Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 26


__ADS_3

Eva selesai mengobati luka di jari Lea, membalut jari itu dengan plester setelah di kasih Betadine dan kapas.


"Makasih Mi"


"Yah sama sama" balas Eva lirih. wanita itu mengambil tangan Lea yang tidak luka, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kasih sayang pada wanita muda yang sangat dia sayang.


"Nak, katakan sama mami. Apa terjadi sesuatu?"


Lea terdiam dan menunduk lemah. Hatinya bimbang, harus menceritakan pada mami Eva atau tidak.


Jika dia menceritakan nya, mami pasti sangat marah pada Edo. Mereka akan bertengkar dan Edo pasti akan merasa tertekan.


"Tidak ada mi, Lea hanya rindu Ibu sama bapak"


"oh astaga, apa karena itu?"


Lea mengangguk pelan, terpaksa dia berbohong agar mami Eva tidak terlalu banyak pikiran.


Sebenarnya Lea memang sangat merindukan kedua orang tuanya. Sudah beberapa hari ini Lea tidak menghubungi mereka.


Bukan tidak mau, tapi karena Lea tidak ingin melihat kedu orang tuanya sedih saat melihat dirinya yang menyedihkan ini. Jadi, kea memutuskan untuk sesekali saja menghubungi mereka.


"Sayang, jika kamu rindu kedua orang tua kamu. Mami bisa kok ajak mereka ke sini"


Deg.


jantung Lea berdetak cepat, kedua orang tuanya tidak boleh datang ke sini. Jika mereka datang, maka mereka akan tahu bagaimana kondisi nya sekarang.


"Tidak perlu mi, mereka pasti sibuk di kebun. Lea berencana setelah nanti kak Edo ada waktu, lea ingin mengajaknya pulang"


"Pulang bersama mungkin akan membuat bapak sama ibu bahagia" sambungnya.


Seperti yang kea harapkan, Eva percaya dan menyetujui rencana Lea.


"Anak yang sangat baik, mami beruntung memiliki menantu seperti mu. Segeralah beri mami cucu yah"


Deg.


Lagi dan lagi hati Lea terasa seperti di tusuk duri. Ucapan mami Eva memang tidak salah, tapi hati dan kondisinya lah yang salah.


Edo memang akan memberikan cucu kepada mami nya. Namun, bayi itu bukan berasal dari rahim Lea.


Waktu sangat cepat berlalu, Lea masih belum menunjukkan rasa ingin pulang ke apartemen.


Wanita itu masih nyaman berada di dekat mertuanya.


Pukul 7 malam, Edo tiba di rumah mami nya. Dia tahu jika Lea masih berada di sana. Jadi, Edo berinisiatif untuk menjemputnya.


"Mami, Lea" sapa Edo.


Sapaan itu membuat Lea dan Eva yang sedang menonton tv terkejut.

__ADS_1


"Kamu ini yah, bukan nya ucap salam. Tapi, malah mengagetkan" omel Eva.


Edo hanya tercengir, dia duduk di samping Lea.


"Maaf mami" lirihnya sambil merangkul bahu Lea.


Edo tahu, Lea tidak akan menepis tangannya ataupun memaki dirinya melakukan hal ini.


Wanita itu tidak akan menceritakan pada maminya soal kehamilan Diva.


"Sayang, kamu kok gak pulang. Aku kangen banget sam kamu"


Lea melirik Edo tajam, seakan memperingatkan agar Edo menjaga sikap dan menjauh dari nya.


Bukan nya menyingkir, Edo malah semakin memanfaatkan kesempatan berdekatan dengan Lea.


Melihat kemesraan putra dan menantunya. Eva malah merasa geli.


"Dasar anak muda zaman sekarang, tidak tahu tempat" dengus Eva menggerutu dan berlalu pergi.


Setelah beberapa saat Eva pergi, Lea pun melepaskan rangkulan tangan Edo. Dia bangkit dan hendak pergi dari sana.


"Mau kemana?" tanya Edo menghentikan langkah Lea.


"Kakak pasti belum makan kan, aku dan mami sudah masak tadi. Jadi, aku akan menyiapkan untuk mu"


Tanpa menunggu respon dari Edo, Lea berlalu ke dapur.


Fyuu ..


Dari lantai atas, Eva menyaksikan semua kerenggangan diantara Lea dan Edo.


wanita baru baya itu sengaja memperhatikan mereka dari atas, dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Seperti yang dia duga, Lea dan Edo terjebak dalam sebuah pertengkaran.


"Lea terlalu sabar untuk terlihat tenang seperti itu" gumam nya. Bersamaan dengan itu, Eva merasakan getaran dari dalam kantong celananya.


"Siapa sih, mengganggu saja" dengusnya sambil memeriksa siapa yang menghubungi nya.


Saat melihat siapa yang menghubungi nya, Ev langsung menekan tombol terima, dan menempelkan benda pipi itu ke daun telinganya.


"Hallo, ada apa. Apa yang ingin kamu laporkan?" tanya Eva to the poin.


"Boss, saya suda tahu siapa wanita yang tidur dengan boss Edo sebulan yang lalu. Saya juga mendapatkan fakta bahwa wanita itu saat ini sedang hamil"


Deg.


Seakan mendengar petir menyambar, jantung Eva berhenti berdetak mendengar kabar ini.


"Apa kamu yakin?"

__ADS_1


"Saya yakin boss, bahkan saya melihat boss Edo dan nyonya Lea pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keaslian kehamilan wanita itu"


Eva memegangi dadanya, dia terkejut. Ternyata Lea mengetahui semuanya.


"Apa karen itu dia tidak fokus? Lea yang malang, kamu pasti merasa sangat hancur" Eva membatin.


"Hallo boss, apa anda masih mendengar saya?" panggil anak buah Eva menarik dirinya ke alam sadar.


"Yah, saya masih mendengar. Lanjut kan"


"Saya sudah mengirimkan semua tentang wanita itu ke WhatsApp anda boss. Silahkan di periksa"


"Ok baik. Kerja bagus, nanti bonus mu akan ku kirim"


"Terimakasih boss"


klik.


Eva langsung memeriksa pesan masuk ke akun WhatsApp nya. Membuka dokumen yang telah anak buahnya tadi kirimkan.


Tangan Ev mencengkram kuat pada ponselnya. Dia merasa sangat marah melihat foto diva di dalam biodata itu.


"Sial. Wanita ini ternyata tidak mendengarkan perkataan ku!!" geramnya.


Dulu sebelum menikah dengan Lea, Eva sudah memperingatkan Diva untuk tidak mengganggu putranya lagi. Bahkan dia sudah menyuruh Edo untuk memecatnya.


Namun, entah apa yang di pertimbangkan oleh putra bodohnya itu. Edo tidak mau memecatnya.


"Jika di bandingkan dengan Lea. Menantu ku itu jauh lebih cantik dan asli" geram Eva.


Di ruang makan, Edo dan Lea duduk berhadapan dengan jarak yang cukup jauh karena ukuran meja makan yang luas.


Keduanya makan dalam diam. Edo menatap lurus ke depan, melihat istrinya yang sudah berubah menjadi pendiam.


"Lea, kenapa kamu makan sedikit?"


Lea tersenyum lembut, mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya.


"Sebenarnya aku sudah makan sama mami tadi, jadi aku tidak bis makan banyak lagi" jawab nya jujur.


Sangat menyakitkan bukan? tersenyum pada orang yang sudah menyakiti kita.


setelah menjawab ucapan Edo, Lea kembali fokus pada makanannya. Dia juga pura pura sibuk mengantar bekas piring ke wastafel, mencucinya sambil menunggu Edo selesai makan.


Setelah semua nya siap, Lea kembali ke meja makan dan dengan berani menatap Edo intens.


"Kak, setela ini kita akan pulang. Aku ingin membicarakan hal serius dengan mu"


Deg.


Edo terdiam, namun kepalanya tetap mengangguk membalas ucapan Lea barusan.

__ADS_1


Semua dugaan dan prasangka mulai merasuki benak Edo.


"Apa Lea akan meminta cerai? apa dia ingin aku menikah dengan Diva. Apa dia akan menuntut ku?" Edo memejamkan mata, dia merasa tidak sanggup apabila semua yang ada di otaknya saat ini terjadi.


__ADS_2