
Setelah lulus dari kuliah, tanpa perlu repot mengirimkan surat lamaran atau sebagainya, Yuna dan Mario yang mendapatkan penghargaan dari kampus mereka karena nilainya yang sangat memuaskan itu mendapatkan banyak panggilan dari berbagai macam perusahaan, termasuk West Company.
Yuna dan Mario pun melakukan wawancara bersama-sama di hari yang sama.
"Jadi, kau dan pria tadi, itu kekasihmu?" tanya si.pewawancara tersebut.
Yuna mengangguk. "Ya, kami menjalin hubungan saat kuliah dan semakin dekat karena dia banyak membantuku menyusun skripsi,"
"Kalian berdua lulusan terbaik, terutama kau. Apa yang membuat kau tertarik bekerja di West Company?" tanya pria itu lagi.
"Aku tertarik dengan sistem kerja di sini dan lagipula, ini juga salah satu perusahaan terbesar dan terbaik di negeri ini, 'kan?" jawab Yuna tegas. "Paling tidak, aku sebagai lulusan terbaik dari kampusku ingin memberikan kemampuan terbaikku di perusahaan ini,"
Si pewawancara itu terkesan dengan jawaban Yuna yang penuh percaya diri. "Wow, luar biasa. Aku suka jawabanmu. Baik kalau begitu, besok kau bisa mulai bekerja dan aku berharap, kau tidak terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan berkencan karena aku juga membutuhkan kekasihmu untuk bekerja di sini,"
Yuna tersenyum, dia mengulurkan tangannya kepada pria yang mewawancarainya. "Terima kasih dan percayalah, aku tipe pekerja profesional yang dapat menempatkan diriku,"
Penandatanganan perjanjian kerja pun telah disepakati, Yuna keluar dari ruangan itu dengan senyum lebar mengembang di wajahnya. "Kita berhasil!"
Mario memeluk tubuh gadis kecil itu. "Apa kau mengatakan kalau kita berkencan?"
"Tentu saja, hahaha!" jawab Yuna sambil tersenyum nakal.
Mario membalas senyuman Yuna dan menepuk pucuk kepalanya. "Apakah kau mempunyai alasan untuk mengatakan seperti ini?"
"Aku tidak ingin fokus ku terganggu. Aku ingin membalas hutang-hutang ibuku pada bibi dan nenek. Hanya ini satu-satunya cara untuk membalas mereka," jawab Yuna.
Jawaban yang diberikannya pada Mario bukanlah jawaban yang sebenarnya. Dia hanya ingin membuktikan pada Shane, tanpa bantuan pria kaya itu, dia tetap dapat masuk ke perusahaan ini. Apalagi kalau benar Shane pemilik perusahaan ini.
Bukan membalas dendam juga dengan mengatakan kalau dia dan Mario berkencan. Yuna ingin menunjukkan pada Shane, kalau dia tetap bisa bersinar dengan atau tanpa pria dewasa itu.
Yuna sudah cukup sakit hati karena menurutnya, Shane mempermainkannya. Sejak awal, Yuna sudah pesimis kalau hubungan mereka bisa lancar dan langgeng. Namun, saat mengingat hubungannya dengan Shane yang panas dan penuh gairah, Yuna berubah menjadi melankolis. Walaupun tidak menyesali apa yang telah dia lakukan, tetapi dia tetap mengutuk kebodohan yang telah dia lakukan bersama Shane.
Hari pertama bekerja, Yuna meminta saran dari Leona. "Pakaian apa yang harus kenakan?"
__ADS_1
"Setahuku, West Company bukan perusahaan yang mengharuskan pegawainya memakai pakaian formal. Pakai saja sesuatu yang membuatmu nyaman dan mungkin pakailah pakaian semi formal," jawab Leona. Wanita itu berjalan ke kamar Yuna dan mengacak-acak lemari pakaiannya. "Ternyata pakaianmu sedikit sekali. Kalau kau gajian nanti, belanjakan pakaian yang banyak!"
Yuna mengangguk. "Iya, Bi. Pergilah bersamaku,"
"Untuk apa? Kau sudah memiliki kekasih, pergilah bersama kekasihmu itu," jawab Leona. "Atau, aku akan meminjamkan mu uang, setelah kalian pulang kantor nanti, bersenang-senanglah. Anggap saja ini hadiah dariku untuk kelulusan mu," wanita itu bergegas keluar kamar dan tak lama, Leona sudah masuk lagi dan memberikan Yuna sebuah kartu berwarna emas.
Yuna menolak, tetapi Leona memaksanya. "Ambil saja! Pakailah!"
Mau tidak mau, Yuna menerima dengan terpaksa. Beberapa saat kemudian, Mario sudah menjemputnya. Pria itu membungkuk sopan pada Lauren dan Leona.
"Selamat untuk hari pertamamu, ya dan semoga kau sukses bekerja di tempat barumu ini," ucap Lauren. Dia membentangkan tangannya untuk memeluk Mario.
Leona yang sudah keluar juga ikut merangkul Mario dan mengucapkan selamat kepada pria itu. "Tolong jaga keponakanku dan nanti sepulang kerja, tolong temani dia mencari pakaian."
Mario tersenyum. "Baik, Bi. Kebetulan aku juga ingin membeli beberapa pakaian,"
"Bagus itu. Ya sudah, pakai saja kartuku. Aku akan mentraktir kalian, anggap saja hadiahku untuk kalian," ucap Leona tersenyum bangga. "Yuna, kalau kurang, segera telepon aku. Oke? Aku jalan duluan,"
Sampai siang hari itu, Shane belum menampakkan batang hidungnya. Sedikit banyak, hal itu membuat Yuna bernapas lega. Dia sendiri belum tau, apa yang harus dia lakukan jika tiba-tiba Shane muncul di hadapannya. Dia belum memikirkan itu.
Apalagi kalau mendengar bahwa Yuna dan Mario telah menjadi sepasang kekasih, walaupun hanya pura-pura. Sepanjang malam kemarin, Yuna memikirkan hal itu dan membayangkan bagaimana kalau dia bertemu dengan Shane?
Adanya Mario, membuat Yuna merasa aman. Berada di lingkungan baru dan asing dapat membuat siapapun khawatir, tetapi tidak dengan Yuna. Kehadiran Mario di sana, membantu gadis itu untuk beradaptasi dengan cepat.
Satu bulan sudah mereka bekerja dan hari itu, Yuna dan Mario diikutsertakan untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, Mario menjemput Yuna di pagi hari itu.
"Kau sudah siapkan materinya?" tanya Mario.
Yuna mengangguk. "Sudah. Jantungku tidak mau diam sejak semalam. Bagaimana kalau aku salah menyampaikan nanti?"
Mario tersenyum. "Kau pasti bisa, Yuna. Aku yakin itu. Kemarin kau mempresentasikan pendapatmu saja, semua senior di divisi kita tertarik dengan idemu, apalagi sekarang, 'kan?"
Wajah Yuna memerah. "Ada idemu juga di dalam situ, Kak. Hari ini kita pasti berhasil!"
__ADS_1
"Setelah rapat ini, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sempatkan waktu untukku, oke?" kata Mario lagi.
Kedua alis Yuna saling bertautan. "Bicara tentang apa?"
"Nanti saja. Aku mau kita fokus dulu untuk presentasi kita di rapat kali ini," ujar Mario lagi sambil menepuk pucuk kepala Yuna.
Setibanya mereka di kantor, Yuna menyiapkan segala keperluan rapat serta membagikan materi presentasi yang akan dia bawakan bersama Mario di rapat itu.
Yuna juga mengecek jumlah peserta rapat dan dia sedikit bingung karena ada tanda dua bintang di sana. Dia pun bertanya kepada salah satu rekan kerja seniornya di sana. "Kak Flo, ini kenapa ada dua bintang di sini?"
Rekan kerja yang bernama Flo itu melihat kertas absensi yang ditunjukkan Yuna kepadanya. "Oh, ini untuk Tuan Shane dan rekannya yang nanti akan datang,"
"Shane?" tanya Yuna begitu saja. "Ma-, maksudku Tuan Shane? CEO West Company?"
Flo mengangguk. "Yup, semenjak Tuan Shane bertunangan, dia jadi jarang datang ke kantor. Hanya asistennya saja, Tuan Dave,"
Jantung Yuna kini berpacu semakin cepat. Bagaimana nanti kalau Shane datang bersama tunangannya? Kapan mereka bertunangan? Kenapa dia tidak mendapat kabar tentang hal itu? Sebuah tangan hangat mendarat di pundak Yuna. "Tidak usah kau pusingkan siapa yang akan datang nanti. Fokus saja pada materi kita, oke? Ayo, rapatnya sudah mau mulai,"
Presentasi yang dibawakan oleh Mario dan Yuna dalam rapat kali itu berjalan sempurna. Yuna sanggup menyelesaikan presentasinya dengan lancar dan mendapatkan penghargaan dari rekan kerjanya. Begitu juga dengan Mario.
Rapat yang dilangsungkan seharian itu, akhirnya selesai juga. Mereka pun menyimpulkan hasil rapat dan keputusan yang akan mereka ambil.
"Oke, kalau begitu. Keputusan sudah kita tentukan dan semoga dengan keputusan ini, keuntungan kita bisa lebih meningkat dari periode lalu." kata salah seorang rekan kerja senior Yuna.
Baru saja mereka hendak keluar, Shane datang dengan bergandengan tangan bersama seorang wanita cantik dan anggun.
"Selamat sore, maaf terlambat karena ada beberapa urusan sebentar," ucap Shane. Matanya secara tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata Yuna dan Mario. "Ehem! Ada pegawai baru rupanya? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" tanya Shane.
Mereka saling berpandangan dengan bingung. Apa yang harus mereka jawab, karena mereka sudah memberitahukan kepada Shane di hari pertama Yuna dan Mario bekerja.
"Siapa nama kalian? Bisa perkenalkan diri kalian kepadaku? Sayang, kau boleh menunggu di ruangan ku dulu," ucap Shane, dia mengecup bibir Jenna sambil melihat Yuna dari sudut matanya.
**
__ADS_1