
Pukul 5 subuh. Lea terbangun oleh suara Adzan. Dengan mata yang masih susah melek, wanita itu tetap memaksa dirinya untuk tetap bangun.
Whoaam...
Rasa kantuk masih menyelimutinya, setelah sholat subuh selesai. Lea berniat ingin kembali tidur.
Baru berbaring dan menarik selimut, Lea merasa ada yang memutar putar isi perut nya. Sehingga dia merasa sangat mual dan tidak bisa menahannya.
"Mmuapp.." Lea menutup mulutnya, kemudian berlari ke kamar mandi.
Wueekkk.... Wueekk.....
Entah apa yang telah terjadi, Lea merasa tidak ada salah makan kemarin, atau sebelumnya.
"Apa karena terlalu banyak makan semalam, makanya aku mual?"
Dengan gontai Lea kembali ke tempat tidur.Baru akan berbaring, lagi lagi dia merasa mual dan segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan cairan bening.
Begitulah aktivitas Lea pagi ini, dia sudah sangat lemas. Tidak kuat untuk melakukan apapun lagi. Lea hanya ingin berbaring dan tidur.
Pukul 8 pagi, barulah mual itu mereda.
Ting tong...
Lea membuka pelan matanya, suara bel membuat tidurnya terganggu.
Ting tong..
"Aduh, siapa sih. Kenapa pagi pagi mengganggu ku"
Dengan gontai, Lea turun dari atas tempat tidur. Lalu berjalan pelan dengan sisa tenaga yang dia miliki.
Ceklek.
"Siapa?"
"Lea.."
"Mami-"
Belum sempat selesai kalimat di ucapkan oleh wanita itu. Tapi, tubuhnya sudah lebih dulu ambruk.
Beruntung Eva dengan sigap menangkap tubuh lemas dan dingin Lea.
"Astaga Lea, kamu kenapa sayang?. Lea,!!"
Eva membopong Lea kembali ke tempat tidur. Tidak lupa dia menutup pintu.
"Lea, apa yang terjadi. Astaga, badan kamu panas sekali."
Eva segera mencari mangkuk dan handuk kecil. Mengisi mangkuk itu dengan air dingin yang ada di kulkas mini hotel.
Eva kembali mendekati menantunya, mengompres kening Lea agar panas nya segera turun.
"Lea, ada apa sih. Kenapa kamu jadi seperti ini"
Eva sangat khawatir, dia menghubungi dokter yang biasa melayani keluarga nya.
Setelah dokter datang, Eva langsung menyuruh dokter untuk memeriksa kondisi Lea.
"Apa yang terjadi dengan menantu saya dokter?"
"Nyonya Lea baik baik saja, ini hal biasa yang di alami oleh wanita hamil muda"
"huh?"
__ADS_1
Eva terkejut mendengar penjelasan sang dokter.
"Maaf Nyonya, apa anda tidak tahu jika nyonya Lea sedang hamil?"
Eva menggeleng, dia sama sekali tidak tahu. Entah Lea sudah tahu, atau dia juga tidak tahu.
"Usia kandungan nyonya Lea saat ini sudah masuk 6 Minggu"
"Lai, bagaimana kondisi janin nya dokter. Apa baik baik saja?"
"Tentu Bu, semuanya sehat. Nyonya Lea hanya butuh istirahat dan refreshing. Jangan beri dia terlalu banyak beban pikiran yah, karena itu akan mempengaruhi perkembangan janin"
"Baiklah dokter"
Dokter mengangguk pelan, kemudian sang dokter pun pamit pergi, setelah dia menuliskan obat yang sudah dia resep pada Eva.
"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu nyonya"
"oh baiklah, terimakasih dokter"
"Sama sama"
Eva mengantar dokter keluar, kemudian dia masuk lagi menghampiri Lea.
raut wajah Eva masih terlihat sangat terkejut. Antara senang dan khawatir.
",Engg..... Mami.. Apa yang terjadi?"
Eva mendekati Lea yang mulai sadar dan berusaha untuk duduk.
"Sayang, kamu jangan banyak gerak dulu. Mami tadi baru saja mengantar dokter setelah memeriksa kamu"
"Hah? mami memanggil dokter? memangnya aku kenapa mi? aku tadi hanya pusing saja" jawab Lea.
"Lea, sejak kapan kamu merasa pusing seperti ini?" tanya Eva serius.
"Pusing sudah dari beberapa hari belakangan ini mi. Tapi, baru pagi ini aku merasa sangat mual, dari jam 5 subuh hingga jam 8 tadi" jelas Lea lemah.
Eva langsung memeluk Lea, mendengar jawaban Lea seperti itu, membuat Eva yakin bahwa Lea tidak tahu bahwa dia sata ini sedang hamil.
"Mami kenapa?"
Eva melepaskan pelukan nya, lalu menatap Lea dengan tatapan bahagia.
"Nak, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Mami akan menjadi seorang nenek"
Deg.
Jantung Lea berdetak cepat mendengar perkataan maminya.
Otak nya terasa sedikit lemot mencerna beberapa kata itu.
"Sayang, kamu hamil."
"A.. Aku Ha-mil mi?"
"Iya sayang, kamu hamil. Mami sangat bahagia, makasih yah Lea. Kamu sudah memberi mami cucu"
Lea terdiam membisu. Bukan dia tidak merasa bahagia. Dia sangat bahagia. Tapi, bagaimana bisa dia hamil di saat dia sudah menjadi janda seperti ini.
Seketika tangis Lea pun pecah, mengingat bagaimana masa depan anak nya nanti.
"Loh, kenapa kamu menangis nak? kamu kenapa sedih?"
Lea tidak menjawab, dia semakin terisak di dalam pelukan maminya.
__ADS_1
...----------------...
Cling..
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Edo, dia terlihat acuh tapi tetap melihat isi pesan itu apa.
Brak!
Lagi dan lagi Edo merasa sangat emosi. Kenapa dia merasa sangat marah, ketika melihat Lea dan pria itu bersama.
Benar, pesan itu berisi sebuah foto yang memperlihatkan Lea dan Raihan tengah bersama keluar dari kamar hotel.
"Lea!!! Lea!! kenapa kamu terus mengganggu aku huh!"
Brak!!
Bruk!!
Edo melempar semua barang barang yang ada di sekitarnya. Menjadikan ruangan kerjanya yang semula rapi menjadi kapal pecah. Berantakan parah, dengan semua barang berserakan di mana mana.
Apa ini, apa dia cemburu?
tentu saja, Edo sangat cemburu pada Lea dan Raihan. Mereka bersama di saat Edo sudah mulai menyadari cintanya.
Namun, karena amarah dan gengsi,dia tidak bisa menunjukkan betapa dia sangat cemburu.
Bahkan alasan mengapa dia masih belum menandatangani surat perceraian itu adalah, karena dia tidak mau melepaskan Lea.
"Apa hebatnya pria itu, apa hebatnya dia di bandingkan aku!!!"
Ceklek.
"Permisi bos, ada yang ingin saya laporkan"
"Masuk!" titah Edo.
Pria berjas hitam dan kacamata hitam itu pun langsung melangkah masuk. Memberi hormat tepat ketika dia sudah berdiri di depan meja kerja Edo.
Ada rasa ngeri dan ngilu melihat kapal pecah itu. Mood Edo seperti nya sedang tidak baik baik saja,membuat pria itu sedikit berhati hati. Jangan sampai membuat sedikit kesalahan, maka dia akan menerim akibatnya. Semua amarah akan tumpah pada dirinya.
"Apa yang ingin kamu laporkan"
Pria itu tersentak dari lamunannya, di langsung mengeluarkan map biru dari dalam tas hitam yang dia jinjing tadi.
"Ini boss, data data sepupu yang Diva katakan itu. Kami sudah menyelidiki nya. Mereka ternyata tidak memiliki hubungan apapun. Memang mereka berasal dari kota yang sama. Orang yang berasal dari kota atau daerah yang sama apalagi memiliki suku yang sama, maka cenderung mengatakan mereka adalah bersaudara apabila berada di rantau. Jadi, kesimpulan nya merek menjadikan itu sebagai alasan kedekatan mereka. Beberapa kedekatan mereka juga terekam cctv. Ada seseorang yang membantu kami agar lebih mudah mencari kebenaran nya"
"Siapa?"
"Raihan! pria itu sedikit banyak mengetahui tentang semua ini. Seperti ny pria ini teman baik nyonya. "
"Tidak, tapi selingkuhan nya!" sela Edo ketus. Emosinya kembali bangkit setiap kali mengingat hubungan Raihan dan Lea.
"Tidak boss, nyonya tidak seperti itu."
Edo mendongak, baru kali anak buahnya berani membantah ucapan nya.
"Apa kamu sudah tidak setia lagi?"
"Maaf boss, tapi ini benar benar nyata. Dengan mendapatkan rekaman cctv itu.Kami mengetahui segalanya " lirih anak buah Edo dengan menundukkan kepalanya.
"Boss. lihatlah semua rekaman cctv itu. Anda akan mengetahui segalanya"
"Saya permisi boss"
Setelah memberi hormat, pria itu langsung berbalik pergi.
__ADS_1