Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 58


__ADS_3

Lea bekerja seperti biasa, dia terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemasaran buku baru yang akan terbit.


Seperti impian Lea, dia menjadi seorang penulis terkenal, atau menjadi seorang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku dari penulis penulis hebat.


Kini, dia sudah menjadi seorang manager di penerbitan. Meskipun dia hanya seorang manager di sebuah perusahaan anak cabang, Lea merasa sangat bahagia. Setidaknya cita citanya tercapai.


"Ini Lea, semua berkas yang harus di serahkan pada direktur!" Ucap Anton meletakkan dokumen di atas meja samping keyboard.


Lea tersenyum, dia langsung mengambil dokumen itu dan segera beranjak.


"Eh.."


Lea kembali duduk, membuat Anton menatap bingung.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang belum lengkap?"


"Bukan itu, aku baru ingat kalau kita berada di kantor pusat"


"Lalu, apa yang salah dengan itu?" tanya Anton masih tidak mengerti. Mau di kantor pusat atau di kantor anak cabang, menurutnya sama saja, posisi dan pekerjaan mereka tetap sama.


Lea menggigit bibir bawahnya, menatap Anton dengan tatapan nanar.


"Bisa tidak, kakak saja yang antar ke boss?"


Anton mengerutkan dahi, tumben banget kea seperti ini.


Lea memeluk lengan Anton, memelas agar Anton mau menggantikan dirinya.


"Tidak Lea, ini adalah tugas mu. Aku tidak bisa melakukan nya, apalagi nanti aku akan kesulitan menjelaskan pada mu" tolak Anton.


"Kakak bisa merekamnya!"


"Tidak Lea, sudah aku mau lanjut bekerja. Kamu pergilah ke ruangan direktur. Lantai 26, nanti di atas ada resepsionis. " jelas Anton, setelah itu dia kembali ke meja nya.


Huh.


Lea menghela nafas gusar, tamat sudah riwayatnya. Edo pasti akan membalas dendam padanya soal kejadian sore itu.


"Huh, kenapa aku harus bekerja di bawah kekuasaan nya? kenapa dunia ini begitu sempit!!!" Lea berteriak di dalam hati. Setelah itu, di pun memberanikan diri untuk pergi.


Lea masuk ke dalam lift, di dalam hatinya. Dia terus berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


Lea kamu pasti bisa, hanya mantan suami. Ini juga sudah 12, tahun. Tidak akan ada yang terjadi. ok..


Ting.


Lea menarik nafas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan.


Setelah merasa siap, barulah dia berani melangkah keluar dari lift. Berjalan kearah meja resepsionis yang di jaga oleh seorang wanita cantik.


"Cih, pantes saja dia betah di kantor. Wanita nya berpakaian sexy gitu" cibir Lea di dalam hati. Lalu beberapa detik kemudian, di menyadari apa yang telah di bicarakan nya. Lea memukul kepalanya sendiri.


Memangnya apa urusan nya dengan mu!


Wanita di meja resepsionis menatap Lea aneh, tingkahnya yang berbicara sendiri membuat wanita itu menganggap Lea tidak sehat.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu memukul kepala mu sendiri?" wanita itu bertanya, tatapan nya sedikit aneh pada Lea.


Lea tersentak, dia tercengir sadar jika wanita itu menatap dirinya.


"Eh iya, permisi mba. Saya mau ke ruangan direktur. Bisa bantu antarkan saya?"


Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Lea, dia menatap Lea dari ujung kaki hingga ke ujung kepala nya.


Lea pun merasa kikuk, apa ada yang salah dengan dirinya?

__ADS_1


"Silahkan lewat sini, ruangan boss ada di sebelah sana" tunjuk wanita itu pada sebuah lorong yang bertulisan Direktur Room.


"Oh baiklah, terimakasih"


setelah membungkuk memberi hormat, Lea langsung bergegas pergi, memasuki lorong yang gelap, tiba-tiba terang benderang.


"Wah canggih sekali" decak Lea kagum, melihat lampu lorong langsung hidup secara otomatis ketika dia melangkah masuk.


Tok! Tok!


Lea berdiri di depan pintu, menunggu respon dari penghuni ruangan tersebut.


Tak kunjung mendapat respon, Lea kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit lebih keras.


Tok! Tok!!


"Masuk!" terdengar pelan, tapi cukup jelas di telinga Lea.


Dia pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan direktur. Terlihat Edo sedang sibuk dengan berkas berkas di depannya.


Lea melangkah maju, setelah menutup pintu.


"Ini boss, dokumen yang harus Anda periksa sebelum meeting akhir besok!" Lea bersikap formal, layaknya karyawan dan boss.


Edo tersenyum, dia tidak memperhatikan dokumen tersebut, melainkan wajah Lea. Wajah yang selama 12 tahun ini ia rindukan.


Akhirnya, Edo bisa melihat wajah itu dari dekat lagi.


Lea memutar mata jengah, Edo tak kunjung merespon nya.


"Kalau begitu saya permisi"


"Eh tunggu!" Edo segera bangkit, meraih lengan Lea agar kembali ke posisi awal.


Karena gerakan yang mendadak, membuat tubuh Lea berdiri tak seimbang.


Lea terhuyung ke depan, menatap lantai yang sebentar lagi akan bersilahturahmi dengan wajahnya. Lea memejamkan mata, menunggu silahturahmi wajah dan lantainya terjadi.


Kenapa tidak sakit? apa mereka mulai berusaha?.


Perlahan Lea membuka mata, dia melihat wajahnya berada beberapa centi dari lantai.


fyu..


Tersadar apa yang terjadi, Lea buru buru menarik dirinya, berdiri dengan normal.


"Makasih!" cicit nya.


Meskipun masih marah pada Edo, Lea tak akan melupakan tata Krama dan rasa terimakasih.


"Lain kali hati hati"


"Hey, pak. Jika bukan karena anda menarik ku tiba-tiba. Ini tidak akan terjadi!" hardik Lea. Dia tidak terima. Wajahnya tampak memerah menahan emosi.


"Sudah lah, dari pada membuang buang waktu dan energi ku. Lebih baik aku pergi saja!"


"Ehh tunggu."


Lagi dan lagi Edo menahan Lea, tapi kali ini tidak membuat Lea terhuyung ke belakang.


Lea menatap Edo, menunggu pria itu mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Ada apa? katakan cepat, aku harus kembali bekerja ni "


"Hm.. itu, aku cuma mau bilang, kalau.."

__ADS_1


Ceklek.


"Sayang!"


Sontak Lea memalingkan wajahnya kearah pintu, seorang wanita melangkah cepat dan mendorong dirinya agar berjarak jauh dari Edo.


"Kamu siapa! kenapa dekat dekat dengan tunangan ku!" Siapa lagi kalau bukan Nia.


"Nia, kamu ini apa apaan sih!" serga Edo marah. Dia menatap Lea, dia takut Lea salah paham.


"Maaf nona, saya hanya manager biasa, saya juga datang kesini untuk memberikan dokumen itu!" Jelas Lea dengan wajah datarnya.


Setelah itu, Lea pun berbalik pergi setelah membungkuk memberi hormat selayaknya karyawan.


Melihat kea pergi, Edo pun mendengus kesal. Dia kembali ke meja kerjanya, mengabaikan keberadaan Nia.


"Siapa dia? aku baru melihatnya!"


"Edo! aku bertanya. Kenapa kamu terlihat dekat dengan wanita itu huh?"


"Edo!!"


"Edo!!"


Nia terus mengoceh, bahkan dia menggoyang goyangkan lengan Edo meminta di respon.


Edo merasa kesabaran nya sedang di uji. Hingga tak bisa menahannya lagi.


Brak!


"Kamu bisa gak sih, tidak mengganggu hidup ku huh. mau dia siapa kek, mau wanita simpanan, mau apapun itu tidak ada urusan nya sama kamu. Aku sama kamu itu tidak ada apa apa. Jadi please! jangan berlebihan. "


Nia terdiam, Edo kembali bersikap kasar padanya. Sangat berbeda dengan wanita tadi.


Nia yakin, Edo pasti memiliki hubungan dengan wanita itu.


Tidak, Nia tidak akan membiarkan mereka bersama. Dia tidak akan melepaskan Edo, mereka harus menikah.


"Kamu bentak aku? "


"Iya! aku bisa lebih kasar lagi jika kamu terus bersikap seperti ini!" dada Edo turut naik, nafasnya memburu, emosinya benar benar memuncak.


Andai saja Edo tidak melihat Nia sebagai wanita, mungkin dia sudah melempar nya jauh ke lantai dasar.


Ceklek.


"Boss!"


Rendi masuk ke dalam, dia tertegun melihat Nia ada di sana. Merasa waktu nya kurang pas, Rendy pun ingin berbalik keluar.


"Ada apa?"


Rendy kembali berbalik, mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Aku hanya ingin melaporkan jadwal meeting besok"


"Keluar lah!"


"Oke" sahut Rendy


"Bukan kamu, tapi dia!" Tunjuk Edo pada Nia.


"Kenapa aku, Edo bisa gak sih kamu hargai aku sekali saja?" protes Nia.


"Jika aku tidak menghargai kamu, pasti aku sudah menendang kamu keluar " balasnya dingin.

__ADS_1


Rendy menutup mulut, tawanya hampir terlepas jika saja Nia tidak melotot padanya.


"Huh, awas saja!" dengus Nia menghentak hentakkan kakinya keluar dari ruangan Edo.


__ADS_2