Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 25


__ADS_3

Brak!


"Apa apaan ini, kenapa semua laporan ini salah!"


"Tidak kah kalian bisa bekerja dengan baik?"


Tigak orang berdiri dengan ketakutan, entah apa yang terjadi dengan boss mereka ini. Sejak awal datang tadi pagi, dia sudah marah marah.


"Maaf boss, tapi ini sesuai dengan apa yang boss inginkan" salah seorang berusaha untuk menjelaskan.


Bukan nya semakin mengerti, Edo malah semakin marah. Yah, boss yang marah marah itu adalah Edo.


Perasaan yang tidak nyaman, masalah yang sulit di selesaikan, membuat hatinya kacau dan emosi nya menjadi meledak ledak.


Sayang nya, para karyawan lah yang menjadi sasarannya.


Bukan tidak profesional. Edo marah memang agak berlebihan. Namun, laporan dan kinerja karyawan nya itu memang salah.


Seperti laporan saat ini, Edo menyuruh mereka membuat laporan hasil proyek beserta jumlah pengeluaran nya dan juga nominal keuntungan nya. Edo juga meminta agar rencana kerja proyek itu di buat sedetail mungkin tanpa ada yang di lewatkan. Ini proyek besar, keuntungan nya sampai 5 triliunan. Jika salah sedikit saja, maka mereka akan mengalami kerugian sebesar 10 triliun.


Sementara laporan yang mereka berikan hanya tentang kinerja pokok, rencana pokok. Tidak detail dan banyak yang di sebutkan oleh Edo di meeting kemarin tidak di masukkan.


Bagaimana di tidak akan marah?


"Apa kamu yakin, sudah melaporkan semua yang saya minta kemarin?"


Pria itu tersentak, dia buru buru mengecek hasil laporannya.


Deg.


Benar, ternyata isinya banyak yang kurang.


"Maaf boss, ini kesalahan saya. Saya tidak teliti dalam pengecekan ulang ketika bawahan saya menyerahkannya." ucap kepala manager sambil melirik tajam ke arah kedua anak buahnya.


"Cepat selesaikan!"


Brak!


"Baik boss"


Mereka langsung memunguti lembaran kertas yang sudah berserakan di lantai. Kemudian segera pergi keluar dari ruangan Edo.


"huh, ada apa ini. Mengapa boss kembali marah marah seperti itu?" lenguh salah satu karyawan cewe yang ikut kena marah tadi.


"Gak tahu ni, kan kemarin dia sudah melihat laporan ini" sahut yang lain.


"Sudah sudah, kalian kerjakan saja laporannya. Ingat, perhatikan lagi catatan kalian saat meeting kemarin!" peringat manager.


"Baik manager" hormat mereka. Lalu, kembali bekerja.


Di dalam ruangan nya, Edo terduduk lemas. Dia sadar bahwa emosinya sedang tidak terkontrol.


Permasalahan dirinya dan Lea membuat pikiran dan hatinya tidak sinkron.

__ADS_1


Bukan karena Diva hamil, tidak. Edo sama sekali tidak peduli dengan wanita itu.


Kehamilannya? Edo merupakan pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia akan bertanggung jawab kepada bayi yang Diva kandung. Setelah bayi itu lahir nanti, dia akan mengambilnya dan membawa bayi itu hidup bersama Lea.


Klik.


Tanpa mengetuk pintu, Diva masuk ke dalam ruangan kerja Edo. Berjalan lenggak lenggok mendekati pria yang sedang menunduk.


"Edo!"


Edo mengangkat kepalanya, menatap Diva yang mulai berani kepadanya.


"Apa kau sudah bosan hidup?"


"Tidak, maafkan aku. Kehamilan ku membuat aku tidak terkontrol" lirih Diva berbohong.


Edo mendengus kesal, dia merasa jengah berdekatan dengan wanita ini. Namun, atas kesalahannya dia harus menahan diri menghadapi wanita ini.


"Katakan, apa yang kau inginkan" ucap Edo ketus.


"Edo, aku ingin meminta pertanggungjawaban kamu! bayi yang ada di dalam kandungan ku ini anak kamu!" ucap Diva penuh penekanan.


Seketika emosi Edo memuncak, masalahnya dengan Lea belum selesai, wanita ini malah ikut mendesaknya.


Edo berdiri, menatap Diva dengan tatapan tajam.


"Apa kau yakin di dalam perut jal*Ng mu ini anak ku?"


Satu tamparan melayang ke wajah Edo.


"Apa kamu pikir aku ini wanita murahan? sampai aku tidak tahu siapa ayah dari anak ku ini? Edo, kamu tahu sendirikan. Keperawanan ku kamu yang renggut, setiap hari hanya kamu yang menggunakan aku. Mana mungkin ini bayi orang lain!"


Diva seketika itu terisak, entah datang dari mana air mata yang kini membanjiri pipinya.


"Kamu jahat, kamu sungguh tidak punya hati"


Edo terdiam, memang benar dia yang melakukan nya untuk pertama kali.


"Aku tidak serendah itu Edo, aku hanya memberikan semuanya kepadamu"


"Huh, sudah lah. Kamu pulang dulu" lirih Edo mulai melembut.


Bukannya pulang dan menurut, Diva malah semakin menjadi.


"Tidak, aku tidak akan pulang sebelum kamu bertanggung jawab!" kekeuh nya.


"Apa maksudmu!"


"Aku ingin kamu bertanggung jawab pada bayi ku!"


"Tentu saja, aku akan bertanggung jawab atas bayi itu. Aku akan merawat nya setelah lahir nanti. Bahkan aku akan mengirim seseorang untuk merawat mu selama kehamilan mu!"


Jleb.

__ADS_1


"Apa kau gila Edo, apa kau ingin membiarkan aku hamil tanpa seorang suami? apa yang akan orang orang katakan?" Diva kembali menangis.


"Jika kau meminta aku menikahi mu. Sorry, itu tidak akan mungkin terjadi. Aku sudah menikah dan tidak akan menikah lagi. Soal apa yang orang orang katakan, itu bukan urusan ku!"


Edo pun meninggalkan diva lagi setelah mengatakan semuanya. Dia tidak peduli apa tanggapan wanita itu, dia juga tidak peduli bagaimana kondisinya.


"Edo!! awas saja. Kau akan menerimanya. kau akan menjadi milik ku. Hanya milik ku!"


Sementara di rumah besar milik Eva, Lea tengah asik mengeringkan rambutnya. Dia baru saja selesai mandi dan keramas.


Eva cukup heran, tumben sekali Lea keramas di tengah hari begini.


"Kamu sudah selesai nak?"


"Sudah mi. Rasanya segar sekali"


Eva tersenyum, dia duduk di samping menantunya. Membantu Lea mengeringkan rambut nya dengan hair dryer.


"Sayang, tumben banget kamu keramas siang siang begini?"


"Tidak tahu mi, pengen ajam Rasanya sangat sangat pengen mandi dan keramas" jawab Lea santai.


Selesai mengeringkan rambut, Lea dan Diva memutuskan untuk memasak bersama. Tadi Lea berpesan pada PRT maminya, agar tidak masak makan siang. Mereka akan melakukan nya.


Di sela kegiatan yang menyibukkan dirinya, Lea menyimpan rasa sakit di hatinya. Sebesar apapun dia berusaha untuk menghalau pemikiran itu. Namun, sekuat itu pula otak nya memikirkan.


Huhh..


Berkali kali Eva mendengar Lea menghela nafas dan menghembuskannya berat.


Wanita baru baya itu mengerti, ada yang sedang mengganggu pikiran Lea.


Ingin sekali Eva menanyakan apa masalah yang tengah di pikirkan oleh menantunya.


Namun, Eva juga sadar diri. Tidak semua masalah harus dia ikut campur. Apalagi soal hubungan suami istri antara Lea dan Edo.


Dia hanya bisa menyatukan mereka dengan membuat putranya sadar dengan hatinya sendiri.


Tapi, jika ada masalah internal lainnya. Eva tidak akan mencampurinya kecuali Eva sudah bercerita.


Eva yakin, pasti ada masalah antara mereka.


"Aw..." Lea meringis kesakitan, tanpa sengaja tangannya teriris pisau.


Eva panik melihat banyak dari keluar dari jari telunjuk menantunya.


"Astaga!! sayang.. "


Cepat cepat Eva mengangkat tangan Lea dan menyuruhnya menunjuk ke atas.


Hal ini akan mengurangi banyaknya keluar darah dari luka.


Secepat kilat Eva berlari mengambil kotak p3k.

__ADS_1


__ADS_2