Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 60


__ADS_3

"Kenapa sih, Edo susah sekali di nasehatin. Kenapa dia selalu saja memikirkan Lea, wanita jahat yang tidak memiliki hati!" ucap Eva berbicara sendiri.


Wanita baru baya ini merasa sangat kesal pada putranya. Karena suntuk sendiri di apartemen Edo, Eva pun memutuskan pergi ke mall.


Awal nya hanya sekedar jalan jalan saja, menenangkan pikiran dan mencoba memikirkan ide agar Edo menerima perjodohan dengan anak teman nya.


"Ah, aku makan dulu lah" Eva berbalik menuju ke arah restauran yang sudah terlewati oleh nya.


Bruk.


Tubuh Eva terhuyung ke belakang, beruntung dia tidak terjatuh.


"Maafkan aku nek, aku tidak sengaja. Apa nenek merasa kesakitan?"


Eva terpaku saat melihat wajah anak remaja yang baru saja menubruknya tanpa sengaja.


"Nek, apa kamu baik baik saja?" ulang anak remaja itu karena Eva tak kunjung menjawab pertanyaan nya.


"Eh tidak, aku baik baik saja!" sahut Eva tersenyum, dia masih memperhatikan wajah anak itu.


"Oh syukurlah" Ken tersenyum lega, dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada nenek yang tidak sengaja dia tabrak.


Sedangkan Eva, dia semakin tercengang melihat senyum manis anak remaja yang tidak dia tahu siapa namanya.


Melihat anak remaja itu tersenyum, Eva merasa seperti melihat Edo waktu kecil.


Astaga, bagaimana mungkin dia mirip dengan putra ku. Apa dia salah satu hasil benih yang Edo tebar pada wanita wanita jala*Ng itu?.


Eva kembali terbengong, dia sibuk menggeluti pikirannya yang bingung.


Ken yang di tatap seperti itu oleh orang lain, merasa sedikit canggung.


"Maaf, kenapa nenek melihat ku seperti itu?" tanya Ken.


Eva tidak mendengar pertanyaan Ken, dia masih terfokus dengan wajah Ken yang mirip dengan Edo.


Tanpa sadar, Eva menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut Ken.


Hal ini tentu membuat Ken merasa semakin bingung.


"Jika tidak ada lagi, saya permisi dulu nek, permisi"


"Oh iya silahkan" sahut Eva membalas senyum Ken.


Setelah Ken pergi, barulah Eva tersadar dan merutuki dirinya karena tidak menanyakan siapa nama anak itu dan siapa ibu yang melahirkan nya. Siapa tahu dia benar benar anak Edo.


Masih di restoran itu, Lea dan keempat sahabat nya masih menikmati obrolan mereka. Baik itu seputar pekerjaan, atau seputar kehidupan.


"Eh udah hampir habis ni. Kita harus segera kembali" Anton memperhatikan arloji nya.


"Oh iya benar, aku mau melihat Ken dulu. Kalian duluan aja ke kantor yah" ujar Lea buru buru pergi, mereka mengobrol hingga lupa waktu.


"Ok Lea" balas Tia melambaikan tangan nya.


"Ayo ayo, kita harus segera kembali" ucap Neti.


Mereka pun segera kembali ke kantor. Meskipun jaraknya dekat dengan kantor, mereka juga membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di kantor.


Lea melangkah lebar, mencari sosok Ken di area Timezone.

__ADS_1


Saat dia ingin memasuki area itu, Lea melihat seseorang dari kejauhan. Langkah kakinya juga langsung terhenti ketika matanya sudah memastikan siapa yang dia lihat itu.


"Mami?"


Lea segera bersembunyi di balik patung pakaian yang tidak jauh dari tempat nya berdiri.


"Huh, kenapa aku sampai lupa membawa dompet yah!"


Eva berjalan sambil menggerutu melewati patung tempat Lea bersembunyi. wanita itu juga mendengar apa yang Eva bicarakan.


Setelah memastikan Eva benar benar tidak terlihat lagi, barulah Lea keluar dan menatap Eva yang sudah sangat jauh.


"Mami..." lirih Lea sedih. Wanita yang lewat itu pernah menjadi mertuanya.


Lea pernah merasakan kasih sayang yang sangat tulus dari Eva.


Semenjak kejadian itu, Lea tidak bisa tidur nyenyak.Dia terus merasa bersalah pada Eva. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa apa, karena ini merupakan keinginan dirinya agar bisa lepas sepenuhnya dari kehidupan mereka.


Cukup lama Lea mematung menatap kepergian Eva yang sudah tidak terlihat lagi di matanya. Hingga Ken datang dan menyadarkan dirinya.


Ken heran melihat maminya hanya berdiri seperti orang kehilangan kesadaran.


"Mammy!" tepuk Ken pada pundak mami nya.


Lea pun terkejut, dia menatap Ken yang sudah ada di depan nya.


"Oh astaga!" kaget Lea.


"Mami kenapa? kok melamun di sini?" tanya Ken.


"Ah tidak apa apa Ken. Kamu sudah selesai main nya?" tanya Lea mengalihkan pembicaraan.


"Baguslah, kalau begitu ayo ikut mami ke kantor!"


Edo menurut saja, ketika Lea menarik tangannya dan pergi ke kantor.


Setiba di depan kantor Lea, Ken berhenti.


"Ada apa? kenapa kamu berhenti nak?" tanya Lea heran.


Ken menggeleng, "Mami, aku ingin pulang saja. Halte bis tidak jauh dari sini!"


"Tidak Ken, kamu pulang sama mami. Kenapa harus naik bis?"


"Mami, ini baru jam 1.30, mami pulang jam berapa jam?"


Le terdiam, benar juga apa ya g Ken katakan. Dia pasti akan merasa bosan menunggu selama itu.


"Ya sudah, mami akan menghubungi kakek mu untuk menjemput"


"Mami" Ken kembali menggeleng, dia bisa naik bis, kenapa harus di jemput.


"Halte juga tidak jauh dari rumah mi, kenapa harus mengganggu kakek? mi.." Ken meraih tangan Lea, menggenggam erat. Berusaha membuat maminya percaya


"Percaya sama Ken ya mi, Ken tidak akan kemana mana. Ken akan baik baik saja"


"Tapi Ken..."


"Ok baiklah, kamu harus memberi mami kabar jika sudah naik bis dan tiba di rumah!"

__ADS_1


"Ok mami, Ken akan memberikan kabar setiap saat"


Hmm.. Lea terpaksa mengangguk pasrah, dia tidak bisa terus menerus menahan putranya. dia juga harus memberi sedikit kepercayaan pada putranya. Apalagi putranya seorang anak laki-laki yang hebat. Dia harus percaya anak nya bisa menjaga diri sendiri.


"Kalau begitu mami masuk dulu, kamu hati hati lah"


Ken mengangguk, kemudahan memeluk maminya sebentar sebelum dia berjalan keluar dari pekarangan kantor menuju halte.


Begitu juga dengan Lea yang melangkah masuk. Hatinya tidak tenang, tapi dia berusaha untuk tetap percaya. Selama ini Ken juga naik bis, dan dia baik baik saja.


Lea melangkah cepat masuk ke dalam lift, dia sudah terlambat. Waktu istirahat hampir habis, hanya tersisa 5 menit lagi.


Ting.


Brak.


Lea terhenyak di lantai, entah sengaja atau tidak seseorang tiba-tiba menubruk tubuhnya.


"UPS.."


Lea mendongak, dia segera bangkit dan menatap wanita itu. Dia adalah wanita yang ada di ruangan Edo tadi.


"Kamu apa apaan sih!"


"Sorry gak sengaja. Siapa suruh jalan gak liat liat"


"Huh!" Lea menghembuskan nafas gusar, berusaha untuk mengendalikan emosinya. Mengabaikan wanita buang Lea yakin sengaja ingin mencari masalah dengan dirinya.


Lea masuk ke dalam ruangan kerja, semua rekan kerjanya terkejut melihat wajah masam Lea , terutama keempat sahabat nya.


"Ada apa, kenapa kamu cemberut?"


"Tidak ada, aku hanya lagi kesal saja!" jawab Lea sekena nya.


Keempat temannya saling melempar pandang, kemudian mengangkat bahu acuh.


...----------------...


Setelah makan siang, Eva memutuskan pergi menemui Edo di kantornya. Dia harus membicarakan pada Edo soal anak kecil yang sangat mirip dengan nya.


Brak.


Tanpa mengetuk pintu, Eva membuka pintu dengan cukup keras. Edo sampai terkejut melihat mami nya datang.


"Mami, ada apa ini. Kenapa mami datang ke sini tanpa memberitahu Edo?"


"Wah, apa apaan ini Edo. Apa mami harus meminta persetujuan kamu dulu untuk datang ke kantor ini?"


Edo menarik nafas, bukan seperti itu yang dia maksud. Tapi, mami nya malah salah sangka.


"Ayo sini duduk dulu" Edo menuntun maminya duduk di sofa. Menatap maminya dengan tatapan kasih sayang.


"Mami, Edo tidak marah kemana pun mami pergi. Apalagi datang ke kantor ini, semua ini milik mami. Tapi, Edo juga butuh kabar dari mami." Ucap Edo menjelaskan.


Edo tidak tahu kenapa, akhir akhir ini mami nya jauh berbeda dari biasanya.


Biasanya Eva tidak seheboh dah temperamennya juga tidak seperti ini. Bahkan maminya sangat overprotektif padanya. Mudah tersinggung dan suka memaksa kehendak.


Sangat berbeda dengan maminya yang dulu. Kalem dan sangat pengertian.

__ADS_1


__ADS_2