
"Siapa wanita itu? apa dia istri Edo? apa dia menikah lagi setelah bercerai dengan aku?"
"Lalu, kemana Diva? apa dia mencampakkan diva setelah mengetahui segalanya?"
Oh astaga!!!!
Lea memukul mukul kepalanya seperti orang gila. Edo mulai mempengaruhi kehidupan nya lagi.
Lea menepuk nepuk pipi nya, berusaha untuk sadar dan berhenti memikirkan urusan mantan suami nya.
"Masa lalu, dia hanya masa lalu!"
Tampa Lea sadari, aksinya di saksikan oleh keempat teman nya.
"Apa yang kamu lakukan Lea?"
Huh?
Lea menatap mereka semua, dia baru sadar telah menjadi pusat perhatian sahabat nya.
"Apa kamu perlu bantuan? aku siap kok membantu mu memukul kepala kecil mu itu!" Tia bersiap mengambil ancang ancang.
"Eh eh... Tia, apa yang kamu lakukan!" serga Lea berdiri untuk menghindari serangan Tia.
"Kamu tu yang apaan, sejak tadi kami lihat memukul kepala sendiri! udah gak butuh kepala neng?" sahut Neti.
"Tau ih, kalau gak butuh lagi. Donor ke gue aja otak kamu" balas Anton.
Lea menatap horor teman temanya, mereka mendadak terlihat mengerikan.
"Kalian membuat ku merinding, jangan jangan Selma ini kalian sedang menunggu aku lengah yah?" Lea mulai dramatis. Tia dan ketika sahabat nya hanya memutar bola mata.
Lea selalu seperti ini, bersikap lucu ketika bersama teman temannya. Hanya bersama teman temannya. Jika bersama orang lain, dia akan terlihat sangat mengerikan.
Kadang teman teman lea berpikir gadis ini memiliki kepribadian ganda.
"Udah lah, stop drama. Kita cari makan yok. Udah laper ni!"
"Yok!!"
Lea belum menjawab, Tia dan Neti sudah menarik tangannya keluar dari ruangan kerja, kemudian di susul oleh Anton dan Endang.
Mereka pergi makan keluar kantor, karena memang di kantor tidak di sediakan kantin. Oleh karena itu, mereka di beri jam makan siang selama 1 setengah jam.
Dengan waktu yang lumayan lama itu, mereka bisa memili milih tempat untuk makan.
"Ehm, kalian duluan aja yah ke restoran sebelah. Aku mau menjemput anak ku dulu", ujar Lea.
"Anak mu sekolah di belakang sini kan?" tanya Anton.
"Iya, kebetulan sekali putra ku sekolah tak jauh dari kantor pusat!"
"Yaudah deh, kita tunggu di sebelah aja yah. nanti kamu bawa aja putra kamu makan bersama"
__ADS_1
Lea mengangguk, mengiyakan ucapan Tia.
Sesampainya di depan kantor, merek berpisah arah. Lea meminjam sepeda motor pak satpam untuk menjemput putranya agar lebih cepat. Jika menggunakan mobil, dia harus memutar di jalan raya. Jalan tikus menuju ke sekolah Ken hanya bisa di lalui oleh motor saja.
Setiba nya di depan gerbang sekolah elit tempat putranya menimbah ilmu. Lea mendengar bel pertanda pulang pun berbunyi nyaring.
"Wah, pas sekali" gumam Lea tersenyum lebar. Dia tidak sabar menunggu putranya keluar dari kelas.
Tak berapa lama, Ken pun keluar. Dia langsung berteriak memanggil maminya.
"Mami!!!"
"Ken!!"
Lea turun dari motor, berlari menghirup putranya. Mereka terlihat seperti ini pertama kali bertemu, padahal setiap hari mereka bertemu.
Guru guru Ken yang melihat aksi mami Ken seperti anak kecil itu hanya menggelengkan kepala.
Lea tahu itu, tapi dia tidak menggubris mereka. Dia akan menjadi seorang anak perempuan ketika bersama anaknya, dan akan menjadi singa galak ketika anak nya di ganggu.
"Mami jemput Ken?"
"Iya lah, kan mami sekarang kerja di kantor itu!" Lea menunjuk gedung besar yang menjulang tinggi di hadapan sekolah Ken.
"Benarkah? mami sudah pindah kerja?" tanya Ken memastikan.
"Iya sayang, mami lupa memberitahu mu. Tapi tidak masalah lah, penting mami bisa menjemput kamu setiap hari!"
"Tidak masalah mami, Ken malah senang. Jika mami gak sempat jemput, Ken bisa datang ke kantor mami"
Ken mengangguk setuju, dia segera naik ke atas motor, lalu mereka melaju pergi meninggalkan pekarangan sekolah.
"Wah, ternyata kalo bersama keluarga nya Ken sangat manja yah. "
"Dia terlihat semakin tampan "
"Dia cowo idaman ku"
Gumaman para gadis di sekolah Ken terdengar samar di telinga Lea. Hal itu membuatnya tersenyum geli. Putranya ternyata menjadi idola di sekolah nya.
Seperti yang sudah Lea katakan pada teman kantornya. Dia membawa Ken makan siang bersama mereka.
Tia, Neti dan Endang menatap Ken tidak berkedip.
Mereka terpesona dengan ketampanan Ken. Baru berusia 12 tahun, Ken sudah setampan ini.
"Eh Lea, aku merasa tidak asing dengan wajah putra mu" Tia tampak berpikir sejenak.
Ini merupakan pertama kalinya mereka melihat Ken, tapi mereka merasa pernah melihat Ken. Tapi, tidak tahu di mana.
"Apa aku setenar itu?" sahut Ken dengan wajah datarnya.
"Tidak Ken, aku yakin pernah melihat wajah mu. Tapi, aku lupa di mana" ujar Neti.
__ADS_1
Lea yang tahu maksud teman teman nya hanya diam saja. Mereka tidak sadar, jika yang mereka liat sebelumnya adalah direktur perusahaan. Wajah Ken dan Edo mirip hampir 100%.
Hanya usia yang membuat mereka tampak berbeda.
Selesai makan, Ken memperhatikan satu persatu teman teman maminya. Mereka terlihat tulus dan jujur. Ken senang melihat mereka.
Mata Ken jatuh menatap pada Anton.
"Om, menjadi satu satunya pria di antara mereka apa om tidak risih?"
Lea tersedak, Tia segera memberinya minuman.
"Hey, apa yang sedang kamu katakan Ken. Bersikap lah yang sopan!", tegur Lea merasa tidak enak pada Anton.
Bukan nya marah atau merasa tersinggung, Anton malah tersenyum.
"Kenapa harus risih? tidakkah ini menguntungkan bagi ku?" jawab Anton santai. Dia menyelesaikan makan siangnya. Kemudian berbalik menatap Ken yang masih menatap padanya.
"Apa nya yang untung? apa om tidak di olok olok?" balas Ken.
"Kamu benar, aku selalu mendapat olokan karen menjadi yang paling ganteng di antara mereka semua.
Aku dianggap pro bis berjalan bersama 4 wanita cantik sekaligus. Tidakkah menyenangkan?"
Ken mencebikkan bibirnya, jawaban Anton membuatnya kehabisan kata kata.
"Beruntung aku di sini, menjadi kerugian bagi mu!"
Kini, giliran mereka yang melongo bingung.
"Apa nya yang rugi Ken?" tanya Neti.
Dengan smirknya Ken menjawab. "Om Anton menjadi yang tampan kedua setelah aku!"
Seketika tawa mereka meledak mendengar jawaban putra tunggal Lea.
"Kamu benar benar yah, berkata selucu itu, tapi tampang kamu masih datar. Apa ini gen dari ibu mu?", ujar Endang di sela sela tawanya.
"Tentu saja, semuanya adalah turunan dari mami. Wanita hebat ku!" jawab Ken, membuat Lea terharu mendengarnya.
Jam istirahat telah terpakai 30 menit. Masih ada 1 jam lagi.
Lea dan keempat teman nya masih ingin bersantai di restoran itu.
Sedangkan Ken, dia merasa bosan dan tidak mengerti mendengar obrolan mami dan temannya.
"Mami, jam istirahat nya masih sisa berapa menit lagi?" tanya Ken.
"Sisa 1 jam lagi Ken, memangnya ada apa?" tanya Lea sedikit berlebihan ,dia terlihat seperti khawatir gitu.
"Tidak apa apa, aku hanya bosan. Apa boleh aku ke Timezone sebentar?" tanya Ken.
Lea tampak berpikir sejenak, setelah itu barulah dia mengangguk.
__ADS_1
"Yeay, thanks mommy" ucap Ken senang, dia langsung berlalu pergi.