Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 53


__ADS_3

Semua anggota anak cabang tiba di kantor pusat. Mereka berdiri menatap indahnya gedung kantor cabang yang menjulang tinggi.


"Huh, sekarang kalian akan bekerja di perusahaan ini" ucap Reno, ekspresi nya terlihat tidak rela.


Lea menyadari hal itu, setelah sekian lama Reno memimpin mereka. Kini, Reno harus melepas mereka bergabung dengan kantor pusat.


"Boss, gedung ini memang bagus, tapi kami lebih nyaman bersama mu di kantor lama kita. " seru Anton.


"Benar boss, di sana tempat kita memulai sejak awal" sahut yang lain.


Reno tertunduk lemah, senyum getir terukir di bibirnya. Dia tahu ini juga sulit baginya, tapi demi masa depan yang cerah untuk pegawainya. Dia rela melepaskan segalanya.


"Boss, tidak bisakah kita tetap di kantor lama?"


"Tidak Lea, ini adalah kesempatan bagus bagi kalian. Kalian harus berjuang dan bertahan di sini."


"Tapi boss" Lea masih berusaha untuk menyela, tapi Reno tidak akan terkalahkan.


"Jika kalian di sini, kalian akan mendapatkan tunjangan yang lebih besar, gaji juga lebih besar!"


"Ini bukan masalah gaji boss?" sela Tia.


Reno mengangkat wajahnya, memperlihatkan senyum bahagia agar karyawan nya tidak merasa khawatir kepada dirinya.


"Sudah, ayo kita masuk. Aku akan menunjukkan lantai berapa ruangan kerja kalian"


Reno berjalan lebih dulu, menuntun mereka masuk ke dalam kantor yang sangat megah.


Tidak dapat di pungkiri, mereka semua merasa kagum dengan interior dan kecanggihan kantor pusat.


Lift di kantor ini juga banyak, terdapat 6 buah.


Dalam sekali menaiki lift, mereka secara serentak menaiki lift yang berbeda.


"Mereka sudah datang" ucap Rendy. Dia dan juga Edo melihat kedatangan pegawai anak cabang memasuki lift dari lantai atas.


"Bagus lah, kita mulai kisah baru ini" gumam Edo membuat Rendy mengerut bingung.


"Kisah apa boss?"


"Kau mau tahu?" balas Edo menggoda Rendy. pria itu mengangguk cepat, dia sangat penasaran dengan kisa apa yang akan di mulai.


"Pikir saja sendiri" ujar Edo berlalu pergi.


Huh?


Rendi mencebik kesal, menatap kepergian boss nya yang sengaja mengerjainya.


"Dasar, tunggu aku. Hei..." teriak Rendy menyusul boss nya.


Edo kembali ke ruangan nya,dia menunggu kedatangan Reno untuk menyerahkan laporan dan juga pegawai anak cabang.


Tuk! Tuk!


Edo tersenyum senang, itu pasti Reno yang ingin melapor padanya.


"Masuk!" seru nya dari dalam. Pria itu langsung mengubah ekspresi menyeringai nya menjadi datar dan dingin.


Ceklek.


Reno memasuki ruangan kerja boss nya, berdiri tepat di hadapan Edo.


"Boss"


"Ada apa?" suara Edo terdengar dingin dan tegas.


"Semua karyawan kantor cabang sudah berada di sini boss, mereka ada di lantai 25"


Bibir Edo tertarik ke atas, membentuk lengkungan tipis. sebelum Reno melihatnya, cepat cepat Edo menghapus lengkungan itu.


"Bagus, kalau begitu kamu silahkan ambil berkas di bagian HRD. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk mu"


"Benarkah boss, anda menyiapkan kejutan untuk ku?" seru Reno terkejut bercampur senang. Dia tidak menyangka boss dingin seperti Edo memiliki hati yang baik seperti ini.

__ADS_1


"Tentu, kamu sudah bekerja keras selama ini memimpin kantor anak cabang, sebagai apresiasi perusahaan, aku memberimu sedikit hadiah"


"Terimakasih boss, terimakasih banyak"


Reno yang tegas mendadak berubah menjadi lemah jika di hadapan boss besar. Aurah kepemimpinan Edo menguasai keberanian seseorang yang berada di hadapan nya.


"Kalau begitu, aku akan melihat hadiah ku"


"silahkan"


"Permisi boss" pamit Reno sopan.


Edo mengangguk pelan, mempersilahkan Reno pergi.


Tuk.


Setelah pintu tertutup rapat, barulah Edo berdiri dan melompat girang.


"Yes, akhirnya kamu akan berada di dekat ku lagi Lea!. aku akan membuat kamu kembali jatuh cinta kepada ku!"


Edo segera keluar dari ruangannya, dia tidak sabar ingin melihat Lea.


Rendy melihat boss nya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.


"Boss" Rendy menghampiri Edo.


Mendengar ada yang memanggilnya, Edo pun menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang menatap Rendy berjalan kearah nya.


"Ada apa?"


"Boss mau kemana?." Balas Rendy balik bertanya.


"Ke lantai 25" jawab Edo acuh.


"Lantai 25? lantai pegawai kantor cabang?" gumam Rendy mengingat informasi yang Reno bilang tadi kepada dirinya.


Tapi, apa yang akan Edo lakukan di sana.


Rendy ingin menanyakan pada Edo, tapi saat dia menoleh, pria itu sudah berlalu masuk ke dalam lift.


"Bye.." Edo melambaikan tangan.


Ting.


Edo keluar dari dalam lift, mata nya mengedar melihat suasana di lantai 25.


Sepi, masih terlihat sepi. Mungkin semua pegawai sedang sibuk di dalam ruangan, membersihkan dan menatap ruangan kerja.


Ceklek.


Melalui cela jendela, Edo mengintip apa yang sedang terjadi di dalam sana.


"Di mana wanita itu?" gumam Edo. Dia tidak melihat keberadaan Lea di mana pun.


Wanita itu sedang di bawah, lantai 24. Lea sedang menemui Ob untuk membuatkan minuman para pegawai lain.


Lea masuk ke dapur perusahaan, mencari seseorang di dalam sana.


"Permisi, mencari siapa yah?"


Deg.


Lea terkejut mendengar suara yang terdengar secara tiba-tiba itu.


Lea menoleh, menatap sambil mengusap dadanya.


"Huh, mbak. Anda mengagetkan saya" ujar Lea.


"Maaf mbak, saya tidak sengaja"


Lea terus mengusap dadanya, menetralkan debaran jantungnya yang berdetak kencang.


Setelah debaran jantung nya berdetak normal kembali, baru lah Lea mengatakan pada mba ob apa tujuannya masuk ke dapur.

__ADS_1


"Mba, kami lantai 25 mau kopi nya yah, 50 cangkir"


Mba ob nya terkejut, baru kali ini dia mendapatkan permintaan kopi sebanyak itu.


"Kenapa terkejut gitu mba? apa pegawai lantai 26, tidak memesan kopi di sini?"


Mba ob menggeleng pelan, dia terkejut karena biasanya hanya beberapa orang yang mau meminum kopi dari dapur.


"Biasanya hanya beberapa saja mba. Para pegawai membuat kopi sendiri di ruangan mereka"


"Benarkah?" Lea terkejut, dia merasa tidak enak telah menyusahkan mba ob ini.


Tapi, Lea juga bingung. Di ruangan mereka tidak ada tempat air panas, dispenser juga belum ada.


"Di lantai 25 masih baru mba, jadi tidak ada perlengkapan nya" ucap Lea tidak enak.


"Kalau begitu saya akan membuatkan nya mba, saya akan mengantar ke lantai 25"


"Maaf yah mba, jadi merepotkan"


"Tidak masalah mba, saya malah senang. Akhirnya bisa membuatkan kopi untuk karyawan atas" jawab wanita ob itu tersenyum senang.


Melihat kegembiraan mba ob ini, memancing rasa heran di dalam benak Lea.


Mengapa dia sesenang itu, Lea merasa telah memberikan pekerjaan tambahan pada wanita ini, tapi dia malah bahagia.


"Mba, saya tahu mba pasti heran kan. Saya itu bahagia mba, kalo ada yang meminta bikinin kopi. Setelah selesai beres beres, saya tidak ada pekerjaan lagi mba. Jadi saya merasa makan gaji buta"


"Kenapa begitu"


"Yah begitu aja mba, saya pengen aja berguna bagi banyak orang"


Lea semakin bingung, tapi dia tidak mengajukan pertanyaan lagi. Dia hanya memperhatikan wanita ob itu membuat kopi.


"Yaudah mba, saya ke atas dulu yah. Kalo udah siap, antar langsung aj ke atas"


"Ok mba" balas wanita ob itu tersenyum melihat kepergian Lea. Jarang jarang ada karyawan sebaik Lea, berbicara sesopan itu dengan pegawai rendah seperti dirinya.


"Wanita yang baik" gumam nya.


Ting.


Lea keluar dari lift, di melihat sosok pria yang tidak asing di matanya.


"Apa yang sedang and lakukan di sini?" tanya Lea dengan nada ketus, membuat Edo terkejut dan berbalik ke belakang.


Edo merasa dirinya seperti tertangkap basah sedang mengintip. Tapi, sesegera mungkin dia mengendalikan dirinya.


"Hey, aku berbicara pada mu. Kenapa tidak menjawab!" ulang Lea.


"Haruskah aku menjawab pertanyaan mu? ini kantor ku! terserah apa yang ingin aku lakukan di sini!" balas Edo tak kalah ketus.


Dari dalam, rekan rekan kerja Lea terkejut mendengar perdebatan di luar ruangan mereka.


Mereka pun segera keluar melihat apa yang sedang terjadi.


"Lea??? " pekik salah satu sahabat Lea. Mereka terkejut melihat Lea yang sedang berdebat dengan boss besar.


"Apa yang Lea lakukan di sana? mengapa dia berdebat dengan boss besar?" sahut yang lain.


"Dia mungkin tidak tahu siapa boss besar di sini!" tebak Anton.


"Gawat..." gumam mereka bersamaan.


Lea masih menatap Edo dengan tatapan sinis, dia tahu Edo pemilik perusahaan ini, sejak awal dia juga tahu Edo adalah orang kaya sejagat raya.


Tapi, semua itu tidak akan membuat dirinya tunduk dan menghormati pria ini.


"Meskipun ini perusahaan anda, setidak nya anda memperhatikan tata-" Lea terhenti, mulut nya tiba tiba dibekap oleh Tia.


"Maaf yah boss, Lea ini emang suka asal bicara. Jangan ambil hati dengan sikap nya yah" cicit Tia tercengir, kemudian menarik paksa Lea pergi dari hadapan Edo.


Pria itu pun mendengus kesal,memilih pergi dari sana. Batu kali ini Edo merasa harga dirinya di jatuhkan di depan pegawai nya sendiri. Dan itu semua ulah Lea. Wanita yang dia cinta, sekaligus sayang.

__ADS_1


"Awas aja kamu Lea, aku akan membuat kamu tunduk pada ku!"


"Aiss..." Edo masih merasakan betapa Mali nya dia tadi.


__ADS_2