Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 31


__ADS_3

Pagi yang cerah, sangat sangat cerah. Seperti biasanya, Lea merapikan apartemen, membereskan kamarnya dan juga kamar Edo. Meskipun kamar itu masih rapi seperti terakhir kali dia rapikan. Namun, Lea tetap saja kembali merapikan kamar Edo memastikan tidak ada debu di sana.


Setelah selesai merapikan seluruh ruangan Apartemen, Lea pun memutuskan untuk memasak sarapan.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, biasanya Edo akan segera bangun dan sarapan bersama dengan nya. Tapi..


Tangan Lea terhenti, dia tidak sanggup memotong bawang. Ingatannya tentang foto yang diva kirimkan tadi malam membuat hatinya terasa sakit.


Tidak sanggup berdiri lagi, Lea berjongkok dengan pisau masih di tangannya. Menutup mulutnya dengan lengan sebelah kanan, takut takut ada yang mendengar tangisnya.


"Kak, kenapa??? kenapa kakak lakukan semua ini? kenapa kakak mengingkari janji kakak padaku. Kenapa kakak berbohong padaku!"


Hikss.... Hikss....


Tit. tit. tit..


Ceklek.


Lea segera menghapus air matanya, ketika mendengar suara pin pintu di tekan. Seperti nya Edo sudah pulang.


wanita itu kembali berdiri, melanjutkan aktivitas. Bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa.


Dari ekor matanya, Lea dapat melihat Edo berjalan lurus masuk ke dalam kamar.


Fyu..


Dengan segera, Lea menyelesaikan masakannya. Lalu, dia menghidangkan nya di atas meja makan.


Cukup lama Lea menunggu Edo keluar, setelah 30 menit kemudian barulah pria itu keluar.


"Sara-"


Ucapan Lea terhenti, Edo melewatinya begitu saja. Seolah olah dia tidak melihat keberadaan Lea.


Edo duduk di meja makan, mengambil gelas, meneguk segelas penuh.


Saat dia hendak beranjak, Lea cepat cepat menahan lengan nya.


"Makan lah dulu, setidaknya sedikit saja"


"Lepas!"


Lea terhenyak di lantai, Edo menghempaskan tangan nya.


"Jika kamu mau makan, makan saja. Atau makan bersama pria yang bersama mu kemarin!"


Deg


Lea segera bangkit, pria yang mana Edo maksud. Tidak ada pria lain selain Edo di hatinya. Tapi, mengapa suaminya malah berkata seperti itu.


"Kak, apa maksud ucapan mu?"


"Sudah lah, jangan sok lugu. Aku tidak akan tertipu lagi dengan wajah polos dan cupu mu itu"


"Aku sudah tahu semuanya, kamu ingin aku menikah dengan Diva kan? agar kamu bisa bersama pria itu?"

__ADS_1


Lea menggeleng kuat, apa yang Edo tuduhkan sama sekali tidak benar.


Mata Lea terbelalak saat Edo memperlihatkan foto dirinya dan Raihan kemarin.


Baru dia ingat, Diva mengambil foto mereka kemarin. Ternyata dia benar benar mengirimnya pada Edo.


"Kak, itu fitnah. Raihan itu-"


"Oh, nama nya Raihan?" potong Edo dengan suara dingin.


Lea menggeleng kuat, menyangkal apa yang suaminya tuduhkan.


Situasi sangat tidak terkendali, seharusnya dia yang menyudutkan suaminya karena semalam bersama dengan wanita itu.


Wanita yang mengandung benih nya, apalagi Edo sempat menyangkalnya dan mengakui bahwa dia hanya menginginkan Lea.


Buktinya? Edo tetap menemui wanita itu dan menghabiskan malam yang panjang bersama wanita itu.


"Baik! jika kakak menuduhku dan berpikir aku melakukan hal keji itu. Tidak apa..."


"Menuduh?" Edo berdecak tidak percaya.


"Kamu mengatakan ini tuduhan? hei Lea, wajah polos mu ini tidak dapat menutupi sifat jelek mu. Berselingkuh dengan pria lain di belakang ku"


"Lalu, apa yang kamu lakukan kak? bahkan kami memiliki anak bersama wanita rendah itu"


"Cukup Lea! itu hanya kecelakaan!" bantah Edo dengan suara tinggi.


Mendengar bentakan Edo yang begitu keras dan seakan menekan hatinya. Lea tersenyum getir, air matanya mengalir begitu deras.


Apalagi yang dia harapkan, suaminya tidak mempercayainya. Bahkan dia melakukan apa yang sudah dia janjikan.


Lea menghapus kasar air matanya, berusaha terlihat kuat di hadapan Edo.


"Lagi pula, kakak tidak menyukai ku. Kita hanya berteman, dan kakak sudah memiliki wanita yang mengandung anak mu. Jadi, apa salahnya aku bersama pria lain. Aku juga harus mencari seseorang untuk menerimaku setelah kamu dan wanita mu bersama"


Setelah berbicara panjang lebar, Lea pun berlalu dari hadapan Edo. Masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu.


Edo menatap nanar pintu kamar Lea yang sudah tertutup rapat. Di dalam hatinya, Edo juga merasakan sakit. Dia tidak bisa menerima Lea bersama dengan pria lain.


Di balik pintu kamarnya, barulah Lea merosot dan terduduk di lantai.


Menangis tanpa suara, Lea merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.


Edo tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Dia lebih mendengar Diva di bandingkan dirinya.


"Jahat, kenapa kakak begitu jahat padaku?"


Ting tong...


Edo tersentak, suara bel menariknya kembali ke dunia nyata.


"Siapa yang bertam" pikirnya. Dengan pikiran bertanya tanya, Edo melangkah menuju ke pintu dan membukanya.


"Edo, ya ampun kamu lama banget buka pintu nya"

__ADS_1


"Eh apaan sih" Edo mendorong Diva yang tiba-tiba berhamburan ke pelukan nya.


"Ihh Edo sayang, kamu kok mendorong aku sih. Kalau bayi kita kenapa kenapa gimana?" ucap Div manja.


Edo tidak menggubrisnya, dia hanya menatap Diva datar.


Tanpa permisi, diva langsung menyelonong masuk ke dalam rumah.


"Wah, apartemen kamu luas juga yah. tinggal bersama sepertinya tidak akan sempit.


Ceklek


Lea keluar dari kamar, matanya menangkap sosok wanita yang sangat menjijikan di hatinya.


Edo menatap Lea, menunggu reaksi Lea saat melihat Diva ada di apartemen mereka.


Seharusnya Lea marah, tapi lihat lah. Wanita itu terlihat biasa saja. Apa karena ucapan Edo yang terlalu kasar?


Ah tidak mungkin, dirinya jauh lebih kasar waktu di awal dulu.


Lalu, mengapa dia terlihat bisa saja? apa dia memberi ijin jika Diva main ke sini.


"Jika ingin berbuat dosa, silahkan cari tempat lain. Jangan jadikan tempat suci ini jadi tempat maksiat!" sindir Lea sambil berjalan menuju ke meja makan.


"Apa maksud kamu huh!" Diva tidak terima dengan ucapan Lea, dia berharap Edo membelanya.


Mengingat di awal pernikahan mereka,Edo pernah memperkenalkan Lea sebagai art.


Diva merasa hubungan Edo dan Lea berawal dari paksaan. Jadi, dia kan sangat mudah menghancurkan mereka.


"Jika tidak ada kepentingan, lebih baik pergi dari sini. Ini rumah aku dan suami ku, tidak ada hak pelakor atau wanita penggoda di sini" Usir Lea dengan sindiran pedas. Membuat Diva semakin naik pitam.


Sementara Lea, setelah berkata malah asik memakan nasi goreng buatannya tadi.


"Edo, lihatlah. Dia menghina ku. Apa kamu tidak akan memberinya pelajaran? dia menghina anak mu juga !"


"Sudah lah, kamu tunggu di luar. Aku akan segera keluar" seru Edo datar.


Mendengar itu, Lea merasa menang. Tersenyum miring sambil menyuruh Diva keluar dengan gerakan tangannya.


"Awas saja kau!!" Diva menghentakkan kakinya keluar dari apartemen Lea dan Edo. Di dalam hatinya, dia tidak akan melupakan penghinaan ini. Dia semakin bertekad untuk menghancurkan rumah tangga mereka.


"Lihat saja nanti" batin Diva.


Cukup lama Diva menunggu Edo di luar, akhirnya pria itu keluar juga.


"Akhirnya kamu keluar juga" rengek Diva manja.


"Kamu apa apaan sih. Aku sudah bilang jangan ke apartemen ku!" bentak Edo.


Diva terdiam, dia berpikir dengan sikap Edo yang diam saja di depan Lea tadi, Edo sudah menerimanya sebagai ibu dari anak nya. Ternyata pria ini malah semakin dingin dan kasar.


"Aku ingin berada di dekat mu,apa kamu tidak tahu terimakasih? aku sudah membantu mu dari mabuk di bar, membawa mu dan merawat mu.! bahkan istri mu tidak mau melakukan nya!"


"Kau sudah gila ha? jangan membawa bawa istri ku dalam hal ini. Aku membiarkan mu mendekati Ku hanya karena bayi yang tidak jelas itu!. jika tidak, akan ku pastikan kau lenyap dari muka bumi ini!"

__ADS_1


Diva terkesiap, dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ucapan Edo terdengar serius dan dia juga yakin itu akan terjadi pada dirinya karena dia mengenal Edo sudah lama.


"Maaf" lirih Diva.


__ADS_2