
"Lea tunggu"
Edo meraih tangan Lea, dia tidak bisa membiarkan gadis ini terus menerus.
Kejadian kemarin harus segera di selesaikan, jika tidak maka mereka akan seperti ini terus.
"Ada apa kak?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke taman resort"
Edo menarik nafas mendengar alasan Lea. Sudah jelas dia ingin ke pantai, dia malah mengatakan ingin ke taman.
"Apa kamu yakin ke taman?"
Lea memperhatikan arah jalan nya, dia baru sadar bahwa jalan ke taman ada di belakang sana.
"Maksud ku, ke pantai" ralat Lea.
Edo masih menatap istrinya, menyusun kata kata yang ingin ia katakan.
merasa suaminya tidak ada keperluan apapun karena sejak tadi diam. Lea pun kembali melanjutkan langkahnya.
"Eh tunggu Lea!"
"Ada apa lagi kak? "
"Aku ingin ikut dengan mu!"
Mata Lea melebar, usahanya menghindari Edo malah hancur karena pria ini ikut dengan nya.
"Silahkan" balas Lea pasrah.
Mereka berjalan beriringan menuju ke tepi pantai. Menikmati hiruk pikuk angin sepoi-sepoi yang sesekali menerpa kulit wajah mereka.
Tidak ada yang memulai percakapan, keduanya membisu tanpa kata.
Edo melirik Lea, dia terus membuat ancang ancang ingin mengatakan sesuatu. Namun, selalu terhenti oleh suara orang ramai. Ada saja yang mengganggu dia berbicara.
"Lea!"
"Hm?" Lea berbalik, menatap Edo yang memanggilnya.
"Ada apa?"
"Hey, kenapa bengong?"
Lea mencolek lengan Edo sedikit, membuat pria itu tersentak sadar.
"Eh, maafkan aku. Aku hanya ingin minta maaf"
"Minta maaf?"
Edo mengangguk, dia merasa bersalah karena kejadian semalam. Puasa bicara dengan Lea membuat hatinya tidak tenang.
"Kenapa harus minta maaf? kamu suami ku kan. Wajah jika itu terjadi"
"Lagi pula itu ulah Mami, bukan di sengaja karena cinta" suara Lea terdengar pelan di ujung kalimatnya.
Sebenarnya Edo agak sedikit mengganjal dengan ucapan Lea. Tapi, dia adalah CEO kejam yang bodoh. Jika di hadapan klien atau di hadapan musuhnya dia terlihat menakutkan dan cerdas.
Tapi, di hadapan Lea dia malah terlihat bodoh dan lemah.
"Maaf Lea, aku tidak terkendali malam itu. Aku tidak bis menahan diri dan membuat semua ini terjadi"
__ADS_1
"Aku.."
"Sudah kak, aku sudah maafkan. Jangan di bahas lagi yah" potong Lea.
"Tapi Lea, aku tidak suka dan tidak nyaman karena kamu tidak berbicara dengan ku. Kamu menghindari ku. "
"Lea" suara Edo melembut, tangannya meraih kedua tangan Lea. menggenggamnya erat.
"Lea, kamu satu satunya teman yang bisa aku ajak bicara. Selama ini aku hanya sendiri. Aku menghadapi masalah ku sendiri, tekanan ku sendiri. Tapi, sejak ada kamu. Aku merasa memiliki seorang teman yang bisa mengerti aku. Aku mohon, jangan abaikan aku."
Wah, lihat lah semuanya. Edo si keras kepala itu sedang memohon pada istri nya.
"Aku salah Lea, tapi please jangan seperti ini"
Deg.
Bagaikan di sayat sembilu, Lea merasa hatinya tergores dan berdarah.
Teman? apa hanya kata itu yang pantas ia terima?
Yah, Lea sadar jika dirinya tidak cantik, tidak pintar dan tidak sempurna. Banyak kekurangan di dalam dirinya.
Tapi, bagaimana bisa dia akan menerima permintaan suaminya sendiri. Suami yang sudah lama dia inginkan.
Sejak kecil, Edo dan Lea telah bersama. Mereka bermain bersama dan tinggal bersama.
Di saat usia Edo 9 tahun, dan Lea 6 tahun. Mereka berdiri di tepi tebing, menghadap ke laut lepas.
"Le, jika suatu hari aku sukses m. Aku akan membawa mu melihat sunset bersama ku. Kita akan menikah dan hidup bersama. Apa kamu mau Lea?"
"Tentu saja mau" jawab gadis kecil dengan sangat antusias.
"Ini, kamu pakai lah ini. Kemarin aku membuka tabungan ku. Dan aku membeli kalung ini"
"Wahh... Cantik sekali"
"Sini aku bantu pakaikan"
Lea kecil mengangguk, lalu membelakangi Edo kecil untuk memasangkan kalung itu.
"Wahh, sangat indah" ungkap Lea kecil kagum.
"Ayo ambil foto"
"Ayo" sahut Lea kecil girang.
Edo kecil buru buru mengambil kamera dari dalam tas nya. Kemudian mengambil foto Selfi mereka berdua.
"Lea!"
"Eh..."
Lea tersentak, lamunannya tentang masa lalu nya buyar .
"Kamu mau kan maafin aku?"
"iya" jawab Lea singkat. Tangan nya memegang kalung kesayangan.
Edo melihat tangan Lea yang berada di leher nya. Dia penasaran, namun dia tidak ingin menanyakan sekarang.
Hari itu, perlahan suasana di antara Edo dan Lea mulai membaik. Mereka sudah mulai bercanda ria bersama.
Eva yang selalu memantau mereka pun ikut senang. Dia terlihat seperti seorang ibu yang over.
Kenapa? karena Eva ingin yang terbaik untuk putranya.
__ADS_1
Lea dan Edo duduk di tepi pantai. Menikmati suasana sore dan keramaian pantai yang terlihat mengasikkan.
"Eh ada jetski."
Edo menarik tangan Lea.
"Eh mau kemana?" teriak Lea kaget.
"Kita naik ini yok"
Lea menggeleng kuat. Dia tidak pernah menaiki itu. Dia juga tidak bisa berenang. Lea takut akan tenggelam jika berada di atas laut.
"Tidak apa apa. Aku akan menjaga mu" desak Edo sedikit memaksa
"Tidak terimakasih, aku tidak berminat" ujar Lea ingin kabur.
Namun, Edo menahan tangan Lea. memasangkan baju pelampung di badan kea.
"Dengan ini kamu tidak akan tenggelam"
"Ti-tidak. Aku tidak mau ikut"
Tidak bisa menolak ajakan Edo, Lea di angkat dan di dudukkan di atas jetski itu.
Lalu, Edo pun ikut naik dan mulai melakukan dengan kecepatan sedang.
"Akkk" teriak Lea ketakutan. Tangannya memeluk erat perut Edo.
cipratan air membuat Lea semakin takut dan tidak berani membuka matanya.
"Aaakkkk, aku tidak Kuta. Ayo bawa aku ke pinggir" mohon nya.
Lea benar benar ketakutan, meskipun tidak mereka saja yang sedang memainkan benda ini. Namun tetap saja dia sangat takut.
Edo memelankan kecepatan jetski nya. Dia menoleh ke belakang untuk melihat wajah ketakutan istri nya.
"Hei, tidak apa apa...Aku sudah memelankan kecepatan"
"Ayo buka mata mu dan lihatlah pemandangan indah ini"
"Aku tidak mau! antar aku ke tepi pantai" tolak Lea masih dengan mata tertutup.
Edo tersenyum, dia memegangi tangan Lea yang melingkar di perutnya.
"Hey, percayalah pada ku. Ini sangat indah dan akan membuat mu merasa lebih tenang. Ayo buka mata mu"
Lea mulai percaya, dia mencoba mengintip dengan membuka sedikit kelopak matanya.
"Wahhh....."
Pemandangan yang indah. Mereka yang saat ini berada sedikit lebih jauh dari tepi pantai. Membuat mereka bisa melihat keseluruhan area pantai.
"Indah kan?" tanya Edo memastikan
"Sangat sangat indah, aku baru kali ini melihat seperti ini"
"Sekarang, apa kamu percaya dengan ucapan ku?"
Lea tidak membalas, dia fokus melihat pemandangan yang indah.
Dari posisi mereka saat ini, mereka juga dapat melihat pulau yang terlihat kecil dari sana.
Angin pantai menyapa kulit wajah Lea. Hal ini semakin membuat hatinya semakin terasa lebih tenang.
Perlahan, Edo kembali menjalankan jetski nya. Membiarkan Lea menikmati pemandangan indah dan membuat hati istri sekaligus teman nya ini bahagia.
__ADS_1
"Ini pertama kali nya aku datang ke sini"