
Lea menggeliat pelan dikala dingin AC menyentuh permukaan kulitnya. Tangan nya baru akan menarik selimut untuk mendapatkan kehangatan, ketika sikutnya tanpa sengaja merasakan hangatnya tubuh seseorang.
Jleb.
Lea terkejut, wajah tampan Edo yang masih tertidur lelap berada tepat di depan wajah nya.
Jantung Lea mulai berdegup kencang, takut takut dia mengintip ke bewah.
Oh astaga, betapa terkejutnya dia mendapati tubuh polos tanpa sehelai benang pun berdekatan dengan tubuh polos Edo.
Lea langsung memejamkan matanya sontak berteriak nyaring saat tanpa sengaja melihat benda pusaka Edo.
"akkkk!!!!"
bug
Edo terkejut dan tidak seimbang sehingga membuat dirinya terjatuh di lantai.
"Kenapa aku bisa ada di sini!" Lea mencoba mengingat kejadian sebelumnya. terakhir kali nya mereka berada di kantor.
Tapi, kini mereka berada di sebuah kamar.
"Aduh sayang, kamu kenapa teriak teriak sih. Aku kaget tahu!"
Lea beralih menatap Edo, tatapan matanya menajam. Ini semua pasti karena pria ini, pasti dia yang telah membawa dirinya ke kamar yang entah punya siapa.
"Kamu gila, kamu jahat udah lakuin ini sama aku!" Kata lea marah, dia turun dari ranjang, menggunakan selimut untuk menutupi tubuh telanjang nya.
"Eh eh... " Edo berguling ke bawah, saat Lea menarik habis selimut dan membawa ke kamar mandi.
"Dasar" dengus Edo cemberut.
Lea menatap pantulan tubuh nya yang di penuhi oleh tanda cinta yang sebagai bukti kebuasan Edo semalam.
"Bajingan!" Maki Lea sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mandi dan memakai kembali pakaiannya.
Ceklek.
Lea keluar dari kamar mandi, wajah nya terlihat sembab dan sedih. Lea melirik pria yang sangat dia benci sedang duduk di tepi ranjang, dia sudah kembali memakai baju nya asal.
Edo tersenyum, di menghampiri wanita yang sebenarnya masih berstatus sebagai istri nya.
"Kamu sudah mandi!"
Lea menepis tangan Edo, menatap sinis pada pria yang semalam menggaulinya Tampa henti. Dia masih ingat, Edo terus menggarap diriny hingga tengah malam.
"Lea, kamu marah sama aku? Aku minta maaf. Aku gak tahu harus melakukan apa agar kamu tetap bersama ku. Aku tidak mau kamu pergi dari ku Lea. Aku mohon"
Lagi dan lagi Edo berlutut di hadapan Lea, dia tidak peduli dengan harga diri, atau pun rasa hormat. Lea jauh lebih penting bagi Edo.
Kesalahan yang telah dia buat dan rasa sakit yang selama ini Lea rasakan tidak akan sebanding dengan rasa hormatnya ini.
"Lea, aku mohon. Maafkan aku, kembali lah pada ku!"
"Tidak, aku tidak bisa kembali!"
"Kenapa?" Edo segera bangkit, menatap wajah Lea yang memaling tak ingin menatap wajah nya.
"Aku harus pergi!" Seru Lea melepaskan tangan Edo yang menggenggam tangannya.
Sebenarnya, Lea tidak tega melihat Edo seperti itu. Hati nya terasa sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi. Masa lalunya dan kehidupan yang dia jalani selama ini tidak bisa ia lupakan.
Lea melangkah keluar dari kamar apartemen Edo, dia terkejut melihat Ken dan mami Eva berdiri sambil menatap kearahnya.
"Ken?"
"Mami.."
Lea mendekati putranya, memeluk nya erat, mengibati hatinya yang terluka.
"Mami, apa benar om Edo adalah papy Ken yang sebenarnya?"
__ADS_1
Lea terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia masih belum siap memberitahu Ken apa yang sebenarnya terjadi.
"Ken, ayo kita bicara di rumah"
"Tidak mami, kita selesaikan di sini. Apa benar om Edo papi Ken?" Tolak Ken dan meminta Lea untuk menjawabnya sekarang.
"Mami jawab Ken. Katakan yang sebenarnya, Ken mau tahu mi. Mam!"
Ken terus mendesak Lea yang hanya diam saja, hingga akhirnya Lea menjawab.
"Iya, dia ayah kandung kamu. Pria yang darah nya mengalir di dalam tubuh mu."
Ken terdiam, bertepatan saat ini Edo keluar dari dalam kamar nya.
Sama seperti Lea, Edo juga terkejut melihat keberadaan putra dan mami nya di apartemen nya.
"Dia ayah mu Ken, sekarang apa kita bisa pergi?"
Ken menatap Edo, kaki nya melangkah pelan mendekati pria yang selama ini dia panggil om adalah ayah nya. Pria yang menjadi tempat curhat nya adalah ayah nya.
"Jadi, anda adalah papi saya?"
Edo mengganguk sambil menahan tangis.
"Jadi, selama ini anda sudah tahu kalau saya adalah putra anda?"
Lagi lagi Edo hanya mengangguk pelan, dia tekuk lutut agar tinggi badannya sejajar dengan Ken.
"Kenapa??
Kenapa anda melakukan semua ini?
Kenapa anda tidak memberitahu ku?"
"Ken maafin papi yah, papi akan menjelaskan segalanya."
"Cukup! Jangan jelaskan apapun, aku hanya akan bertanya tiga hal!"
"Jawab!"
Edo menghapus air matanya, mencoba menetralkan suaranya yang serak agar bisa menjawab dengan jelas dan tidak mengatakan kesalahan.
"Papi kamu mencari mami kamu kemana pun, dia sudah seperti orang gila. Tapi, mami kamu terlalu pintar bersembunyi" jawab Eva menggantikan Edo.
"Jangan salahkan mami ku! Kami tidak bersembunyi seperti yang kalian katakan . Bahkan mami tidak pernah mengatakan hal yang buruk tentang kalian ketika aku menanyakan siapa ayah ku!
Tapi, kenapa kalian malah menjelekkan nya!"
Lea memejamkan mata, membiarkan putranya yang berbicara. Sedangkan Eva, dia cukup terkejut mendengar ucapan cucu nya. Dia berpikir lwabtelah mencuci otak cucunya agar membenci Edo.
"Kedua, apa anda tahu kehadiran ku? Apa anda tidak pernah merasa bersalah sedikit pun?"
"Ketiga, apa anda pernah membuat mami ku bahagia seumur hidup nya?"
Edo merasa terbungkam dengan pertanyaan putranya. Dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak pernah membuat istri nya bahagia.
"Jawab aku tuan Edo Farezi!"
Lea tersentak, dia tidak menyangka putranya akan bersikap seperti ini. Persis seperti Edo ketika marah.
"Tidak bisa menjawab? Baiklah aku akan menyimpulkan nya."
"Anda diam, karena anda tidak pernah membuat mami bahagia, anda tidak tahu keberadaan ku kan?"
"Karena mami mu memanipulasi kehamilannya. Dia membuat seolah olah telah menggugurkan mu!" Sela Eva.
Deg.
Lea merasa tegang, dia menatap Ken untuk menunggu reaksi apa yang putranya perlihatkan.
Begitu juga dengan Edo, dia melakukan hal yang sama seperti Lea.
__ADS_1
"Aku tahu!"
Lea terkejut, dia merasa tidak pernah memberitahu Ken soal ini.
"Aku sudah tahu semua yang terjadi, uncle Raihan sudah memberitahu Ku. "
"Mami" Ken mendekati mami nya, dia memeluk wanita hebat yang selama ini sudah menjaganya.
"Maaf, Ken selama ini tidak cerita. Tapi Ken tahu uncle tahu segalanya, karena itu aku memintanya untuk menceritakan kepada ku. "
Bibir Lea bergetar, air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya.
"Apa ini alasan mengapa kamu tidak pernah menanyakan keberadaan papi mu?"
Ken mengangguk. " Aku takut mami terluka, aku hanya perlu mengetahui wajah papi ku, agar aku bisa melihat nya di dalam keramaian."
"Mami, maaf. Ken pernah menggeledah kamar mami, mencari selembar foto yang mungkin mami simpan. Tapi, aku tidak menemukannya"
"Ken sadar, mami pasti sangat terluka, sampai mami tidak menyimpan foto papi"
Lea menggeleng pelan, bukan itu yang membuatnya tidak menyimpan foto Edo bersama nya.
"Mami tidak perlu menyimpan kenangan pahit itu Ken, untuk apa menyimpan foto, kamu saja sangat mirip dengan dia"
Lea memeluk putranya, menumpahkan tangis kesedihan yang selama ini sama sama membelenggu hati nya.
Eva dan Edo sama sama terdiam, mereka baru sadar betapa jahat nya mereka yang selam ini menganggap Lea selicik itu.
"Lea... Ken.. Aku tahu, selama ini tidak pernah membuat kalian bahagia. Tapi, aku hanya manusia biasa, aku sudah mendapatkan hukuman ku setelah kepergian kalian. "
Edo menarik nafas, berusaha terlihat tetap tegar di hadapan Ken dan Lea.
"Jika kalian ingin memberikan kesempatan, aku ingin memperbaiki kesalahan itu. Tolong berikan aku kesempatan!"
Ken tidak menjawab, dia menguraikan pelukan nya dengan mami nya. Kemudian menatap Edo dengan tangan yang masih menggenggam tangan Lea.
"Mami ku pernah berkata, setiap manusia pasti pernah membuat kesalahan. Karena kita tidak sempurna.
Mungkin papi membuat kesalahan di masa lalu, aku harap papi bisa berubah"
Deg.
Edo memeriksa pendengarannya, dia takut salah dengar Ken memanggilnya dengan panggilan papi.
"Ka-kamu memanggil aku apa?"
"Papi!"
Ken menarik Lea mendekati Edo, kemudian memeluk mereka secara bersamaan.
"Aku tidak menerima permintaan maaf siapapun. Tapi aku hanya ingin kalian menuruti permintaan ku. Jadilah orang tua yang lengkap untuk ku!"
Lea terdiam, permintaan Ken terlalu berat, tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Jujur saja, Lea juga masih merasakan cinta untuk Edo. Hanya saja, rasa sakit mengalahkan segalanya.
"Papi mau, papi juga sudah membuatkan dedek untuk mu tadi malam"
"Benarkah?" Ken bersorak gembira.
"Benarkah itu Edo, Lea? Apa kalian akan menambah cucu untuk mami?" Sahut Eva senang.
"Kamu apa apaan sih!" Lea memeluk Edo erat, menyembunyikan wajah malunya di balik dada bidang Edo.
Menahan rasa sakit mungkin akan membuat seseorang menderita. Namun, terus menerus menahannya dan tidak berusaha membuatnya sembuh akan lebih membuat menderita.
Lea merasakan hal itu, dia membenci Edo, dia juga tidak bisa melupakan Edo. Rasa cinta dan bencinya berada di tingkat yang sama.
Mungkin yang orang orang katakan benar, benci dan cinta itu beda tipis. Lea membenci Edo agar dia bisa melupakan pria itu.
Namun, ternyata dia salah. Membenci Edo malah semakin membuat dirinya mencintainya. Apalagi melihat putranya yang sangat mirip dengan mantan suaminya itu. Membuat lea tidak bisa melupakan Edo.
__ADS_1
Kini, takdir membuat mereka kembali bertemu. Dan mungkin ini sudah saat nya bagi mereka bahagia.