
Di saat yang sama, Shane melihat sepintas ke arah mobil Mario dan dia mengetahui Yuna ada di dalam mobil itu. Maka, dia pura-pura masuk ke dalam mobil lagi setelah mengantar Leona. Kemudian memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Yuna.
Yuna pun menunggu sang bibi masuk ke dalam rumah, barulah dia turun mobil. "Kak, terima kasih sudah mengantarku,"
Mario tersenyum. "Tidak masalah. Aku senang bisa berbicara denganmu. Kau pintar dan asik diajak bicara tentang apa pun. Kalau suatu hari nanti kau ada waktu luang, maukah kau jalan bersamaku lagi?"
Semburat merah menjalar di wajah Yuna. Ini bukan topik yang dia sukai. Akan tetapi, untuk menghormati Claire, maka dia mengangguk. "Baiklah. Kita ajak Claire juga saat hari itu tiba,"
Yuna pun membuka pintu mobil dan turun dari mobil Mario setelah berpamitan pada pria tampan itu. Yuna menunggu mobil Mario hilang dalam kegelapan. Begitu dia hendak masuk ke dalam rumah, tangan Yuna ditarik oleh seseorang.
"Hei! Hmppph!" Yuna berusaha memberontak tetapi, tenaga pria itu jauh lebih besar dari Yuna.
"Ssttt! Ini aku! Ikut aku sebentar," kata orang itu. Dia menggandeng tangan kecil gadis itu dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Shane? Mau apa kau!" tanya Yuna galak, langkahnya menuruti pria dewasa itu.
Shane melajukan kendaraannya menjauh dari rumah Yuna dan membawa gadis itu ke suatu tempat. Semua restoran atau bahkan kafe sudah tutup, karena malam telah larut.
Shane terus mengemudi hingga mereka sampai di suatu tempat seperti taman yang dihiasi lampu-lampu temaram. Banyak pemuda pemudi yang masih berkumpul di taman tersebut. Ada beberapa penjual makanan dan minuman dalam bentuk food truck di sekitar taman itu. "Kita disini saja? Kau sudah makan? Karena kau tadi pergi begitu saja tanpa menyentuh makananmu,"
__ADS_1
Yuna mengangguk. "Aku sudah makan di rumah temanku,"
"Pria itu temanmu?" selidik Shane. Ada seekor binatang buas yang meraung-raung marah di dalam dirinya. Aneh juga, kenapa dia merasa tidak senang saat mengetahui kalau Yuna memiliki teman pria.
Lagi-lagi Yuna mengangguk. "Ya," Gadis itu melihat ke sekeliling taman yang luas itu. "Kenapa kau menculik ku malam-malam?"
Shane mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja aku bergerak sendiri dan menarik tanganmu untuk ikut denganku. Aku ingin bersamamu,"
"Kau sudah bersama bibiku, kenapa masih belum puas? Ajak saja bibi berkeliling, dia pasti senang," kata Yuna ketus.
Shane dapat menangkap kecemburuan yang dirasakan oleh Yuna dan seketika itu juga binatang bias yang berada di dalam dirinya mendengkur senang. Dia tersenyum kecil.
"Tidak! Untuk apa? Kau memang seusia bibiku dan kalian tampak serasi sekali bersama-sama. Bibiku cantik dan pintar dan dia pantas mendapatkan yang terbaik karena dia mengasuhku dari kecil. Sedangkan kau, menurutku kau baik jadi hanya kaulah yang pantas mendampingi bibiku," jawab Yuna tanpa memandang Shane.
Tiba-tiba saja, Shane mempertipis jarak di antara mereka dan menyapukan bibirnya pada Yuna. Awalnya, kecupan itu hanya mendarat, tetapi Yuna justru menggerakkan bibirnya dengan gerakan yang sempurna.
Bak gayung bersambut, kecupan itu berubah dengan cepat menjadi sebuah pangutan singkat tetapi cukup manis.
"Hmmm, kau memakai lip balm?" tanya Shane.
__ADS_1
"Ya, rasa strawberry," jawab Yuna singkat, dia menyembunyikan wajahnya yang kemerahan dengan menundukkan kepalanya.
Shane tersenyum. "Itu sebabnya kenapa bibirmu selalu terasa manis? Hihihi, aku suka,"
Ketika Shane memajukan wajahnya kembali, Yuna mendorongnya.
"Kau sekarang kekasih bibiku. Aku tidak mau mengkhianati bibiku, Shane. Anggap saja tadi itu kesalahan,"
"Kalau ciuman tadi itu bukan kesalahan, bagaimana? Aku bertemu bibi mu di kencan buta dan karena aku ingin melupakanmu. Tapi ternyata, kita dipertemukan kembali dan rasa itu hadir lagi, Yuna. Aku harus bagaimana kalau begitu?" tanya Shane.
"Bagaimana apanya? Apa pun alasanmu, tetap saja tidak boleh! Kau tidak boleh menyakiti hati bibiku!" tukas Yuna yang kini merasa bersalah karena telah berciuman dengan kekasih Leona.
Shane kembali mendaratkan ciumannya.
"Aku tidak bisa jauh darimu, Yuna dan aku janji aku akan menyimpan rapat-rapat hubungan kita ini. Bagaimana? Kau mau menjadi kekasihku?"
Jantung Yuna kini terdengar seperti bersorak sorai, ramai sekali. Seolah-olah mereka mengadakan pesta besar yang meriah dengan alat musik yang menghentak-hentak jantungnya.
***
__ADS_1