Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 12


__ADS_3

"Wah masakan kamu selalu enak. Selalu pas di lidah ku" ucap Edo memuji masakan Lea.


Bukan modus atau sekedar membuat hati Lea senang. Tapi, karena memang masakan Lea sangat enak dan pas di lidahnya.


Lea tersipu malu, pujian singkat Edo sangat mengena di hati.


"Kamu bisa aja." Balas Lea.


Edo pun ikut tersenyum, mereka makan dengan penuh kehangatan.


Di hati Edo, dia mulai merasa kehangatan keluarga yang sempat dulu ia miliki.


Semenjak Papa nya tiada, Eva mulai sibuk dan tidak memiliki waktu lebih untuk bersama dengan Edo.


Setelah makan siang, Lea memutuskan untuk duduk di balkon sambil memainkan iPad nya. Dia berniat ingin menulis kisah baru di akun penulisnya.


Semenjak menikah dengan Edo, Lea sudah tidak bekerja lagi. Dia hanya menghasilkan uang dari akun penulisnya saja.


Gadis ini menulis bukan karena kekurangan uang. Edo sudah sangat mencukupi kebutuhan nya. Bahkan pria itu juga membelikan kedua orang tuanya kebun untuk masa tua mereka.


Namun, Lea hanya tidak mau waktu berharganya terbuang sia sia begitu saja. Dia ingin menggunakan waktunya untuk menghasilkan uang.


Walaupun tidak banyak, setidaknya dia masih bisa menghasilkan uang.


"Hey, kamu sedang apa?"


Lea yang sedang menulis terkejut dengan sapaan Edo yang tiba-tiba menghampiri nya.


"Astaga, Edo. Kamu mengangetkan aku saja."


"Benarkah? aku tidak tahu kalau kamu sedang melamun" sesal Edo merasa bersalah.


"Sudah lah, tidak apa apa"


Lea kembali melanjutkan menulis, mengabaikan Edo yang memperhatikan dirinya dari samping.


"Kamu penulis novel?"


"Iya, aku sedang membuat kisah baru" jawab Lea tanpa menoleh. Gadis itu sedang mendesain cover novel barunya.


"Akan kah, Kau mengingat ku?"


Edo membaca judul yang tertulis di cover yang sedang Lea desain.


"Apa ada kisah seperti itu?" tanya Edo heran.


untuk beberapa saat, Lea terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Hey, kenapa bengong? Apa ini kisah mu dengan mantan pacar mu?"


Edo mulai penasaran, dia terus mendesak dan melontarkan pertanyaan pada Lea.


"Apaan sih kamu, kepo banget sama urusan orang"


"Ih kok sewot. Aku sebagai teman kamu. Wajar dong aku tahu tentang masa lalu kamu!"

__ADS_1


"Ih, alesan. Pokoknya aku gak mau ngasih tahu" balas Lea membelakangi Edo.


Melihat Lea membelakangi nya, Edo pun tidak tinggal diam. Dia menarik tubuh Lea dan kembali mengharapkan ke arah nya.


"Kamu cepat beritahu aku. Siapa yang tidak mengingat mu itu?" desak Edo sangat sangat penasaran.


Kini tubuh Lea telah terkunci, dia tidak bisa bergerak karena Edo menahan kedua tangan nya.


"Aku terinspirasi dari film yang aku tonton tadi malam. " jawab Lea berbohong.


"Film apa?"


"Film itu mengisahkan seorang wanita menunggu seorang pria yang dulu berjanji akan mencarinya. "


"Memangnya wanita itu kemana? dia hilang?" tanya Edo polos.


Ingin rasanya Lea menampol wajah sok polos dan pura pura lugu Edo saat ini.


"Kau ini sangat bodoh, sudah jelas itu film. lagi pula, kenapa kamu begitu penasaran dengan kisah ini. Bukan kah kamu seorang pria angkuh dan sombong. Kenapa malah terkesan seperti tukang rumpi" omel Lea panjang lebar.


"Eh benar juga" pikir Edo tersadar dengan sikap konyolnya.


"Yah sudah lah. Aku mau ke ruangan kerja ku dulu!" Rajuk Edo melenggang pergi.


Lea mengulum senyum. Pria itu semakin hari semakin lucu saja. Sambil membetulkan posisi kacamata nya, Lea terus menatap kepergian Edo.


"Andai dia mengingat Ku,maka akan aku pastikan dia tidak akan bisa pergi lagi" Lea tersenyum lembut, kemudian kembali melanjutkan mendesain cover.


...----------------...


Ketakutan itu semakin besar, ingatan tentang wanita cupu yang jauh di bawah nya selalu mengusik ketenangan pikiran nya.


Ceklek.


Diva langsung berdiri, menatap Edo yang baru saja keluar dari ruangan nya.


"Bos"


dengan jalan lenggak lenggok dan body di pamerin. Diva mendekati Edo.


"Diva, tolong cancel semua jadwal saya besok."


"Kenapa bos?"


"Besok saya ingin libur, ada hal penting yang harus saya lakukan"


"Apa itu?"


Edo mengerutkan dahi, mata tajam nya mulai menatap Diva.


"Sejak kapan kamu harus tahu semua yang saya lakukan"


Deg.


"Bukan seperti itu bos, saya hanya.."

__ADS_1


"Sudah lah, pokoknya lakukan saja apa yang saya perintahkan" potong Edo acuh. Lalu, dia kembali masuk ke dalam ruangannya.


Arrggg....


"Kenapa pria brengsek itu bersikap sangat kasar kepada ku!"


"Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku tidak mau kehilangan Edo. Lihat saja nanti"


Diva menggeram kesal, menyelesaikan apa yang Edo perintahkan. Lalu, dia kembali menyusun rencana untuk menjebak pria itu kembali ke sisi nya.


"Mungkin kamu sudah lupa bagaimana rasanya diri ku ini. "


"Tenang, aku akan mengingatkan mu kembali"


Pukul 5 sore, semua staff telah berangsur angsur meninggalkan kantor.


Ada beberapa staff yang masih berkutat di meja masing masing.


Sedangkan di ruangan nya, Edo juga masih sibuk dengan laptopnya.


Untuk rencana liburan besok, dia harus menyelesaikan semua pekerjaan ini, agar dia tenang besok.


Tuk! Tuk!


Edo mendongak, menatap sekretaris nya yang selalu berpenampilan seksi.


Dulu Edo akan sangat bergairah melihatnya. Namun, entah kenapa dia merasa gairah itu hilang sejak dia mulai dekat dengan Lea.


"Ada apa Diva?"


Wanita itu tersenyum, dengan langkah menggoda dia mendekati Edo. Berdiri di samping pria itu sambil mengelus tangan kekar milik Edo.


"Boss, seharian bekerja apa tidak lelah? ini aku bawakan minuman"


"Tidak perlu, aku sudah hampir selesai" tolak Edo.


Diva tersenyum, dia tidak kehabisan akal untuk memaksa Edo minum jus yang dia bawakan.


"Boss, setelah 1 tahun bersama. Apa kamu tidak percaya dengan ku? aku hanya mencoba perhatian pada mu. Yah, sebagai rasa terimakasih masih mempekerjakan aku di perusahaan ini" tutur Diva lembut.


Edo terdiam, seperti nya ucapan Diva mengena.


"Benar, aku sudah bosan dengan mu. Namun, Karen kinerja kamu yang baik. Aku masih membiarkan kamu bekerja di sini. Jadi, tolong jaga sikap kamu dan bekerjalah dengan baik"


"Baiklah bos, aku akan mengingatnya"


Edo tersenyum, dia merasa sedikit lega menghadapi Diva. Dia wanita yang cerdas, setelah di campakkan olehnya, diva tetap tidak memberontak seperti wanita lain yang telah Edo campakkan.


"Minum lah bos, saya akan kembali ke ruangan saya. Jika bos ada perlu silahkan panggil saya"


"Terimakasih"


Dengan senyum penuh makna nya, Diva keluar dari ruangan Edo. Sebelum dia benar benar keluar,dia memastikan Edo sudah meminum jus yang dia berikan tadi.


"Bagus, tinggal menunggu reaksinya saja" sorak Diva di dalam hati. Dia menutup rapat pintu ruangan Edo, kemudian kembali ke meja yang berada tepat di luar ruangan Edo.

__ADS_1


__ADS_2