
Edo tiba di apartemen, dia terkejut melihat mami nya sudah ada di dalam. Duduk dengan santai sambil menikmati teh nya.
Edo melangkah masuk, melewati ruang tengah begitu saja. Edo berusaha untuk mengabaikan kehadiran maminya. Dia tahu apa yang menjadi tujuan mami nya datang ke sini.
"Apa kamu tidak akan menyapa mami mu ini huh? apa kamu sudah mulai durhaka sekarang?"
Edo menghentikan langkahnya, melirik Eva tanpa berbalik.
"Apa aku harus menyapa mami yang selalu menentang ku? apa aku harus bertanya apa yang mami lakukan di sini?"
"Edo, kurang ajar kamu yah. Semakin ke sini kamu semakin tidak sopan sama mami!" bentak Eva.
"Ini akibatnya kalau kamu tidak melupakan wanita itu!"
"Untuk apa aku melupakan Lea mi, mami tahu Sendiri, aku tidak akan melupakan cinta ku. Istri ku!" balas Edo penuh penekanan.
"Istri apa nya, kalian sudah bercerai!"
"Tidak mi, Edo tidak pernah menandatangani surat itu! Lea masih istri Edo!"
Plak!
Satu tamparan melayang ke pipi mulus Edo.
"Kamu gila. Kalian sudah berpisah selama 12 tahun. Dia juga sudah meninggalkan kamu bersama pria. Kenapa kamu masih menderita karena dia !"
"Sadar lah Edo, kamu jangan bodoh!" Suara Eva terdengar lirih, dia kembali menangis melihat kondisi putranya yang sangat menderita karena wanita itu.
"Cih, mami menangis? mami membenci Lea? bukan kah dulu mami yang menjodohkan kami? bukan kah mami sangat mendukung dia? kenapa sekarang mami malah membenci Lea? kenapa hm?"
"Itu karena dia melakukan sesuatu yang tidak manusiawi" Eva menghapus air matanya, ekspresi wajahnya kembali seperti semula.
__ADS_1
"Mami tidak akan berhenti Edo, mami tetap akan menjodohkan kamu dengan Nia!" ucap Eva tak terbantahkan.
"Terserah mami, aku tetap dengan pilihan ku. Aku akan membawa Lea pulang!" balas Edo sebelum dia masuk ke dalam kamar nya.
"Anak bodoh!" umpat Eva geram.
...----------------...
Pukul 7 malam, Lea dan keluarga nya di kejutkan oleh kedatangan Raihan dan Celsi.
"Om Raihan! Aunty Celsi!!" teriak Ken bersorak senang. Dia menuruni anak tangga secepat mungkin, lalu berhamburan ke pelukan Raihan.
"Hey boy, merindukan ku?"
"Sangat" jawab Ken mengangguk cepat.
"Kak Ken, aku tidak kamu rindukan?" rengek Elsa, anak perempuan Raihan dan Celsi. Gadis cantik yang selalu membuat Ken risih.
"Tidak, aku hanya merindukan aunty ku!" jawab Ken membuat Elsa cemberut.
Mereka tertawa melihat tingkah kedua anak mereka. Lea menghampiri Elsa, mencubit pipi tembam gadis kecil itu.
"Sayang, kamu cemberut yah. Merajuk karena putra nakal ku?" bujuk Lea. Tapi, Celsi malah memarahi Lea.
"Mommy, Ken itu tidak nakal. Di itu menggemaskan, karena tingkahnya yang lucu. Makanya aku merajuk"
"Huh?" bibir Lea mencebik, jawaban Elsa menohok hatinya hingga ke dasar sana.
"Aku membela mu Elsa, kenapa kamu tidak berada di pihak ku?"
"Mommy, aku tidak bisa menjelekkan kekasih Ku. Tapi, aku juga tidak bisa memusuhi calon mertua ku"
__ADS_1
Semua orang tercengang, mereka merasa geli mendengar perkataan anak gadis seusia Elsa saat ini. Dia berusia 10 tahun. 2 tahun lebih muda dari Ken.
"Elsa, siapa yang mengajari mu berbicara seperti itu?" ujar Raihan tercengir malu pada Lea dan juga paman dan bibi Lea.
"Mommy" jawab Elsa enteng. Membuat Celsi yang sedang minum teh menjadi tersedak.
Uhukk.. uhukk.
"Aku tidak akan heran Elsa berkata seperti itu, mengingat bagaimana mommy waktu muda dulu" sahut Mina.
"Bibi, apa aku sekarang tidak mudah?"
"Ah bukan begitu, tapi sekarang sedikit lebih tua" sahut Mina dengan suara pelan.
Lea dan Raihan menepuk kening, perdebatan kecil antara Mina dan Celsi kembali terjadi.
"Mulai lagi" decak Elsa dan Ken bersamaan.
Ken melirik Elsa, dia selalu merasa jengkel setiap kali melihat gadis kecil ini ada di dekatnya.
"Kak Ken, kenapa melihat ku seperti itu? apa kamu sudah semakin jatuh cinta pada ku?" ucap Elsa percaya diri.
"Apa apaan sih, aku tidak akan menyukai mu!" balas Ken menyakitkan.
Bagaikan batu besar, Elsa seakan tidak berpengaruh dengan ucapan kasar Ken.
"Ken, jangan berkata seperti itu!" Sanggah Lea.
"Tenang saja mommy, aku sudah kebal. Aku tidak akan merasa sakit hati" sahut Elsa santai.
Para orang tua menggeleng melihat kebucinan Elsa pada Ken.
__ADS_1
Sedangkan Ken, dia malah semakin acuh pada Elsa.
Sungguh malam yang indah bagi Lea, dia merasa sangat bahagia melihat keluarga nya berkumpul.