
Malam itu, Yuna mengepak semua pakaian dan barang-barangnya untuk dia masukan ke dalam koper. Bukannya tidak tau rasa berterima kasih, tetapi untuk hal ini, Yuna merasa dia berhak menentukan pilihannya sendiri.
"Nek, Yuna pergi dulu," ucap Yuna.
Lauren memandang cucunya. "Kau tau apa yang baru saja kau perbuat dan dampaknya untuk kehidupanmu?"
"Aku tau," jawab Yuna. Gadis itu tau persis apa yang ditakutkan oleh neneknya. Lauren takut Yuna akan mengulangi kesalahan ibunya dan meninggalkan mimpi serta cita-citanya. "Aku tidak akan melewati batas ku, Nek. Aku hanya membutuhkan kepercayaan dari Nenek. Kan aku juga sudah bukan anak kecil lagi, aku sudah beranjak dewasa, dan aku berhak menentukan jalan hidupku,"
Lauren tertunduk. "Aku mengerti, Yuna. Hanya saja aku tidak ingin melihatmu kecewa dan hancur,"
Yuna memeluk erat Lauren. "Maafkan aku, Nek. Ini pilihanku,"
Butiran cairan menggantung di sudut mata Lauren melihat kepergian cucunya. Dia tidak pernah berpikir kalau Yuna akan memilih untuk meninggalkan rumah ini. "Yuna!"
Yuna menoleh dan kembali memeluk Lauren. "Aku akan merindukan Nenek,"
"Kalau kau sakit, sedih, atau rindu, kembalilah ke sini, Sayang. Nenek tidak pernah berniat untuk mengusir mu. Kau benar-benar bodoh. Maukah kau mengurungkan niatmu untuk pergi?" tanya Lauren, wanita tua itu berharap Yuna tidak pergi.
Namun melihat mobil Shane masih di depan rumah mereka, Lauren dapat berpikir kecil kemungkinan Yuna akan tinggal. "Jaga dirimu, Nak,"
Shane turun dari mobil dan berpamitan kepada Lauren. "Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak ada maksud untuk membawa Yuna pergi,"
"Pergi! Pergi! Pergilah! Aku tidak mau kau berlama-lama di rumahku! Pergilah!" ucap Lauren mengusir Shane layaknya seekor burung.
Akhirnya, Shane mengajak Yuna menginap di apartemen miliknya. Apartemen Shane adalah apartemen penthouse dengan dua kamar besar dan ruangan lengkap seperti sebuah rumah.
"Silahkan," ucap Shane mempersilahkan Yuna untuk masuk.
Yuna pun masuk ke dalam dan gadis itu tidak dapat mengatupkan mulutnya saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di penthouse milik Shane. "Besar sekali,"
Shane membantu Yuna membawa kopernya dan meletakkan koper tersebut di dalam salah satu kamar. "Ini kamarmu. Maaf karena kamar ini nyaris tidak pernah terpakai. Tak ada yang tau aku mempunyai apartemen di daerah ini."
"Lalu, kau akan tidur di mana nanti?" tanya Yuna, dia takut kalau karena kehadirannya membuat Shae terganggu.
__ADS_1
Seolah membaca pikiran Yuna, pria single yang sudah mapan itu tersenyum. "Tidak perlu khawatir, apartemen ini memiliki dua kamar. Satu kamar lagi berada di sana. Apa kau mau bertukar kamar denganku?"
Yuna menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Aku di sini saja, terima kasih. Lalu, di mana aku bisa mandi?"
Lagi-lagi Shane tersenyum. "Kamar mandi ada di sebelah sana. Aku hanya punya satu kamar mandi, kita akan bergantian. Atau kau mau mandi bersamaku?"
Rasa panas menjalar di wajah Yuna. "Mesum!"
Shane tertawa dan memeluk gadis kecilnya itu. "Hahaha! Terima kasih,"
"Untuk apa?" tanya Yuna.
"Untuk percaya kepadaku," jawab Shane sambil mengecup pucuk kepala Yuna dengan lembut.
Yuna menumpahkan rasa sayangnya dengan mempererat pelukannya pada Shane. Pria itu mengangkat dagu Yuna dan memagut lembut benda kenyal kemerahan yang selalu menggodanya itu.
Pagutan lembut itu pun segera berubah menjadi sebuah ciuman yang dalam, panas, dan menuntut. Apalagi saat ini, Yuna mengizinkan tangan Shane untuk singgah di titik sensitif tubuhnya.
Yuna menggigit bibir bawah Shane saat tangan Shane menemukan dua buah bongkahan padat dan menyentuhnya lembut. Kulit gadis itu meremang saat pertama kali kulit mereka bersentuhan.
Tak berhenti sampai disitu, Shane menjelajah bawah dagu Yuna dan melakukan hal yang sama di sana, membuat gadis kecil itu menggelinjang hebat.
Perlahan, Shane mendorong tubuh Yuna untuk berbaring di ranjang. Kenikmatan yang diberikan oleh Shane membuat Yuna lupa segalanya. Dirinya seakan berada di langit ketujuh. Yuna dapat merasakan sesuatu yang menusuk-nusuknya dari balik celana Shane. Entah mengapa, hal itu justru membuatnya semakin menginginkan Shane.
Bibir Shane kembali fokus ke bibir Yuna dan melummatnya, dia tidak memberikan Yuna ruang untuk sekedar mengumpulkan oksigen. Kedua tangan Shane tak henti bermain di kedua pucuk bukit Yuna.
Bosan dengan bibir, Shane meninggalkannya. Pria itu melepas cardigan yang dipakai oleh Yuna dan menyingkap kausnya.
Dia mengarahkan ciumannya ke bawah, ke bawah, dan semakin ke bawah, sampai, ....
"Hentikan!" ucap Yuna tiba-tiba. Dia menurunkan kembali kausnya. "Kumohon, hentikan!"
"Baiklah. Maaf. Aku tidak bisa berhenti, kau membuatku kecanduan, Yuna. Aku benar-benar minta maaf," Shane memeluk tubuh kecil itu dan mengecup kening Yuna dengan lembut. "Istirahatlah,"
__ADS_1
Jantung Yuna belum berhenti tenang walaupun Shane sudah keluar dari kamarnya. Yuna bergegas beranjak dari ranjangnya dan melihat tanda cinta yang diberikan oleh Shane kepadanya. Seketika itu juga, ada sesuatu yang berdesir menyenangkan dalam dirinya dan sesuatu yang berada di antara kedua kakinya seakan memprotes Yuna kenapa tadi dia meminta Shane berhenti.
"Sadarlah, Yuna! Kau masih punya banyak hutang! Sadarlah!" Yuna menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Keesokan paginya, Leona sudah melakukan video call dengan Yuna.
"Anak Bodoh, kau di mana? Kenapa kau pergi dari rumah? Apa kau sudah merasa hebat, huh!" tukas Leona, wajahnya murka dan suaranya terdengar sangat gusar sekaligus khawatir.
Yuna memincingkan kedua matanya. "Maafkan aku, Bi. Kemarin Nenek, ...."
"Ibuku sudah menceritakan segalanya kepadaku! Mana pria sialan yang menghasut mu? Aku ingin bicara dengannya!" tukas Leona.
Tanpa diminta, Shane menampakan dirinya di ponsel. "Pagi, Leona,"
"Kau benar-benar Pembunuh Hati Wanita, Shane! Sampai kau berbuat macam-macam dengan keponakanku, aku tak akan segan-segan menghukum mu! Kau lihat ini?" Leona mengacungkan pisau daging ke arah Shane. "Akan ku potong milikmu, ku iris tipis-tipis, dan akan ku bagikan kepada anjing yang kelaparan di jalan! Kau paham itu, Shane?"
Mendengar ancaman Leona, Shane sontak saja memegangi benda pusaka nya. "Dia masih terjaga dengan baik, keponakanmu bukan gadis muda yang mudah tergoda. Kau tidak perlu khawatir. Didikan mu dan ibumu sangat baik, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat,"
Leona terdiam. Begitu pula dengan Yuna, dia merasa semakin mencintai pria yang sedang memainkan rambut panjangnya itu.
Sementara itu, Kate dan Nyonya Willia sedang duduk di sebuah kafe. Gaya mereka anggun dan sangat berkelas. "Kau melihat kakakmu di mana?"
"Kemarin, di sebuah restoran. Dan demi Tuhan, gadis yang bersamanya seperti seorang pengemis dengan pakaian kucel dan tidak pada tempatnya," ucap Kate sambil menunjukkan foto Shane dengan Yuna kemarin.
Willia mengambil ponsel Kate dan melihat dengan jelas foto yang dimaksud oleh putrinya itu. "Gadis ini? Mungkin saja dia pengemis yang ditolong oleh kakakmu."
"Mereka tampak mesra, tidak mungkin gadis itu orang asing," sahut Kate semakin memanas-manasi ibunya.
"Jelas aku tidak akan setuju. Kalau memang mereka berpacaran, kita harus menarik Shane dari sana secepat mungkin," kata Willia tegas.
Tak lama, dia mengirimkan pesan kepada seseorang.
"Aku mengirimkan mu sejumlah uang, bantu aku untuk menyelidiki seseorang dan apa hubungannya orang itu dengan Shane, putraku. Akan ku kirimkan fotonya,"
__ADS_1
Selang tiga menit, sebuah pesan balasan masuk ke dalam ponsel Willia. ("Oke!")
***