
"Nak Lea, kapan ni mau kasih cucu. Mami sudah tidak sabar"
Uhuk... Uhuk...
"Minum"
Edo langsung memberikan segelas air putih pada Lea saat wanita itu tiba-tiba tersedak.
Lea meneguk habis segelas air putih, hingga tenggorokan nya yang terasa perih menjadi lebih baik.
"Makasih" ucapnya tersenyum manis, tangan nya juga masih mengelus lehernya.
"Baru di tanya seperti itu saja sudah kaget, apa lagi yang lain" gumam Eva menyindir.
Sedangkan Lea hanya bisa tersenyum kikuk membalas ucapan mami mertuanya.
Setela selesai makan, Eva pamit pulang. Hari juga sudah menunjukkan pukul 6 sore. Waktunya bagi pasangan muda bersantai.
"Mami pulang dulu yah. Kalian beristirahat lah. Habiskan waktu berdua."
"Kamu juga Edo, sering seringlah pulang lebih awal, agar Istri kamu tidak merasa kesepian " omel Eva beralih menatap putranya yang hanya mengangguk saja.
"Hati hati yah Mi" ucap Lea setelah Salim dengan Eva.
Fyuuu....
Keduanya sama sama menghembuskan nafas lega. Merasa apitan di dada mereka terlepas seketika saat melihat mobil Eva melaju pergi.
Keduanya bergegas masuk kembali ke dalam lift, lalu kembali ke apartemen mereka.
Bug.
Lea dan Edo sama sama menghempaskan tubuh lelah mereka ke atas sofa.
Berakting di depan Eva sebagai orang yang sudah saling mencintai, membuat keduanya merasa lelah.
__ADS_1
"Mami apa apaan sih, gimana mau punya anak. Cara bikin saja gak tahu" cetus Lea polos.
Mendengar celetukan Lea, Edo Langsung menoleh.
Dia berpikir, apakah gadis ini benar benar polos, atau dia benar-benar tidak tahu?
Masa umur segini masih tidak tahu. Tapi, benar juga sih. Mana ada yang mau sama gadis cupu yang cuma tahu dengan buku seperti itu.
Edo menggelengkan kepalanya sendiri, membuat Lea terheran melihatnya.
"Kak, ada apa? Kenapa menggelengkan kepala?"
"Tidak ada apa apa" balas Edo tersenyum.
"Oh iya, soal perkataan mami tadi. Kamu tidak usah ambil pusing. Lama kelamaan mami pasti akan mengerti" sambung Edo.
Lea mengangguk mengerti, tentu saja dia tidak akan ambil hati. Dia tahu semua ini hanya akting. Mana mungkin Edo akan memiliki anak dengannya. Mereka saja tidak saling mencintai.
Huh... Harapan yang sia sia saja, lebih baik kubur dan nikmati perannya saat ini.
"Dasar, kak Edo" batin Lea tersenyum manis.
"Gak mau buat anak dulu?" Ujar Edo sengaja menggoda Lea.
"Apaan sih, dasar bego!"
Lea mengambil bantal sofa, lalu melemparnya pada Edo. Dia berlari masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Edo, dia malah tertawa terpingkal pingkal di atas sofa. Sampai sampai dia terguling di sana.
"Lucu sekali, apa dia benar benar tidak pernah?" Ujar Edo di sela sela tawanya yang tidak dapat di kendalikan lagi.
Brak!
Lea menutup pintu kamar kuat. Bersandar pada daun pintu menetralkan debaran jantung nya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa kau jadi gini. Edo hanya bercanda tapi, kenapa aku malah tersipu seperti ini?"
Lea menatap ranjang empuknya, dimana dia ranjang yang seharusnya terpisah malah dia satukan saat tahu mertuanya datang.
Lea kembali memisahkan ranjang yang memang di rancang khusus bisa di pisahkan seperti itu.
"Edo memang cerdas" puji Lea setelah berhasil memisahkan ranjang.
Pusing dengan jantung nya yang terus berdetak kencang. Lea pun memutuskan untuk bersih bersih diri, lalu dia pun tidur.
Sementara itu, di tempat lain. Seorang wanita tengah memadu kasih dengan seorang pria dengan keringat terus bercucuran di tubuhnya. Bercampur dengan keringat seorang pria yang sedang bergoyang kuat di atasnya.
"Ahh... Yess... Teruss..."
Diva, yah wanita itu adalah Diva. Selain dengan Edo. Diva juga selalu melampiaskan hasratnya dengan boss kaya yang bersedia memberinya banyak uang.
Biasanya Diva menolak mereka jika Edo sering menggunakan nya.
Tapi, dalam sebulan ini Edo tidak mau melihatnya. Kebiasaannya yang terus bergoyang membuat Diva menerima tawaran besar dari para boss yang menginginkan kemolekan tubuh mulusnya.
"Kamu memang sangat nikmat Diva. Berkali kali aku mencoba mu. Selalu saja terasa sempit. Kau hebat" puji boss salah satu perusahaan setelah mencapai puncak kenikmatannya.
Diva di bawah Kungkungan tubuh besar itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Dia juga sangat menikmati permainan mereka.
Selain uang, Diva juga melihat wajah pria yang akan menggunakan dirinya.
Contoh nya boss ini, dia memiliki wajah tampan dan masih belum menikah.
Pria ini adalah cadangan bagi Diva. Jika Edo tidak menginginkannya, maka Diva akan mencari pria ini.
Hanya karena Edo lebih kaya, Diva masih ingin berusaha merebut pria itu dari wanita lain. Sedangkan boss yang ambruk lemas di atasnya masih ia pertahankan juga.
"Apa kita bisa main satu ronde lagi?" Pinta pria itu.
"Aku masih lelah, nanti saja" tolak Diva seraya mendorong pria itu menjauh dari tubuhnya.
__ADS_1
Diva menarik selimut, mereka sudah bermain 2 ronde. Diva merasa tubuhnya remuk namun, dia sangat puas.
"Huh, andai saja dengan Edo. Satu ronde saja sudah membuat aku sangat puas" batin Diva menutup matanya untuk melepas lelah.