Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 20


__ADS_3

Liburan memang sangat penting, menghabiskan waktu bersama agar lebih dekat satu sama lain.


Eva tidak salah strategi, Lea dan Edo semakin dekat. Cara yang wanita itu gunakan memang licik, namun sangat ampuh.


Lea mengantar kepergian Edo di depan pintu apartemen, lalu memperhatikan kepergian mobil pria itu dari atas balkon.


Huhh...


"Setidaknya, aku bisa merawat dan berada di dekat nya."


Hal yang paling Lea tunggu seumur hidupnya. Menikah dan hidup bersama Edo.


Yah... meskipun Edo tidak tahu jika dirinya adalah teman masa kecilnya.


"Suatu hari kamu akan mengingat ku kak"


Mobil sport melaju cepat, membelah jalan yang terlihat ramai.


Banyak anak anak sekolah yang tengah melaju menuju ke sekolah masing masing. Ada juga para pekerja yang sedang melaju menuju ke tempat mereka bekerja.


Edo dengan santai di depan stir mobil menunggu lampu merah.


Dari raut wajah nya, dia terlihat sangat bahagia. Entah apa yang membuat dia bahagia, itu hanya dia yang tahu.


Sesampainya di kantor, tanpa melirik Diva, Edo langsung memasuki ruangan kerjanya.


Padahal, Diva sudah tersenyum manis dan bersiap ingin menyapa boss nya.


Bukan nya membalas, Edo malah acuh dan seolah tidak melihat Diva.


"Ihh... Menyebalkan. Dia bahkan tidak melirik ke arah ku!"


"Lihat saja, kau akan bertekuk lutut di hadapan ku boss Edo!"


Lea terus menatap punggung Edo hingga tak terlihat lagi. Di dalam pikiran nya, dia sudah menyusun rencana untuk memiliki Edo.


Sekarang, gadis licik itu tinggal menunggu waktu.


Edo bekerja dengan penuh semangat, menghadiri meeting dengan suasana yang damai.


Banyak karyawan bertanya tanya, apa yang telah terjadi pada boss mereka. Biasanya, Edo akan marah marah kepada bawahan nya jika terdapat sedikit saja kesalahan.


"Lihat lah, dia bahkan tersenyum dan memperingatkan bawahannya dengan santai"


"Benar, apa yang sudah membuat boss berubah?"


"Aku tidak tahu, tapi ini baik untuk kita"


"Benar"


Bisik demi bisikan, di dengar oleh Edo. Begitu juga dengan Diva. Namun, seakan tuli pria itu tidak menggubrisnya.


Malahan, Edo tersenyum mendengarnya.


Kalian tahu kenapa? karena dia mengingat Lea lah yang menjadi penyebab ini semua.


Lea, gadis cupu yang awalnya sangat Edo benci.

__ADS_1


Benar kata Mami Eva,rasa suka dan sayang akan muncul setelah kita bersama. Edo sudah mulai merasakan hal itu. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Lea di sisi nya.


Di tambah lagi semenjak mereka menyatu, Edo merasa ada hal yang berbeda.Dia merasa kecanduan dengan Lea.


Rasa tubuh yang sangat di idamkan nya. Lea benar benar terlihat sempurna malam itu.


"Oh gods, bagaimana aku bisa melupakan di mana kami menyatu??"


Edo mulai gila, dia mulai melamun dan tertawa sendiri.


Diva yang melihat tingkah aneh boss nya merasa sedikit heran.


"Boss, apa anda baik baik saja?"


Edo tersadar, dia menatap Diva, dan juga karyawan lain yang ada di ruangan meeting. Mereka saat ini menatap kearah Edo.


"Kenapa menatap ku begitu?"


"Maaf boss, sejak tadi anda hanya melamun dan tertawa sendiri. Apa anda baik baik saja?"


Edo tercengang, dia tidak sadar telah bertingkah konyol.


"Benarkah? ah tidak. Kalian hanya salah lihat saja!"


"Baiklah,silahkan lanjutkan persentasi nya" seru Diva.


Meeting lun kembali di lanjutkan, dengan Edo yang berusaha untuk fokus.


Setelah selesai meeting, Edo langsung kembali ke ruangan nya. Di ikuti oleh diva yang membawakan berkas berkas penting hasil dari meeting tadi.


"Boss."


Edo berbalik, menatap Diva datar. Dia heran mengapa gadis itu malah mengikutinya ke dalam ruangan nya.


"Ada apa?" tanya Edo cuek.


"Boss Anda kenapa? sejak beberapa hari ini anda melamun dan tertawa sendiri. Are you oke?"


"Sure. Why?"


"Tidak apa apa, aku hanya khawatir saja!"


"Oke baiklah, kamu boleh kembali ke ruangan mu" suruh Edo acuh. Pria itu melanjutkan aktivitas nya, mengabaikan diva yang masih berdiri di sana.


Merasa tidak puas dengan jawaban Edo, diva pun mendekatinya. Berdiri tepat di hadapan pria itu.


Apapun yang akan terjadi setelah ini, Diva tidak akan peduli.


"Apa yang kamu lakukan?" bentak Edo. Dia risih dengan perlakuan Diva.


"Boss, mengapa anda mengabaikan saya?"


Cup.


Diva berusaha untuk mencium Edo. Namun, pria itu mengelak dan wanita itu hanya bisa mencium pipinya saja.


Tidak mau menyerah, Diva terus berusaha untuk menggoda Edo. Hingga pria itu kehabisan kesabaran.

__ADS_1


Brak!


Diva terduduk di lantai dengan hempasan kuat.


"Diva, saya sudah peringatkan kamu! jangan mencoba menggoda saya lagi!" bentak Edo dengan satu tangan menunjuk Diva.


"Kenapa boss, mengapa anda memperlakukan saya seperti ini? saya sudah memberikan segalanya kepada anda"


Cih.


"Dasar Jal*Ng! Sejak awal saya sudah memperingatkan kamu tentang hal ini. Kamu hanya budak pemuas nafsu. Jangan ada perasaan di sini. Jika pun ada, itu hanya akan menjadi urusan mu sendiri."


"Sekarang, pergi lah dari sini!"


"Apa? boss kamu tidak bisa melakukan ini kepada ku!"


"Kamu tidak tahu diri, sudah bagus aku tidak memecat mu kemarin. Tapi, kamu malah serakah dan semakin melonjak. Sekarang kamu di pecat!"


"Tidak! ini tidak bisa terjadi!"


Edo mengambil sesuatu dari bawah laci nya. Kemudian menulis sesuatu dan melemparnya ke wajah Diva.


"Bawa itu, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan saya!"


byuss...


Diva menatap lembaran cek yang tertulis 1 M. Dia sangat tergiur, namun dia tidak bisa menerima begitu saja.


Ada hal yang lebih besar dari itu. Diva tidak akan mau terlihat lebih rendah. Pengorbanan nya selama 1 tahun ini tidak akan semurah itu.


Wanita itu bangkit, memunguti cek di lantai.


"Aku memang budak mu kemarin. Tapi aku melakukan nya bukan hanya sekedar mendapatkan uang. Tapi, karena aku suka pada mu. Aku cinta pada mu. "


Diva meraih tangan Edo, meletakkan cek itu di dalam genggaman nya.


"Maaf, aku tidak serendah itu"


"Terserah, aku tidak membutuhkan mu lagi. Aku sudah memiliki wanita yang jauh lebih dari pada kamu"


"Apa pembantu itu?"


"Tutup mulut kamu Diva. Dia istri ku. Bukan pembantu!"


Cih.


"Benarkah?" Diva tertawa sumbang. Kemarin di anggap pembantu, sekarang di anggap istri. Sangat lucu.


"Ingat yah Edo. Saat ini aku akan pergi, tapi aku akan kembali!"


"Aku tidak aka melepaskan mu begitu saja!"


"Terserah!" balas Edo acuh.


Wanita itu pergi, membuat Edo bernafas lega. Dia memang menyukai permainan Diva. Namun, Edo tidak pernah melakukan nya dengan perasaan. Dia hanya melakukan nya untuk sekedar memuaskan nafsu saja.


Ketika melakukan dengan Lea, barulah Edo merasakan hal yang lain. Dia sangat menikmati setiap permainan mereka dengan penuh perasaan.

__ADS_1


__ADS_2