Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 65


__ADS_3

Ke sana kemari, Lea berusaha mencari keberadaan putranya. Lea juga berusaha menghubungi ponsel Ken. Tapi ponselnya tidak aktif.


Kepanikan menguasai diri Lea, dia berlari masuk ke dalam sebuah mall yang biasa jadi tempat bermain bersama Ken.


"Kemana sih kamu Ken, mama khawatir.." gumam Lea panik, kepalanya celingak celinguk ke kiri dan kanan, kaki nya terus melangkah cepat.


Bruk!


Lea tidak memperhatikan jalan, sehingga Tampa sengaja dia menabrak seseorang.


"Maaf, maaf...." ucapan Lea terhenti, saat pupil matanya menangkap sosok yang sudah lama tidak dia temui.


"Kamu!"


"Mami" cicit Lea. Dia tidak menyangka akan bertemu Lea di kota ini.


Mengingat Edo juga ada di kota ini, tidak akan heran jika mami Eva juga ada di sini.


Lea menarik nafas, kemudian sedikit membungkukkan kepalnya untuk memberi hormat pada Eva. Setelah itu Lea pun memutuskan untuk pergi.


"Tunggu di sana!"


Mendengar seruan lantang Eva, Lea menghentikan langkahnya dan berbalik secara perlahan.


"Ada apa lagi mi, UMM... Maksud ku Tante" ralat Lea. Dia masih ingat, Eva mengusirnya dengan kata kata kasar dan tidak mengijinkan dirinya memanggil dengan panggilan mami.


"Aku ingin bicara!"


Eva berlalu melewati Lea. Berjalan kearah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Lea menuruti apa yang di inginkan oleh mantan ibu mertuanya ini. Dia duduk di hadapan Eva dengan tatapan mata datar.


"Apa lagi yang harus di bicarakan?" tanya Lea to the poin.


"Cih, melihat penampilan mu yang sekarang,a aku tidak akan heran dengan sikap mu berubah sombong" cibir Eva. Dia memperhatikan penampilan Lea dari atas hingga bawah.


"Jika hanya ingin mencela ku, lebih baik aku pergi!"


"Cih sangat angkuh. Aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa Edo sudah memiliki seorang anak. Dia sudah melakukan tes DNA."


Deg.


Jantung Lea berdetak cepat, Edo sudah tahu jika Ken adalah putranya? tidak, ini tidak aman. dia bisa saja membawa Ken kabur.


"Kenapa diam? apa kamu mulai menyesal, menggugurkan bayi mu?" ujar Eva nyinyir.


Lea menatap mantan mertuanya ini. Dia tidak menyangka, ternyata sisi buruk mertuanya sangat menjijikan.


"Aku sangat sibuk, tidak cukup waktu untuk mendengarkan omong kosong Tante. Jadi, aku pergi dulu!" ucap Lea berdiri dan berbalik pergi.


Namun, baru satu langkah dia pergi. Lea kembali berbalik, menatap Eva yang juga masih menatapnya.


"Aku tidak menyesal melakukannya, aku malah senang. Aku bahagia tidak menjadi ibu dari cucu mu."


"Lea!" serga Eva tidak terima.


"Permisi!"


Eva menahan Geraman, Lea berani berkata seperti itu kepada dirinya. Dia bahkan pergi setelah mengatakan hal itu.


"Dasar gadis desa!" dengus Eva meledek Lea.

__ADS_1


Entah mengapa Eva mengajak wanita itu berbicara dan berniat mengejek nya. Dia hanya ingin membuat Lea marah dan menyesal. Itu saja,Eva tidak memiliki niat lain.


Lea kembali mencari Edo dan Ken. Dia tidak mau anak nya di bawa oleh Edo. Tidak akan pernah, Lea tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Drrttt...


Saat sibuk mencari Ken dan Edo,Lea merasakan ada sebuah getaran di saku nya.


Lea melihat ke layar ponsel miliknya. Nama paman nya tertera jelas di sana.


"Paman" Lea segera menepikan mobilnya lalu menerima panggilan masuk dari paman.


"Hallo paman, ada apa?"


"Lea, Ken sudah pulang"


"Benarkah?"


"Iya, segera lah pulang. Dia menanyakan keberadaan mu"


Tiada kebahagiaan selain mendengar kabar ini. Lea pun memutar arah mobilnya, lalu melaju pulang.


Sesampainya di rumah, Ken menyambut maminya dengan kata maaf. Ken menceritakan semua yang terjadi di sekolah dan juga menjelaskan apa yang Edo lakukan untuk nya.


"Tolong jangan marah mami, om Edo hanya berusaha menghibur ku. Dia membuat aku lebih tenang setelah mendengar semua curhatan ku" mohon Ken memelas pada maminya agar tidak marah pada Edo.


Lea terdiam, tidak tahu ingin mengatakan apa pada putranya. Dia berpikir Edo akan mengatakan segalanya, tapi ternyata tidak.


Apa mungkin dia yang terlalu berpikir buruk terhadap pria itu?


Huff...


"Mami tidak marah sayang, mami hanya takut"


"Tenang mami, Ken tidak akan meninggalkan mami, itu janji Ken yang harus mami pegang dan percayai"


Lea mengangguk di bahu Ken, dia akan selalu mempercayai janji putranya,buah hatinya, cinta sejatinya, dan juga hidup matinya.


...----------------...


Acara besar dalam hidup Ken akan di mulai. Dia tidak tahu harus menghadapi teman temannya seperti apa nanti.


"Ken, ayo kita berangkat" ajak Lea yang sudah bersiap berangkat ke sekolah putranya.


"Sebentar mami!!" teriak Ken dari dalam. Dia masih berdiri di depan kaca, menatap pantulan dirinya yang sebentar lagi akan di permalukan oleh Marcel.


Sambil menunggu Ken keluar, Lea menghampiri paman dan bibi nya yang sudah siap di depan.


"Sudah siap bi, paman?" tanya Lea yang langsung diangguki dengan penuh semangat oleh kedua orang tua itu.


"Hari ini adalah hari yang sangat Ken tunggu. Aku akan bersiul dan bertepuk tangan menyambut cucu ku di panggung nanti" ujar Mina bersorak senang.


Lea dan Andey geleng kepala, mengingat apa yang mina lakukan di acara perpisahan Ken nanti. Seperti di acara ulang tahun sekolah, Ken mendapat juara satu perlombaan puisi dan juga memenangkan piagam murid teladan.


Dengan bangga Mina berdiri dan bersorak untuk Ken. Membuat Lea dan Andey menutup wajah menahan malu.


"Bibi, tolong yah. Jangan membuat malu yah. Ini acara penting!"


"Benar, seperti acara sebelumnya!" sahut Andey.


Mina cemberut kesal, keponakan dan suaminya tidak ada yang memihaknya.

__ADS_1


"Tenang saja nenek, jika aku mendapat juara nanti. Nenek harus bersiul dan bersorak untuk ku" ucap Ken menghampiri nenek nya.


Mina langsung tersenyum senang, dia menjulurkan lidah pada suami dan keponakan nya.


"Lihat, Ken mendukung ku" ucapnya penuh kebanggaan.


Lea menghela nafas, kemudian mengajak semuanya berangkat sebelum mereka terlambat.


"Ayo kita berangkat sekarang"


"Let's go!!!"


Di tempat lain, di waktu yang sama. Edo sedang pusing memilih baju apa yang akan dia kenakan untuk menghadiri acara Ken.


terlihat sudah banyak pakaian berserakan di atas ranjang. Namun, Edo masih belum menemukan baju yang cocok.


Eva masuk ke dalam kamar, dia terkejut melihat banyaknya pakaian teronggok di atas kasur.


"Astaga Edo, ada apa ini. Kenapa kamu mengeluarkan semua baju baju mu? apa kamu ingin pergi? sendirian? tanpa mengajak mami? terus, bagaimana dengan cucu ku???" seru Eva mulai panik.


"Aduh manis, stop! Edo gak akan kemana mana!" sentak Edo, membuat ev terdiam dan bingung.


"Lalu, untuk apa kamu melakukan semua ini?"


"Aku ingin menghadiri acara perpisahan putra ku!"


"Huh?" Eva kembali terkejut, otaknya berputar mencerna Kalimat yang baru saja di ucapkan oleh putranya.


"Maksud kamu? Ken perpisahan di sekolahnya?" tanya Eva memastikan.


Edo menghela nafas, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Jadi tolo-" ucapan Edo terhenti, maminya sudah pergi begitu saja.


"Huh, bukannya membantu aku memilih baju, mami malah pergi gitu aja. Menyebalkan" dengus Edo kembali mencoba mencocokkan baju mana yang pas dengan nya.


Setelah menemukan baju yang dirasa cocok. Edo pun langsung bergegas keluar dari kamar.


Kemeja krem, dengan dasi hitam corak bunga kecil kecil, dan di padukan dengan jas hitam. Membuat Edo terlihat sangat tampan.


"Wahh... Kamu sangat tampan" puji Eva.


Edo tersenyum bangga, lalu beberapa detik kemudian, senyum itu berubah dengan ekspresi terkejut.


Mami Eva sudah berdandan sangat cantik, persis seperti wanita yang ingin pergi ke kondangan.


"Mami mau kemana?" tanya Edo heran.


"Mau menghadiri acara perpisahan cucu ku lah. Mau kemana lagi!" jawab Eva tersenyum manis.


"Aku tidak mengajak mami, Ken hanya mengundang ku!"


"Tapi dia cucu ku, mengundang mu sama saja dia mengundang ku juga!"


"Aduh, jika mami pergi juga. Mami bisa tahu kalau Ken adalah putra Lea. Dia pasti akan mengamuk dan membuat acara berantakan"


Edo terus berpikir keras, dia tidak bisa menghancurkan acara putranya. Dia juga tidak bisa membiarkan Ken Tahu jika dirinya adalah ayah kandung Ken.


"Ayo kita berangkat, sebentar lagi kita akan terlambat!"


Edo tidak menolak, saat Eva menarik tangan putranya. Mereka pun segera pergi ke sekolah Ken. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Edo sudah pasrah.

__ADS_1


__ADS_2