
Ada apa, mengapa Mami nya sangat menyayangi Lea. Apa karena Lea pernah menolong mami nya? Atau karena Lea pintar mencari muka?.
Edo mondar mandir di dalam kamar nya sendiri. Dia masih memikirkan apa yang menyebabkan maminya sangat menyayangi Lea.
Gadis cupu yang membuat hidup nya terasa berantakan.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Edo di kejutkan oleh suara ketukan di pintu kamarnya.
Tok tok.
"Edo. Keluarlah, mami mau bicara sama kamu"
Terdengar suara mami nya berteriak di depan pintu kamarnya. Edo segera membuka pintu, menghampiri maminya yang langsung menarik tangan putra nya menuju ke ruang tamu.
"Duduk!" Seru Eva.
Dengan patuh, Edo duduk di samping Lea yang juga sudah duduk di sana.
Edo melirik istri nya sebentar, lalu kembali menatap mami nya untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa Mi, kenapa manggil Edo ke sini?"
Suasana terasa menegangkan bagi Lea, dia tidak tahu bagaimana reaksi Edo ketika mami mertuanya akan membahas soal malam pertama.
"Kamu ini benar benar yah, bukan nya menghargai Lea sebagai istri. Kamu malah menyia nyiakan dia!" Omel Eva menunjuk marah pada Edo.
"Maksud mami apa, Edo gak ngerti. "
"Udah deh, gak usah berkelit kamu Edo. Mami sudah tahu semuanya!" Bantah Eva, membuat Edo semakin bingung.
Entah apa yang di maksud oleh mami nya, Edo benar benar tidak mengerti.
"Kamu dan Lea tidur terpisah. Apa itu yang kamu maksud berumah tangga huh?"
Jleb.
Edo yang ingin menyela langsung menutup mulutnya rapat. Dia tidak bisa membela diri lagi, dia benar-benar bersalah.
"Mi, Edo bisa jelasin"
"Tidak ada yang harus kamu jelasin, mami gak mau tahu. Mulai malam ini, kalian harus tidur sekamar. " Putus Eva tanpa bisa di bantah.
Edo melirik Lea, seolah menyuruh agar gadis itu membantunya untuk membujuk mami nya.
"Jangan coba coba membujuk mami Lea, ini sudah kelewatan. Suami istri itu bukan tidur terpisah, tidur sekamar dan melakukan hubungan suami istri. Ini bagaimana mau menghasilkan cucu untuk mami, tidur saja terpisah" sembur Eva sebelum Lea sempat menyela.
Lea kembali menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Jika Edo marah padanya nanti, dia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Edo, apa kamu paham?"
"Yea!" Jawab Edo pasrah. Tarikan dan hembusan nafas gusar terdengar dari Edo.
Keputusan dan perintah Eva, adalah yang paling utama. Tidak ada yang bisa membantahnya. Apalagi Edo, dia tidak akan sanggup membuat mami nya sedih.
Hari itu juga,saat itu juga Edo terpaksa memindahkan barang barang Lea ke kamarnya. Jika tidak, maka mami nya tidak akan pulang.
Kini situasi mereka sangat canggung. Duduk di tepi ranjang dengan jarak yang cukup jauh. Ibaratnya ujung ke ujung.
"Ekhem" dehem Edo mencairkan suasana yang terasa tegang ini.
"Karena aku tidak mau durhaka, jadi kita akan tidur di satu ruangan. "
"Baik , saya akan tidur di sofa" sahut Lea.
"Tidak perlu, menurut ku kita harus membicarakan sesuatu Lea!"
Deg.
Jantung Lea berdegup kencang, untuk pertama kalinya Edo menyebut namanya dengan nada tenang dan santai.
Takut takut Lea menoleh dan menatap wajah Edo yang ternyata juga menatap kearah nya.
"Ini adalah pernikahan sakral, aku ingin kita menjalaninya dengan aman dan damai" tutur Edo. Lea masih mendengarkan dengan baik.
Jantung Lea semakin berdetak cepat, dia takut takut menebak apa yang akan selanjutnya Edo katakan. Apa dia akan mengatakan ingin memulai dari awal? Atau dia malah ingin mengakhiri nya. Dia masih menunggu.
"Maksud kamu?" Ujar Lea bingung.
Edo menarik nafas dalam, memperbaik posisi duduknya menghadap ke arah Lea.
"Begini Lea, aku merasa kita butuh berdamai dengan keadaan. Menjalani hubungan pernikahan ini seperti... Yah, pertemanan"
Deg.
"Begini, aku tahu kamu tidak mungkin mencintai aku. Dan aku juga sebaliknya, kita tidak saling kenal. Lalu, kita juga sama sama tidak bisa menyakiti hati orang tua kita. Jadi, aku rasa kita bisa berteman" jelas Edo panjang lebar agar Lea mengerti dan tidak salah paham.
"Berteman?"
Edo mengangguk cepat, dia suka dengan masakan Lea, dia juga suka dengan sikap Lea yang sudah bersedia membersihkan kamar dan juga apartemen ini. Jadi, apa salahnya mereka berteman. Edo juga akan memenuhi kebutuhan finansial Lea, jadi mereka akan impas.
"Seperti nya bagus, kita bis memulainya dengan pertemanan" ujar Lea.
Meskipun sebenarnya di dalam hati Lea merasa sakit. Dia seorang istri bukan seorang pembantu atau teman.
Namun, ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya mereka bisa berinteraksi dengan santai.
__ADS_1
Melihat Lea setuju dan tidak merasa keberatan. Edo merasa sangat bersyukur dan bernafas lega.
Dia juga berpikir, membenci dan memusuhi Lea merupakan hal yang tidak wajar. Lagi pula, mereka sebelumnya tidak memiliki permasalahan apapun.
Edo memeluk Lea, mengungkapkan rasa senang di hatinya.edo juga meminta maaf soal kejadian di kantor beberapa waktu lalu.
"Maafkan aku Lea, soal kejadia di kantor kemarin. Aku sangat menyesal. Aku akan mengenalkan mu pada mereka besok." Ucap Edo berjanji.
Lea menggeleng cepat, dia merasa hal itu tidak di perlukan. Malahan itu hanya akan membuat masalah baru baginya.
"Kenapa tidak mau? Aku ingin mengenalkan kamu kembali pada mereka dan mengatakan jika kamu adalah orang penting bukan art"
"Tidak Em... Tidak perlu melakukan hal itu" tolak Lea tersenyum kecut, dia juga terlihat bingung ingin memanggil Edo seperti apa.
"Panggil Kak Edo saja, biar lebih akrab. Mas terlalu tua, panggil nama juga tidak sopan. Aku jauh lebih tua dari mu" teenage Edo.
"Baiklah kak" sahut Lea tersenyum manis.
Deg.
Kini jantung Edo yang berdegup kencang. Untuk pertama kali Edo melihat senyum manis Lea. Mata bulatnya terlihat seperti bulan sabit dengan bulu mata lentik memperindah mata coklat tuanya.
Pipi tembam yang di tekan oleh kaca matanya terlihat seperti balon yang setengah mengembung.
"Oh my God, kenapa aku baru sadar jika dia seimut ini" batin Edo.
"Kak, ?"
"Eh.." sahut Edo gelagapan, Lea dengan polos menggoyangkan tangannya di depan wajah Edo karena Pria itu sejak tadi bengong menatapnya.
"Baiklah, malam ini kita akan tidur seranjang. Besok, aku akan membeli ranjang yang bisa di pisah dan bisa di satukan ketika mami datang"
"Baiklah" balas Lea tersenyum senang.
Rasanya ikatan ini terasa lebih ringan di bandingkan dengan sebelumnya.
Kryukkk.....
"Eh"
Lea menatap perut Edo, kemudian tertawa lucu melihat Edo yang tersipu malu.
"Kakak lapar? Apa tidak kenyang mendengar celotehan mami?" Ledek Lea.
"Mana bisa, aku sangat lapar sampai tidak sanggup untuk berdiri" balas Edo manja.
Mereka persis seperti saudara yang sangat akrab. Bercanda dan bercerita tentang banyak hal.
__ADS_1
Setelah makan malam, Edo memutuskan untuk lembur di ruangan kerjanya. Sedangkan Lea memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Sebenarnya dia ingin menulis. Namun, Lea merasa tubuhnya sangat lelah dan ingin segera tidur.