
Lea duduk termenung di depan cermin. Tangan nya terus menyisir rambut nya yang masih basah.
Apa yang terjadi semalam sungguh di luar dugaan nya. Lea merasa dia sudah sepenuhnya menjadi seorang istri.
Seharusnya dia merasa sangat senang dengan hal ini. Semua wanita pasti merasa bahagia dengan apa yang Lea alami.
Tapi, tidak dengan Lea. Justru di merasa sangat sedih.
Di saat paduan cinta menyatu, mereka malah melakukan nya tanpa cinta. Hanya nafsu semata yang di pengaruhi oleh obat perangsang.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Lea tidak berniat untuk melihatnya. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hingga sebuah tangan menyentuh pundak nya. Barulah Lea tersadar.
"Nak, apa yang kamu pikirkan?"
"Eh mami. Kapan mami masuk?"
"Kamu tidak sadar? mami baru saja masuk sayang"
"Maaf mi"
Eva tersenyum, dia dapat merasakan kesedihan melanda menantu kesayangan nya itu.
"Maafkan mami nak, ini kesalahan mami. Seharusnya mami tidak-"
"Sudah lah Mi, ini bukan kesalahan mami. Lea ngerti kok mengapa mami melakukan hal itu. Hanya saja, waktu nya tidak tepat mi. "
"Apa kamu tidak menyukainya nak?"
__ADS_1
Lea menggeleng pelan. Dia bukan tidak suka. Tapi, seperti yang sudah dia katakan tadi. waktunya tidak tepat.
"Mi, Lea tidak marah kepada mami maupun kak Edo. Tapi, Lea hanya marah pada waktu yang tidak tepat. Lea ingin melakukan nya ketika suami Lea sudah menerima kea sebagai istri nya, bukan teman nya. karena itu lah Lea sedih"
"Maafin mami Nak"
Eva memeluk tubuh Lea, membiarkan menantu kesayangan nya meluapkan rasa sedihnya. Menangis sejadi jadinya.
Dari balik pintu yang masih terbuka, Edo mendengar segalanya.
"Jadi, kea sedih karena itu?" gumam nya.
...----------------...
Brak!!
"Sial! kenapa aku tidak tahu kemana Edo pergi!"
Sebuah vas bunga melayang menghantam dinding.
Diva mengamuk tidak tahu diri, dia baru saja mendapat kabar bahwa Edo tidak akan masuk kerja selama 3 hari.
"Aku sekretaris nya, mengapa aku tidak tahu soal ini!"
Prank!!
Kembali sebuah vas bunga melayang. Diva merasa malu saat kepala deviasi keuangan mendatangi dirinya, kaku memberitahu bahwa boss mereka tidak akan masuk kerja selama 3 hari. Jadi, Diva harus mengcancle semua jadwal Edo dalam 3 hari ke depan.
Karena hal sepele seperti itu, di kantor langsung tersebar gosip bahwa diva akan segera di pecat. Boss mereka sudah bosan dengan wanita angkuh itu.
Semenjak di pakai oleh boss, Diva berlagak seperti nyonya di kantor. Dia merasa akan menjadi nyonya Edo Anwar.
__ADS_1
Kini, sikap boss malah membuat dirinya merasa malu.
"Sekarang tidak ada lagi yang bisa di banggakan"
"Susah bosan yah buang"
"Tidak berguna lagi"
"Hahaha..."
Diva menutup mata nya sejenak, mengingat sindiran demi sindiran yang karyawan lain lontarkan pada nya.
Kedua tangan Diva mengepal, sorot matanya semakin tajam.
"Lihat saja nanti, kalian akan membayar semua ini setelah aku menjadi nyonya Edo Anwar."
Ddrrrtt...
Diva melirik ponselnya, sebuah pesan wa masuk dan langsung dia buka.
'Kamu di mana? aku kangen!'
Huh..
...----------------...
Hari ke dua di resort berbintang, Edo dan Lea semakin jarang berbicara.
Lea terlihat menghindari suaminya sendiri.
Contohnya seperti saat ini. Setelah makan malam. Lea berpamitan pada ibu mertuanya untuk tidur lebih awal.
__ADS_1
Lea belum siap berbicara dengan Edo. Dia akan tidur lebih dulu dan bangun lebih dulu. Setidaknya untuk saat ini.