Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 50


__ADS_3

"Hallo mami, ya. Aku sekarang berada di kota itu. Perusahaan di sini sudah mulai membaik!"


"Lalu, kapan kamu berencana ingin pulang?"


Edo tak langsung menjawab pertanyaan mami nya. Dia yang berawal duduk di meja kerjanya, beralih ke depan jendela kaca yang bisa melihat semu pemandangan di bawah sana.


"Hallo Edo, apa kamu masih mendengar mami?"


"Oh iya mami, aku masih mendengar" sahut Edo tersenyum, meskipun tak terlihat oleh maminya.


"Terus, kapan kamu pulang? mami akan mengatur kencan buta untuk mu"


"Huh? mami Edo kan sudah bilang Edo tidak mau di jodohkan atau di Carikan wanita lagi!" suara Edo mulai meninggi.


"Tapi nak, mau sampai kapan kamu menjadi duda tidak laku seperti itu. Mami juga sudah tua nak!"


"Tidak mami, pokoknya aku tidak mau!"


"Kamu harus mau!"


"Tidak! sudah Edo matiin telfonnya!"


"Eh Edo! "


Edo tidak sampai hati memutuskan panggilan maminya. Dia tetap mendengarkan Omelan yang menurut nya tidak berujung itu dari maminya.


"Kamu yah, sudah mami bilang jangan menunggu kea lagi. Dia sudah pergi! dia tidak akan kembali sama kamu!"


"Tidak mi, Edo akan menunggu nya. Sampai kapan pun itu!" suara Edo terdengar melemah. Dia tahu, Lea pergi karena kesalahannya sendiri. Dia juga siap menerima hukuman melajang seumur hidup. Tapi, karena dia sudah menemukan Lea, maka dia akan mengejar wanita itu lagi.


"Sampai kapan huh? meskipun kamu menemukan dia. Lea pasti tidak akan mau sama kamu. Dia pasti sudah memiliki keluarga baru. Ini sudah 12 tahun Edo."


Edo tidak membalas ucapan mami nya, dia terfokus pada seorang anak yang sedang duduk di halte bus.


"Sedang apa dia di situ?" gumamnya tidak jelas.


"Hallo, Edo kamu ngomong apa? mami tidak jelas mendengarnya!"


"Eh Hallo mi, Hallo, Hallo... Jaringannya kok putus, Hallo!!"


Tutt....


Panggilan pun terputus, Edo sengaja melakukan hal itu agar kemarahan maminya tidak bertambah.


Mata nya kembali melihat ke bawah sana, dengan jelas dia melihat Kendra duduk dengan lesu.


"Apa yang terjadi, mengapa dia selalu terlihat sedih seperti itu?"


Edo pun keluar dari ruangan nya, dia pergi menghampiri Edo di bawah.


"Hei, apa yang terjadi?"


Kendra mendongak, dia tampak terkejut melihat sosok Edo ada di hadapannya.


Tanpa babibu, Kendra langsung memeluk Edo.

__ADS_1


"Om..." Tangis Ken tumpah.


Edo terkejut, ken tiba tiba memeluknya. Mendengar Isak tangis Ken yang terkesan mendalam di relung hatinya, membuat insting seorang ayah keluar dari dalam diri Edo.


Pria itu membalas pelukan Kendra, mengusap punggung nya agar lebih tenang.


"Tenang lah, apapun yang membuat mu sedih. Semua itu akan hilang!"


"Hiks...Hiks... Semuanya terlalu sulit, karena ini masalah serius" sahut Ken.


"Benarkah? masalah apakah paling serius yang di alami oleh bocah seusia mu?" ledek Edo.


Kendra melepas pelukan Edo, menatap pria itu tajam.


"Aku bukan bocah?" dengus Ken.


"Benarkah? lalu mengapa kamu menangis, jika kamu bukan bocah?"


"Itu... Aku hanya terlalu sedih!" cicitnya menunduk malu.


Edo tertawa melihat tingkah lucu Ken, andai saja dia masih bersama dengan Lea. Pasti dia sudah memiliki anak seusia Ken.


Tapi, sayang sekali. Mereka tidak bersama dan yah, semuanya hanya menjadi harapan saja.


"Oh iya Ken. Apa yangs Edang kamu lakukan di sini?"


"Aku sedang menunggu bus"


"Waw, masih kecil tapi kau sudah bisa naik bus?" Decak Edo yang langsung mendapat pelototan dari Ken.


"ups sorry, baik lah aku tidak akan menganggap mu anak kecil lagi"


"Oke" sahut Ken mulai sedikit tersenyum.


"Aku selalu menunggu bus di sini, sekolah Ki ada di belakang perusahaan ini!"


"Oh, jadi kamu sekolah di sana yah"


"Benar"


"Sebenarnya, aku selalu di antar jemput supir."


"Lalu, kenapa sekarang tidak di antar supir?"


Ken menggeleng, dia tidak ingin membuat mami nya semakin susah. Bekerja keras demi menghidupi keluarga. Belum lagi uang sekolah yang sangat mahal. Ken tidak mau membuat beban maminya semakin berat.


"Aku ingin menikmati jalan, suasana kota terasa nikmat ketika berjalan kaki dan bersantai dengan naik bus" jawab Ken bijak.


Hati Edo tersentuh, jarang ada anak seusia Ken bisa berbicara seperti ini. Kebanyakan anak anak, mereka lebih suka di antar jemput supir, bahkan menggunakan angkutan umum saja enggan.


"Beruntung sekali orang tua mu, memiliki anak setampan dan sepintar kamu!"


"Tentu saja mami beruntung!"


"Eh, aku rasa kamu terus saja membicarakan mami dan mami mu terus. Kenapa kamu tidak membicarakan papi mu?"

__ADS_1


"Huh? apa yang harus aku ceritakan soal pria yang tidak bertanggung jawab itu. Aku benci dia!"


Deg.


Perasaan apa ini, mengapa aku merasa hati ku sakit ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulut Kendra?


"Itu bis nya sudah datang. Aku pergi dulu yah!" Ujar Ken membuat Edo tersadar dari lamunannya.


"Ken biar aku yang mengantar mu pulang!" ucap Edo cepat. Tapi sayang, Ken sudah masuk ke dalam bus dan tidak mendengarkan apa yang baru saja Edo katakan.


Ken duduk di bangku dekat jendela, dia bisa melihat Edo dari sana.


"Bye..." gumam Ken sambil melambai lambaikan tangannya.


"Huh, kenapa aku jadi lebih terobsesi sama bocah itu. huh, tapi dia lucu juga" gumam Edo kembali ke kantor.


...----------------...


Di kantor Lea, terdapat sedikit kekacauan. Lea tampak sedang protes dengan atasannya. Dia tidak menyangka, setelah bekerja bertahun tahun di perusahaan ini. Akhirnya malah seperti ini.


Perusahaan mereka adalah perusahaan anak cabang. Dari tahun ke tahun, pendapatan perusahaan ini terbilang selalu meningkat.


Lalu sekarang, atasannya Reno mengatakan mereka semua akan di mutasi ke perusahaan induk.


"Kenapa kita harus di mutasi. Bukan kah kita memiliki bagian tersendiri? kenapa harus kita bergabung dengan mereka di sana?"


"Lea, apa Maslaah dari semua ini hm? jika kita di mutasi, hasilnya akan sama Lea. Kita dan perusahaan induk sama saja, kenapa harus memprotes!" balas Reno.


"Boss, kita mang sama dengan perusahaan induk, tapi kami memiliki banyak kenangan di perusahaan ini" sahut pegawai lain.


"Benar, titik awal kita mempertahankan perusahaan cabang ini ada di gedung ini!"sahut yang lain juga.


Lea mengangguk membenarkan, terutama dia. Lea memulai karirnya di gedung ini. Di perusahaan yang hampir di nonaktifkan.


"Sejak awal kita mempertahankan agar anak cabang ini tidak di nonaktifkan " tambah Lea.


Reno terdiam, dia juga bingung mengapa perusahaan anak cabang harus di mutasi dan di gabungkan dengan perusahaan induk. Padahal mereka baik baik saja.


"Apalagi pegawai di sana, pasti akan meremehkan kita sebagai pegawai dari perusahaan anak cabang!"


"Tidak, kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Merek baik baik saja, itu karena kita!" bantah Lea.


"Tapi itu sudah kodratnya Lea. Kita pasti di tindas!"


"Sudah lah, kalian kemasi saja barang barang kalian. Besok kita akan mulai di perusahaan induk!" ucap Reno dan berlalu pergi dari sana sebelum Lea dan pegawai lainnya memprotes.


"Huh! Sial!" umpat Lea.


"Sudah lah, setidaknya kita tidak di pecat. Kita masih bisa bekerja. Di mana pun tempatnya, kita tetap bersama kan?"


Lea dan beberapa pegawai lain mengangguk. Tadi itu namanya Tia, pegawai yang paling tua di antara mereka bersama.


Kantor cabang memiliki 50 pegawai, salah satunya adalah Lea, Tia, Endang dan Anton. Mereka ini merupakan teman satu tim yang sejak awal selalu bersama.


"Baiklah, kemasi barang barang kalian " seru Anton.

__ADS_1


__ADS_2