ucap Yuna, melengkapi kebohongannya.
__ADS_1
***