
"Ken! Ken! "
"Ken!!"
"Ken!"
Lea melangkah masuk ke dalam rumah dengan tergesa gesah sambil memanggil manggil nama putranya. Dia mengabaikan Mina yang terkejut melihat ke datangannya.
"Ada apa ini Lea, hey.. Ada apa?" Mina mengikuti keponakan nya yang terus masuk ke dalam mencari putranya.
Dari dalam, Ken dan Andey yang sedang bermain PS juga terkejut mendengar panggilan maminya.
"Ada apa ini?" gumam Andey dan Ken saling pandang. Lalu, mereka pun bergerak keluar dari kamar.
"Ken."
Lea berlari kearah Ken, memeluk erat tubuh yang sudah setinggi bahunya.
Ken yang masih kaget hanya diam saja, merasakan pelukan hangat maminya.
"Ada apa ini Lea, kenapa kamu begitu cemas?" tanya Mina lagi.
Lea menghirup dalam dalam puncak kepala putranya, menghembuskan nafas lega setelah rasa takut menghantuinya selama bekerja.
Pembicaraan Eva dan Edo di kantor tadi membuat Lea tidak nyaman apabila Ken berada jauh darinya.
Merasa maminya sudah mulai tenang, Ken mencoba memberanikan diri untuk mengurai sedikit pelukan maminya. Memberi jarak agar dia bisa menatap wajah pucat maminya.
Ada apa ini, Ken tidak mengerti dengan kondisi mami nya yang akhir akhir ini sering ketakutan.
"Mami, apa terjadi sesuatu?" tanya Ken.
"Iya Lea, tolong berbicara lah. Kami jadi bingung melihat kamu tiba tiba seperti ini" sambung Andey.
Huhh huh..
Lea menetralkan seru nafas nya, menatap satu persatu keluarga yang teramat dia sayangi.
Dia baru sadar, sikap nya begini membuat Keluarga nya merasa khawatir. Tapi harus bagaimana lagi, perasaan ini tidak bisa dia tahan.
Sebelum melihat Ken, Lea merasa hati nya tidak tenang. Karena itu lah dia gencar memanggil Ken setibanya di rumah.
"Maafkan aku bi, paman, Ken. Maafin mami yah. Mami hanya merasa takut dan hanya kamu yang menjadi obatnya" sesal Lea terduduk di lantai. Tubuhnya terasa sangat lemas.
Mendengar ucapan maminya yang seperti itu, membuat rasa sedih di hati Ken berkembang. Dia segera memeluk tubuh maminya.
"Tidak apa mami, Ken akan selalu ada untuk mami, sampai Ken mati, Ken tidak akan meninggalkan mami, Ken janji" ucap Ken berjanji.
Lea tersenyum, hatinya lega mendengar janji yang putranya buat.
"Makasih sayang"
Mina dan Andey hanya bisa menatap sendu pada ibu dan anak itu. Mereka tahu mengapa Lea bersikap seperti ini, bahkan Lea ingin kabur dari kota ini hanya ingin menghindari mereka.
Lea takut kehilangan Ken, tapi Lea juga tidak bisa selamanya menghindar seperti ini.
"Ya sudah nduk, sekarang kamu mandi gih, setelah itu kita makan malam" suruh Mina.
Lea mengangguk, dengan di bantu Ken dia segera bangkit dan berjalan pelan menuju ke kamarnya.
Ken menatap punggung maminya yang terus menjauh dan menghilang masuk ke dalam kamar.
"Nek, apa sebenarnya yang terjadi,m mengapa mami selalu bersikap seperti ini?" tanya Ken.
Mina melirik suaminya, meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Ken.
Suaminya yang mengerti akan lirikan mata istrinya pun segera mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ken, game kita belum selesai. Ayo kita selesaikan!" Seru Andey.
"Tidak kek, jangan alihkan please. Ken rasa umur Ken sudah cukup untuk mengetahui segalanya" ucap Ken menatap pria dan wanita paru baya itu.
Andey dan Mina hanya menghela nafas berat, ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk di jawab.
Apalagi Lea masih belum siap untuk menjelaskan pada Ken. Melihat mantan suaminya berada di kota ini saja, sudah membuat Lea ketar ketir.
Andey mendekati cucunya, memegang bahu Ken agar berhadapan dengan dirinya.
"Ken, nenek sama kakek rasa ini belum saatnya kamu mengetahui segalanya. Sebentar lagi, kamu pasti akan mengetahuinya!"
"Sabar yah sayang" sahut Mina mengelus rambut Ken.
Anak remaja itu tidak merespon, dia menatap kakek dan neneknya secara bergantian. Kemudian, berlalu pergi masuk ke dalam kamar.
Ken tahu mereka tidak akan memberitahunya.
Kenapa???
Ken selalu bertanya tanya di dalam hatinya. Mengapa mereka menyembunyikan semuanya dari dirinya. Apa dia tidak ada hak mengetahui permalasahan orang tua nya?
Apa karena dia masih kecil? Ken merasa dia sudah dewasa, dia sudah mampu memila mana yang baik dan mana yang buruk.
Umurnya sudah 12 tahun, tapi kenapa mereka masih menganggap dirinya masih anak kecil.
Blam.
Ken menghempaskan pintu dengan sangat keras, memberitahu bahwa dia sedang kecewa.
Setelah selesai mandi, Lea pergi ke ruang makan. Dia bersiap untuk makan malam.
Saat dia tiba di meja makan, Lea tidak melihat sosok malaikat tampan nya di sana.
"Di mana Ken, kenapa dia tidak makan?" tanya Lea pada Mina.
"Ada apa bibi, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?. Paman." Lea beralih menatap Andey, pria baru baya itu melakukan hal yang sama. Bungkam dengan ekspresi bingung.
"Lea... kamu tenang yah, duduk lah dulu" Mina menuntun Lea duduk di kursi, dia juga ikut duduk di samping Lea.
Dengan menggenggam jemari Lea, Mina menjelaskan segalanya.
"Bi, ada apa? Ken kenapa?"
"Lea, Ken sudah mulai ingin tahu. Mengapa kamu bersikap seperti tadi. Dia sudah mulai menanyakan apa yang sedang terjadi pada dirimu nak. "
"Terus bibi jawab apa?" tanya Lea mulai panik, ekspresi nya mulai terlihat tidak tenang.
"Nak, kami tidak memberitahunya. Kami hanya menyuruhnya menunggu beberapa waktu lagi!"
"Nak, sudah saat nya Ken tahu. Dia harus tau yang sebenarnya. Jika kamu terus menyembunyikan semua ini dari nya, dia akan semakin kecewa. Dia sudah remaja" sambung Andey menasehati
"Benar Lea " sahut Mina menganggukkan kepala.
"Tapi bi.. Paman, aku takut ka.."
Mina menggelengkan kepalanya, apa yang le takutkan tidak akan terjadi.
"Kamu harus percaya pada Ken. Dia tidak akan meninggalkan kamu. Kita juga tidak bisa menyembunyikan fakta ini selamanya. Ken harus tahu siapa ayah nya nak" potong Mina, dia berusaha untuk memberi Lea sebuah pencerahan. Selebihnya terserah pada Lea.
Lea terdiam, ini sangat sulit baginya. Tapi, dia harus melakukan nya.
Benar apa yang bibi dan pamannya katakan. Sampai kapan dia bisa menyembunyikan semua ini.
"Aku akan berusaha bi, aku akan mencobanya. Sekarang, aku ingin bertemu dengan Ken dulu"
Lea menarik nafas dalam, sebelum dia beranjak pergi ke kamar putranya.
__ADS_1
...----------------...
"Apa? pertunangan di batalkan? "
Nia menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa jika pertunangan ini di batalkan.
Mau taruh di mana mukanya nanti, semua teman temannya sudah tahu bahwa dia akan menjadi nyonya Farezi.
"Maaf Nia, Tante tidak bisa memaksa Edo. Tante sudah pernah gagal memilihkan pasangan untuk Edo sekali, jadi kali ini tante tidak mau memaksa Edo lagi" ucap Eva. Dia menatap Nia dan juga sahabat nya. Merek terlihat marah dan tidak menerima keputusan Eva ini.
"Jadi, kamu meragukan putri ku Eva? apa kamu pikir putri ku akan seperti mantan menantu mu itu?."
"Bukan begitu Sela, aku hany-"
"Sudah lah Eva, aku tidak ingin berbicara lagi dengan kamu. kau sangat kecewa, ayo Nia kita pulang sekarang " Sela menarik tangan putrinya, memaksa Nia untuk pulang bersama dengan dirinya.
"Gak ma, aku gak mau pulang. Tante... Aku gak mau pertunangan ku di batalkan. Tante... Ma lepas!"
Nia terus memberontak agar mamanya melepaskan tangannya.
"Sudah kita pulang Nia, kita tidak di hargai di sini. Dasar gadis bodoh!" maki Sela terus menyeret putrinya pergi.
Sedangkan Eva, dia merasa sakit hati saat mendengar Lea di hina seperti itu. Ingin rasanya dia menyumpal mulut Sela dengan sendalnya.
Eva memang marah, tapi dia tidak benci. Dia hanya kecewa pada Lea yang tega menggugurkan kandungannya demi bisa bercerai dengan Edo.
Eva tahu, putra nya bersalah besar. Tapi, Lea tidak seharusnya memberikan hukuman kepada calon cucunya.
"Seandainya saja dia tidak melakukan itu, cucu ku pasti sudah remaja!" gumam Eva sendu.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Eva pun langsung menghubungi Edo. Di memberitahu semuanya dan dia pun menagih janji putranya untuk menyelidiki anak remaja itu.
"Cepat, berikan aku informasi nya!"
"Sabar ma, Rendy sedang mengirimkan hasil test DNA anak itu kepada ku!"
"What? sejak kapan kamu melakukan hal itu? bukan kah butuh beberapa waktu untuk melakukan nya?" tanya Eva tercengang.
Edo mengulum senyum, meskipun dia tidak bisa melihat wajah mami nya, tapi dia dapat membayangkan bagaimana wajah tercengang maminya.
"Maaf mi, sebenarnya Edo lebih dulu bertemu dengan anak itu. Bahkan aku sudah berbicara dengan nya."
"Benarkah?"
"Namanya Kendra Anfar" ucap Edo menyebut nama anak kandung yang tidak dia ketahui.
"Nama yang bagus, semoga dia dari wanita yang baik juga!"
"Tentu mami" ucap Edo keceplosan.
"Ha, kamu sudah tahu siapa wanita nya?"
"Ehm.. tidak, aku tidak tahu."
"Lalu, kenapa kamu mengatakan hal itu?"
"Yah soal itu aku tahu lah, aku tidak pernah meniduri wanita yang tidak baik!" seru Edo songong, dia hampir saja ketahuan oleh maminya.
"Ya sudah lah, aku mau melihat hasilnya dulu. Nanti aku akan mengabari mami"
"Mami tunggu"
klik.
Panggilan pun terputus, Eva menatap kesal pada layar ponselnya.
"Dasar anak nakal" dengusnya.
__ADS_1