
Hari hari terus berlalu, sikap keduanya masih sama seperti itu. Acuh tak acuh, tidak ada kemajuan.
Edo sibuk dengan dunianya, sedangkan Lea juga sibuk dengan dunianya sendiri.
Hanya ketika sarapan dan makan malam saja mereka berdekatan.
Semenjak merasakan masakan Lea, Edo tidak lagi pulang larut malam. Bahkan dia sudah tidak berminat menggunakan Diva ataupun wanita lain.
Entah mengapa Edo merasa tidak bernafsu lagi pada mereka. Sehingga membuat Diva ketar ketir takut di pecat karena Edo sudah bosan pada dirinya.
Seperti siang ini, Diva sengaja menggoda Edo dengan mengenakan baju kantor yang super sexy.
Belahan rok nya hampir memperlihatkan ****** ***** nya. Kancing blouse nya juga sengaja di buka 2 paling atas. Sehingga belahan payudara montoknya terlihat dengan sangat jelas.
"Boss.."
"Ada apa Diva, kenapa masuk tidak mengetuk!" Tegur Edo tanpa menoleh.
Diva tidak perduli, dengan manjanya dia mendekati Edo dan duduk di atas pangkuan Edo.
"Boss, kenapa mengabaikan aku?"
"Kamu apaan sih Diva. Aku sedang bekerja."
Edo mendorong diva menjauh dari tubuhnya. Namun wanita itu malah memeluknya dan dengan sengaja menggesekkan tubuhnya ke tubuh Edo.
Bukan nya bernafsu, Edo malah menjadi kesal.
"Diva! Kamu ini bisa ngerti gak sih. Aku sedang kerja!"
Brak!
Tubuh sintal diva mendarat di lantai, tanpa perasaan Edo meninggalkan nya begitu saja.
Masih syukur Edo tidak memecatnya, selain tubuh Diva yang bagus. Edo juga tahu kemampuan Diva yang terbilang bagus.
__ADS_1
Jadi, Edo tidak akan semudah itu untuk memecatnya.
"Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan mu bebas begitu saja. Aku akan membuat kamu menjadi milik ku Edo!" Gumam Diva menatap kepergian Edo penuh keyakinan.
Edo pulang ke rumah, dia terlalu cepat pulang. Untuk pertama kalinya dia merasa rumah adalah tempat pelariannya.
Ceklek.
"Eh Edo, kamu tumben udah pulang?"
Deg.
Edo terkejut, mami nya ada di rumah?
"Mami sejak kapan di sini? Kenapa tidak memberitahuku?"
Eva berdecak kesal.
"Apa mami harus menghubungi mu jika ingin mengunjungi menantu mami? Apa begitu?"
"Persiapan apa?"
Edo terdiam, entah alasan apa yang harus dia berikan pada maminya. Setiap kata nya, selalu salah di mata maminya dan seakan menjebak dirinya sendiri.
"Mami, datang ke apartemen Edo dan Lea tanpa memberitahu. Jika kami tidak ada di rumah bagaimana?"
"Ah alasan kamu saja, mami sudah memantau Lea tadi. Dia mengatakan dia ada di rumah. Makanya mami datang!" Jelas Eva memalingkan wajahnya dari Edo. Dia lebih memilih menatap Lea di bandingkan putranya.
Edo menatap Lea, membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangan matanya.
"Apa apaan sih" dengus Edo kesal.
Lea dan mertuanya duduk di balkon apartemen. Bercerita dari hati ke hati.
Sebenarnya Eva sudah tahu bagaimana keadaan putra dan menantunya. Namun, dia juga tidak bisa mengambil tindakan lebih dalam.
__ADS_1
Lea dan Edo sudah menikah, rumah tangga mereka harus mereka yang urus.
Di dalam hatinya, Eva selalu mendoakan mereka. Semoga suatu hari nanti putranya dapat melihat ketulusan hati istri nya.
"Tanpa kamu bicarakan, mami tahu apa yang terjadi!" Ujar Eva.
Lea menegakkan tubuhnya, terkejut dengan pembicaraan mami mertuanya. Dia menatap Eva sambil memperbaiki posisi kaca matanya
"Ma-mami ngomong apa?"
"Udah lah Lea, kamu tidak usah berpura pura. Mami tahu kok, kalian tidur terpisah kan? Edo juga acuh sama kamu!"
Lea tertunduk sedih, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa diam dan mendengarkan mami nya berceramah.
"Mami tidak tahu kenapa kamu sebodoh ini Lea. Kamu itu istri Edo. Kamu memiliki hak atas dirinya dan juga nafkah batin kamu. Jika seperti ini terus, buat apa kalian bersama?"
"Mi, aku tidak tahu jika Edo tidak menyukai ini semua. Aku hanya melakukan apa yang dia suka. " Jawab Lea lirih.
"Nak, kamu harus berusaha mengambil hati suami kamu. Jangan sampai dia melirik wanita lain lagi!"
"Aku sadar Mi, atas kekurangan aku. Jika dia lebih senang dengan wanita lain. Aku tidak akan mempermasalahkan nya."
"Tapi nak,"
"Gak mi, aku hanya berharap dia segera sadar dan mulai melihat ku. Tapi, aku tidak akan ikut campur dengan urusannya. Aku hanya akan memenuhi kewajiban ku saja"
Eva terdiam, tidak tahu harus menjawab apalagi. Lea terlalu berbesar hati dengan sikap suaminya.
Kejadian di kantor waktu itu Eva tahu. Putranya hanya menganggap istri nya sebagai seorang pembantu.
Dari luar, Edo mendengar semuanya. Dia berpikir jika Lea akan mengadu dan mengatakan semuanya. Ternyata dia sama sekali tidak ada mengadu.
Mami nya menyuruh mata matamematai dirinya. Makanya dia mengetahui segalanya.
Mendengar deru telapak kaki mendekat, Edo segera bersembunyi. Dia tidak mau mami nya atau pun Lea tahu jika dirinya menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1