Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 59


__ADS_3

"Yuna itu siapa mu? Ada hubungan apa kau dengan gadis itu?" desak Shane. Pria itu memperhatikan Liana yang mulai resah dan sering sekali minum.


Shane menjauhkan gelas itu dari Liana. "Jawab pertanyaan ku,"


Nasi sudah menjadi bubur. Liana sudah tidak dapat mengelak lagi. "Yuna adalah putriku,"


"Shitt!" ucap Shane mencaci. Dia tidak dapat menahan mulutnya untuk mengeluarkan umpatan.


"Aku meninggalkan Yuna di rumah ibuku saat dia masih kecil sekali. Seperti tebakan mu, aku tidak bercerai, tetapi mantan kekasihku tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku saat itu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyerahkan anak itu pada ibuku. Tadinya, aku berniat membunuh anak sial itu!" jawab Liana santai. Dia mengambil gelas minumnya yang tadi diambil oleh Shane dan meminumnya.


Shane tidak dapat berkata-kata lagi. Dalam kasus ini, tiba-tiba saja Willia menjadi sosok ibu berhati malaikat di hidupnya. "Sekarang, Yuna menjadi gadis pembawa keberuntungan. Kau tahu itu? Kau telah membuangnya, dan lihat dia sekarang? Semua orang menyukainya,"


"Bagus kalau begitu. Tujuanku ke sini memang untuk meminta Yuna kembali padaku. Aku ingin membawa dia pergi," jawab Liana lagi.


Shane menggelengkan kepalanya. "Tidak akan kubiarkan kau membawa dia pergi, Liana. Kurasa aku tidak bergerak sendiri. Lauren dan Leona akan berdiri bersamaku,"


"Silahkan saja," sahut Liana tanpa takut.


*


*


Sementara itu, Leona sedang berperang dengan hatinya. Sudah saatnya dia memberitahukan pada Yuna tentang segalanya. Wanita itu menghembuskan napas panjang dan bersiap memulai ceritanya. "Jadi, Liana itu adalah ibu kandungmu, Yuna. Dia yang meninggalkanmu di sini dan kemudian dia pergi entah kemana. Diana juga adalah kakakku dan anak dari Lauren kita,"


Yuna mematung sesaat. Dia menutupi mulut dengan kedua tangannya dan tanpa terasa cairan bening bergulir membasahi kedua pipi gadis itu. "Dia ibuku? Setelah berpuluh tahun untuk apa dia datang lagi ke sini?"


Leona menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu. Sejak dia ia meninggalkanmu di sini, sejak saat itu pula aku dan nenekmu, tidak pernah melihat wajahnya lagi. Mendengar kabarnya saja pun tidak pernah,"


"Shane memberitahukan padaku tentang Liana. Apakah berarti kalian ini mempunyai hubungan dengan Shane juga?" tanya Yuna.


Bibi Yuna itu memutar kedua bola matanya tanda bahwa dia sedang berpikir dan menggali kembali memorinya puluhan tahun yang lalu. "Ibu mu memiliki banyak sekali kekasih dan, yah, mereka selalu berganti-ganti datang dan pergi dalam waktu cukup singkat. Bahkan aku tak tahu siapa ayahmu,"


Yuna bersedekap. "Be-, benarkah?"


Leona mengangguk perlahan. "Sama sepertimu, dia cantik dan pintar. Hanya saja, dia mengiyakan semua ajakan pria. Ibuku mempunyai aturan ketat untuk kami, kau merasakannya juga, 'kan? Liana tidak suka dikekang seperti itu, dia memberontak dan pergi dari rumah,"

__ADS_1


"Kami tidak mendengar kabar apa pun lagi tentangnya, sampai dia menitipkan mu di sini," sambung Leona. Dia memberi jeda pada ceritanya. Wanita itu tidak ingin, Yuna syok atau membenci Liana karena ceritanya ini.


Yuna memang benar-benar terdiam, dia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa saat mengetahui segala kebenaran yang telah diceritakan oleh Leona.


"Haruskah aku bertemu dengannya, Bi?" tanya Yuna. "Rasanya aku belum siap untuk bertemu dengan ibuku, tapi di lain sisi, aku merasa aku harus bertemu dengannya. Bagaimana menurutmu, Bi?" Yuna menyambung dengan pertanyaan.


"Pelan-pelan saja. Jika kau belum siap, jangan terlalu dipaksakan. Tapi, jika saatnya kau sudah siap dan kau merasa harus bertemu dengannya, aku tidak akan menghalangi mu," ucap Leona.


Setelah Leona pergi bekerja, Yuna menghabiskan waktu dengan merenung. Bagaimana pertemuannya nanti dengan Liana? Mengapa dia tiba-tiba muncul di saat Yuna tidak membutuhkan kehadirannya?


Sore hari itu, Mario datang menjenguk Yuna. "Nyonya, aku ingin bertemu dengan Yuna. Ah, ini roti untuk anda dan Yuna,"


"Masuklah," ucap Lauren, mempersilahkan pria muda itu masuk.


Dengan sopan, Mario masuk dan menunggu Yuna keluar dari kamarnya. Namun, Laurent keluar sendiri dari kamar Yuna. "Masuk saja ke kamarnya, sepertinya dia tidak sanggup berjalan. Entah ada apa dengannya. Kalau bisa, bujuk dia untuk makan. Dari tadi dia belum mau makan apa pun,"


"Baik, Nyonya. Permisi, saya masuk dulu," sahut Mario sopan.


Pria itu mengetuk kamar Yuna. "Yuna, ini aku. Aku masuk, yah?"


"Bagaimana kabarmu?" tanya Mario lembut. Dia membuka roti lapisnya dan dengan sabar, dia memotong-motong roti itu, dan dia masukan ke dalam mulut Yuna. "Kata nenekmu, kau belum makan apa pun dari pagi,"


Dengan patuh, Yuna membuka mulutnya, menerima suapan roti lapis dari Mario. "Aku sedang malas. Rasanya, aku ingin menjadi batu yang tidak memiliki perasaan saat ini,"


Mario tersenyum mendengar keluhan kekasihnya. "Kenapa kau tiba-tiba ingin menjadi batu?"


"Bagaimana perasaanmu jika seseorang yang kamu benci, tiba-tiba muncul di hadapanmu? Malah kau berpikir dia sudah mati," tanya Yuna.


"Hmmm, mungkin aku akan marah dan aku akan menemui orang itu untuk bertanya, kenapa dia harus muncul saat aku sudah bahagia tanpanya," jawab Mario.


Yuna memandang kekasihnya lekat-lekat. "Begitu kah? Kurasa, aku akan melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan. Hanya saja, aku belum siap,"


"Kalau kau menunggu untuk siap, sampai kapanpun, kau tidak akan pernah siap. Temui saja supaya membuat hatimu lega dan kau bisa cepat normal kembali," kata Mario memberi saran.


Yuna menarik napas dan menghembuskannya panjang. "Cukup masuk akal. Baiklah, sudah kuputuskan untuk menemuinya,"

__ADS_1


"Apa kau perlu seorang teman?" tanya Mario, menawarkan diri.


Yuna menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Ini masa laluku dan aku harus menyelesaikannya sendiri,"


Mario tahu kalau Yuna sedang tidak membahas tentang Shane dan dia berusaha untuk tidak ikut campur terlalu jauh tentang masalah yang terjadi pada kekasihnya itu.


Malam itu, Yuna mengirimkan pesan pada Shane untuk membuat janji temu muka dengan Liana.


("Kau yakin? Baiklah, lebih cepat lebih baik,") balas Shane.


Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan bibi dan neneknya, Yuna pergi menemui Liana. Diam-diam juga, Shane menjemput Yuna di tempat yang tak jauh dari rumah gadis itu.


"Hei, terima kasih sudah menjemput ku," ucap Yuna.


Shane memerhatikan gadis itu. "Kau yakin?"


Yuna mengangguk mantap. "Yakin,"


"Aku akan menunggu sampai kau selesai, Yuna. Jika kau merasa tidak nyaman, segeralah pergi dan temui aku," kata Shane.


"Aku tahu, untuk itu aku mengajakmu. Terima kasih," jawab Yuna lagi.


Shane membawa Yuna ke sebuah restoran yang berada di hotel berbintang lima. Tempat Liana menginap sementara. Pria 40-an tahun itu mengantar Yuna sampai restoran dan menemaninya sampai Liana datang.


"Yuna, ingat kata-kataku tadi. Aku berada tak jauh darimu," bisik Shane.


Yuna mengangguk, jantungnya mulai bertalu-talu kencang. Apalagi saat dia melihat seorang wanita cantik dengan mata biru seperti miliknya, datang menghampiri dia.


"Yuna," sapa wanita itu.


Tanpa senyum sapa, Yuna mempersilahkan wanita itu duduk. "Silahkan duduk, Nyonya,"


"Yuna, mungkin kau melupakanku. Tapi aku ada-,"


"Aku tahu. Hanya saja aku ingin, kita bicara selayaknya wanita dewasa. Aku tidak punya banyak waktu, katakan apa mau mu!" sahut Yuna tegas. Dibalik sifat tegasnya, Yuna menyembunyikan rasa takut dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2