
"Kalau kau tetap ingin bersikeras bersama gadis itu,jangan salahkan mama jika mama akan mempersulit hidup gadis itu." ucap Willia dengan tegas sembari bangkit.
"Ayo Kate,kita pulang." kata Willia berjalan melalui Shane dengan melirik tajam.
Willia dan Kate pun akhirnya meninggalkan kediaman Shane.Sedangkan Shane langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.Ia pun menghela nafas sambil memijat dahinya.
Perasaannya pun kini kalut,selain ia tidak bisa bertemu dengan Yuna.Ia pun harus berdebat sengit oleh ibunya.
...****************...
Yuna pun kembali pulang ke rumah,untuk melihat kondisi Lauren sang nenek yang katanya sedang sakit.
Saat melihat kondisi Lauren,Yuna pun langsung memeluk tubuh rentah itu dengan erat.Hatinya seketika remuk dan sedih saat melihat kondisi sang nenek terbaring seolah tak berdaya.Wanita tua yang biasanya selalu sehat dan kuat,kini seperti tidak memiliki tenaga untuk bangun.
"Nenek." lirih Yuna yang langsung meneteskan air matanya karena tak kuasa membendung kesedihannya.
__ADS_1
Lauren yang tadinya tengah tertidur,seketika terbangun dan membuka matanya.
"Yuna..Cucu ku." sahut Lauren dengan nada pelan dan lemah.
"Nenek..Kenapa dengan mu.Hua..Hiks." isak Yuna langsung menangis tersedu-sedu.Layaknya ia seperti kembali menjadi anak kecil.Karena dirinya memang tak bisa melihat kondisi sang nenek.
Tak berapa lama Leona pun pulang.Ia seketika terharu saat melihat sebuah pemandangan yang menyentuh hatinya.Karena akhirnya ia berhasil membujuk Yuna untuk pulang.
Leon pun membiarkan mereka saling meluapkan kerinduan,antara sang nenek dan cucu.Dengan meninggalkan mereka berdua.
"Ibu,sudah waktunya makan.Dan kali ini kau tidak bisa menolak.Karena cucu kesayangan mu sudah pulang."ujar Leona sembari meletakkan nampan berisikan semangkuk bubur dan teh hangat.
Lauren pun tersenyum tipis.
"Biar aku saja yang suapkan nenek bi." sahut Yuna yang langsung ingin menyuapkan bubur nya pada sang nenek.
__ADS_1
"Yah..Nenek mu pasti tidak akan menolak.Karena kau tahu,selama tidak ada dirimu nenek tidak mau makan.Makanya dia jadi seperti ini." ujar Leona seolah seperti orang yang sedang mengadu pada Yuna.
Yuna pun langsung memasang wajah yang cemas pada sang nenek.
"Nenek kenapa harus seperti itu?Nenek harus jaga kesehatan.Aku tidak mau nenek sakit." ucap Yuna menasehati sang nenek.
"Ini semua karena mu.! Kalau kau mendengarkan nenek,tidak pergi dari rumah ini.Aku tidak akan sakit seperti ini." jawab Lauren yang entah kenapa tiba-tiba merasa memiliki tenaga untuk mengomel pada Yuna.
"Bukankah nenek sendiri yang memberi ku pilihan?Ku pikir dengan pilihan ku,kau akan baik-baik saja dan tidak akan mengkhawatirkan ku nek." jawab Yuna dengan nada seperti anak kecil.
"Dasar bodoh,nenek mana yang tega membiarkan cucu nya pergi dari rumahnya.Aku bersusah payah membesarkan dan mendidik mu.Tapi kau mudah sekali mengambil keputusan demi pria itu." sindir Lauren.
Yuna pun langsung tertunduk dengan sedikit rasa bersalah.
"Nenek benar Yuna.Nenek sebenarnya hanya menggertak mu,agar kau bisa berpikir dengan keputusan yang kau ambil.Tapi kami benar-benar tidak menyangka jika kau tetap memilih pria itu." sahut Leona dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Bukan kami ingin melarang mu untuk berpacaran.Tapi kau harus lihat siapa orang ingin kau jalin.Terlebih nenek menentang keras hubungan kalian,karena sangat mengkhawatirkan mu." ucap Leona panjang lebar.