Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 17


__ADS_3

Pukul 9 pagi. Lea dan Edo masih belum keluar dari kamar hotel nya.


Eva yang sudah menunggu mereka bangun tampak tidak sabaran.


Di dalam kamar itu, Edo dan Lea belum menunjukkan tanda tanda akan segera bangun.


Lea tampak nyaman tidur di dalam pelukan Edo.


Beberapa menit kemudian, Lea mulai melenguh. Seperti nya wanita itu akan segera terbangun.


"Engg...."


Pergerakan itu terhenti, seperti nya Lea mulai merasakan hal aneh. Ada sesuatu yang menahan perut nya, dan juga hembusan hangat di permukaan kulit lehernya.


Perlahan, namun pasti. Lea mulai membuka matanya.


1.


2.


3.


"Aaaaaaa!!!!!"


Teriakan melengking seketika itu menggema di dalam kamar. Beruntung ruangan itu di rancang kedap suara. Jadi, orang orang luar tidak akan mendengar teriakan Lea.


Bug.


Lea menendang kuat tubuh Edo, hingg membuat pria itu terjungkal ke lantai.


"Aw.."


Lea menarik seluruh selimut, menyelimuti tubuhnya yang ternyata tidak memakai apapun.


"Astaga, bagaimana ini bisa terjadi?" pikirnya panik.


Sementara itu, Edo yang masih belum terlalu sadar terduduk di lantai. Mencerna atas apa yang baru saja terjadi.


Pria itu tidak sadar jika tubuhnya sama seperti Lea, tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Lea, kamu kenapa menendang ku?" tanya Edo heran.


Dia berdiri di samping ranjang, mengekspos seluruh bagian tubuhnya di hadapan Lea.


"Aduh kak, kenapa berdiri di depan ku??? pakai baju mu!" seru Lea sambil menutup wajahnya.


"Huh?"


Edo terkejut, dia langsung menunduk ke bawah melihat tubuhnya.


Alang kepalang Edo sangat kaget dan langsung menyilang kan kedua tangannya untuk menutupi tubuh bagian atas dan bawahnya. Apalagi di bagian senjata tempur.


"Ada apa ini?" tanya Edo gugup.


Dia tidak pernah merasa semalu ini. Sebelum sebelum nya, Edo merasa sangat bangga memamerkan lekuk tubuh nya yang sangat di idamkan oleh setiap wanita.


Namun, ketika di hadapan Lea dan dalam situasi seperti ini. Edo merasa sangat malu.


Dia berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Tidak lupa, dia juga menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Edo keluar dengan menggunakan handuk melilit di pinggang nya.


Di lihatnya Lea sudah mengenakan pakaian nya kembali.

__ADS_1


"UMM... Koper ku di mana?" tanya Edo canggung.


Lea tidak menjawab, dia hanya menunjuk ke sudut kamar tempat koper mereka tersusun.


Setelah mengenakan pakaian nya, Edo kembali mendekati Lea.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, dia memejamkan matanya seperti menahan sesuatu.


"Kamu baik baik saja?" tanya Edo khawatir.


"Aku baik baik saja"


Edo tidak percaya, dia yakin Lea kenapa kenapa. Terbukti saat Lea mencoba berdiri dan ingin melangkahkan kakinya.


"AwS ...."


"Lea!"


Dengan sigap Edo menangkap tubuh Lea yang hampir tumbang.


"Kamu beneran gak papa?" tanya Edo lagi.


",Aku gak tahu kak, ************ ku sakit banget, perih dan ngilu" gumamnya.


Edo terdiam sejenak, kilasan kejadian semalam melintas di benaknya.


"Lea, apa kamu tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain?"


Plak!


Secara spontan Lea langsung melayangkan tamparan ke wajah Edo.


"Kamu pikir aku ini wanita apa huh? bagaimana mungkin aku melakukan hubungan intim dengan pria yang bukan suami ku! Gila kamu!" ketus Lea marah.


Deg.


"Apa?"


Tubuh Lea terasa kaku, ucapan Edo bagaikan petir yang Barus saja menyambar.


"Maafkan aku Lea, tapi itulah yang terjadi semalam. Entah apa yang terjadi, kita berdua sangat bergairah.


"Ja-jadi, kita melakukan nya?"


Mata Lea mulai berkaca kaca, dia mulai takut dan sedih.


Edo tidak mencintainya, tapi mereka telah melakukan sesuatu yang memang sudah kewajiban bagi Lea memberikan pada Edo.


Namun, situasi mereka masih tidak memungkinkan untuk melakukan nya.


Sekarang, semua sudah terjadi. Mereka telah menyatu menjadi satu dengan hati yang bertolak belakang.


"Maaf Lea, aku benar benar tidak sadar. Seperti nya mami telah menjebak kita"


"Lea, kamu tenang saja. Aku tidak akan meninggalkan mu. Meskipun kita tidak saling mencintai, aku tidak akan menceraikan mu. Aku akan menjadikan mu istri satu satunya dalam hidup ku. "


Mendengar ucapan Edo, membuat Lea semakin sedih. Tangisnya langsung pecah, membuat Edo semakin panik.


"Sest... Lea tenang lah, jangan menangis. Tidak akan terjadi apa apa" bujuk Edo.


Lea bukan menangis karena telah di perawani oleh suaminya sendiri. Namun, mengingat suaminya tidak akan mencintai nya. Dia akan hidup tanpa cinta.


"Hiks...Hiks..."

__ADS_1


"Sudah yah, jangan menangis"


"Sekarang, ayo kita bersihkan tubuh mu. Rasa sakit itu akan hilang ketika kamu berendam air hangat" bujuk Edo.


Lea tidak menggubris, dia masih betah dalam tangisnya. Lama kelamaan,tangis Lea pun mereda. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Karena sangat perih, Lea membiarkan Edo menggendongnya hingga ke kamar mandi.


Setelah meletakkan Lea ke dalam bathtub, Edo langsung menginginkannya dengan air hangat.


"Berendam lah, nanti jika sudah selesai, panggil saja aku" ujar Edo. Lea tidak menjawab, dia hanya diam saja.


Setelah Edo keluar dan menutup pintu. Barulah Lea kembali menangis.


Lea tidak marah jika Edo menjadi yang pertama melakukan itu dengannya.


Namun, Lea merasa sedih karena mereka melakukan nya tanpa sadar. Tidak atas kemauan sendiri.


"Hiks...Hiks... Kenapa bisa terjadi??" lirihnya di sela sela tangis.


Edo keluar dari kamar hotel, mencari keberadaan mami nya.


Di balkon Resort, Edo melihat mami nya tengah duduk sambil menikmati teh.


"Mami!"


Eva menoleh, dia tersenyum senang pada putranya.


"Kamu sudah bangun? di mana kea?"


Edo tidak menggubris, dia hanya menatap maminya dengan tatapan tidak percaya. Bisa bisa nya mami Eva mencampurkan minuman mereka dengan obat perangsang.


"Mami, kenapa mami lakukan hal itu?"


"Melakukan apa? Edo kamu bicara apa?"


Edo menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya secara kasar melihat sikap mami nya yang berpura pura tidak melakukan apapun.


"Udah mi, tidak usah berpura pura lagi. Aku tahu mami sengaja memberi aku dan Lea obat perangsang kan!" tekan Edo.


"Yah, ketahuan deh" gumam Eva polos. Raut wajah nya yang semula bingung, berubah menjadi senang dan bahagia.


"Jadi bagaimana, apa kalian sudah melakukan nya??"


"Mami....." rengek Edo frustasi.


"Kenapa? mami melakukan semua ini untuk kalian. Mami tahu kalian tidak akan melakukan nya dengan suka rela."


"Tapi Mi, Lea butuh waktu uny menerima Edo mi."


"Menerima? Lea? apa kamu tidak salah berbicara? harusnya kata kata itu di tujukan untuk kamu!" balas Eva membalikkan ucapan Edo.


"Kamu yang masih belum bisa membuka hati kamu untuk Lea. Tapi, kamu malah membalikkan fakta nya!"


"Iya tapi mi"


"Udah lah Edo, Sekarang kalian sudah sepenuhnya menjadi suami istri. Mami harap kamu bisa bijak dalam bertindak. Belajar lah untuk menerima wanita yang ada di samping kamu.!"


Setelah mengatakan hal itu, eva pun pergi begitu saja meninggalkan Edo.


"Huh, dasar nenek tua" dengus Edo kesal.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2