Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 43


__ADS_3

Tap Tap..


Dokter!!


Dokter!!


Doterk!!


Paman Lea berlari sangat cepat namun hati hati. Membawa Lea masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster, tolong bantu keponakan saya. Seperti nya dia ingin melahirkan"


"Baik pak, tolong letakkan pasien di sini"


Paman pun membaringkan Lea yang meringis kesakitan di atas brankar. Kemudian membantu suster mendorong berangkat itu ke dalam ruangan persalinan.


Dari belakang, bibi yang juga sangat panik ikut berlari mengikuti suaminya.


"Mohon maaf, tolong tunggu di luar. Dokter akan menangani pasien"


"Tolong bantu keponakan ku sus, dokter" lirih Bibi memohon.


"Kami akan melakukan apapun yang bisa kami lakukan"jawab dokter.


pintu ruangan persalinan pun tertutup rapat. Bibi ambruk di lantai, kaki nya terasa sangat lemas melihat Lea merasa kesakitan.


"Kasihan sekali keponakan ku, dia sedang berperang melawan maut, tapi suaminya tidak ada di samping nya. Dia berjuang sendiri hiks.. hiks.."


"Sudah lah Bu, jangan bicara seperti itu. Sebaiknya kita doakan saja Lea dan bayi nya selamat. Yah."


"Tentu saja, aku pasti akan mendoakan keponakan ku. Aku juga akan menjaga mereka" sahut bibi masih dalam tangisnya.


Tap tap tap.


Raihan tiba, dia datang dengan nafas memburu. Seperti nya dia berlari lari masuk ke dalam rumah sakit.


"Bibi, dimana Lea?" tanya Raihan panik.


"Tenang Raihan,Lea saat ini sedang di tangani oleh dokter"


Fyuu..


Raihan menghela nafas lega, dia merasa sangat khawatir ketika mendengar Lea masuk rumah sakit dari paman Lea.


Ceklek.


Pintu ruangan persalinan terbuka, salah seorang suster keluar menghampiri mereka.


"Permisi, suami pasien di mana?"


Paman dan bibi Lea bungkam, mereka tidak tahu harus menjawab apa. Karena Lea sudah menjadi janda sebelum kehamilannya di ketahui.


"Su-"

__ADS_1


"Ada apa sus?" potong Raihan, membuat suster berpikir jika Raihan adalah suami Lea.


"Oh mari sini tuan, dokter memanggil anda"


"Baiklah"


Raihan menatap paman dan bibi sebelum ikut masuk ke dalam ruangan persalinan. Dia tahu jika paman dan bibi Lea terkejut melihat aksi yang dia buat.Namun, ini demi keselamatan Lea.


"Bapak, kenapa Raihan.."


"Sudah Bu, gak papa. Kita tahu kan, kalau mereka itu sudah seperti kakak dan adik. Raihan melakukan semua ini agar Lea segera di tangani tanpa banyak proses. "


"Lagi pula, Lea butuh pendamping Bu. Kasian jika dia berjuang sendiri"


Bibi Lea mengangguk pelan, apa yang di katakan oleh suaminya memang benar. Selama masa kehamilannya, Lea selalu menanggung semua ini sendirian.


Edo?


Di mana pria brengsek itu, kenapa dia mencampakkan keponakan nya di saat keponakan nya sedang hamil. Sungguh tidak bertanggung jawab.


Bibi dan paman memang tidak mengetahui bagaimana kisah Lea dan Edo. Tapi, mereka yakin bahwa Edo lah yang bersalah. Sehingga Lea memutuskan untuk pergi dari kehidupan nya.


Di dalam ruangan persalinan, Raihan menatap iba perjuangan Lea. Dia menggenggam erat tangan Lea yang sedang berusaha melahirkan bayinya ke dunia ini.


"Ayo Lea, kamu pasti bisa.Kamu pasti bisa. Ayo semangat!!!"


"Aaarrrrkkkkk.... huh huh.."


Lea menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Siap?"


"Tarik nafas.... Tarik.... 1. 2. 3. Dorong"


"Hyakkkkkkkkkkk........"


Dengan sekuat tenaga Lea mendorong bayinya keluar hingga....


"Owek... Owek...."


Selesai, Lea menangis haru mendengar tangisan bayi yang sudah 9 bulan dia nantikan.


Rasa sakit yang dia rasakan, terobati setelah mendengar suara tangisan bayinya.


Raihan turun menghembuskan nafas lega, dia mengusap pelan rambut Lea, kemudian mengecup kening nya.


"Selamat Lea, kamu berhasil"


"Terimakasih kak" balas Lea tersenyum dengan suara lemahnya.


"Selamat yah Bu, pak, bayi kalian laki-laki" Dokter meletakkan bayi laki-laki yang sudah di bersihkan dan di baluti oleh kain bedung di samping Lea.


Lea pun tersenyum getir, tidak terasa akhirnya dia bisa bertemu dengan putranya.

__ADS_1


"Terimakasih, terimakasih sudah lahir ke dunia ini" bisik Lea pada putranya,dan bayinya pun merespon dengan menggerakkan kepalanya.


Setelah selesai di bersihkan dan melakukan segala proses. Akhirnya Lea di pindahkan ke ruangan inap.


Paman dan Bibi merasa sangat bahagia melihat bayi kecil milik Lea.


"Ya ampun, dia sangat tampan" gumam bibi gemas sambil menggendong bayi Lea.


"Dia persis seperti ibunya"sahut paman.


"Benar, dia sangat mirip dengan mami nya" ujar Raihan ikut nimbrung.


Melihat kebahagiaan keluarga nya, Lea merasa sangat senang. Dia juga bersyukur telah melewati masa masa sulit itu.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya seakan terobati oleh kebahagiaan yang dia dapat.


Welcome to my baby.


Di rumah besar yang mewah, Eva terlihat sangat gelisah. Entah apa yang membuat hatinya begitu gelisah.


Biasanya dia tidak pernah merasa gelisah seperti ini. Tapi kenapa hari ini dia sangat gelisah.


Tap tap.


Eva menoleh, Edo terlihat menuruni anak tangga.


"Kamu mau kemana?" tanya Eva.


"Mau keluar, mencari udara segar!"


"Memangnya di rumah ini udaranya gak segar?"


"Bukan begitu mi"


"Lalu apa?"


Edo menarik nafas gusar, sulit bagi nya untuk menjelaskan apa yang saat ini dia rasakan.


"Kenapa diem?"


"Mi, aku tidak tahu harus menjelaskan apa. Hati ku sesak, aku ingin keluar sebentar untuk menghilangkan rasa sesak itu" jawab Edo melenggang begitu saja dari hadapan maminya.


"Dia sesak? apa dia juga merasakan kegelisahan yang aku rasakan?"


"Tapi, kenapa kamu gelisah? apa yang telah terjadi?" gumam Eva menatap kepergian putranya yang sudah menghilang di balik pintu utama.


Deg.


"Sembilan bulan. Lea sudah pergi selama 8 bulan"


"Apa itu artinya.... Astaga!!!" Eva mencak mencak sendiri. Dia baru teringat dengan kehamilan menantunya.


"Ada apa ini, apa terjadi sesuatu pada Lea ? ya Tuhan, tolong bantu jaga Lea, aku yakin dia baik baik saja di dalam lindungan mu"

__ADS_1


__ADS_2