
Lea dan Edo sampai di apartemen. Mereka berdua masuk ke dalam kamar masing-masing. Lalu kemudian keluar lagi setelah 10 menit kemudian.
Edo sudah fress dengan pakaian rumahnya. Begitu juga dengan Lea yang sudah fress selesai mandi dengan pakaian santai.
Mereka berdua duduk di sofa, jarak keduanya sekitar 30cm.
"Kak, aku ingin membicarakan soal wanita itu"
"Silahkan"
Lea memberi jeda pembicaraan nya,menarik nafas dalam, baru setelahnya dia menoleh kesamping untuk menatap Edo.
"Apa rencana mu soal wanita hamil itu?"
"Tidak ada" singkat padat dan jelas. Jawaban Edo membuat Lea kehabisan akal.
"apa yang kamu pikirkan, dia itu mengandung anak mu"
"Aku tahu, lalu?"
"Lalu apa ?" Sahut Lea mengulang ucapan Edo. Dia benar benar tidak mengerti dengan pola pikiran pria ini.
Bagaimana dia bisa sesantai ini, wanita asing itu sedang mengandung anak nya.
"Apa yang ingin kau dengar Lea? Apa aku harus menikahinya?"
Deg
Pernyataan apa ini, pernyataan yang sangat menyakitkan. Namun, Lea sudah membuat keputusan, dia juga tidak bisa membuat bayi itu hidup tanpa ayah.
"Kak, seandainya anak itu sudah lahir. Apa kakak tega dia hidup tanpa ayah?"
"Aku ayah nya, jika itu terbukti" sambung nya lagi.
Lea tertegun, apa yang pria ini maksud. apa dia meragukan wanita itu?
Melihat kebingungan Lea, Edo pun membuka suaran. Dia akan menjelaskan satu persatu.
"Aku akan melakukan test DNA setelah usia kandungannya besar, lalu aku akan mengetahui siapa ayah anak itu."
Mendengar penjelasan itu Lea langsung terdiam. Apa ini, tidak kah itu terlalu berlebihan?
"Kak, aku tidak setuju. Lebih baik biarkan saja bayi itu lahir, baru setelah itu lakukan test" bantah Lea tidak setuju.
"Kak, bayi tidak salah. Jangan sakiti dia. Biarkan dia berkembang dengan sangat baik di dalam kandungan ibunya" sambung Lea lagi.
Edo menarik nafas dalam, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar.
"Kak. "Panggil Lea lirih.
Mendengar panggilan Lea, Edo pun menoleh. Matanya terlihat sayu menatap Lea.
"Jika seandainya bayi itu terbukti darah daging kakak, maka aku ingin kakak menikahi Diva"
__ADS_1
"Apa!"
Lea terkejut, Edo tiba-tiba langsung berdiri dan menatapnya tajam.
"Kak, kenapa berteriak begitu. Aku jadi terkejut" ujar Lea ikut berdiri.
"Kamu gila yah, aku tidak mungkin menikahi Diva. Aku hanya ingin kamu yang menjadi istri ku. Aku tidak akan pernah menikahi Diva!"
"Tapi kak, dia ibu dari anak mu. Aku ingin kakak menikahinya dan ceraikan aku"
Prang!
Seketika kaca vas bunga di atas meja melayang menghantam dinding. Serpihan kaca terlihat mengkilat di lantai.
"Kak..." Lea menutup mulutnya, Edo terlihat sangat marah.
"Sudah cukup Lea, jangan pernah membahas ini lagi. Aku akan bertanggung jawab pada bayi itu. Tapi aku, tidak akan melepaskan mu. Apalagi menikahi Diva"
Tanpa menunggu jawaban Lea, Edo pergi begitu saja. Dia masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu dengan hempasan kuat.
Brak.
Lea menutup mata, merasakan denduman kuat dari suara pintu.
Terasa lemas, tubuh Lea pun ambruk di lantai, menyandar pada sofa yang sejak tadi menjadi saksi bisu pertengkaran mereka.
"Hiks...Hiks... Maafkan aku kak, tapi aku harus melakukan ini. Aku tidak mau anak mu menderita. Aku juga tidak bisa menerima mu yang sudah memiliki anak dengan wanita lain"
Lea menangis di sana, meratapi kehidupan nya yang sudah hancur. Hati dan cintanya sudah hancur seperti vas bunga yang terbuat dari kaca itu.
Diva masuk ke sebuah cafe, celingak celinguk mencari seseorang yang sudah membuat janji dengan nya.
"Nona diva?" tanya seseorang menghampiri nya.
Diva mengangguk, dia menatap pria berjas hitam dengan seksama.
"Silahkan ikut saya, boss kami sudah menunggu Anada"
Sedikit ragu, diva pun akhirnya mengikuti pria berbaju hitam itu.
Diva di bawa ke sebuah meja yang terletak di sudut ruangan cafe.
"Duduk!" seru pria itu lagi.
Mau tidak mau Diva terpaksa mengikuti perintahnya. Ingin rasanya Diva menampar dan memakai pria itu. Namun, dia harus menahannya sampai dia bertemu dengan boss mereka.
"Mana boss mu, mengapa dia meminta ku bertemu, tapi dia malah terlambat!" Diva mendengus kesal.
"Aku di sini, kau tidak perlu cemas."
Diva mendongak, menatap wanita baru baya datang dan duduk di hadapan nya.
"Apa ini, mengapa wanita tua ini datang mencarinya?" Diva membatin.
__ADS_1
"Jangan banyak berpikir, aku datang ke sini ingin membuat kesepakatan"
"Kesepakatan apa?"
Eva membuka kaca matanya, menatap dingin pada wanita itu.
"Aku akan memberi mu sejumlah uang yang kamu inginkan. Tapi ada satu syarat nya"
"Apa yang sedang kau bicarakan?" seru Diva menatap Eva intens.
Di dalam benak nya, Diva berpikir keras. Siapa wanita ini, mengapa dia ingin memberinya uang yang banyak.
"Aku ingin kamu menjauhi Edo. Aku tidak ingin kau mengganggu rumah tangga nya!"
Diva tersenyum miring, ujung bibirnya terangkat sebelah. "Oh jadi kamu orang suruhan wanita murahan itu?"
Brak!
Eva menggebrak meja, dia tidak suka mendengar wanita ini menghina menantunya.
"Jaga ucapan mu, Lea adalah menantu ku. Jangan coba coba sembarangan bicara tentang dia"
Deg.
Menantu?? mata diva membulat besar. jika dia menyebut Lea menantunya. Itu berarti dia adalah ibu Edo?
Oh astaga, Diva sudah keterlaluan. Seharusnya dia bersikap baik dan mencuri hati wanita tua ini. Agar dia bisa lebih mudah untuk mendapatkan Edo.
"Maaf, apa anda adalah ibu Edo?" Diva mulai memelankan suaranya.
"cih. Apa sekarang kau ingin berkata lembut kepada ku?"
"Tidak Tante, aku tidak tahu jika Tante adalah ibu dari ayah calon anak ku"
Cih.
Eva kembali berdecih, ingin rasanya dia muntah di depan wajah wanita ini.
"Kamu wanita murahan, tidak pantas hamil anak dari Edo. Dan kamu jangan pernah berharap bisa bersama dengan putra ku"
"Kenapa Tante, aku hamil anak Edo. Kenapa aku tidak pantas menjadi pendamping Edo. Wanita yang tidak berguna saja Tante terima. Mengapa aku yang jauh lebih baik dari dia tidak bisa?"
Plak!
"Sekali lagi kau berani menghina menantu ku. Kau akan merasakan penyiksaan yang jauh lebih parah" ancam Eva serius.
Diva tidak berani bersuara lagi, mulutnya terkunci dengan satu tangannya memegangi pipi sebelah kanannya.
"Ini, kamu bebas ingin menulis nominal yang kamu inginkan. Tapi, ingat jauhi putra ku!"
Eva melempar selembar cek ke wajah Diva, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu respon apapun dari wanita itu.
Diva menahan geram, menatap kepergian Eva penuh dengan kebencian.
__ADS_1
"Lihat saja nanti, aku tidak akan menyerah begitu saja. Sejak awal Edo sudah menyukai diri ku. Dia tidak akan bisa menolak pesona ku. Karena dia sudah lama menikmati tubuh ku!" gumam Eva meremas lembaran cek yang tidak ada arti dimatanya.