
"Ken turun dulu mami" Ken meraih tangan maminya untuk mencium punggung tangan.
Lea tersenyum, di mengusap kepala putranya penuh kasih sayang.
"Nanti, kakek akan menjemput mu. Mami akan lembur hari ini, supaya besok mami bisa menghadiri acara perpisahan kamu"
"Iya mami"
"Dah.."
Ken turun dari dalam mobil, kemudian melambaikan tangan kearah mobil mami nya yang sudah melaju.
Setelah merasa tak melihat mobil mami nya lagi, Ken pun berbalik dan melangkah memasuki pekarangan sekolah.
"Hai Ken"
Ken menoleh, kemudian tersenyum tipis membalas sapaan teman sekelasnya.
"Pagi pagi wajah kamu sudah murung aja" gumam Sopian mengiringi langkah kaki Ken.
"Aku mau ke kelas" dengan wajah masam nya, Ken mempercepat langkah nya meninggalkan Sopian.
Ken bukan lah tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadinya kepada orang lain. Dia tidak suka apa bila seseorang mempertanyakan apa masalahnya seperti Sopian tadi.
Ken tahu, Sopian penasaran dengan kehidupan Ken.
Ken masuk ke dalam kelas, baru saja duduk di meja nya. Ken sudah merasa risih dengan pembicaraan teman teman nya.
"Hey, apa Dady mu akan pulang dari luar negeri untuk menghadiri acara perpisahan kita?"
"Tentu" jawab seorang gadis dengan ekspresi bangga nya.
"Ayah ku juga akan datang!" sahut siswa yang lain. Mereka mulai membicarakan ayah mereka.
"Memangnya, ayah dan ibu mana yang tidak akan datang di acara penting anak nya!" ucap seseorang. Dia adalah Micel, saingan Ken dalam belajar.
Micel sengaja berkata seperti untuk menyindir Ken. Dia tahu, dalam acara apapun ayah Ken tidak pernah muncul.
"Iya kan Ken? semua ayah pasti akan hadir kan? atau... ayah mu tidak ada!" Micel tersenyum kecut, menatap Ken yang juga menatap marah padanya.
Melihat Ken ditindas, Sopian langsung membantunya.
"Heh Micel, kamu itu apa apaan sih. Gak boleh ngomong kaya gitu!" serga Sopian.
"Wah, banci seperti kamu mau belain si anak haram ini ya"
"Micel!" bentak Ken. Dia tidak bisa menahannya lagi, ini sudah sangat keterlaluan.
Melihat reaksi Ken, Micel semakin bersemangat.
"Kenapa? apa kamu ingin menyangkal nya? kalau begitu, tunjukkan pada kami, siapa ayah mu!"
Deg.
Ken terdiam seribu bahasa, bagaimana dia akan menunjukkan pada teman temannya, siapa ayah kandungnya.
Jangankan muka nya, nama nya saja Ken tidak tahu.
__ADS_1
"Udah lah Micel, kita ini akan lulus. Kenapa kita seperti ini!"
Bruk.
Dengan dorongan keras, Micel membuat Sopian terjatuh ke lantai.
"Aku tidak suka, ada yang ikut campur dalam urusan ku!" ucap nya terdengar mengancam.
Sopian yang memang lemah dalam bela diri, hanya bisa menunduk diam.
Sopian kembali menatap kearah Ken, senyum miring tercetak di bibirnya pertanda sedang meremehkan Ken.
"Bagaimana Ken, apa kamu bisa?"
Ken tidak menjawab, dia melirik semua teman teman sekelasnya yang menonton perdebatan mereka.
"Udah lah Ken, kalau kamu gak anak haram, ajak aja papy kamu ke acara kita besok. Lagian kita juga penasaran dengan wajah papa kamu."
"Benar Ken"
"Dengar gak. Mereka semua menunggu kedatangan ayah kamu.. Itu pun jika ada" ucap Micel menyindir di akhir kalimatnya.
Kedua tangan Ken mengepal kuat, emosi nya benar benar tidak bisa dia tahan lagi.
Micel tersenyum puas, melihat wajah Ken memerah menahan emosi.
"Yuk cabut!" seru Micel pada teman teman nya.
"Tunggu,.." Seru Ken, membuat Micel berhenti tepat bang pintu.
"Lihat saja, Dady ku pasti akan datang!"
"Jaga ucapan mu, jangan Samapi menyesal!" peringat Ken tegas.
Micel tidak menyahut lagi, dia pergi bersama teman temannya dengan senyum kemenangan. Dia yakin akan menang besok.
Micel merupakan anak dari seorang manager yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Lea.
Sedikit banyaknya, Micel tahu bahwa mami Ken adalah seorang janda. Dia juga pernah mendengar bahwa mami nya sejak awal tinggal di sini dan hamil muda sudah janda. Ada kemungkinan Ken merupakan anak haram.
"Lihat kemenangan ku besok Ken" batin nya.
Sopian terkejut dengan apa yang barusa saja Ken lakukan.
"Ken, apa kamu yakin menerima tantangan Micel?" tanya Sopian.
"Diam lah, jangan ikut campur dengan urusan ku!" ketus Ken sebelum dia berlalu pergi.
"Huh.. Ken, kamu harusnya tidak melakukan semua ini!!" gumam nya frustasi.
Ken keluar dari sekolah setelah menyelesaikan semua gladi resik acara.
Entah kemana dia akan pergi, Ken tidak memiliki tujuan. Jadwal pulang juga masih lama.
*Bagaimana ini, aku tidak mungkin membawa Dady ke acara perpisahan ku.
Huh, Ken..... kenapa kamu bodoh banget sih, kenapa kamu harus terpancing oleh bocah tengil itu*.
__ADS_1
Ken memukul mukul kepalanya sendiri, merasa bodoh telah menerima tantangan Micel. Sekarang, barulah dia sadar. Semua ini hanya akan membuat dirinya dan keluarganya malu.
Ken terus berjalan, dia sampai tidak sadar kalau dirinya sudah melewati pembatas jalan. Hingga tanpa dia sadari sebuah mobil melaju dan..
Teettt........
Stretttt..
Bug.
Ken merasa tubuhnya tertarik oleh sesuatu, kemudian Ken mendapati tubuhnya sudah terbaring di trotoar.
"Ken, kamu tidak apa apa?"
Ken langsung membuka mata, wajah Edo terpampang jelas di matanya.
"Om.." Ken melihat ke sekitar, dia baru sadar jika dia hampir saja di tabrak mobil.
"Kamu tidak apa apa?" Edo membantu Ken duduk, kemudian mengangkatnya ke bangku yang tak jauh dari sana.
"Tunggu di sini, om akan mencari minum untuk kamu!" ucap Edo berlalu pergi.
Ken hanya bis mengangguk dan melihat kepergian Edo, lalu beberapa menit kemudian dia kembali lagi.
"Ini minum lah"
Ken menerima air mineral itu, kemudian meneguknya sampai setengah botol.
"Makasih" lirih Ken tertunduk.
"Sama sama... Kamu kenapa sih Ken, jalan kaya orang tanpa jiwa. Untung om cepat lihat dan sempat nolongin kamu. Kalo gak, mungkin kamu sudah tewas!" ucap Edo mengomel.
Edo menghela nafas, dia ikut duduk di samping Ken dan memeluk Ken yang masih menunduk dari Samping.
Edo terkesiap, dia menarik dagu Ken saat merasakan bahu Ken bergetar.
"Kamu menangis?"
Ken menepis tangan Edo, merasa malu ketahuan menangis.
"Tidak, aku tidak menangis" sangkal Ken.
Dia berusaha menahan air matanya, agar tidak mengalir keluar. Tapi, mau bagaimana lagi. Rasa sakit di hatinya kian terasa dan membuat dirinya ingin menangis.
"Maafkan aku" Ken memalingkan wajahnya, agar Edo tidak melihat dia menangis.
*Apa yang membuat Ken sesedih ini? apa ada seseorang yang menyakiti dirinya?
tidak, aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Ken, aku akan selalu ada untuk mu. Putraku*.
Edo menarik dagu Ken, mengharapkan wajah Ken kearahnya.
"Jangan menangis, kendalikan dirimu. Dasar cengeng. Anak laki laki tidak boleh menangis!" omel nya sambil menghapus air mata Ken.
"Aku tidak menangis, tapi air mata ku mengalir sendiri" balas Ken yang juga heran. Ini pertama kalinya dia menangis di depan orang lain.
"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, ikut aku saja" ucap Edo menarik tangan Ken ikut bersamanya.
__ADS_1
"Om mau bawa aku kemana?" rengek Ken terpaksa mengikuti Edo.